Kutukan Pemenang Ballon d’Or di Piala Dunia

Seperti cowok ABG (anak baru gede, Red) yang cintanya diterima cewek idamannya setelah berkali-kali ditolak, Cristiano Ronaldo meneteskan air mata dan tak kuasa menahan haru saat dinobatkan sebagai pemenang Ballon d’Or 2013 di Kongresshaus, Zurich, Swiss, 13 Januari 2014 yang lalu. Ya, setelah empat tahun berturut-turut dipecundangi oleh rival abadinya, Lionel Messi, akhirnya CR7 berhasil merengkuh kembali, untuk kedua kalinya, lambang supremasi individual tertinggi di jagat sepakbola tersebut.

Dalam ajang yang diprakarsai oleh FIFA bekerja sama dengan majalah France Football itu, Ronaldo mendapatkan 27,99 persen, Messi meraup 24,72 persen, dan Franck Ribery meraih 23,36 persen suara. Para pemilihnya adalah kapten tim nasional, pelatih tim nasional, dan jurnalis sepakbola pilihan dari seluruh dunia.

Yang menarik, meskipun Ballon d’Or adalah penghargaan yang menjadi impian setiap pemain sepakbola di planet ini, di sisi lain ada semacam “kutukan” yang menyertai pemenangnya. Sejak pertama kali award ini dianugerahkan oleh France Football pada tahun 1956, para pemain yang meraih Ballon d’Or di tahun sebelum Piala Dunia digelar selalu gagal mengantarkan tim nasionalnya menjadi juara dunia.

Berikut fakta-faktanya:

Pemenang Ballon d’Or 1957: Alfredo Di Stefano (Argentina)
Setelah sebelumnya membela tim nasional Argentina dan Kolombia, pada tahun 1956 Alfredo Di Stefano mendapat kewarganegaraan Spanyol dan memperkuat La Furia Roja di kualifikasi Piala Dunia. Tapi sayang, kedigdayaan Di Stefano di tingkat klub bersama Real Madrid tidak menular di tim nasional yang dibelanya. Salah satu pemain terhebat sepanjang sejarah sepakbola ini gagal meloloskan tim Matador ke Piala Dunia 1958 di Swedia.

Pemenang Ballon d’Or 1961: Omar Sivori (Argentina)
Seperti halnya Alfredo Di Stefano yang kelahiran Argentina tapi membela Spanyol, Omar Sivori memilih memperkuat tim nasional negara lain, yaitu Italia, di Piala Dunia 1962. Menjadi legenda di klub Juventus, Sivori, yang kala itu tidak mampu mencetak satu gol pun, gagal meloloskan Italia dari babak fase grup di Piala Dunia yang diadakan di Cile tersebut.

Pemenang Ballon d’Or 1965: Eusebio (Portugal)
Legenda Benfica yang meninggal beberapa waktu yang lalu ini mampu meraih Sepatu Emas sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Dunia 1966. Meski demikian, dia gagal membawa Portugal menjadi juara. Seleccao das Quinas kalah secara kontroversial dari tuan rumah Inggris di babak semifinal. Eusebio pun harus puas hanya mengantar Portugal menempati peringkat ketiga di Piala Dunia yang akhirnya dijuarai oleh Bobby Charlton dan kawan-kawan itu.

Pemenang Ballon d’Or 1969: Gianni Rivera (Italia)
Gianni Rivera adalah salah satu trequartista paling fenomenal yang pernah dimiliki Italia. Dia mampu membawa AC Milan berjaya di Eropa, tapi gagal mengantarkan Gli Azzurri menjadi juara Piala Dunia 1970. Di final yang diadakan di Meksiko City, Rivera menjadi pemain cadangan dan hanya tampil di enam menit terakhir. Tim juara Euro 1968 itu pun tidak mampu membendung kedahsyatan tim impian Brasil yang dimotori oleh Pele untuk merengkuh trofi Jules Rimet-nya yang ketiga.

Pemenang Ballon d’Or 1973: Johan Cruyff (Belanda)
Johan Cruyff menjadi nyawa dari permainan total football yang diusung oleh pelatih Belanda, Rinus Michels. Tim Oranje sangat, sangat diuggulkan untuk menjadi juara Piala Dunia 1974. Nyatanya, Cruyff secara mengejutkan malah gagal di final, kalah dari tuan rumah Jerman Barat yang dipimpin oleh Der Kaizer, Franz Beckenbauer.

Pemenang Ballon d’Or 1977: Allan Simonsen (Denmark)
Meski sukses mengantarkan Borussia Moenchengladbach menjuarai Bundesliga tiga kali beruntun, Allan Simonsen tidak mampu berbuat banyak bersama tim nasional Denmark. Jangankan menjadi juara dunia, untuk sekadar meloloskan tim Dinamit ke Piala Dunia 1978 di Argentina saja, Allan Simonsen tidak sanggup.

Pemenang Ballon d’Or 1981: Karl-Heinz Rummenigge (Jerman Barat)
Karl-Heinz Rummenigge adalah striker legendaris Bayern Muenchen yang sukses merengkuh Ballon d’Or dua kali beruntun. Setelah berhasil membawa Jerman Barat menjuarai Euro 1980, Kalle, demikian dia biasa disapa, gagal menjadi juara Piala Dunia 1982. Dia tidak mampu menyaingi kehebatan Paolo Rossi yang menginspirasi kemenangan Italia atas Jerman Barat di final yang diadakan di Madrid, Spanyol.

Pemenang Ballon d’Or 1985: Michel Platini (Prancis)
Michel Platini adalah sosok kunci yang mengantarkan Juventus menjuarai Liga Champions Eropa pada saat tragedi Heysel terjadi tahun 1985. Sebelum itu, pemenang Ballon d’Or tiga kali beruntun ini membawa Prancis menjadi juara Euro 1984 di kandang sendiri. Tetapi, semua kesuksesan itu tidak menular di Piala Dunia 1986. Le Roi Platini, yang saat itu tampil dengan kondisi fisik cedera, hanya mampu mengantarkan Prancis menembus semifinal Piala Dunia yang waktu itu diadakan di Meksiko.

Pemenang Ballon d’Or 1989: Marco Van Basten (Belanda)
Marco Van Basten adalah striker utama yang mengantarkan AC Milan menjadi klub terakhir yang mampu menjadi juara Eropa dua kali beruntun. Selain itu, dia juga berhasil membawa tim Oranje merengkuh gelar internasional satu-satunya, juara Euro 1988. Meski demikian, dia gagal total di Piala Dunia 1990. Van Basten tampil memble dan Belanda tersingkir di babak 16 besar dalam partai panas melawan Jerman Barat yang diwarnai adu ludah antara Rudi Voeller versus Frank Rijkaard.

Pemenang Ballon d’Or 1993: Roberto Baggio (Italia)
Meski perannya sangat dominan dalam mengangkat permainan Italia di Piala Dunia 1994, Roberto Baggio mengalami anti-klimaks saat tampil di final melawan Brasil. Gara-gara eksekusi penaltinya melenceng ke atas gawang, Italia harus gigit jari. Impian jutaan tifosi Gli Azzurri untuk meraih trofi buatan Silvio Gazzaniga itu pun terbang ke angkasa bersama bola tendangan Roberto Baggio.

Pemenang Ballon d’Or 1997: Ronaldo (Brasil)
Sangat diunggulkan untuk membawa Brasil merebut gelar pentacampeone alias juara dunia yang kelima, Ronaldo melempem saat tampil melawan tuan rumah Prancis di laga pamungkas Piala Dunia 1998. Persis seperti Roberto Baggio empat tahun sebelumnya, Ronaldo bermain sangat buruk di partai puncak tersebut. Bahkan, ada rumor yang mengatakan Ronaldo mengalami epilepsi dan kejang-kejang, sesaat sebelum pertandingan final digelar.

Pemenang Ballon d’Or 2001: Michael Owen (Inggris)
Nama Michael Owen mencuat setelah menjebol gawang Argentina dengan gol solo-run di Piala Dunia 1998. Setelah itu, Owen tampil cemerlang di level klub dan membawa Liverpool meraih lima trofi pada tahun 2001. Sayang, saat dipercaya menjadi ujung tombak Inggris pada Piala Dunia 2002, Owen gagal memenuhi impian jutaan fans Three Lions. Kiprahnya di Piala Dunia yang diadakan di Korea dan Jepang itu terhenti di perempat final setelah dikalahkan oleh Brasil yang akhirnya menjadi juara dunia untuk kelima kalinya.

Pemenang Ballon d’Or 2005: Ronaldinho (Brasil)
Tampil sangat cemerlang di level klub bersama FC Barcelona (berhasil menjuarai Liga Champions), Ronaldinho bermain di bawah standar di Piala Dunia 2006. Bahkan, dia tidak mampu mengantarkan Brasil mencapai partai puncak. Sebagai juara bertahan, tim Samba hanya sanggup bertahan sampai babak perempat final sebelum akhirnya disingkirkan oleh Prancis. Pasca-Piala Dunia 2006, karier pemain yang hobi dugem ini terus meredup dan tidak bersinar lagi.

Pemenang Ballon d’Or 2009: Lionel Messi (Argentina)
Kolaborasi Lionel Messi bersama pelatih bertangan Tuhan, Diego Maradona, ternyata tidak cukup ampuh bagi Argentina. Messi yang perkasa bersama Barcelona tidak berhasil mencetak satu gol pun di Piala Dunia 2010. Semenanjung Afrika Selatan menjadi saksi bisu kala La Pulga mati kutu, dipermalukan bocah-bocah Jerman empat gol tanpa balas di babak perempatfinal.

Pemenang Ballon d’Or 2013: Cristiano Ronaldo (Portugal)
Meski tidak menyabet satu gelar pun bersama Real Madrid sepanjang tahun 2013, Cristiano Ronaldo tampil ganas bak predator dengan gol-golnya dan mampu membawa Portugal lolos dari lubang jarum menuju
Brasil setelah mengalahkan Swedia di babak play-off zona Eropa. Oleh karena itu, dia memang layak dianugerahi Ballon d’Or. Akan tetapi, apakah dia mampu mematahkan kutukan yang menyertai para pemenang Ballon d’Or dengan mengantarkan Portugal meraih kejayaan di Piala Dunia 2014? Hanya waktu yang akan menjawab.

(Artikel ini dimuat di Opini BeritaSatu.Com | Selasa, 25 Februari 2014 | 13:27 | http://www.beritasatu.com/blog/olahraga/3220-kutukan-pemenang-ballon-dor-di-piala-dunia.html)

Kutukan Pemenang Ballon d’Or di Piala Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s