Mengenang 40 Tahun Kematian Sang Demonstran

Selain Gajah Mada dan Gus Dur, sosok asli Nusantara yang saya kagumi adalah Soe Hok Gie. Meski tercipta sebagai anak keturunan Tionghoa, Gie, begitu dia biasa disapa, adalah orang Indonesia tulen yang lahir, besar, dan wafat di bumi Nusantara.

Hari ini, tanggal 16 Desember 2009, tepat 40 tahun Soe Hok Gie meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Dia menemui ajalnya di puncak tertinggi di Pulau Jawa, Gunung Semeru, karena menghisap gas beracun, tanggal 16 Desember 1969, persis sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27.

Soe Hok Gie memang mati muda, tapi karya-karya tulisnya tidak pernah mati. Catatan hariannya, yang dibukukan dengan judul Catatan Seorang Demonstran, terbitan LP3ES tahun 1983, menginspirasi anak-anak muda di Indonesia. Ya, nama Gie bisa abadi dan akan tetap abadi karena dia menulis.

Gie memang seorang penulis yang sangat aktif pada jamannya. Tidak hanya sekedar mencoretkan pena atau mengetikkan sebuah catatan, tulisan-tulisannya sangat cerdas, menggugah, kritis, dan berani mendobrak belenggu yang mengekang pada saat itu. Gie, yang hidup pada zaman peralihan Orde Lama-Soekarnoisme menuju Orde Baru-Soehartoisme, berani memberikan kritik-kritik yang tajam terhadap dua rezim yang berkuasa tersebut.

Selain rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam sebuah buku harian, Gie juga dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).

Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).

Gie, seorang sosialis yang dikenal dengan prinsipnya: “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”, pernah menulis seperti ini: “Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh – dan pemuda, bangkit dan berkata – stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.”

Sikap kritisnya mulai tumbuh ketika dia mulai berani mengungkit kemapanan. Misalnya, saat dirinya menjelang remaja, Gie menyaksikan seorang pengemis sedang makan kulit buah mangga. Dia pun merogoh saku, lalu memberikan uangnya yang cuma Rp 2,50 kepada pengemis itu. Di catatannya, ia menulis: “Ya, dua kilometer dari pemakan kulit mangga, ‘paduka’ kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik-cantik. Aku besertamu orang-orang malang.”

Bacaan dan pelajaran yang diterimanya membentuk Gie menjadi pemuda yang percaya bahwa hakikat hidup adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dan dapat merasai kedukaan itu.

Saat dirinya masuk korps dosen Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah, Universitas Indonesia, secara blak-blakan, Gie pernah mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan, ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.

Dengan nada getir, Gie lantas menulis: “Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.” Begitu tulis pemuda yang sampai akhir hayatnya tetap tak bisa mengendarai sepeda motor, apalagi nyupir mobil. “Gue cuma bisa naik sepeda, juga pandai nggenjot becak.”

Gie juga lebih memilih mendaki gunung bersama Mapala UI daripada berpolitik praktis seperti teman-temannya, mahasiswa aktivis angkatan ‘66, yang waktu itu banyak diangkat menjadi anggota DPR saat rezim Soeharto awal berkuasa. Gie lebih memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas daripada terkungkung oleh sangkar emas penguasa.

Ya, membicarakan tentang Soe Hok Gie memang tidak akan ada habisnya. Terlalu banyak realitas kehidupan yang bisa kita kupas. Yang pasti, saat ini Gie (dan Kartini) telah tiada. Saatnya bagi para pemuda-pemudi Indonesia menjadi Gie-Gie dan Kartini-Kartini baru. Mewarisi semangat dan kegigihan mereka yang tanpa pamrih, dengan menunjukkan karya nyata. Tidak harus lewat tulisan, tapi bisa lewat hal-hal positif lain yang sesuai dengan minat dan hasrat kita masing-masing.

Lebih baik hidup 100 hari, tapi penuh karya, daripada hidup 100 tahun tanpa berbuat apa-apa. Live for nothing, or die for something. Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Tunduk tertindas atau bangkit melawan, sebab mundur adalah pengkhianatan.

************************************************************************

Berikut ini adalah pandangan tentang Gie oleh kakak kandungnya, Arief Budiman (Soe Hok Djien), sosiolog terkenal yang juga seorang dosen dari Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga, seperti yang dimuat dalam buku Catatan Seorang Demonstran edisi 1993.

Pengantar buku Catatan Seorang Demonstran (oleh: Arief Budiman)

Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini. Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diri adik saya secara obyektif. Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya. Karena itu, untuk pengantar buku ini, saya hanya ingin menceritakan suatu peristiwa yang berhubungan dengan diri almarhum, yang mempengaruhi pula hidup saya dan saya harap, hidup orang-orang lain juga yang membaca buku ini.

Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian.”

Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai “Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibu saya sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini? Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap ibu, dia cuma tersenyum dan berkata, “Ah, mama tidak mengerti.”

Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si…, saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya.” Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: “Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian. Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan
terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan.” Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: “Ya, saya siap.”

Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak Gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966.

Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman Lantang. Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru. Jenazah tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali, digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir: “Tentunya sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu.” Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam diri saya ialah: “Apakah hidupnya sia-sia saja?” Jawabannya saya dapatkan sebelum saya tiba kembali di Jakarta.

Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya, apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab, “Tidak. Mengapa?” Dia cerita, tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, untuk siapa peti mati ini? Teman saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak terkejut. “Soe Hok Gie yang suka menulis di koran?” Dia bertanya. Teman saya mengiyakan. Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya yang terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang ditanya terus menangis dan hanya menjawab, “Dia orang berani. Sayang, dia meninggal.”

Jenazah dibawa oleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir di Yogya dan kemudian ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa adalah jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: “Saya kenal namanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal. Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus.” Saya memandang ke arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan khayalan saya mencoba menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang perlahan dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut?

Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan Kebon Jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik, membuat karangannya. Pernahkah dia membayangkan bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau oleh seorang tukang peti mati di Malang? Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara
jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan-dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata “Ya” atau “Tidak”, meskipun cuma di dalam hatinya.

Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, “Gie, kamu tidak sendirian.” Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu. Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras.

Gie, Sang Demonstran.
Mengenang 40 Tahun Kematian Sang Demonstran

One thought on “Mengenang 40 Tahun Kematian Sang Demonstran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s