Meksiko, Telenovela Baru Sepak Bola Dunia

Sejak Roger Milla menggoyang Piala Dunia 1990 di Italia, sepak bola Afrika tidak lagi dianggap remeh. Apalagi setelah Nigeria juga tampil apik di Piala Dunia 1994 dan akhirmya berhasil meraih emas Olimpiade 1996, semakin banyak yang memperkirakan bahwa tidak lama lagi tim-tim asal Afrika bisa merebut Piala Dunia.

Tapi, hingga kini, prediksi itu hanya menjadi pepesan kosong. Prestasi tertinggi tim-tim sepak bola asal Afrika hanyalah sebatas babak perempatfinal di Piala Dunia. Nah, di saat dunia menunggu-nunggu kapan akhirnya tim asal Afrika berjaya, publik sepak bola dikejutkan oleh keberhasilan Meksiko meraih medali emas pertamanya pada Olimpiade London 2012.

Banyak yang bilang bahwa Meksiko bakal menjadi kekuatan baru sepak bola dunia. Tapi, banyak juga yang meragukan. Lihat saja Nigeria dan Kamerun, meskipun berhasil meraih emas Olimpiade, toh prestasi mereka juga biasa-biasa saja di Piala Dunia. Begitulah kata para pencibir.

Akankah Meksiko mengikuti jejak Nigeria dan Kamerun, berjaya di Olimpiade lalu gagal di Piala Dunia, atau malah bisa meneruskan keberhasilannya di Brasil tahun 2014 nanti? Soal hasil akhir, hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi, ada beberapa hal yang bisa membedakan nasib Meksiko dengan dua jagoan asal Afrika tersebut.

Salah satu kelemahan sepak bola Afrika adalah sistem pembinaan. Banyak bakat luar biasa yang menjadi juara di turnamen usia muda, tapi akhirnya menghilang saat senior. Tidak adanya kompetisi liga domestik yang baik dan perencanaan yang matang, ditambah kacaunya federasi sepak bola yang dicampuri oleh urusan politik, membuat tim-tim Afrika tidak bisa mencapai prestasi yang maksimal. Sangat disayangkan.

Berbeda dengan Meksiko. Ya, tim yang baru saja meraih emas di London kemarin adalah tim yang sudah dipersiapkan sejak lama. Tim tersebut sudah diterjunkan pada Copa America 2011 di Argentina, meskipun hasilnya babak belur. Wajar. Yang mereka lawan adalah tim-tim senior terbaik di Amerika Latin. Hasil yang mereka petik bukan pada saat itu, tapi saat ini. Jadi, bukanlah suatu kebetulan jika tim yang diisi mayoritas pemain muda di bawah usia 23 tahun tersebut akhirnya menjadi nomor satu dan menekuk Neymar dan kawan-kawan di babak final Olimpiade. Inilah tim yang dihasilkan dari sistem pembinaan berjenjang.

Faktor lain yang mendukung, liga sepak bola Meksiko saat ini memiliki kompetisi terbaik di benua Amerika setelah Brasil. Klub-klub di Meksiko sangat memperhatikan pembinaan pemain muda dan memberi kesempatan bermain yang luas bagi para pemain juniornya. Perlu digarisbawahi, hampir semua pemain yang merebut medali emas Olimpiade yang lalu adalah produk liga domestik Meksiko. Bukti lain bagusnya sistem pembinaan pemain muda di negeri telenovela tersebut adalah kebehasilan tim juniornya menjuarai Piala Dunia U17 tahun 2011 yang lalu.

Maka dari itu, jangan kaget jika di Brasil dua tahun lagi, tim muda Meksiko yang dpadu dengan pemain-pemain senior tampil impresif. Ingat, Piala Dunia 2014 diadakan di benua Amerika, benua tempat tim-tim asal Amerika biasanya berjaya. Bukan suatu hal yang mustahil apabila Meksiko bisa mencapai hasil akhir yang bahagia ala telenovela.

Meksiko, Telenovela Baru Sepak Bola Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s