Bermula dari Tamiya dan Senna

Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang musim balap F1 tahun 2011 ini, saya banyak membaca berita dan tulisan tentang perlombaan jet darat tersebut. Di antara sekian banyak ulasan dari para pakar dan pengamat F1, ada satu tulisan yang menarik dan menginspirasi saya. Kenapa? Karena tulisan tersebut merefleksikan apa yang saya rasakan tentang balapan F1 saat ini. Tulisan tersebut seakan mewakili kegalauan saya.

Catatan tersebut ditulis secara berseri oleh Azrul Ananda, commissioner NBL dan DBL Indonesia sekaligus F1 mania, di Jawa Pos edisi 1 Februari 2011 dan 2 Februari 2011. Di catatan itu, Azrul Ananda menulis tentang: “Belajar Menggilai Lagi Formula 1”.

Kenapa harus menggilai lagi Formula 1? Di paragraf pembuka, Aza, demikian Azrul Ananda biasa disapa, menulis, “Ada yang bilang, menyukai balap mobil itu sulit. Tapi, begitu suka, orang itu akan terus menyukainya hingga akhir. Benar juga sih, meski pada titik tertentu kita mungkin harus terinspirasi ulang untuk terus suka balap mobil.”

Saya setuju 100% dengan apa yang ditulis Aza. Sebagai penggila F1, yang sama-sama mulai menggemari balapan ini sejak awal tahun 1990-an, saya bisa mengerti kegalauan yang dirasakan oleh Aza. Apa penyebab kegalauan itu?

Meski tidak saling kenal, saya dan Aza memiliki banyak kesamaan dalam hal menggilai F1. Kami sama-sama menyukai balapan ini gara-gara hobi merakit mainan mobil balap Tamiya di awal tahun 1990-an. Kami juga sama-sama “jatuh cinta” pada sosok pembalap legendaris asal Brazil, almarhum Ayrton Senna. Kami juga sama-sama menangis waktu Ayrton Senna meninggal.

Sepeninggal Senna, Aza mulai mencari sosok “pahlawan” baru. Saya juga. Eh, ternyata pilihan kami sama. Sosok pengganti Senna itu adalah Jean Alesi yang waktu itu membalap untuk Ferrari. Dan sejak saat itu pula saya menjadi tifoso Scuderia Ferrari sampai saat ini.

Setelah karir Jean Alesi meredup, sekitar tahun 1997, perhatian saya tertuju kepada pembalap muda berbakat asal Italia, Giancarlo Fisichella, yang waktu itu membalap untuk tim Jordan. Sampai saat ini, saya adalah fan berat Giancarlo “Fisico” Fisichella. Meski tidak pernah menjadi juara dunia sampai dia pensiun di Ferrari akhir 2009 yang lalu, Fisico tetap menjadi pembalap favorit saya sepanjang masa.

Faktor pensiunnya Fisico jelas membuat saya galau. Dan saya yakin, Aza dan fans F1 angkatan jadoel juga merasakan hal yang sama. Kegalauan kami disebabkan hilangnya para “pahlawan” tersebut. Satu persatu “hero” kami hilang dari sirkuit. Ayrton Senna tewas, Jean Alesi pensiun, Juan Pablo Montoya pindah ke NASCAR, dan Giancarlo Fisichella hanya menjadi reserve driver di Ferrari.

Jujur, berat bagi saya untuk mengikuti balap F1 musim 2010 yang lalu. Meski disebut-sebut sebagai salah satu musim F1 paling seru sepanjang masa, tetap saja saya tidak excited untuk menontonnya. Semua itu disebabkan tidak adanya sosok idola yang membalap di sirkuit.

Fernando Alonso, Felipe Massa, Mark Webber, Lewis Hamilton, sampai sang juara dunia termuda sepanjang masa, Sebastian Vettel, bukanlah “pahlawan” bagi saya. Yang paling mendekati mungkin hanya Jenson Button, sosok yang baru muncul di awal tahun 2000-an.

Di susunan pembalap F1 2010, hanya ada dua pembalap yang nyambung dengan jaman saya dan Aza pertama kali menggemari F1 (tahun 1990-an), yaitu Rubens Barrichello dan Michael Schumacher. Celakanya, saya tidak menyukai keduanya. Bahkan, saya (dan Aza juga) adalah penganut aliran ABS alias Asal Bukan Schumacher.

Ya, Michael Schumacher adalah pembalap terhebat sepanjang masa. Tujuh gelar juara dunia adalah buktinya. Saya mengakui hal itu. Tapi, saya sudah “alergi” sejak dia menjadi juara dunia bersama tim Benetton tahun 1994. Entah kenapa.

Schumi juga sukses membikin saya bosan dengan F1 waktu dia juara dunia lima kali berturut-turut (musim 2000 s/d 2004) bersama Ferrari. Dominasinya itu yang membuat saya hilang selera. Meskipun saya sebenarnya adalah penggemar Ferrari. Agak aneh memang.

Nah, menjelang musim 2011 ini, meski masih belum menemukan sosok idola baru di sirkuit, saya akan mencoba untuk belajar menggilai lagi Formula 1.

Sama dengan Aza, yang menginspirasi saya untuk mulai menggilai lagi Formula 1 adalah berita tentang dirilisnya film balap dokumenter, semacam biografi, tentang “pahlawan” Azrul Ananda, “pahlawan” fans F1 di seluruh dunia, dan “pahlawan” yang berhasil menarik perhatian saya untuk mencintai F1 hampir 20 tahun yang lalu, yaitu almarhum Ayrton Senna.

Film berjudul “Senna” tersebut akan dirilis tahun 2011 ini dan sudah diputar secara terbatas di Jepang dan Brazil pada akhir tahun 2010 yang lalu. Film itu juga mendapat sambutan hangat dan pujian dari para pengamat dan penggemar F1. Bagi saya, semoga film “Senna” bisa melecut lagi kegilaan terhadap F1. Bahkan, mungkin lebih gila lagi dari sebelumnya.

Untuk lebih lengkapnya, berikut ini saya sertakan catatan tentang “Belajar Menggilai Lagi Formula 1” dan ulasan film “Senna” dari Azrul Ananda yang saya kutip dari Jawa Pos.

Jelang Musim 2011, Belajar Menggilai Lagi Formula 1

Bermula dari Tamiya dan Senna

Ada yang bilang, menyukai balap mobil itu sulit. Tapi, begitu suka, orang itu akan terus menyukainya hingga akhir. Benar juga sih, meski pada titik tertentu kita mungkin harus terinspirasi ulang untuk terus suka balap mobil.

Catatan AZRUL ANANDA

SETIAP orang suka Formula 1 dengan cara yang berbeda. Ada yang “diracuni” orang tua. Ada yang gara-gara sering ketemu penggemar berat. Saya termasuk yang jalur unik. Saya suka Fl gara-gara hobi merakit model plastik Tamiya waktu SMP pada awal 1990-an.

Model plastik Tamiya memang keren. Apalagi, yang miniatur Fl. Kita jadi belajar detail tentang seluruh komponen mobil itu, lalu asyik mengelem, mengecat, me-nempeli decal (stiker), mem­buatnya terlihat semirip mungkin dengan mobil aslinya.

Kita jadi belajar lebih dalam karena setiap model plastik datang dengan panduan lengkap. Termasuk di bagian depan, cerita deskripsi tentang mobil tersebut dan pencapaiannya di lintasan.

Dari situ saya menjadi makin penasaran untuk terus lebih me­mahami Fl. Karena belum ada internet dan belum ada banyak tayangan TV, majalah-masalah asing dicari, artikel-artikel koran atan tabloid dikliping.

Dari situ belajar sosok-sosok-nya. belajar teknologinya, hingga akhirnya punya ilmu lumayan komplet setelah bertahun-tahun mengikuti Fl. Bukan ilmu instan yang didapat lewat seharian browsing internet.

Kisah Ayrton Senna membuat saya makin jatuh cinta kepada Fl dan menjadikan dia sebagai idola utama. Cepat, semangat, jenius. namun masih memiliki kelemahan-kelemahan manusiawi.

Dan pada 1990-an (apalagi sebelumnya), para pembalap memang belum masuk generasi “robot korporasi”. Semua masih punya karakter masing-masing yang unik, mencoba menaklukkan mobil-mobil yang belum terlalu berkomputer. Ngomong masih sembarangan, bertingkah masih macam-macam.

Ketika Ayrton Senna tewas di tikungan Tamburello, Sirkuit Imola, Grand Prix San Marino, pada 1994, saya (waktu itu 16 tahun) menangis. Hingga hari ini, koleksi majalah lama yang me­nampilkan kesedihan tragedi itu masih terpampang dalam frame di dinding ruang kerja saya.

Setelah Senna, saya mene­mukan idola baru di sosok Jean Alesi. Bukan karena dia brilian seperti Senna. Lebih karena simpati, gara-gara si pembalap supercepat itu tak kunjung mam­pu meraih kemenangan karena berbagai hal. Termasuk karena lebih memilih “hati” daripada “kepala”.

Pada 1991, Alesi -berdarah Italia- memilih bergabung Ferrari karena kebanggaan dan emosi daripada bergabung Williams-Renault. Padahal, waktu itu Ferrari sedang buruk-buruknya, sedangkan Williams menuju era dominasi. Andai Alesi waktu itu bergabung dengan Williams, dia mungkin sudah juara dunia ber­kali-kali.

Hingga hari ini, koleksi miniatur mobil-mobil Senna dan Alesi masih ada komplet di ruang khusus di rumah saya. Begitu pula buku-buku dan berbagai koleksi lain yang kebanyakan berasal dari era 1990-an.

Dari era “antusias” ini. saya masuk era “karir”. Dulu, karena sering sebal melihat tulisan Fl di media-media di Indonesia, saya bertekad untuk menjadi penulis Fl terbaik. Kutipan dari Peter Windsor, dulu manajer tim Fl dan kolumnis andal (sebelum gagal bikin tim USF1 pada 2010), saya tempel di dinding kamar waktu kuliah.

“Banyak anak ingin menjadi pembalap Fl. Saya? Kalau saya hanya ingin menulis,” begitu kata Windsor.

Dari waktu kuliah itu sayamulai rajin menulis catatan tentang Fl. . Pelan-pelan, bertahun-tahun, mengasah kemampuan analisis. Rasanya menjadi makin matang setelah puluhan kali meliput langsung di lintasan.

Dari menulis menjadi komen­tator. RCTI memberi saya kesem­patan pertama pada 2000. TPI menjadi pendorong rutinitas dalam beberapa tahun selanjutnya, di­sambung Global TV. Sesekali juga menjadi komentator balap NAS­CAR di Indosiar.

Mimpi saya sebenarnya men­jadi komentator seperti tayang­an asli. Bisa spontan dan menge­luarkan “ilmu” serta kemam­puan deskripsi sepanjang lomba. Nasib kita di Indonesia, hanya bisa berbicara di awal dan akhir lomba. Tidak apa-apa karena satu lagi keinginan sudah ter­capai.

Habis itu mau ke mana lagi? Setelah belasan tahun “me­nekuni” Fl sebagai hobi, saya merasa butuh break dulu se­bentar. Berhenti menjadi komen­tator di TV, mengurangi porsi menulis. Sambil menunggu “ins­pirasi” baru.

Tahun ini inspirasi baru itu rupanya telah muncul kembali. Lagi-lagi gara-gara Senna….

Tak Sabar Nonton Film Senna

Film dokumenter tentang Ayrton Senna segera bisa kita tonton. Semoga film itu benar-benar bisa menginspirasi ulang penggemar lama Formula 1 serta menarik minat penggemar baru.

Catatan AZRUL ANANDA

Sebagai “penggemar lama”, satu persatu “pahlawan” saya hilang dari Formula 1. Ayrton Senna tewas pada 1994. Jean Alesi gantung helm pada pengujung 2001. Terakhir, Giancarlo Fisichella mengakhiri karir bersama Ferrari pada 2009.

Kalau melihat susunan pembalap F1 2011, hanya ada dua nama yang nyambung dengan era awal 1990-an, saat saya pertama kali jatuh cinta pada F1. Ada Michael Schumacher (tahun ini 42 tahun), ada Rubens Barrichello (tahun ini 38).

Lainnya? Semua lebih muda daripada saya. Kebanyakan baru mengawali karir dalam beberapa tahun terakhir. Untuk mengidolakan seorang pembalap, saya harus menunggu dulu perkembangan karir mereka dan membandingkannya dengan idola-idola lama saya dulu.

Bagi penggemar baru mungkin lebih gampang. Sebab, pembalap muda sekarang akan tumbuh seiring dengan kesukaan sang penggemar baru. Saya dan penggemar lama? Sekali lagi, kita masih harus membanding-bandingkan dengan yang dulu.

Dalam beberapa tahun terakhir, terus terang berat bagi saya mengikuti F1 secara intensif. Saya tetap berusaha mengikuti perkembangan. Sebab, di balap mobil, kalau miss sedikit saja, buntutnya bisa bolong besar. Namun, tidak bisa lagi seintensif atau sepenasaran dulu.

Percikan baru itu mulai terasa di pengujung 2010. Berita tentang film dokumenter Ayrton Senna mulai muncul.

Saya punya banyak video tentang Senna. Saya punya banyak sekali buku tentang pembalap Brazil itu. Meski demikian, setiap ada yang baru, selalu muncul rasa penasaran untuk menonton.

Hanya, saya mulanya tidak punya banyak ekspektasi terhadap film berjudul Senna itu.

Film balap kebanyakan memang biasa-biasa saja. Bahkan, tim Hollywood paling top pun belum tentu bisa bikin film yang pas. Contohnya, film Driven garapan Sylvester Stallone beberapa tahun lalu. Aduh, film itu sama sekali tidak pas dengan balap yang sesungguhnya. Untung, waktu itu Stallone tidak dapat izin memakai setting F1. Dia akhirnya pakai setting Champ Car alias Indy Car.

Sejauh ini, film balap terbaik yang pernah saya tonton adalah Grand Prix garapan sutradara legendaries John Frankenheimer. Film itu keluaran 1966, mengambil setting persaingan F1 pada era yang sama. Walau film lama, sinematografinya bikin kagum sampai sekarang. Kamera di atas mobil, aksi-aksi realistis (bukan garapan komputer), dan lain-lain.

Dari film itu, emosi dan tingginya bahaya balapan zaman dulu tergambar secara realistis. Bintang-bintang top jadi pemeran utama. Misalnya, James Garner, Eva Marie Saint, dan Yves Montand.

Belum lagi bonus kemunculan bintang-bintang lawas, seperti Phil Hill, Graham Hill, Juan-Manuel Fangio, Jim Clark, Jochen Rindt, dan Jack Brabham. Juga Richie Ginther dan Bruce McLaren (pendiri tim McLaren sekarang).

Film itu pun ternyata sukses. Salah satu yang terlaris pada 1966 dan kemudian menyabet tiga trofi Oscar (best sound effects, film editing, dan sound). Penasaran? DVD-nya bisa dipesan di internet.

Film Senna? Tanda-tanda film tersebut dahsyat sudah muncul pada akhir 2010. Ketika diputar terbatas di Jepang dan Brazil, Senna dapat sambutan hebat. Kalangan media yang menontonnya di kisaran GP Jepang ikut mengacungkan dua jempol. Padahal, film itu 100 persen memakai bahan baku lama. Mulai rekaman lomba, wawancara, sampai home video.

James Allen, seorang komentator top Inggris, bilang bahwa film besutan sutradara Asif Kapadia itu telah mengembalikan lagi rasa cintanya pada F1.

Sejauh ini, saya baru lihat trailer-nya di You Tube. Sekilas, emosinya sepertinya “dapat”. Kutipan-kutipan legendaries muncul di dalamnya, khususnya dari Ayrton Senna sendiri.

Salah satu yang bikin saya merinding: “There is a lot to go, a lot to learn, a lot to do. But I have lack of time” (Ada banyak yang dituju, dipelajari, dan dikerjakan. Tapi, saya tak punya banyak waktu).

Minggu lalu (30/1), film Senna dapat penghargaan bergengsi di Amerika Serikat. World Cinema Audience Award, di ajang Sundance Film Festival.

Tidak hanya itu, Senna juga dapat komentar hebat dari media mainstream Amerika. Padahal, F1 termasuk “asing” di Negeri Paman Sam. “Kadang, sebuah dokumenter secara mengejutkan mampu menyentuh kita sekaligus membuat kita (kagum). Itulah yang dilakukan Senna,” tulis Kenneth Turan dari Los Angeles Times.

Seharusnya, Senna sudah bisa ditonton secara meluas pada 2011 ini. Saya sendiri akan mencoba mendapatkannya dengan cara apa pun, secepat mungkin. Semoga saja film itu benar-benar bisa memantik lagi api kegilaan terhadap F1. Semoga saja sebelum musim 2011 ini dimulai…

Sumber: Jawa Pos, Sportainment (Edisi: 01/02/2011 & 02/02/2011)

Bermula dari Tamiya dan Senna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s