Menjelang Formula 1 GP Monaco 2014: Kutukan Monaco Menghantui Mercedes

Awal musim ini, Mercedes sudah menyapu bersih lima kemenangan beruntun lewat Nico Rosberg (sekali) dan Lewis Hamilton (empat kali). Bahkan, seandainya mesin mobil Hamilton tidak bermasalah pada lomba pembuka di Australia, Mercedes bakal mencatatkan finish 1-2 lima kali beruntun. Sebuah capaian yang fenomenal.

Rekor lima kemenangan beruntun di awal musim seperti yang ditorehkan oleh Mercedes tersebut sebenarnya sudah pernah dicapai oleh dua tim lain sebelum ini. Ferrari pernah melakukannya pada musim 2004. Selain itu, juga ada Williams yang pernah melalap habis lima race perdana pada tahun 1992 dan 1996. Tetapi, ini uniknya, lima kemenangan beruntun yang dicetak oleh Ferrari dan Williams tersebut sama-sama terhenti di Monaco.

Ya, seakan ada kutukan di Monaco yang menghentikan keperkasaan tim-tim F1 di awal musim. Dan saat ini, kutukan itu seakan menghantui Mercedes. Apakah Hamilton dan Rosberg bisa meneruskan kejayaan Silver Arrows dengan mencatat enam kemenangan beruntun? Atau, nasib mereka bakal sama dengan Ferrari dan Williams yang rekornya harus terhenti di jalanan sempit Monte Carlo?

Sirkuit jalanan Monte Carlo berbeda dengan sirkuit permanen. Di sana, kecepatan mobil seakan tidak berarti karena kondisi trek yang sempit dan berliku. Dalam satu lap di Monaco, seorang pebalap hanya punya kesempatan sekitar 7,5 detik untuk gas pol menggeber mobil di lintasan lurus. Sisanya adalah tikungan-tikungan lambat yang menuntut kelincahan mobil.

Sirkuit Monte Carlo memang tercatat memiliki tikungan yang paling lambat di Formula 1. Dari 19 tikungan, yang paling terkenal adalah tikungan tusuk konde alias hairpin di turn 6 yang harus dilewati pebalap dengan gigi 1 dan kecepatan maksimal hanya 50 kilometer/jam. Dalam satu lap di Monaco, seorang pebalap biasanya melakukan sampai 62 kali perpindahan gigi.

Maka dari itu, keunggulan mobil Mercedes yang biasanya tak terkejar di trek lurus, seharusnya bisa diminimalisir di sirkuit superlambat dengan karakter very high-downforce seperti Monaco. Pebalap Ferrari, Fernando Alonso, mengakui hal itu. “Aku rasa Monte Carlo akan menjadi salah satu dari sedikit peluang untuk menantang Mercedes, terutama bagi Red Bull,” ujar Alonso.

Benar kata Alonso, bukan Ferrari, tapi Red Bull-lah yang sangat berpeluang untuk menghentikan laju duo Mercedes di Monaco. Menurut Alonso, mobil Red Bull sangat cepat di tikungan, meskipun di trek lurus mereka jauh tertinggal oleh Mercedes. Oleh karena itu, setelah hanya mampu finish 3-4 di belakang Hamilton dan Rosberg di Barcelona dua pekan lalu, weekend ini Red Bull punya peluang lebih besar di Monte Carlo yang memiliki banyak tikungan lambat.

Senada dengan Alonso, Hamilton juga mengakui bahwa mobil Red Bull perlu diwaspadai karena memiliki downforce yang lebih baik daripada Mercedes. “Kami memang lebih cepat di trek lurus, tapi Red Bull bisa melibas tikungan dengan kecepatan tinggi,” menurut Hamilton.

Red Bull sendiri sebenarnya menyambut GP Monaco dengan perasaan galau, terutama Sebastian Vettel. Hal ini disebabkan jatah control electronics (CE) di mesin mobil Vettel sudah hampir habis. Di antara lima jatah maksimal, Vettel sudah memakai empat. Dengan kata lain, Vettel hanya mempunyai satu jatah CE baru untuk 14 lomba tersisa musim ini. Jika melebihi jatah, dia akan kena penalti turun 10 posisi start.

Tingginya pergantian komponen mesin seperti yang dialami Vettel sebenarnya juga terjadi pada pebalap lain yang menggunakan mesin Renault, seperti Kamui Kobayashi dari Caterham. Penyebabnya, Renault memang melakukan pengembangan mesin yang cukup agresif di awal musim ini karena performanya yang amburadul. Akibatnya, banyak komponen yang harus diganti dan terancam mendapatkan penalti karena kehabisan kuota.

Sementara itu, Ferrari datang ke Monaco dengan harapan mampu memberi tekanan pada Mercedes. Kunci sukses bagi Fernando Alonso dan Kimi Raikkonen adalah meraih posisi start sebaik mungkin dan menguntit duo Mercy saat lomba, sambil berharap Hamilton dan Rosberg berbuat kesalahan di trek Monte Carlo yang sempit.

Faktor luck memang sangat dibutuhkan oleh tim Kuda Jingkrak untuk naik podium di negerinya Grace Kelly tersebut. Harapan Ferrari untuk mengganjal Mercedes mungkin bisa tercapai jika terjadi banyak insiden. Jika Hamilton dan Rosberg menabrak pagar pembatas, mungkin Ferrari bisa menang. Hehehe..

Bukannya berharap sesuatu yang jelek terjadi, tetapi sirkuit jalan raya Monte Carlo memang dikenal sebagai sirkuit yang paling sulit ditaklukkan di F1, terutama bagi para pebalap pemula. Sedikit saja kesalahan mereka lakukan, mobil bakal menabrak pagar pembatas yang letaknya memang sangat dekat dengan lintasan. Oleh karena itu, jumlah pebalap yang gagal finish di Monaco biasanya lebih banyak daripada di lomba-lomba lainnya.

Pebalap Williams, Felipe Massa, dan pebalap Force India, Sergio Perez, juga memperkirakan musim ini bakal terjadi banyak kecelakaan. Menurut Massa dan Perez, mobil F1 musim ini lebih sulit dikendalikan. Sejak menggunakan mesin V6 turbocharged, mobil F1 memiliki kecenderungan untuk melebar di tikungan. Artinya, bakal sulit menjinakkan Monte Carlo, sirkuit sempit sepanjang 3,34 kilometer yang merupakan sirkuit terpendek di F1.

Berbeda dengan Red Bull dan Ferrari, Mercedes menyongsong GP Monaco dengan penuh percaya diri. Mobil Mercedes tidak hanya unggul power mesin dan cepat di trek lurus, tapi juga mempunyai aerodinamika yang bagus. Terbukti, dua pekan lalu, mereka mampu menaklukkan sirkuit Catalunya yang terdiri dari banyak tikungan cepat. Di Monaco, kehandalan Mercedes dalam melibas tikungan-tikungan lambat bakal diuji. Apakah mereka juga bakal dominan seperti di lima seri sebelumnya?

Hamilton dan Rosberg sendiri yakin bisa melanjutkan sapu bersih dan menyambut balapan ini dengan antusias. Rosberg juga ingin mengulangi capaian musim lalu, menang untuk pertama kalinya di F1, di rumah sendiri. Ya, Monte Carlo adalah kampung halaman Rosberg. Dia lahir, tumbuh, dan sekarang juga tinggal di sana.

Selaras dengan Rosberg, Hamilton juga mengincar kemenangan kelimanya musim ini. Sepanjang sejarah F1, hanya ada enam pebalap yang mampu meraih lima victory beruntun dalam semusim, yaitu: Sebastian Vettel, Michael Schumacher, Nigel Mansell, Jack Brabham, Jim Clark, dan Alberto Ascari. Apakah Hamilton mampu menyejajarkan namanya dengan para legenda tersebut? Mari kita tunggu bersama.

Seri balap 2014 Formula 1 Monaco Grand Prix akan dimulai hari Kamis, 22 Mei 2014, dengan sesi Free Practice 1 (15.00 WIB) dan sesi Free Practice 2 (19.00 WIB). Lalu, hari Sabtu, 24 Mei 2014, diawali dengan sesi Free Practice 3 (16.00 WIB) dan diikuti sesi Qualifying (19.00 WIB). Selanjutnya, hari Minggu, 25 Mei 2014, adalah raceday dengan start lomba mulai pukul 19.00 WIB. Selamat menonton!

Menjelang Formula 1 GP Monaco 2014: Kutukan Monaco Menghantui Mercedes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s