Dua Dekade Puasa Gelar Tunggal Putra di All England

All England Open Badminton Championships tahun 2013 baru saja usai, dan Indonesia kembali gagal menjadi juara tunggal putra, meskipun berhasil menyabet satu gelar melalui pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Di nomor tunggal putra, puasa gelar Indonesia berlangsung hampir 20 tahun.  Sudah sangat lama.

Sosok terakhir yang mempu mempersembahkan gelar di nomor paling bergengsi tersebut adalah Haryanto Arbi tahun 1993 dan 1994. Kesuksesan Haryanto Arbi menaklukkan tanah Inggris dengan jumping smash 1000 watt-nya hanya tinggal kenangan. Saat ini, tidak ada sosok lain yang mampu meneruskan kedigdayaan the Jumping Jack di Britania Raya, termasuk legenda seperti Taufik Hidayat sekalipun.

Apa yang membuat tunggal putra Indonesia begitu merana di All England? Padahal, sepanjang sejarahnya, tunggal putra Indonesia adalah penguasa All England. Diawali oleh Tan Joe Hok yang juara tahun 1959, lalu dilanjutkan oleh hegemoni sang Maestro, Rudy Hartono, yang mencetak rekor 8 kali juara, di mana 7 kali di antaranya berturut-turut (1968, 1969, 1970, 1971, 1972, 1973, 1974, 1976). Tidak cukup sampai di situ, pasca Rudy, tongkat estafet diteruskan oleh Liem Swie King yang merajai All England selama 3 kali (1978, 1979, 1981), sebelum diselingi oleh Ardy Wiranata yang juara sekali (1991), dan akhirnya dipungkasi oleh Haryanto Arbi sebagai the last action hero asal Indonesia yang pernah berjaya di All England (1993, 1994).

Banyak yang bilang, salah satu sebab runtuhnya keperkasaan tunggal putra Indonesia adalah masalah pembinaan. Tetapi, sebelum berbicara mengenai pembinaan, ada baiknya kita melihat apakah ada yang bisa dibina terlebih dahulu, alias bibitnya.

Saat ini, ada berapa banyak anak kecil yang gemar bermain bulu tangkis di kampung-kampung seperti tahun 1980an dan 1990an dulu? Anak-anak jaman sekarang lebih suka belajar bagaimana melakukan diving yang baik dan benar ala Luis Suarez atau Gareth Bale karena hampir setiap hari dicekoki tayangan sepak bola Liga Inggris di televisi.

Ya, televisi dan berbagai media lainnya, mungkin, punya andil dalam merosotnya minat anak-anak dalam bermain bulu tangkis. Tidak ada televisi nasional yang menyiarkan kejuaraan bergengsi sekelas All England seperti tahun 1990an. Jika All England saja tidak disiarkan, jangan harap turnamen-turnamen bulu tangkis lain yang skalanya lebih kecil akan menghiasi layar kaca kita. Demikian juga porsi berita bulu tangkis di media cetak dan online, sangat kecil bila dibandingkan dengan berita sepak bola luar negeri, terutama Liga Inggris.

Oleh karena itu, jangan harap anak-anak jaman sekarang punya cita-cita menjadi pemain bulu tangkis hebat seperti anak-anak tahun 1990an yang bermimpi menjadi Haryanto Arbi dengan jumping smash-nya yang dahsyat itu. Anak-anak jaman sekarang lebih suka untuk bermimpi menjadi Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Robin Van Persie, dan bintang-bintang sepak bola lainnya. Itu semua, salah satunya, dikarenakan minimnya ekspos dari media tentang bulu tangkis. Tidak heran kalau saat ini Indonesia semakin kekurangan bibit-bibit potensial yang kelak akan menjadi raja-raja baru di All England.

Dua Dekade Puasa Gelar Tunggal Putra di All England

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s