To Finish First, You Must First Finish

Bagi seorang pembalap, memenangkan lomba adalah tujuan utamanya. Untuk bisa memenangkan lomba, seorang pembalap harus mencapai garis finish terlebih dahulu dibandingkan pembalap-pembalap lainnya. Sederhana sekali.

Bila memenangkan lomba sangat sederhana, kenapa banyak pembalap yang tidak bisa melakukannya? Jawabannya: Mencapai garis finish terlebih dahulu memang sederhana, tetapi yang sulit adalah terus membalap puluhan lap (putaran) dengan konsisten untuk menyelesaikan lomba.

Bukanlah suatu pekerjaan sederhana untuk tetap fokus dan berkonsentrasi berjam-jam dalam menyelesaikan suatu lomba. Seorang pembalap dituntut untuk tidak membuat kesalahan sekecil apa pun saat lomba. Bila lengah satu detik saja, nyawa adalah taruhannya. Kesalahan-kesalahan hanya boleh dilakukan saat simulasi lomba (biasanya menggunakan program komputer mirip video game). Di sana, para pembalap bisa menabrakkan mobil berkali-kali tanpa takut kehilangan nyawa.

Seseorang bernama Jenson Button, tahun 2009 yang lalu, sudah membuktikannya. Dalam ajang balap mobil F1, pembalap yang waktu itu membela tim Brawn-GP berhasil menjadi juara dunia untuk pertama kalinya. Sebuah prestasi yang dihasilkan berkat kerja keras, fokus, dan konsistensi.

Bagi Jenson Button, prinsip yang berlaku adalah: To finish first, you must first finish. Untuk mencapai garis finish pertama kali, terlebih dahulu Anda harus mampu menyelesaikan lomba. Jadi, tidak ada artinya bila Anda membalap dengan cepat, lalu tiba-tiba mobil Anda ngadat di tengah jalan sebelum Anda menyelesaikan lomba, atau mungkin Anda kehilangan fokus dan menabrakkan mobil saat memimpin lomba. Semuanya menjadi sia-sia belaka.

Demikian juga dalam kehidupan ini, bila Anda mempunyai suatu tujuan, jangan sampai Anda kehilangan fokus dan menabrak “dinding” di tengah jalan. Lebih cepat belum tentu lebih baik kalau Anda “membalap” secara ngawur. Jangan berpikir untuk cepat-cepatan terlebih dahulu, berpikirlah untuk menyelesaikan lombanya. Itu yang paling penting.

Bila Anda saat ini sedang mengejar suatu posisi dalam karir Anda, jangan hanya fokus untuk cepat-cepat mencapai posisi itu, tetapi fokuslah juga bagaimana Anda bisa terus bertahan dalam menyelesaikan PROSES untuk mencapai posisi itu. Banyak sekali orang yang grusa-grusu, ingin cepat, ingin instant, ingin duluan, ingin terlihat hebat karena dia menjadi yang pertama, tetapi hasilnya dia menyerah di tengah jalan. Mobilnya mogok karena terus-terusan digeber sampai lupa mengisi bensin, atau karena terlalu bernafsu, akhirnya lengah dan menabrak dinding pengaman.

Kesimpulannya, kehidupan ini bukan hanya balap adu cepat, tetapi juga adu ketahanan, adu konsistensi, adu konsentrasi, dan harus diselesaikan dalam puluhan lap (putaran), bukan hanya satu lap saja. Jenson Button sudah mengajarkan banyak hal kepada saya. Dan saya harap, Anda juga bisa belajar darinya.

Jenson Button (AP Photo)

Sekelumit tentang Jenson Button

Jenson Button adalah seorang pembalap berbakat. Dia mengawali karirnya di F1 tahun 2000. Sayangnya, dia banyak membalap untuk tim-tim kecil dan menengah, bukan tim kaya seperti Ferrari, sehingga bakatnya seperti tersia-siakan.

Bukan itu saja masalah yang dihadapi Jenson Button. Pada musim balap tahun 2009, hampir saja dia pensiun karena tim yang dibelanya, Honda F1 Racing, mengundurkan diri akibat krisis finansial global. Honda F1 Racing akhirnya dibeli secara patungan oleh konsorsium yang dipimpin mantan karyawannya (Ross Brawn, Direktur Teknik dan Kepala Perancang Honda F1 Racing) dan namanya berubah menjadi Brawn-GP.

Dengan dana yang pas-pasan dan tanpa sponsor, kecuali Virgin Group-nya Richard Branson (karena itu warnaya putih bersih, tidak seperti tim-tim lain yang warna-warni), tim yang saat itu merupakan tim termiskin di F1, melanjutkan perjuangannya di ajang balap mobil paling bergengsi di dunia, F1 Racing.

Jenson Button sendiri tidak jadi pensiun, dia tetap membalap untuk Brawn-GP meskipun gajinya harus dipotong (mungkin termasuk yang paling rendah di antara para pembalap F1 saat itu). Bagi dia, membalap adalah hidupnya. Bahkan, mungkin dia rela tidak dibayar asal bisa tetap membalap di F1.

Saat ini, Jenson Button sudah menjadi seorang juara dunia dan membalap untuk tim besar, McLaren, dan menjadi satu-satunya pembalap yang mampu mengganggu dominasi Sebastian Vettel musim ini. Ketenangannya dalam melahap sirkuit membuatnya lebih unggul daripada Lewis Hamilton yang jauh lebih muda dan lebih berbakat. Musim depan, saya yakin Jenson Button mampu berbuat lebih banyak bersama McLaren.

To Finish First, You Must First Finish

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s