Pasca Kegagalan Nguber Thomas

Perhelatan Thomas & Uber Cup 2010 sudah berakhir hari minggu (16/05/10) yang lalu di Stadium Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia. Hasilnya, Uber Cup digondol oleh timnas negerinya Song Hye-Kyo, Korea, dan Thomas Cup dipertahankan oleh timnas negerinya Gong Li, China. Timnas negerinya Luna Maya, Indonesia? Lagi-lagi gatot alias gagal total.

Timnas putri tumbang di babak semifinal dan timnas putra takluk di final, dua-duanya melawan timnas China. Yah, apa mau dikata, itulah hasil maksimal yang bisa dipersembahkan oleh putra-putri terbaik bangsa tersebut. Yang menjadi pertanyaan klasik, akankah hasil ini bakal terulang saat Thomas & Uber Cup berikutnya diadakan tahun 2012?

Timnas putri Indonesia, terakhir, menjuarai Uber Cup tahun 1996. Waktu itu masih ada Susi Susanti dan Mia Audina. Sedangkan, timnas putra kita agak lumayan, masih belum terlalu lama, berhasil merebut Thomas Cup, terakhir, tahun 2002. Artinya, sudah sekian tahun kita gagal membawa kembali lambang kejayaan bulutangkis beregu putra dan putri tersebut ke tanah air tercinta.

Belum lagi kalau kita bicara soal Sudirman Cup (kategori timnas beregu campuran). Terakhir, tim Merah Putih menjuarainya tahun 1989. Ironisnya, nama piala tersebut diambil dari nama salah seorang tokoh bulutangkis asal Indonesia, mantan ketua umum PBSI, mendiang Sudirman, yang banyak berjasa terhadap perkembangan olahraga bulutangkis di dunia.

Agak miris memang kalau kita mengetahui fakta-fakta di atas. Sebagai negara yang pernah berjaya di bidang olahraga teplok bulu, prestasi kita saat ini, bisa dibilang, tertinggal jauh dari China, dan mulai disalip oleh Malaysia dan Korea. Bahkan, menghadapi negara tanpa tradisi bulutangkis yang kuat, seperti India dan Jepang, kita masih sering kerepotan.

Sekedar menambahkan dan mengingatkan, bagi yang lupa tentang betapa perkasanya pasukan bulutangkis kita di masa lalu, berikut ini adalah beberapa catatannya.

Di ajang Olimpiade, Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai “tradisi emas” di cabang bulutangkis. Sejak nomor ini dipertandingkan tahun 1992, kita tidak pernah absen merebut medali emas. Dimulai oleh pasangan kekasih (sekarang suami-istri), Alan Budikusuma – Susi Susanti, dan terakhir di Olimpiade Beijing 2008 yang lalu, atas nama ganda putra, Markis Kido – Hendra Setiawan.

Di Thomas Cup, Indonesia tercatat sebagai negara dengan koleksi juara terbanyak: 13 kali. Di Uber Cup, meski bukan sebagai yang terbanyak, kita mampu 3 kali tampil sebagai juara. Sedangkan di Sudirman Cup, tercatat sekali kita tampil sebagai kampiun.

Nah, itu semua baru di ajang beregu. Kalau ditambah catatan-catatan di ajang perorangan, akan lebih banyak lagi prestasi yang sudah dibukukan oleh para pemain kita. Di Kejuaraan Dunia, All England, dan turnamen Grand Prix (sekarang Super Series), seperti Indonesia Open, Malaysia Open, Korea Open, China Open, Japan Open, dsb, (dulu) sudah sangat sering para jago-jago bulutangkis kita berjaya.

Tanda tanya besarnya: Kenapa prestasi tersebut sekarang ini terjun bebas? Apa ada yang salah dengan bulutangkis kita? Bagaimana pembinaan para pemain di Pelatnas PBSI, Cipayung? Yang saya ketahui, Cipayung adalah salah satu tempat pembinaan bulutangkis yang terhebat di dunia. Negara-negara lain mengakui kualitas Cipayung dan menirunya untuk diterapkan di negaranya masing-masing.

Di Cipayung inilah digembleng bibit-bibit muda calon jagoan bulutangkis di masa mendatang. Problemnya, saat ini, pasokan pemain-pemain muda tersebut, saya amati, mulai berkurang. Regenerasi macet, dan kita masih mengandalkan tenaga pemain-pemain tua. Soal regenerasi, kita tertinggal sangat jauh dibandingkan China, terutama di sektor wanita.

Minimnya stok pemain muda tersebut disebabkan tidak adanya kompetisi rutin yang dihelat di lingkungan regional dan nasional. Sebagai informasi, China sudah beberapa tahun ini menggelar kompetisi bulutangkis profesional, layaknya sepak bola ataupun bola basket. Di kompetisi tersebut, banyak pemain-pemain muda yang ambil bagian sehingga pengalaman bertanding mereka juga meningkat. Ini yang tidak ada di Indonesia. Dan, inilah yang harus segera dipikirkan oleh PBSI untuk dicarikan jalan keluarnya. Penting sekali untuk menggelar kompetisi regular untuk para pemain muda, secepatnya.

Selain problem pemain muda, kita juga harus memperhatikan kualitas pelatih. Bukannya menyepelekan para pelatih di Cipayung, tapi hal ini memang mendesak sekali. Pemain muda berbakat, kalau tidak dipoles oleh pelatih bertangan dingin, tidak akan bisa berprestasi maksimal.

Lin Dan, jagoan China, bisa tampil mengerikan dan membabat habis semua lawan, itu semua berkat polesan sang pelatih kawakan, Tong Sin Fu. Tanpa bimbingan dari Tong, Super Dan tidak akan sesuper sekarang. Ironisnya, Tong Sin Fu adalah orang yang lahir di Indonesia (Teluk Betung, Lampung), tapi memutuskan untuk hijrah dan melatih timnas China karena ditolak menjadi WNI (Warga Negara Indonesia) tahun 1998 yang lalu.

Malaysia bisa bangkit prestasinya akhir-akhir ini, sedikit banyak, juga berkat polesan pelatih Rexy Mainaky dan Hendrawan. Dua-duanya adalah mantan pemain bulutangkis Indonesia. India juga menjadi kekuatan baru berkat tangan dingin Atik Jauhari, pelatih senior dari Indonesia.

Jadi, banyak pelatih-pelatih jempolan yang saat ini beredar di luar negeri dan mengangkat pamor bulutangkis di negeri orang. Jangan sampai pelatih-pelatih tersebut dimanfaatkan oleh orang lain sedangkan kita sendiri malah kekurangan. PBSI harus bijak dalam menyikapi hal ini. Sudah pantas dan cukupkah honor dan fasilitas yang diberikan kepada para pelatih di Cipayung? Saya yakin, kalau dihargai dengan layak, para pelatih tersebut tidak akan memilih untuk melatih di luar negeri.

Setelah pembinaan, hal yang harus ditingkatkan dengan serius adalah soal mental bertanding. Perbedaan kemampuan para pebulutangkis, saat ini, tidak terlalu jauh. Rata-rata mereka mempunyai skill yang hampir setara. Yang membedakan seorang pemenang dan pecundang, seringkali, bukan masalah skill bermain bulutangkisnya, tapi masalah mentalnya.

Kita bisa mencontoh pemain-pemain putri Korea. Menantang China di babak final Uber Cup dengan status tidak diunggulkan, mereka tidak keder. Para pejuang Taeguk wanita tersebut malah tertantang dan menunjukkan semangat pantang menyerah, khas negeri ginseng. Hasilnya, pemain-pemain putri China, yang secara skill sedikit di atas pemain-pemain Korea, takluk.

Ini membuktikan bahwa kekurangan skill bisa ditutup dengan kelebihan semangat dan mental bertanding yang bagus. Berkat hal itulah, timnas Korea berhasil mengukir rekor, untuk pertama kalinya menjuarai Uber Cup. Mampukah para pemain kita melakukan hal yang sama?

Thomas & Uber Cup. Kapan kita rebut kembali?
Pasca Kegagalan Nguber Thomas

2 thoughts on “Pasca Kegagalan Nguber Thomas

  1. nita says:

    Ya seperti yang kita ketaui, kita kurang punya mental yang bagus. Para pemain kadang terlalu minder. Kalau mentalnya gag bisa berunah ya ntar susah. Yang bisa kita lakuin ya cuma berdoa semoga taun depan INDONESIA bisa bawa THOMAS Cup & UBER Cup kembali ke kita.
    Amien..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s