This Time for..

Soccer City Stadium di Johannesburg, Afrika Selatan, dini hari nanti akan menjadi tempat penentuan bagi dua tim finalis untuk mencatat prestasi sebagai juara dunia yang baru. Ya, setelah tahun 1998 (saat Prancis menjadi juara), sekaranglah waktu bagi trofi Piala Dunia FIFA untuk direbut oleh negara yang belum pernah sekalipun menjadi kampiun, yaitu antara La Furia Roja, Spanyol, atau De Oranje, Belanda.

Belanda menapak babak final dengan rekor mentereng, menyapu bersih seluruh laga di Piala Dunia FIFA 2010 dengan kemenangan beruntun, mulai dari fase grup lawan Denmark hingga semifinal lawan Uruguay. Semua lawan-lawan pasukan Oranje tersebut bertekuk lutut, termasuk sang jagoan, Brasil, yang merupakan unggulan utama tahun ini, harus pulang kampong lebih awal karena kehebatan Wesley Sneijder dkk.

Tidak hanya itu rekor kehebatan De Oranje. Sebelum laga final nanti malam, anak asuh Bert Van Marwijk tersebut mencatat 25 kemenangan beruntun di semua ajang, mulai babak kualifikasi, uji coba, hingga semifinal kemarin. Sebuah torehan yang fantastis. Oleh karena itu, sangat layak jika tim yang dikapteni oleh pemain keturunan Maluku, Indonesia, yaitu Giovanni Van Bronckhorst ini tampil di partai puncak Piala Dunia FIFA 2010.

Berkebalikan dengan Belanda, tim Matador, Spanyol, mengawali langkahnya di Piala Dunia kali ini dengan hasil buruk, secara mengejutkan ditekuk oleh Swiss dengan skor 1-0 di laga perdana. Meski demikian, setelah kekalahan memalukan tersebut, anak asuh Vicente Del Bosque langsung bangkit di pertandingan selanjutnya dan menggilas semua lawan-lawannya, termasuk tim muda penuh gairah, Jerman, di babak semifinal.

Berbicara mengenai duel Spanyol vs Belanda kali ini, tidak bisa lepas dari pemain-pemain kunci di kedua kubu. Sebagai tim yang sangat solid, Spanyol dan Belanda sangat kuat di lini tengah. Barisan gelandang kedua tim tersebut diisi oleh pemain-pemain kelas atas, seperti Wesley Sneijder, Arjen Robben, Rafael Van Der Vaart, dan Mark Van Bommel di kubu Oranje, serta Xavi, Andres Iniesta, Xabi Alonso, dan Cesc Fabregas di kubu Matador.

Sangat sulit memprediksi siapa yang akan memenangkan pertarungan di lini vital tersebut. Jika lini tengah kedua tim bermain terbuka dan menyerang (saya harap demikian) akan tersaji pertandingan yang sangat menarik dan atraktif. Sedangkan, jika mereka takut-takut dan saling menunggu, bisa-bisa tersaji permainan yang membosankan dan kemungkinan besar diakhiri dengan adu penalti.

Selain di lini tengah, untuk barisan pertahanan dan penyerang, Spanyol sebenarnya sedikit lebih unggul dibanding Belanda. Barisan belakang La Furia Roja yang digalang oleh kiper Iker Casillas serta bek Carles Puyol dan Gerard Pique sedikit lebih kokoh dibanding benteng Oranje yang dipandegani oleh kiper Marten Stekelenburg serta bek Joris Mathijsen dan Johnny Heitinga. Demikian juga dengan barisan depan, Matador unggul jauh dibanding Belanda. David Villa sudah mencetak 5 gol, sedangkan Robin Van Persie, ujung tombak Oranje, baru menceploskan sebiji gol.

Melihat kondisi tersebut, banyak pengamat dan bursa taruhan yang akhirnya mengunggulkan Spanyol untuk meraih gelar juara dunianya yang pertama. Tapi, pendukung Netherlands jangan patah semangat dulu. Ingat, Belanda punya Wesley Sneijder dan Arjen Robben. Dua pemain ini sering membuat aksi-aksi ajaib yang memecah kebuntuan ketika serangan-serangan timnya sering kandas di jantung pertahanan lawan.

Kita bisa mengambil contoh babak semifinal UEFA Champions League musim 2009/2010 yang lalu. Saat itu, Inter Milan berhadapan dengan Barcelona, yang merupakan representasi timnas Spanyol saat ini. Dengan gaya main yang nyaris sama dengan tim Matador, Barcelona diunggulkan untuk menjungkalkan tim asuhan Jose Mourinho, yang gaya mainnya pragmatis, persis timnas Belanda sekarang. Apa yang terjadi? Ternyata prediksi tersebut salah. Kita semua tahu, Inter yang akhirnya memenangkan pertandingan dan lolos ke final hingga akhirnya bablas menjadi juara setelah 45 tahun puasa gelar di UEFA Champions League.

Saya rasa, pelatih Belanda, Van Marwijk, akan meniru strategi Mourinho tersebut. Belanda akan bermain sedikit bertahan dan mengandalkan serangan balik cepat. Dan yang harus dicatat, di tim Oranje saat ini ada Wesley Sneijder, aktor utama yang juga menjadi andalan Mourinho untuk mengatur permainan Inter Milan. Tentu saja, di final nanti, Sneijder akan berusaha mengulangi suksesnya di Inter dengan meneror pertahanan Spanyol, yang dikawal oleh benteng-benteng Barcelona.

Bagaimana dengan Spanyol? Tidak ada strategi lain. Matador akan tetap bermain dengan mengandalkan ball possession alias berusaha selama mungkin menguasai bola serta memadukannya dengan umpan-umpan pendek yang cepat dan merapat. Itu adalah satu-satunya gaya bermain yang dikuasai oleh penggawa-penggawa Spanyol yang mayoritas adalah pemain-pemain Barcelona. Patut disimak, apakah kali ini Matador sanggup menjebol sistem pertahanan Oranje yang sangat taktis dan tidak segan untuk bermain sedikit keras jika gawangnya mulai terancam.

Well, itu sedikit gambaran tentang laga final nanti. Entahlah, meski Spanyol diunggulkan dan kekuatan lini per lininya sedikit di atas Belanda, feeling saya mengatakan tahun ini adalah saat yang tepat bagi De Oranje untuk mengakhiri kutukan sebagai “Juara Tanpa Mahkota” yang sudah melekat selama puluhan tahun. Yes, this time for Oranje. Hup Holland Hup.

Siapakah yang bakal menerima FIFA World Cup Trophy dari Nelson Mandela?
This Time for..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s