Waka-Waka

Ke nako. Inilah saatnya. Ya, tanggal 11 Juni 2010, FIFA World Cup edisi ke-19 secara resmi dibuka. Opening ceremony berlangsung meriah di Soccer City Stadium, Soweto, Johannesburg, South Africa. Berbagai pertunjukan kolosal khas benua Afrika meramaikan acara pembukaan dari ajang yang disebut-sebut terbesar di muka bumi itu. FIFA World Cup memang merupakan gawe terbesar umat manusia. Lebih besar dari Olympic Games, Beijing 2008, dan World Expo yang saat ini sedang berlangsung selama enam bulan di Shanghai, China.

Pertandingan pembuka antara tuan rumah, Afrika Selatan, melawan Meksiko yang berakhir dengan skor seri, 1 – 1, berlangsung sesaat setelah opening ceremony selesai, yg ditutup dengan penampilan diva seksi asal Kolombia, Shakira. Lagu bertajuk Waka-Waka (This Time for Africa) menjadi trend saat itu juga. Sayangnya, penampilan Shakira tidak tercover oleh stasiun televisi Indonesia yang menyiarkan pembukaan FIFA World Cup. Stasiun televisi tersebut lebih suka menayangkan sajian band-band lokal Indonesia dan acara sulap untuk meramaikan perhelatan akbar empat tahunan ini.

Saat partai pertama antara Afrika Selatan versus Meksiko, satu hal yang menarik perhatian adalah bunyi suara berdesing seperti kumpulan lebah. Orang-orang yang belum pernah menonton FIFA Confederations Cup tahun 2009 pasti kaget. Ya, itulah suara vuvuzela, terompet panjang yang terbuat dari plastik, khas supporter Afrika Selatan. Dalam kenyataannya, vuvuzela tidak hanya digunakan oleh fans Bafana-Bafana, tapi juga fans dari negara-negara lain. Alhasil, inilah ajang FIFA World Cup terbising sepanjang sejarah.

Saat ini, guliran Piala Dunia sudah menyelesaikan fase grup dan mulai memasuki fase knockout. Banyak terjadi kejutan di fase grup, antara lain tumbangnya tim-tim unggulan di kaki tim-tim nonunggulan. Tapi, kejutan terbesar tentu saja tersingkirnya sang juara dunia bertahan, Italia, setelah digasak dengan skor 2 – 3 oleh tim debutan asal Eropa, Slovakia, di laga terakhir grup F. Italia sukses mengulangi jejak Brasil di Piala Dunia 1966 dan Prancis di Piala Dunia 2002 sebagai juara bertahan yang gagal melewati fase grup. Menyedihkan.

Satu hal lagi yang patut mendapat perhatian serius adalah soal korps baju hitam (note: sekarang bajunya sudah warna-warni, bisa kuning, merah, dsb), yaitu wasit. Berkali-kali sang pengadil di lapangan hijau ini membuat keputusan-keputusan kontroversial, antara lain dengan meng-kartu merah pemain seenaknya (bintang Brasil, Kaka, serta dua bintang Australia, Tim Cahill dan Harry Kewell, adalah korbannya), menganulir gol yang seharusnya terjadi, sampai mengesahkan gol yang berbau offside.

Meski banyak kritik mengalir, FIFA tetap pada pendiriannya, bahwa pertandingan sepak bola harus bersih dari teknologi. Maksudnya, FIFA kekeuh menolak usulan untuk mempergunakan rekaman video demi membantu tugas sang pengadil di lapangan. Solusinya, saat ini sedang digodok aturan baru tentang penempatan 5 orang wasit dalam satu pertandingan (1 orang wasit lapangan, 2 orang hakim garis samping, dan 2 orang hakim garis gawang). Aturan ini sudah diuji coba oleh UEFA di ajang European League musim lalu, dan kemungkinan besar bakal diterapkan di perhelatan UEFA Euro 2012 yang akan berlangsung di Ukraina – Polandia.

Oh, ya. Catatan terakhir. Jabulani, bola resmi Piala Dunia produksi Adidas (yang ternyata dibuat di Jawa Barat, Indonesia), sepertinya tidak menuai terlalu banyak protes. Tercatat, hanya satu kiper yang membuat blunder parah, yaitu Robert Green dari Inggris, saat laga perdana lawan USA. Meski demikian, blunder tersebut bukan 100% disebabkan oleh Jabulani. Saya lebih condong untuk berpendapat bahwa itu adalah goalkeeper error yang dilakukan oleh Robert Green.

Sisi positif dari Jabulani, banyak tercipta gol-gol mengejutkan yang dicetak dari tendangan jarak jauh. Selain itu, sempat terjadi dua gol indah dari freekick yang dilakukan dengan sempurna oleh dua pemain Jepang, Keisuke Honda dan Yasuhito Endo di laga terakhir fase grup melawan Denmark. Sedikit banyak, gol-gol tersebut lahir berkat efek Jabulani, yang diklaim Adidas sebagai bola paling bulat yang pernah dibuat.

Well, itu dia pernak-pernik sekilas tentang FIFA World Cup 2010 yang berlangsung di South Africa. Perhelatan masih separo jalan menuju puncak. Saat tulisan ini dibuat, turnamen mulai memasuki tahap-tahap yang mendebarkan bagi tim-tim yang sudah lolos ke babak 16 besar. Inggris, Meksiko, Korea Selatan, dan USA sudah tersisih dari babak sistem gugur. Siapa akan menyusul? Dan siapa yang bakal berhadapan di babak final nanti? Semua akan terjawab tuntas sekitar dua minggu lagi. Waka-Waka. *tiup vuvuzela*

Shakira.. Waka-Waka.. This time for Africa..
Waka-Waka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s