Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Sepak Bola Indonesia!

Sudah menyerahkah kita dengan kondisi persepakbolaan Indonesia saat ini? Kegagalan demi kegagalan terus menyertai langkah pasukan Garuda Merah Putih. Terakhir, tradisi lolos ke putaran final Piala Asia yang terjaga dengan baik sejak 1996, berakhir sudah (seiring dengan dipermalukannya timnas kita oleh timnas Oman beberapa waktu yang lalu). Dan kekalahan itu terjadi di kandang sendiri, venue kebanggaan bangsa Indonesia, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan.

Alhasil, hal ini memicu seorang penonton dan supporter setia timnas, Hendry Mulyadi, untuk berbuat nekad dengan memasuki lapangan dan berusaha membuat gol saat pertandingan Indonesia vs. Oman. Kekecewaan Hendry Mulyadi adalah kekecewaan kita semua, penggemar setia sepak bola, yang terus-menerus disuguhi “kue basi”, kekalahan yang tidak kunjung padam.

Sebenarnya, apa yang salah dengan sepak bola Indonesia? Banyak. Tapi, dari sekian banyak tersebut, ada dua hal utama yang wajib dibuat benar dengan segera, yaitu pembinaan pemain muda dan manajerial kompetisi lokal. Ya, ini memang alasan klise dan semua orang sudah tahu tentang hal ini. Meski demikian, dua hal itulah yang memang menjadi kanker ganas yang selama ini menggerogoti kesehatan sepak bola kita.

Indonesia sendiri sebenarnya adalah negara besar dengan jumlah penduduk besar dan jumlah penggemar sepak bola terbesar (baca: terbanyak) di dunia selain Brazil. Ini adalah modal utama yang seharusnya bisa menjadi kekuatan dahsyat bila mampu kita olah secara professional. Tetapi, apa mau dikata, minat yang begitu tinggi tidak disertai manajerial yang mumpuni. Hasilnya, nafsu besar tenaga kurang. Gatot, alias gagal total.

Nah, kembali ke dua hal utama yang saya sebutkan tadi. Untuk bidang manajemen kompetisi lokal, saya amati, kita sudah on the right track dengan digulirkannya Indonesia Super League (ISL). Memang, ISL masih jauh dari kata professional. Tetapi, minimal, kita sudah berada di jalur yang benar. Dengan catatan, manajerial harus terus dikembangkan secara kontinyu.

Sebagai pembanding, saya ambil contoh English Premier League. Sebenarnya, liga sepak bola favorit saya bukanlah Premier League. Sejak kecil dulu, saya adalah tifoso setia Lega Calcio Serie-A Italia. Tapi, Anda semua bisa lihat, saat ini Serie-A begitu tertinggal dari Premier League (terutama setelah skandal calciopoli). Itu semua karena satu hal: manajemen yang professional. Dan itu tidak datang dalam waktu semalam. Inggris mulai merintis Premier League sejak tahun 1992 dan baru menikmati hasilnya sekitar 15 tahun kemudian.

Begitu juga dengan ISL, kita baru merintis ISL tahun 2008. Dengan infrastruktur yang kita miliki saat ini, mungkin baru akan terasa hasilnya, paling cepat, 20 tahun lagi. Itu pun kalau dilaksanakan secara kontinyu dan konsisten. Dan saya yakin, hal ini juga akan berdampak sistemik terhadap prestasi timnas Indonesia di pentas dunia.

Hal kedua yang menurut saya lebih penting adalah pembinaan pemain muda. Brazil, Argentina, dan negara-negara Amerika Latin yang lain, kita kenal memiliki kompetisi lokal yang tidak terlalu “professional”. Bisa dibilang, kondisi kompetisi domestik di sana tidak beda jauh dengan Indonesia. Banyak rusuh, banyak tawuran antarsuporter, infrastruktur yang masih amburadul, dan berbagai kekurangan lainnya. Tetapi, mengapa timnas Argentina ataupun Brazil bisa berprestasi maksimal, bahkan mengalahkan negara-negara Eropa yang jauh lebih mapan kompetisi sepak bolanya? Jawabannya terletak pada pembinaan pemain muda.

Ditunjang dengan bakat alam yang melimpah, Brazil dan Argentina memiliki sistem kaderisasi yang sangat bagus. Setiap tahunnya, ribuan pemain junior dari Amerika Latin diekspor ke seluruh dunia, utamanya ke Eropa. Kondisi ini tidak berbeda jauh dengan Indonesia. Kita mempunyai bakat alam yang sebetulnya berlimpah. Tetapi, sayang, sistem pembinaan kita sangatlah memprihatinkan.

Bagaimana solusinya? Saya salut dengan langkah yang dilakukan oleh Azrul Ananda dengan tim DBL-nya. Ya, seharusnya kita jangan malu-malu untuk meniru apa yang sudah dilakukan oleh Development Basketball League (DBL) Indonesia. Saya bukan penggemar basket. NBA saja nggak pernah nonton. Tapi, DBL berhasil memikat perhatian saya. Bukan tentang basketnya, yang saya perhatikan adalah tentang sistemnya yang sangat professional ala NBA dan konsep student athlete-nya. Saya rasa, inilah solusi paling efektif dan efisien bagi pembinaan pemain muda di Indonesia, apa pun cabang olahraganya.

Masalahnya, maukah Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), sebagai otoritas tertinggi persepakbolaan di negeri ini, mengadopsi pola pembinaan ala DBL tersebut? Tidak sekedar mengadopsi, tetapi juga harus menerapkan peraturan dan disiplin ketat yang tidak boleh dilanggar seperti halnya DBL. Relakah PSSI mengadakan kompetisi tingkat pelajar SMP-SMA yang professional demi kemajuan sepak bola Indonesia? Atau kita harus menunggu pihak swasta turun tangan seperti ketika Jawa Pos Group (baca: Azrul Ananda dan timnya) menggagas DBL? Bola ada di kaki PSSI. Saya rasa, dua agenda di atas jauh lebih mendesak daripada sekedar proyek mercu suar menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022.

Garuda di Dadaku
Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Sepak Bola Indonesia!

4 thoughts on “Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Sepak Bola Indonesia!

  1. jefrii refferAall brandaAl says:

    saya punya usul pak , kan yg bener ne pengurusan pak lanyala mataliti, dan ISL apa gak kita tandingkan ja antara timnas versi ISL melawan timnas viersi JOHAR ARIFIN…….
    kan di sepak bola yg penting kan semangat olah raga pak, bukannya POLITIK. kita tandingkan ja dua timnas itu sapa yang menang dia yang layak mewakili indonesia di kanca DUNIA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s