Ketika Pembalap Kembali Berguguran di Lintasan: Kadang, Tragedi Justru Dongkrak Popularitas

Saat ini, dunia motorsport sedang berduka. Mungkin, inilah saat terkelam dalam dunia balap sejak tewasnya Ayrton Senna tahun 1994 yang lalu. Dalam tempo hanya seminggu, dua pembalap hebat, Dan Wheldon dan Marco Simoncelli, kehilangan nyawa di lintasan balap yang sangat dicintainya. Apa pelajaran yang bisa dipetik dari tragedi tersebut? Berikut ini adalah ulasan Azrul Ananda yang dimuat di Jawa Pos, edisi Rabu, 26 Oktober 2011.

Ketika Pembalap Kembali Berguguran di Lintasan: Kadang, Tragedi Justru Dongkrak Popularitas

Dua minggu, dua pembalap hebat tewas di lintasan. Juara IndyCar Dan Wheldon dan bintang muda MotoGP Marco Simoncelli. Karena jam tak bisa diputar balik, manfaatnya baru akan terasa di masa mendatang.

Catatan AZRUL ANANDA

DUA berita menggemparkan mewarnai arena balap dalam dua pekan. Dan Wheldon, pembalap senior Inggris mantan juara IndyCar dan lomba Indy 500, tewas saat berlomba di sirkuit oval di Las Vegas.

Berita Wheldon mungkin tak terlalu menghebohkan di Asia, mengingat popularitas IndyCar tak terlalu besar di sini. Tapi, di Amerika dan Eropa, dampaknya sangat terasa. Wheldon tewas setelah tak mampu menghindari “tabrakan massal“ yang pada akhirnya melibatkan 15 mobil.

Mobilnya terlontar dari sisi dalam lintasan ke sisi luar, menghantam pagar pengaman yang memisahkan lintasan dengan tribun.

Walau mobil IndyCar punya tingkat ke selamatan sangat tinggi (lebih ketat dari Formula 1 karena membalap di lintasan oval yang lebih cepat), Wheldon tetap apes. Bagian roll hoop (bagian atas mobil tepat di belakang kepala pembalap) hancur, membuat kepala Wheldon ikut menghantam pagar.

Tanpa menunggu lama, penggemar balap di Asia, khususnya Indonesia, dihebohkan oleh tewasnya Marco Simoncelli di Sirkuit Sepang, saat MotoGP Malaysia Minggu lalu (23/10).

Simoncelli terjatuh di putaran kedua lomba, tertindih motor sendiri (Honda Gresini) dan terseret menyeberangi lintasan dari kiri ke kanan. Colin Edwards (Tech 3 Yamaha) dan Valentino Rossi (Ducati) tak kuasa menghindar, menghantam badan dan kepala “SuperSic“ sampai helmnya terpental.

Bisakah kedua kecelakaan ini diantisipasi? Antara ya dan tidak. IndyCar dan MotoGP merupakan dua seri sangat bergengsi, sangat profesional. Segalanya sudah disiapkan untuk meminimalisasi risiko pembalap.

Di IndyCar, bobot mobil dibuat berat, supaya bisa menahan benturan lebih baik untuk melindungi pembalap. Bahkan, untuk 2012 dan selanjutnya, IndyCar sudah menyiapkan mobil baru buatan Dallara yang akan meningkatkan tingkat keselamatan pembalap. Bagian utama mobil itu (kokpit dan sekitar) disebut sebagai “safety cell“. Bagian ban yang terbuka juga sedikit ditutupi sayap dan bodi, mengurangi kemungkinan ban terbuka bersentuhan dengan ban terbuka dari mobil lain. Mobil itu sudah menjalani serangkaian uji coba, dan wajib dipakai mulai musim 2012. Ironisnya, selama ini yang menguji mobil itu adalah Dan Wheldon sendiri…

Bayangkan seandainya di Las Vegas IndyCar sudah pakai sasis baru. Mungkin Wheldon sekarang masih bisa mengomentari kecelakaan massal tersebut. Sekarang, Wheldon tak bisa lagi menikmati mobil hasil kerja kerasnya tersebut.

Pihak IndyCar kini sedang bekerja keras mengevaluasi kecelakaan, untuk mempelajari lagi bagaimana cara terus meningkatkan safety. “Ini kecelakaan tragis, IndyCar harus memahami segala hal yang terjadi,“ tandas CEO IndyCar Randy Bernard.

Sementara itu, balap motor sangat beda dengan mobil. Kalau balap mobil, pembalap tidak boleh terlontar keluar, dan harus dilindungi oleh kokpit yang luar biasa. Kalau balap motor, pembalap harus sangat aman ketika terjatuh atau terlontar dari motor.

Pada 2003, di Suzuka, Jepang, Daijiro Katoh (atau Kato, sama saja tulisan Jepangnya) melebar keluar lintasan dan menabrak pagar pengaman. Sejak 2003, masalah itu tidak ada lagi. Semua sirkuit sekarang sudah punya run-off area (kawasan untuk melebar) yang luas dan jauh dari pagar.

Yang tidak bisa diperbuat lebih banyak lagi, adalah ketika pembalap terjatuh dan dihantam motor lain. Dua korban terakhir grand prix motor kejadiannya mirip. Tomizawa (Moto2 tahun lalu) dan Simoncelli sama-sama tewas setelah ditabrak pembalap lain dengan kecepatan sangat tinggi.

Kalau sudah begini, ya memang sudah nasib. Giacomo Agostini, mantan juara dunia grand prix motor 15 kali (di berbagai kelas) menegaskan itu. “Percuma bicara soal safety dan perlindungan pembalap karena untuk (kasus Simoncelli) sudah banyak yang diupayakan,“ ujarnya.

“Di zaman saya dulu, kami membalap pakai helm kecil, baju tipis, dan sirkuit yang dikelilingi tembok, pohon, dan pagar. Waktu itu situasinya hopeless. Ada banyak sekali kecelakaan dan banyak rekan saya yang meninggal,“ tuturnya.

“Sekarang, sirkuit sangat aman. Ada banyak kawasan run-off, bajunya sangat aman, helmnya full face. Bahkan ada airbag dari Dainese untuk melindungi punggung, bahu, dan kepala. Sudah ada banyak perlindungan. Tapi ketika dua motor berbobot 150 kilo menabrak kita dengan kecepatan 150 km per jam, tidak akan ada yang bisa melindungi kita dari itu,“ lanjutnya.

Entah apa yang akan dilakukan MotoGP untuk memperbaiki lagi tingkat keselamatan pembalap. Apalagi, tragedi ini terjadi di saat “krisis“. MotoGP sedang minim peserta dan kesulitan mempertahankan atau menambah jumlah peserta untuk 2012…

Terakhir kali ada tahun supersedih seperti ini di arena balap adalah 1994. Ketika juara dunia tiga kali Formula 1, Ayrton Senna, tewas di Grand Prix San Marino, di Sirkuit Imola. Menariknya, film berjudul Senna, dokumenter tentang sang pembalap yang menang festival film bergengsi Sundance, juga beredar di seluruh dunia tahun 2011 ini.

Saya baru belakangan ini bisa menikmati film tersebut. Dan film itu memang brilian. Anda tidak harus suka balap untuk menikmatinya, untuk menangis di penghujung ceritanya. Itu kisah manusia yang luar biasa, yang bisa menginspirasi sekaligus membuat kita lebih apresiatif terhadap kemanusiaan. Saya tidak mau cerita seperti apa, silakan tonton sendiri (DVD bajakannya ada kok, tapi bukan berarti saya mendukung pembajakan lho!).

Tewasnya Senna dulu membuat F1 bekerja keras meningkatkan safety. Syukur, sampai sekarang belum ada lagi pembalap yang tewas di arena F1 (meski ada pengawas lintasan yang tewas kena serpihan ban beberapa tahun lalu). Dan dampak lain: Tewasnya Senna memberi F1 eksposure media yang belum pernah didapat sebelumnya. Membuat popularitas F1 menjulang tinggi, mendorong hingga puncaknya ketika zaman kesuksesan Michael Schumacher dan Mika Hakkinen di penghujung 1990-an dan awal 2000-an.

Tewasnya Wheldon dan Simoncelli, mungkin, bisa memberi dampak serupa kepada masing-masing seri. MotoGP, sebelum tewasnya Simoncelli, tergolong sedang minim kehebohan. Kejuaraan dunia berlangsung relatif boring dengan dominasi Casey Stoner. Plus seperti sudah disebut: Krisis peserta. IndyCar? Pada 1990-an, seri ini sempat mengancam popularitas F1 secara global. Belakangan, seri ini juga berkutat meraih popularitas. Dengan berita tewasnya Wheldon, seorang bintang, IndyCar pun kembali mendapat sorotan global.

Mungkin apa yang saya tulis setelah ini bisa dianggap kurang sensitif. Jadi maaf kalau Anda tersinggung. Tapi, dengan tewas di arena yang mereka cintai saat berlomba, kedua pembalap itu telah memberikan kontribusi luar biasa untuk mendongkrak seri balap masing-masing.

Kutipan terbaik pasca tewasnya Simoncelli, muncul dari sang ibu sendiri, Rosella, saat dikunjungi puluhan orang di kediaman keluarga di Coriano, Italia. Melihat banyak penggemar Simoncelli menangis, Rosella justru sangat tegar.“Non piangete, non piangete per lui. Marco non avrebbe mai voluto vedervi piangere.” (Jangan menangis. Jangan menangis untuk dia. Marco tak akan pernah ingin melihat kalian menangis).

Sebagai penggemar balap, kita semua tentu tak ingin melihat ada lagi korban di lintasan. Tapi kadang sebuah seri balap butuh sebuah tra gedi untuk mendongkrak lagi popularitas dan memacu pertumbuhan… (*)

Marco Simoncelli merayakan prestasi tertingginya pada ajang MotoGP sebagai runner-up di Australian GP, seminggu sebelum tewas. Ciao, SuperSic! (AFP Photo/Ruben Yap)
Ketika Pembalap Kembali Berguguran di Lintasan: Kadang, Tragedi Justru Dongkrak Popularitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s