Kenapa “The Special One” Gagal di Madrid?

Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat kepada Jose Mourinho yang musim ini berhasil mencetak rekor sebagai pelatih Real Madrid pertama sejak tahun 1999 yang dipecundangi oleh Atletico Madrid. Ya, setelah 14 tahun selalu menjadi pihak tertindas dalam derby el Madrileno, akhirnya Atletico membuka puasanya dengan berpesta kemenangan atas Real dalam final Copa del Rey yang dihelat di Santiago Bernabeu. Sebuah kekalahan memalukan bagi Madrid karena terjadi di kandang sendiri dan itu terjadi di era kepelatihan the Special One, Jose Mourinho.

Rekor lain yang berhasil dicetak Mou tahun ini adalah hat-trick tiga musim beruntun gagal di semifinal Champions League bersama Real Madrid. Dan karena tidak ada pelatih lain yang bisa mencapai prestasi tersebut, maka julukan Mourinho layak diganti menjadi the Semifinal One.

Keterpurukan di ajang Copa del Rey dan Champions League tersebut menyempurnakan ketidakberdayaan Mou mempertahankan gelar juara La Liga dari serbuan Barcelona. Gagal total di level domestik dan Eropa menjadikan musim ini adalah musim terburuk sepanjang karir Mou sebagai pelatih.

Setelah berhasil mempersembahkan gelar Eropa untuk dua tim yang saat itu tidak diunggulkan, Porto tahun 2004 dan Inter 2010, Mourinho mendapat tantangan terbesar sepanjang karirnya untuk mewujudkan “La Decima” alias gelar raja Eropa ke sepuluh bagi Real Madrid. Banyak pihak yang menjagokan Mourinho bakal mampu merealisasikan misi tersebut. Ternyata, setelah tiga tahun berjalan, dia sukses menjadi pecundang. Apa yang menjadi penyebab kegagalannya?

Saat menjadi pelatih di Porto, Chelsea, dan Inter, Mourinho adalah sosok pelatih yang dicintai para pemainnya. Bahkan, tak sedikit pemain yang menyatakan rela mati demi Mou, seperti Frank Lampard, Michael Essien, Didier Drogba, Marco Materazzi, dan Wesley Sneijder. Nah, kondisi berbeda harus dihadapi Mou di Madrid.

Sejak membesut Los Blancos pada tahun 2010, Mou gagal menjalin hubungan mesra dengan para pemainnya, terutama yang berasal dari Spanyol, seperti Iker Casillas dan Sergio Ramos. Padahal, Casillas dan Ramos adalah sosok yang sangat berpengaruh di ruang ganti. Hal ini diperparah adanya faksi pemain Portugal yang membuat faksi pemain Spanyol cemburu karena merasa Cristiano Ronaldo dan Pepe lebih disayangi oleh Mou. Bahkan, Xabi Alonso pernah berkata tidak berteman dengan Ronaldo dan hubungan mereka hanyalah sebatas rekan setim. Tak pelak, ini membuat suasana tim tidak kondusif dan membuat pemain lainnya, seperti Mesut Oezil, merasa terasing di Madrid.

Selain hubungan buruk dengan para pemain, Mou juga bermusuhan dengan jajaran direksi Real Madrid. Pada musim pertama melatih Madrid, hubungan Mou dengan direktur olahraga, Jorge Valdano, sudah terlihat tidak mesra. Hasilnya, Valdano tersisih karena Presiden Florentino Perez tampaknya lebih membela Mou. Selain itu, hubungan Mou dengan penasehat presiden, Zidane Zidane, juga tidak akrab dan Zizou akhirnya memilih untuk menjaga jarak demi keutuhan tim.

Hubungan buruk dengan para pemain dan direksi itulah yang membuat Mou merasa tidak nyaman di Real Madrid. Mou merasa tidak dicintai seperti ketika dia melatih Porto, Chelsea, dan Inter. Apalagi media-media Spanyol selalu nyinyir dan membenci Mou. Alhasil, suasana kamar ganti Madrid yang tidak mengenakkan menjadi semakin panas dengan provokasi dari media. Maka, tidak usah heran jika Mou sering bad mood, ngomel-ngomel, mencari kambing hitam atas kegagalan timnya, dan bahkan saking desperate-nya, Mou pernah mencegat wasit di tempat parkir karena tidak puas dengan keputusan sang pengadil di lapangan hijau.

Selain dari faktor nonteknis tadi, kegagalan Mou mempersembahkan “La Decima” untuk Madrid juga dipengaruhi oleh faktor teknis. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kelemahan utama tim Madrid saat ini terletak pada sektor pertahanan. Sebagai klub top, benteng pertahanan Madrid tergolong medioker dengan hanya memiliki seorang pemain bertahan kelas dunia dalam diri Sergio Ramos. Sedangkan bek sisanya adalah pemain semenjana seperti Alvaro Arbeloa, pemain yang sudah melewati masa puncak seperti Ricardo Carvalho, dan pemain smack-down yang menyamar sebagai pemain bola seperti Pepe. Untungnya, musim ini Madrid sedikit tertolong dengan bersinarnya Raphael Varane, defender abege yang kelihatannya mempunyai masa depan cerah.

Di sektor depan, Real juga terlalu bergantung kepada CR7 untuk mencetak gol. Jika Ronaldo dimatikan, maka semburan gol Madrid pun ikut macet seperti om-om impoten. Karim Benzema dan Gonzalo Higuain tidak bisa diharapkan dan seringkali hanya menjadi penghias layar kaca dengan wajah gantengnya. Mou tidak memiliki striker haus gol seperti Didier Drogba, Zlatan Ibrahimovic, Samuel Eto’o, atau Diego Milito. Akibatnya, formasi 4-2-3-1 andalan Mou yang membutuhkan benteng pertahanan kokoh dan target-man handal tidak berjalan seimbang di Madrid.

Kombinasi dari faktor-faktor di ataslah yang akhirnya membuat Mou tidak bisa mencapai potensi maksimal. Tim yang dia besut memang tidak jelek, bahkan sempat berprestasi di level domestik dengan merebut juara La Liga dan Copa del Rey. Tetapi, itu tidak cukup untuk menaklukkan Eropa. Tiga tahun beruntun Mou gagal mencapai final Champions League. Misi La Decima tidak berhasil dituntaskan. Dan dampak dari kegagalan tersebut, riwayat the Special One di Madrid harus tamat sampai di sini. Adios, Mou.

Kenapa “The Special One” Gagal di Madrid?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s