10 Deep-lying Playmaker Terbaik Sepanjang Masa

Salah satu peran vital dalam sepak bola adalah peran sebagai playmaker alias pengatur permainan. Seorang playmaker ibarat konduktor dalam sebuah orkestra musik klasik. Dengan kemampuan passing yang prima dan visinya dalam mendikte permainan, seorang playmaker menjadi otak bagi kesuksesan timnya.

Secara garis besar, ada dua tipe playmaker, yaitu attacking playmaker dan deep-lying playmaker. Sesuai dengan namanya, seorang attacking playmaker cenderung lebih ofensif dan beroperasi di daerah permainan lawan dengan mengandalkan umpan-umpan pendek seperti yang dilakukan oleh Xavi di Barcelona. Sedangkan seorang deep-lying playmaker beroperasi lebih ke dalam, di depan lini pertahanan, dan mengandalkan umpan-umpan panjang akurat layaknya seorang quarter-back dalam permainan american football.

Di awal abad ke-21, istilah deep-lying playmaker, atau yang di Italia disebut sebagai regista, mulai populer saat pelatih AC Milan, Carlo Ancelotti, menempatkan Andrea Pirlo di posisi ini, yang akhirnya membuat Pirlo menjadi deep-lying playmaker paling ikonik di era kontemporer. Saking terkenalnya, peran sebagai deep-lying playmaker sampai disebut sebagai “Pirlo Role”.

Pada kenyataannya, hanya ada sedikit pemain yang mampu mengemban tugas sebagai deep-lying playmaker seperti Pirlo. Dalam satu dekade, mungkin hanya lahir satu deep-lying playmaker kelas dunia. Sebelum era Pirlo, tercatat ada beberapa pemain hebat yang bisa digolongkan sebagai deep-lying playmaker. Nah, berikut ini adalah 10 deep-lying playmaker terbaik dari masa ke masa menurut versi saya.

Jozsef Bozsik

Mungkin inilah deep-lying playmaker pertama yang namanya menghentak dunia. Jozsef Bozsik adalah otak permainan Hungaria yang saat itu menerapkan formasi 3-2-1-4. Kolaborasinya dengan Ferenc Puskas, Zoltan Czibor, Sandor Kocsis, dan Nandor Hidegkuti membuat tim Hungaria pada awal tahun 1950-an menjadi kekuatan utama sepak bola dunia dan mendapat julukan the Magical Magyars. Sayang, saat bertemu tim underdog Jerman Barat di final Piala Dunia 1954, Bozsik secara tragis gagal membawa Hungaria mengalahkan Fritz Walter dkk dalam momen yang akhirnya dikenang sebagai  the Miracle of Bern itu.

Didi

Dua kali menjadi pusat permainan tim nasional Brazil saat menjadi juara dunia pada tahun 1958 dan 1962 adalah bukti kehebatan Didi, seorang deep-lying playamaker sekaligus eksekutor bola mati terhebat pada masa itu. Peran penting Didi terlihat ketika menginspirasi kebangkitan Brazil saat tertinggal dari tuan rumah Swedia di final Piala Dunia 1958. Kala itu, meski diperkuat oleh Pele, kekuatan utama formasi 4-2-4 Brazil terletak pada Didi. Pele masih sangat muda dan baru menjalani debut di Piala Dunia. Jika tidak ada Didi, Brazil mungkin kembali gagal merebut Jules Rimet Cup seperti tahun 1950 dan Pele tidak akan dikenal dunia.

Josef Masopust

Setelah Jozsef Bozsik, Eropa Timur kembali memiliki sosok deep-lying playmaker hebat pada diri Josef Masopust. Peraih Ballon D’Or 1962 yang terkenal dengan gerakan “Masopust Slalom” ini adalah salah satu penggiring bola termahsyur pada jamannya. Pele menyebutnya sebagai salah satu pemain terhebat yang pernah dia lihat. Pada tahun 1962, Masopust memimpin Cekoslowakia menembus final Piala Dunia di Chile. Tapi sayang, seperti halnya Jozsef Bozsik pada tahun 1954, saat itu dia tidak kuasa membendung Brazil, yang dikomandoi oleh Garrincha, untuk merebut juara dunianya yang kedua.

Gerson

Tidak lama setelah Didi pensiun, Brasil menemukan suksesornya dalam diri Gerson. Dialah yang mengatur ritme permainan tim Brazil pada saat menjadi jawara dunia tahun 1970, yang sampai saat ini disebut-sebut sebagai tim nasional terbaik yang pernah ada. Dialah man of the match saat Brazil menghancurkan Italia di final Piala Dunia 1970. Dengan dibantu Rivelino dan Clodoaldo, umpan-umpan terukur Gerson membuat Pele, Tostao, dan Jairzinho dengan leluasa mencabik-cabik pertahanan lawan. Tanpa Gerson, Brazil mungkin tidak akan menjadi tim pertama yang merengkuh juara dunia tiga kali dan menyimpan trofi Jules Rimet Cup untuk selamanya.

Guenter Netzer

Guenter Netzer mungkin adalah satu-satunya deep-lying playmaker kelas dunia yang pernah dimiliki oleh Jerman. Pemain yang dijuluki si Pemberontak ini mengarsiteki permainan Der Panzer saat menjadi juara Eropa pada tahun 1972. Kemampuan olah bolanya yang superior ditambah umpan-umpan jarak jauhnya yang yahud membuatnya dikenal sebagai salah satu deep-lying playmaker terbaik di era 1970-an. Di Jerman Barat, saingan Netzer adalah Wolfgang Overath, attacking playmaker andalan tim Panzer saat menjuarai Piala Dunia 1974.

Paulo Roberto Falcao

Tim Brazil tahun 1982 diakui sebagai salah satu tim terbaik yang pernah ada, yang sayangnya gagal menjadi juara dunia. Pada saat itu, dua sosok utama yang menjadi pusat perhatian adalah duo attacking midfielder, Zico dan Socrates. Nah, di belakang dua legenda tersebut, berdirilah Paulo Roberto Falcao yang bertugas sebagai dirigen permainan tim Samba. Tanpa Falcao, Zico dan Socrates tidak akan mendapat pasokan bola-bola matang untuk mengobrak-abrik pertahanan lawan. Bagi sebagian besar penonton saat itu, Falcao adalah deep-lying playmaker terbaik di era 1980-an.

Carlos Valderrama

Para bolamania yang menonton Piala Dunia tahun 1990 dan 1994 pasti tidak asing dengan sosok berambut kriwil warna emas sedang melepaskan umpan-umpan maut dari lapangan tengah. Dialah Carlos Valderrama, deep-lying playmaker terhebat yang pernah dilahirkan oleh Kolombia. Ketenangannya dalam mengatur permainan, serta kolaborasinya dengan kiper nyentrik Rene Higuita dan striker haus gol Faustino Asprilla, membuat Kolombia menjadi kekuatan sepak bola yang cukup disegani di awal era 1990-an.

Josep Guardiola

Saat ini Josep Guardiola dikenal sebagai pelatih hebat. Dua puluh tahun yang lalu, Pep adalah konduktor muda yang menjadi andalan Johan Cruyff memimpin lapangan tengah the Dream Team Barcelona. Duetnya dengan Jose Maria Bakero sebagai dobel pivot mengantarkan El Barca merebut juara Eropa pertamanya pada tahun 1992. Kejeniusan Pep dalam memahami dan menerapkan taktik sebagai seorang deep-lying playmaker menjadi fondasi penting saat dia melatih Lionel Messi cs dan membangun Barcelona menjadi tim terbaik di dunia.

Juan Sebastian Veron

Sampai saat ini Argentina masih kesulitan mencari sosok penerus Juan Sebastian Veron. Meskipun tidak pernah mempersembahkan gelar bergengsi, tidak bisa dipungkuri, Veron adalah deep-lying playmaker terbaik yang pernah dimiliki oleh tim Tango. Kemampuannya dalam membaca permainan dan keahliannya melancarkan umpan membuatnya menjadi jenderal lapangan tengah yang sukses mempersembahkan gelar juara Serie A bagi Lazio pada tahun 2000 dan Copa Libertadores bagi Estudiantes pada tahun 2009.

Andrea Pirlo

Setelah menjadi juara dunia tahun 2006 dan dua kali mengantarkan Milan merengkuh trofi Liga Champions, orang-orang mengira era kejayaan “the Architect” Andrea Pirlo sudah habis. Tetapi, dugaan itu salah. Tahun lalu, Pirlo mengarsiteki kebangkitan Juventus menjadi juara Serie A tanpa terkalahkan dan membawa Italia ke partai puncak Euro 2012. Saat ini, deep-lying playmaker yang mempunyai kemampuan mendekati Pirlo mungkin hanya Xabi Alonso. Dengan semakin langkanya pemain yang bertipe seperti Pirlo, dunia, dan khususnya Italia, sedang menantikan kelahiran deep-lying playmaker hebat berikutnya.

(Dimuat di “Opini” BeritaSatu, Senin, 21 Oktober 2013 | 16:58  http://www.beritasatu.com/blog/olahraga/2919-10-deeplying-playmaker-terbaik-sepanjang-masa.html)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s