Antara Defisit, Pelit, dan Irit

Seberapa sering Anda mengalami defisit alias pengeluaran lebih banyak daripada pemasukan? Istilah jadulnya, besar pasak daripada tiang. Memang, ini adalah masalah klasik yang dialami oleh hampir setiap orang. Anehnya, tidak hanya orang berpenghasilan kecil saja, tetapi juga yang berpenghasilan besar sampai puluhan juta per bulan yang mengalaminya.

Banyak orang berpikir bahwa defisit hanya menjadi masalah orang yang tidak punya uang atau istilah kasarnya orang-orang ‘kere’ dan miskin. Mereka berpikir bahwa orang-orang yang berpenghasilan besar tidak akan mengidap ‘penyakit’ ini. Sayang sekali, menurut saya, ini adalah pemikiran yang salah.

Defisit adalah sebuah ‘penyakit’ yang disebabkan oleh buruknya sikap dan pola pikir seseorang dalam mengelola uangnya. Saya mempunyai pengalaman sendiri tentang hal ini ketika masih kuliah dulu. Sebagai anak kost, saya harus pandai dalam mengatur ‘arus kas’ saya yang sangat terbatas. Seringkali, bila dompet sudah menipis, saya harus merelakan diri untuk menyantap mie rebus tiap hari demi sehatnya ‘arus kas’ saya, tetapi tidak sehat buat tubuh saya. :(

Mengatur ‘arus kas’ sebenarnya sangat sederhana. Anda harus mencari cara untuk meningkatkan pemasukan setinggi-tingginya dan menurunkan pengeluaran serendah-rendahnya. Banyak orang yang terjebak dengan HANYA mencari pemasukan sebanyak-banyaknya, tapi lupa menahan libidonya untuk berbelanja.

Selama syahwat untuk mengeluarkan uang dari dompet masih besar, maka defisit akan terus menggerogoti keuangan Anda. Selama Anda tidak bisa mengekang nafsu konsumtif, jangan harap Anda terbebas dari yang namanya defisit.

Kalau kita mau bijak dan menggunakan akal sehat, sebenarnya banyak hal yang bisa kita irit. Ingat, irit tidak sama dengan pelit. Irit berarti tidak mengeluarkan uang bila tidak diperlukan. Sedangkan pelit adalah tidak mau mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sebenarnya diperlukan.

Saya pernah menjumpai seorang ibu rumah tangga dengan dua anak yang masih balita. Si ibu ini mengeluh keadaan ekonomi rumah tangganya selalu defisit tiap bulan. Dia sendiri saat itu tidak bekerja, hanya menunggu nafkah dari suaminya. Sebenarnya dia punya keinginan untuk mencari pekerjaan atau berbisnis kecil-kecilan, tetapi dia punya kendala dengan dua buah hatinya yang masih kecil-kecil. Kalau dia bekerja, tidak ada yang menjaga mereka di rumah.

Saya memberikan solusi kepadanya untuk mencari seorang pembantu yang bisa menjaga anak-anaknya sembari dia mencari penghasilan tambahan. Toh, dia tidak akan bekerja meninggalkan rumah seharian. Saya menyarankan untuk mencari pekerjaan yang waktunya flexibel dan cocok untuk ibu rumah tangga (misalnya direct selling, MLM, atau yang lainnya).

Tetapi, dia menolak solusi yang saya berikan. Yang menjadi keberatannya, dia tidak mau membuang uang untuk menggaji pembantu (yang saya perkirakan-waktu itu-hanya sekitar 300 ribu rupiah per bulan karena hanya setengah hari kerja). Dia lebih memilih uang tersebut digunakan untuk membayar iuran teve kabel yang memang menjadi langganannya tiap bulan. Saya sarankan kepadanya untuk sementara waktu berhenti berlangganan teve kabel. Tapi, dia menolak lagi karena menurut dia itu adalah satu-satunya hiburan yang ada di rumah.

Menurut saya, si ibu tersebut sudah bersikap pelit, bukan irit. Untuk hal yang diperlukan dia tidak mau mengeluarkan uang, sedangkan untuk yang tidak terlalu perlu dia malah menghamburkannya. Saya tidak mengatakan kepadanya untuk berhenti berlangganan teve kabel selamanya. Saya hanya menyarankan untuk menundanya dan menggunakan uangnya untuk hal yang lebih diperlukan.

Seringkali kita semua bersikap seperti si ibu itu. Ketika mengalami defisit, kita malah bersikap pelit dan tidak irit. Untuk hal yang bersifat investatif, kita cenderung pelit. Tetapi, untuk hal yang bersifat konsumtif, kita tidak bisa irit. Karena itu, jangan merana bila kita akhirnya mengalami defisit.

Perhatikan betul pengeluaran kita setiap bulannya. Buat perinciannya sehingga bisa menemukan hal-hal yang bisa kita irit. Nafsu hewani yang selalu ingin ‘memangsa’ apa saja yang bisa dimakan harus kita tahan. Banyak pengeluaran-pengeluaran yang sebenarnya bisa kita tunda. Gunakanlah akal sehat, jangan emosi sesaat. Bukan masalah bisa atau tidak bisa, tetapi mau atau tidak.

Percuma penghasilan Anda setinggi langit kalau pengeluaran Anda juga setinggi angkasa. Defisit bukan karena penghasilan Anda yang kecil, tetapi karena tindakan Anda sendiri. Bila Anda ingin terbebas dari defisit, tindakan Anda yang harus berubah terlebih dahulu. Jangan pelit, tetapi harus irit. Cari penghasilan sebanyak-banyaknya dan tunda pengeluaran-pengeluaran yang belum dibutuhkan. Ingat, yang kita inginkan belum tentu yang kita butuhkan. Bila Anda tidak berubah, maka Anda akan tetap mengalami defisit. Sampai kapan pun.

Satu saran saya yang paling penting untuk mengatasi defisit keuangan Anda adalah perbanyaklah sedekah, memberi, berdana, zakat, atau apa pun istilahnya. Dengan banyak bersedekah, saya yakin Tuhan tidak akan tinggal diam melihat masalah Anda. Apa yang Anda berikan akan digantikanNya dengan berlipat-lipat. Percayalah.

Tentang Edwin Dianto

Entrepreneur, Network Marketer, Motivibrator, Football Enthusiast, F1 Racing Mania.

Posted on Juli 28, 2009, in Motivibrasi and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.