Kenapa Juventus Wajib Menjuarai Liga Europa Musim Ini?

Setelah kalah secara mengenaskan oleh Galatasaray, di lapangan lumpur yang tidak layak dan dalam cuaca yang bersalju di Istanbul, pada matchday terakhir fase grup Liga Champions 2013/2014, Juventus harus menelan kenyataan pahit, gagal lolos ke babak 16 besar dan menjadi bahan olok-olokan para pembencinya karena terlempar ke kompetisi kasta kedua di benua biru, Liga Europa.

Seperti yang sudah jamak terjadi, biasanya klub-klub Italia (dan klub-klub top Eropa lainnya) tidak memperlakukan Liga Europa (dulu UEFA Cup) seserius Liga Champions, termasuk juga dengan Juventus yang pernah merasakan kegagalan beruntun di ajang ini pada musim 2009/2010 dan 2010/2011. Faktor yang membuat klub-klub top Eropa enggan tampil serius di Liga Europa, terutama karena iming-iming bonus finansial yang dijanjikan termasuk kecil bila dibandingkan dengan Liga Champions. Selain itu, tampil ngotot di Liga Europa dapat mengganggu performa mereka di liga domestik masing-masing. Dengan kata lain, klub-klub tersebut lebih mementingkan hasil di liga domestik daripada merengkuh gelar juara Liga Europa.

Pada musim ini, setelah dengan terpaksa kembali berkubang di turnamen yang dianaktirikan oleh klub-klub kaya Eropa tersebut, apakah Juventus bakal memperlakukan Liga Europa dengan tidak serius seperti musim-musim yang lalu? Apakah Juventus berani tampil all-out di Liga Europa dengan risiko mengganggu performanya di Serie A dan bisa menggagalkan misi mereka merebut juara Italia tiga kali beruntun?

Menurut hemat penulis, kali ini Juventus harus serius berlaga di ajang ini dan wajib hukumnya menjadi juara Liga Europa. Kenapa? Dengan kedalaman skuat yang dimiliki saat ini, Juventus tidak perlu khawatir penampilannya bakal terganggu bila habis-habisan di Liga Europa. Calon-calon lawannya di ajang ini tidak seberat di Liga Champions.

Juventus memiliki amunisi pemain yang lebih dari cukup untuk menggapai kesuksesan ganda meraih scudetto, sekaligus trofi Liga Europa, bahkan bisa menjadi treble winners jika menjuarai Coppa Italia juga. Karena kans untuk menjadi double (atau treblewinners ini sangat besar, maka sangat disayangkan jika Juventus hanya fokus di liga domestik saja dan menomorduakan kiprahnya di Liga Europa. Juventus harus ingat sejarahnya yang panjang sebagai klub besar yang tidak pernah membuang dengan sia-sia kesempatan untuk menjadi juara dan meraih piala, apa pun piala itu.

Berikutnya, faktor yang sangat penting, kegagalan Juventus menembus babak 16 besar Liga Champions berimbas pada menurunnya pemasukan secara finansial. Maka dari itu, Juventus harus mencari gantinya dengan melaju sejauh mungkin (menjadi juara) di Liga Europa. Memperlakukan ajang ini secara asal-asalan hanya akan menambah kerugian finansial semakin besar. Meskipun uang yang dihasilkan dari Liga Europa bak bumi dan langit kalau dibandingkan dengan Liga Champions, tetap saja itu adalah pemasukan yang berharga untuk menambah pundi-pundi kekayaan sang Nyonya Tua agar bisa bersaing dengan klub-klub elite Eropa lainnya.

Faktor selanjutnya adalah soal koefisien Juventus di peringkat UEFA yang termasuk rendah, sehingga selalu menempati pot ke-2 atau ke-3 saat drawing fase grup Liga Champions. Hal ini membuat Juventus masuk grup sulit bersama tim-tim kaya yang menjadi unggulan di Liga Champions, sehingga bisa memperkecil peluang untuk lolos ke babak berikutnya. Untuk meningkatkan koefisien di UEFA, Juventus harus mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya atau dengan kata lain, Juventus harus menjadi juara Liga Europa. Ini demi masa depan Juventus sendiri di ajang Liga Champions.

Chelsea, yang musim lalu disingkirkan Juve di fase grup Liga Champions, tetap mengumpulkan poin koefisien yang tinggi karena berhasil menjadi juara Liga Europa. Bahkan, secara koefisien, musim lalu Chelsea menempati peringkat ketiga, di bawah dua finalis Liga Champions, Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund. Tidak ada salahnya Juventus mengikuti jejak Chelsea meraup poin sebanyak-banyaknya sehingga bisa masuk pot unggulan di Liga Champions musim depan.

Faktor lain yang tidak kalah penting, jika melihat dari sisi historis, sejak berganti nama dari UEFA Cup menjadi Liga Europa, Juventus belum pernah menjuarainya. Terakhir kali Juventus menjuarai UEFA Cup pada 1993 saat dikapteni oleh Roberto Baggio, yang pada tahun itu meraih Ballon d’Or dan FIFA Player of the Year. Itu sekaligus menjadi gelar Eropa satu-satunya yang dipersembahkan oleh Baggio bagi Juventus. Pada tahun 1995, meskipun berhasil melaju sampai ke final, Juventus takluk dari Parma. Itu adalah kali terakhir Juventus tampil di final UEFA Cup.

Nah, final Liga Europa 2014 akan diadakan di Juventus Stadium. Inilah saat yang tepat untuk melepas dahaga meraih gelar juara Liga Europa, sekaligus menjadi gelar pembuka bagi Juventus yang perkasa di tingkat domestik tapi sudah sangat lama puasa trofi bergengsi di tingkat Eropa (terakhir kali tahun 1996). Ingat, serendah-rendahnya kompetisi ini, Liga Europa tetaplah sebuah trofi yang patut dikejar daripada tidak mendapat trofi sama sekali.

Di luar faktor finansial, bukankah lebih baik menjadi juara Liga Europa daripada ikut Liga Champions, tetapi hanya menjadi tim penggembira yang tersingkir di babak 16 besar atau perempat final?

Selain untuk menambah koleksi piala tingkat Eropa yang sudah lama tidak digapai, dengan menjadi juara Liga Europa, Juventus berkesempatan berlaga di Piala Super Eropa menantang jawara Liga Champions. Bayangkan saja jika di awal musim depan Juventus bertemu (atau bahkan berhasil mengalahkan) klub semacam Bayern Muenchen atau Barcelona dalam ajang Piala Super Eropa, tentu saja ini akan semakin mengangkat brand image Juventus untuk bersaing dengan klub-klub penguasa Eropa lainnya.

Terakhir, seandainya Juve tampil ogah-ogahan dan kembali gagal di Liga Europa, relakah para Juventini jika melihat dua rival domestik Juve, Napoli dan Fiorentina (seandainya mereka berhasil melaju ke final), mengangkat trofi Liga Europa di tempat yang disakralkan para Juventini, Juventus Stadium? Bukankah ini akan menambah luka semakin dalam setelah tersingkir secara tragis dari Liga Champions? Oleh karena itu, mumpung final Liga Europa diadakan di rumah sendiri, sudah selayaknya Nyonya Tua yang berpesta di akhir musim nanti, bukan musuh-musuhnya.

(Artikel ini dimuat di Opini BeritaSatu.Com | Senin, 06 Januari 2014 | 10:34 http://www.beritasatu.com/blog/olahraga/3105-kenapa-juventus-wajib-menjuarai-liga-europa-musim-ini.html)

Kenapa Juventus Wajib Menjuarai Liga Europa Musim Ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s