Sampai Kapan Kita Puasa Gelar Piala Thomas dan Uber?

Gelaran Piala Thomas dan Uber 2014 di New Delhi, India baru saja berakhir. Hasilnya, Piala Thomas digondol oleh Jepang dan Piala Uber berhasil dipertahankan oleh Tiongkok. Bagaimana dengan Indonesia? Seperti biasanya, tahun ini kita kembali gatot alias gagal total.

Di Piala Thomas, tim putra Merah Putih dipermak 0-3 oleh musuh bebuyutan Malaysia di babak semifinal. Padahal, kali ini Indonesia menempati unggulan utama yang di atas kertas bisa melibas Lee Chong Wei dan kawan-kawan. Misi menjadi juara dan mengakhiri puasa gelar pun menjadi pepesan kosong.

Di Piala Uber, tim putri Indonesia tidak bisa memenuhi target untuk lolos ke semifinal. Laju Bellaetrix Manuputty dan kawan-kawan dihentikan oleh tuah rumah India dengan skor telak 0-3 di babak perempat final.

Apa mau dikata, itulah capaian maksimal yang mampu dipersembahkan oleh putra-putri terbaik bangsa saat ini. Yang menjadi pertanyaan, akankah hasil tersebut terulang saat Piala Thomas dan Uber berikutnya diadakan tahun 2016?

Tim putri Indonesia terakhir kali menjadi juara Piala Uber tahun 1996. Waktu itu masih ada Susi Susanti dan Mia Audina. Sedangkan tim putra kita berhasil berjaya di Piala Thomas terakhir kali pada tahun 2002. Itu artinya sudah 12 tahun kita tidak menjuarai Piala Thomas dan sudah 18 tahun tidak mencicipi lagi Piala Uber. Sampai kapan kita harus puasa gelar?

Belum lagi kalau bicara tentang Piala Sudirman yang terakhir kali kita rebut tahun 1989. Yang artinya sudah 25 tahun kita tidak pernah membawa pulang lambang supremasi bulutangkis beregu campuran tersebut. Ironisnya, nama piala itu diambil dari nama salah seorang tokoh bulutangkis Indonesia, mantan ketua umum PBSI, mendiang Sudirman, yang banyak berjasa terhadap perkembangan olahraga bulutangkis dunia.

Memang miris kalau kita melihat fakta-fakta di atas. Dan tentu saja itu adalah kenyataan pahit yang harus ditelan oleh Indonesia. Sebagai negara yang pernah menjadi penguasa badminton, prestasi kita saat ini tertinggal jauh dari Tiongkok, dan mulai disalip oleh Malaysia, Korea, Jepang, India, dan Thailand.

Sekadar menambahkan dan mengingatkan, bagi yang lupa dengan keperkasaan bulutangkis Indonesia di masa lalu, berikut ini adalah beberapa catatan prestasinya.

Di Piala Thomas, kita adalah pemegang rekor 13 kali juara. Sebuah capaian yang belum bisa disamai oleh tim putra negara mana pun sampai sekarang. Di sektor putri, raihan kita di masa lalu juga tidak jelek. Indonesia tercatat pernah tiga kali menjadi yang tebaik. Sedangkan, rekor juara dipegang oleh Tiongkok yang sampai tahun ini sudah menggapai Piala Uber sebanyak 13 kali. Di Piala Sudirman, kita pernah menjadi juara satu kali.

Itu semua baru di ajang beregu. Jika ditambah di ajang perorangan seperti Olimpiade, Kejuaraan Dunia, dan All England, sudah banyak prestasi yang dibukukan oleh para legenda bulu tangkis kita di masa lalu. Rudy Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Ardy Wiranata, Alan Budikusuma, Joko Suprianto, Heryanto Arbi, Hendrawan, dan Taufik Hidayat adalah sederet nama tunggal putra yang pernah mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi.

Di ajang Olimpiade, Indonesia memiliki tradisi emas di cabang bulu tangkis. Sejak nomor ini dipertandingkan tahun 1992, kita tidak pernah absen merebut medali emas. Dimulai dari dua sejoli Alan Budikusuma dan Susi Susanti di Barcelona 1992 hingga terakhir di Beijing 2008 atas nama ganda putra Markis Kido dan Hendra Setiawan.

Tapi, sayang, kini tradisi emas Olimpiade itu hanya tinggal kenangan. Di Olimpiade London 2012 yang lalu, tim bulutangkis Indonesia gagal mempersembahkan satu pun medali. Sebuah kenyataan getir yang menyesakkan.

Tanda tanya besarnya, kenapa prestasi bulutangkis kita sekarang ini terjun bebas? Apa ada yang salah dengan bulutangkis kita? Bagaimana dengan pembinaan para pemain di Pusat Pelatihan Nasional (Pelatnas) Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Cipayung?

Yang saya ketahui, Cipayung adalah salah satu tempat pembinaan bulu tangkis yang terhebat di dunia. Dahulu, negara-negara lain mengakui kualitas Cipayung dan meniru sistem pembinaannya untuk diterapkan di negaranya masing-masing.

Di kawah Candradimuka Cipayung inilah bibit-bibit muda calon dewa dan dewi bulutangkis di masa depan digembleng. Problemnya, saat ini, pasokan pemain-pemain muda tersebut sepertinya mulai berkurang. Regenerasi macet, dan kita masih mengandalkan tenaga pemain-pemain tua. Soal regenerasi, kita tertinggal jauh dibandingkan Tiongkok, terutama di sektor wanita.

Maka dari itu, tidak ada jalan lain. PBSI harus berani melakukan regenerasi. Di Cipayung banyak stok pebulutangkis muda yang wajib diberi kesempatan. Terjunkan mereka ke berbagai turnamen bulutangkis di luar negeri. Para bintang muda seperti Shesar Hiren Rhustavito, Jonathan Christie, Ihsan Maulana Mustofa, dan lain-lain harus segera diorbitkan untuk menggantikan para bintang tua yang sudah mulai meredup sinarnya.

Selain problem regenerasi, kita juga harus memperhatikan kualitas pelatih. Bukannya menyepelekan para pelatih di Cipayung, tapi hal ini memang mendesak sekali. Pemain muda berbakat, kalau tidak dipoles oleh pelatih bertangan dingin, tidak akan bisa berprestasi maksimal.

Lin Dan, jagoan Tiongkok, bisa tampil mengerikan dan membabat habis semua lawan dalam satu dekade terakhir berkat polesan pelatih kawakan, Tong Sin Fu. Tanpa bimbingan dari Tong, Super Dan tidak akan sesuperior sekarang. Ironisnya, Tong Sin Fu adalah orang yang lahir di Indonesia (Teluk Betung, Lampung), tapi memutuskan untuk hijrah dan melatih bulutangkis di Tiongkok karena ditolak menjadi warga negara Indonesia (WNI) tahun 1998 lalu.

India, terutama Saina Nehwal, menjadi kekuatan baru bulutangkis wanita berkat tangan dingin Atik Jauhari, pelatih senior dari Indonesia. Jepang saat ini bisa menjadi raja baru badminton, salah satunya karena sentuhan Reony Mainaky. Bulutangkis pria Malaysia juga bisa bangkit prestasinya karena sempat dilatih oleh Rexy Mainaky dan Hendrawan. Mereka semua adalah legenda bulutangkis Indonesia.

Jadi, intinya, banyak pelatih jempolan yang saat ini beredar di luar negeri dan mengangkat pamor bulutangkis negeri orang. Jangan sampai pelatih-pelatih tersebut dimanfaatkan oleh orang lain, sedangkan kita sendiri malah kekurangan. PBSI harus bijak dalam menyikapi hal ini. Kita harus bersyukur, saat ini PBSI sudah berhasil menarik pulang Rexy Mainaky.

Setelah faktor regenerasi dan pembinaan, hal yang harus ditingkatkan dengan serius adalah soal mental bertanding. Perbedaan kemampuan para pebulutangkis kelas dunia tidak terlalu jauh. Rata-rata mereka mempunyai skill yang hampir setara. Yang membedakan seorang pemenang dan pecundang sering kali bukan masalah skill bermain bulutangkis, tapi masalah mental.

Kita bisa mencontoh Kenichi Tago dan kawan-kawan. Menantang Tiongkok di babak semifinal Piala Thomas dengan status tidak diunggulkan, mereka tidak keder. Para samurai tersebut malah tertantang dan menunjukkan semangat pantang menyerah khas Negeri Sakura. Hasilnya, Chen Long dan rekan-rekan yang secara skill sedikit di atas para pemain Jepang pun takluk.

Hal tersebut membuktikan bahwa kekurangan skill bisa ditutup dengan kelebihan semangat dan mental bertanding yang baik. Berkat hal itulah, Jepang berhasil mengukir rekor, menghabisi Malaysia di final, dan untuk pertama kalinya menjadi juara Piala Thomas. Mampukah para pemain kita melakukan hal yang sama?

(Artikel ini dimuat di Opini BeritaSatu.Com | Senin, 26 Mei 2014 | 09:50 | http://www.beritasatu.com/blog/olahraga/3398-sampai-kapan-kita-puasa-gelar-piala-thomas-dan-uber.html)

Sampai Kapan Kita Puasa Gelar Piala Thomas dan Uber?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s