Membandingkan Formula 1 Modern dengan Era Film Rush: Rindu Karakter

Penggemar Formula 1? Kalau belum nonton film Rush yang sekarang di bioskop, mungkin Anda belum benar-benar penggemar. Film itu mampu mengingatkan kita betapa “keringnya” ajang balap itu saat ini.

Catatan AZRUL ANANDA

Film Rush merupakan film Hollywood pertama Formula 1 di era modern ini. Sutradaranya tidak main-main, yaitu Ron Howard, penggarap Apollo 13 dan The Da Vinci Code. Bintangnya juga tidak main-main. Ada Chris Hemsworth (Thor) dan Olivia Wilde.

Cerita singkatnya: Kisah persaingan dan perjuangan (dan penderitaan serta serunya) F1 era 1970-an. Khususnya antara sang playboy bintang McLaren James Hunt (Hemsworth) dan jagoan Ferrari Niki Lauda (Daniel Bruhl).

Bagi saya, yang mungkin sudah sangat kenyang dengan segala hal tentang F1, film ini tetap memberi wawasan baru. Bagaimana pun, ini film era 1970-an, era sebelum atau saat saya lahir. Kisah utamanya berlangsung 1976, setahun sebelum saya lahir.

Terus terang, saya ini penggemar yang mulai suka di era 1990-an, dengan idola-idola pembalap yang memulai karir pada 1980-an. Era Ayrton Senna, Alain Prost, Nigel Mansell, dan lain-lain. Jadi, bagi saya, era 1970-an itu benar-benar zaman baheula.

Tapi, itulah era di mana F1 mulai meroket. Di mana teknologi, investment sponsor, dan bintang-bintangnya mulai benar-benar mendunia. Mobil-mobilnya pun paling eksotis. Dengan bentuk-bentuk paling alien dalam sejarah F1, karena waktu itulah tim dan pabrikan mulai mengeksplorasi dunia aerodinamika.

Film Rush menunjukkan kalau kehidupan orang-orangnya lebih eksotis lagi. Menstereotipekan pembalap sebagai playboy? Maka James Hunt bisa dibilang sebagai biangnya. Seumur hidupnya, superstar Inggris yang perokok dan pemakai narkoba ini disebut (atau mengaku) sudah meniduri lebih dari 5.000 perempuan. Hunt meninggal pada 1993, di usia 45 tahun, karena serangan jantung.

Niki Lauda, yang kini masih di F1 sebagai konsultan untuk Mercedes, merupakan sosok berlawanan dengan Hunt. Sangat analitis, kalkulatif, dan sangat serius dalam menjalani hidupnya.

Lauda, yang wajahnya rusak karena terbakar saat kecelakaan di Jerman pada 1976 (adegannya ada di Rush), mungkin adalah prototipe pembalap masa kini.

Daniel Bruhl mampu memerankan Lauda dengan begitu indah. Saya pernah mewawancarai Lauda, dan cara bicara Lauda ya seperti yang diperankan Bruhl dalam film. Tidak banyak cingcong, to the point, kadang “menusuk”.

Melihat film itu, lalu mengingat film dokumenter Senna yang beredar beberapa tahun lalu, membuat saya jadi memikirkan musim Formula 1 2013 ini. Sebenarnya bukan hanya musim ini, melainkan F1 era modern sekarang ini secara umum.

Setelah mengikuti F1 secara intensif, praktis sejak 1997 ketika kali pertama datang langsung ke sirkuit di Kanada, F1 sekarang memang terasa “jauh” dengan F1 yang membuat saya jatuh cinta dulu.

Dingin.

Itu rasanya.

Konferensi pers, cara pembalap bicara, cara tim mengatur personelnya berinteraksi, terasa dingin. Bukan tidak ramah. Melainkan terlalu corporate, terlalu teratur, terlalu rapi.

Nyaris tidak ada omongan ngawur yang layak dikutip. Nyaris tidak ada sensasi yang real. Bahkan Kimi Raikkonen, yang mungkin paling mirip dengan James Hunt di F1 (kecuali Raikkonen jauh lebih pendiam), kini tak lagi banyak berulah.

Kalau mengikuti F1 langsung di sirkuit, mulai persiapan Rabu sampai akhir lomba Minggu, segalanya jadi terasa seperti prosesi.

Menonton film Rush, serta mengingat awal-awal datang ke F1 pada 16 tahun lalu, rasanya membuat F1 sekarang seperti “sintetis”.

Lihat saja pembalap-pembalap baru yang masuk. Kini nyaris tak ada cerita seru yang mengiringi perjalanan mereka. Hampir semua rookie sekarang datang dengan satu cara: Membawa uang atau sponsor.

Ya, Lauda dulu masuk F1 dengan membayar, tapi itu merupakan bagian dari karakternya yang menghitung segala peluang dan kemungkinan. Dan dia menjadi karakter yang sangat mewarnai F1.

Sekarang? Siapa bisa mengingat nama pembalap-pembalap di barisan belakang atau mereka yang pendatang baru? Apalagi kalau mereka sampai keluar-masuk F1 karena kehabisan dana sponsor.

Kalau F1 terus seperti sekarang, apalagi dengan situasi ekonomi yang membuat tim sulit berkembang, bukan tidak mungkin seri balap paling bergengsi ini akan terancam ke-exist-annya. Seri-seri di bawahnya, yang dulu sangat populer seperti F3 dan F3000, sekarang saja sudah makin berantakan.

Ada pula kolom sebuah penerbitan F1 ternama yang menyebut kalau overall, ancaman untuk F1 lebih luas dari yang dibayangkan. Budaya suka mobil, di zaman sekarang ini, sudah tidak seperti dulu. Kolom itu menyebut kesadaran atas dampak lingkungan, serta mahalnya mengoperasikan mobil, plus semakin mudahnya transportasi umum atau alternatif, membuat “car culture” makin terkikis.

“Amannya” F1 sekarang juga tidak menolong. Tentu tidak ada yang ingin melihat pembalap cedera, apalagi tewas. Tapi, F1 dulu melegenda karena para pembalapnya benar-benar seperti gladiator. Setiap masuk ke sirkuit, ada peluang itu adalah kali terakhir mereka hidup.

Dalam salah satu adegan Rush, seseorang minta Niki Lauda membubuhi tanggal pada tanda tangan yang dia berikan. Alasannya: “Siapa tahu ini hari terakhirmu hidup…”

Sekarang, penonton mungkin tidak lagi “mengagumi” risiko F1 itu. Buktinya, dengan mudah penggemar mencemooh (booing) Sebastian Vettel setiap kali dia merayakan kemenangan di atas podium.

Film seperti Rush tentu diharapkan bisa menarik lagi perhatian untuk F1. Siapa tahu juga bisa menarik penggemar baru untuk ajang balap tersebut.

Tapi menurut saya, itu saja mungkin susah. Setelah menonton Rush, lalu melihat F1 yang sebenarnya berlangsung sekarang, mungkin justru akan bikin para penggemar baru itu kecewa.

Sampai hari ini, saya masih intens mengikuti perkembangan di F1. Sampai tahun ini, saya juga masih menyempatkan mampir ke sirkuit nonton atau meliput F1 secara langsung.

Dulu, saya jatuh cinta pada F1 karena karakter-karakternya (Alain Prost sang profesor, Ayrton Senna sang filsuf, dan lain sebagainya). Sekarang, ketika datang langsung ke F1, karakter-karakter itu tidak lagi ada.

Untung ada film Rush, ada dokumenter Senna, yang mampu mengingatkan saya mengapa begitu gila pada F1. Mungkin, buat penggemar lama seperti saya, lebih perlu ada 20 film F1 setahun, daripada 20 lomba setahun… (*)

Jawa Pos, Sportainment, Kamis, 3 Oktober 2013

Membandingkan Formula 1 Modern dengan Era Film Rush: Rindu Karakter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s