Menjelang Formula 1 GP Kanada 2014: Menanti Derby Mercy di Wall of Champions

Pada musim 2007, tim McLaren, yang saat itu diperkuat oleh juara bertahan Fernando Alonso dan rookie sensasional Lewis Hamilton, berpeluang besar menjadi juara Formula 1 setelah puasa gelar selama tujuh tahun. Duet Alonso dan Hamilton adalah duet terkuat di F1 waktu itu.

Hamilton adalah pebalap yang dibina McLaren sejak kecil dan menjadi anak emas tim asal Inggris tersebut. Alonso, yang sebelumnya menjadi juara dunia F1 dua tahun beruntun (2005 dan 2006) bersama Renault, tentu saja tidak mau dipermalukan rekan setimnya yang masih ingusan kala itu. Keduanya pun terlibat perseteruan sengit.

Friksi antara dua pebalap McLaren itu memuncak saat sesi kualifikasi GP Hungaria 2007. Waktu itu Hamilton menolak memberi jalan kepada Alonso, lalu Alonso pun membalasnya dengan menghalangi jalur Hamilton ketika sedang mencoba mencatatkan waktu terbaiknya.

Karena persaingan sengit menjurus brutal itulah impian McLaren untuk meraih gelar tahun 2007 akhirnya sirna. Kimi Raikkonen dari Ferrari yang akhirnya meraih keuntungan dengan menyalip di lomba terakhir. Kimi menjadi juara dunia F1 dengan keunggulan hanya satu poin atas Hamilton dan Alonso.

Tercatat dalam sejarah, bukan saat itu saja terjadi persaingan antar rekan setim di F1. Selain Alonso versus Hamilton, semua F1 mania lawas tentu masih ingat dengan pertarungan sengit musim 1988-1989 antara Ayrton Senna melawan rekannya di McLaren (iya, tim ini lagi), Alain Prost, yang legendaris itu.

Duel antara Senna dan Prost adalah derby (duel antar rekan setim) terpanas yang pernah tersaji di F1. Segala cara dilakukan untuk saling menjegal. Bahkan, menabrakkan mobil satu sama lain juga pernah terjadi kala itu.

Tahun 1988, Ayrton Senna adalah bintang F1 yang sedang menuju puncak tapi belum pernah menjadi juara dunia. Dia baru bergabung dengan tim McLaren yang diperkuat oleh juara dunia F1 dua kali (waktu itu), Sang Professor, Alain Prost. Sesuai dengan karakternya yang memang pemberani, Senna, si pendatang baru, tidak sungkan untuk bersaing dan “menantang” seniornya tersebut.

Klimaksnya terjadi pada saat GP Portugal 1988 di Sirkuit Estoril. Senna, yang saat itu sedang berjuang untuk merebut gelarnya yang pertama, memepet mobil Prost ke tembok pembatas ketika hendak disalip oleh pebalap Prancis tersebut. Hasilnya, Senna keluar sebagai juara dunia F1 tahun itu.

Berbeda dengan Hamilton versus Alonso tahun 2007, derby McLaren antara Senna dan Prost berlanjut sampai musim selanjutnya. Malah, friksi yang terjadi pada tahun 1989 lebih panas daripada 1988. Saat itu, Prost dan Senna sama-sama bersaing head-to-head memburu gelar juara dunia F1.

Pada saat berlangsung GP Jepang 1989 (seri ke-15 dari total 16 seri musim itu) yang diadakan di Sirkuit Suzuka, Senna yang tertinggal berusaha menyalip Prost di tikungan sempit. Karena tidak ada yang mau mengalah, terjadilah tabrakan. Hasilnya, Prost out dari lomba dan Senna didiskualifikasi karena dinyatakan bersalah. Musim itu, Prost yang akhirnya menjadi juara dunia F1 dan Senna di posisi runner-up.

Musim berikutnya, tahun 1990, Prost, yang mungkin merasa gerah dan tidak tahan terlibat friksi terus-menerus, akhirnya pindah ke Ferrari. Dia meninggalkan musuh bebuyutannya, Senna, menggapai gelar juara dunianya yang kedua bersama tim McLaren.

Kesimpulan dari fakta sejarah di atas: Punya mobil tercepat dan dua pebalap terkuat memang bukan jaminan bakal melaju mulus. Jika terjadi kompetisi yang tidak sehat antar sejawat dalam satu tim, gelar juara yang sudah di depan mata bisa sirna begitu saja.

Tahun ini, friksi yang dialami oleh McLaren di akhir 1980-an dan 2007 bisa saja menerpa Mercedes. Seperti halnya McLaren tujuh musim yang lalu, Mercedes yang memiliki mobil tercepat di F1 dan duet terkuat dalam diri Lewis Hamilton (iya, dia lagi) dan Nico Rosberg, bisa saja pada akhirnya gagal menjadi juara dunia kalau tidak mampu mengendalikan persaingan dalam garasinya.

Friksi di tubuh Mercy ini dipicu insiden yellow flag yang terjadi saat babak kualifikasi GP Monaco dua pekan lalu. Meski tidak pernah menuduh secara langsung, dari gerak-geriknya dan sikap ngambeknya, semua penonton F1 bisa menilai bahwa Hamilton menyalahkan Rosberg. Karena insiden yellow flag itu, Hamilton gagal meraih pole position dan akhirnya gagal menang di seri balap F1 paling bergengsi tersebut. Posisi start terdepan memang sangat krusial di sirkuit jalan raya yang sempit seperti Monte Carlo.

Dua pekan berlalu, meskipun Hamilton mengaku sudah menyapa Rosberg dan sempat menge-tweet foto masa abege mereka berdua sebagai tanda persahabatannya dengan Nico, para pengamat dan fans percaya bahwa friksi belum reda. Dan kemungkinannya, persaingan panas itu akan berlanjut akhir pekan ini di Montreal saat GP Kanada berlangsung. Ya, hari Minggu ini sepertinya memang bakal tersaji derby antar dua jagoan Mercy.

Tim Mercedes sendiri melalui direkturnya, Toto Wolff, menyatakan tidak akan membela salah satu pebalapnya. Hamilton dan Rosberg dibebaskan untuk bersaing secara sehat sampai akhir musim nanti. Mercedes bakal menyediakan mobil dan sumber daya lainnya secara adil pada keduanya. Tidak akan ada yang dianakemaskan. Tidak akan ada team order.

Wolff yakin, friksi antara Hamilton dan Rosberg tidak akan sepanas Hamilton dan Alonso tahun 2007, apalagi sebrutal Senna dan Prost tahun 1988. Wolff percaya, Hamilton dan Rosberg sudah sama-sama dewasa dan tidak akan mengorbankan kepentingan tim (menjadi juara dunia F1) hanya karena emosi sesaat yang tak terkontrol. Kita tunggu saja buktinya hari Minggu nanti. Yang pasti, Mercy memang diunggulkan bakal berjaya lagi.

Sirkuit Gilles Villeneuve di Montreal adalah sirkuit yang karakternya memang cocok bagi mobil Mercedes yang full power seperti saat ini. Memiliki trek lurus panjang, tentu bakal sulit bagi pebalap (terutama yang bermesin Renault dan Ferrari) untuk mengejar Hamilton dan Rosberg di sirkuit sepanjang 4,361 kilometer ini. Maka dari itu, jika balapan berlangsung normal tanpa insiden, kemungkinan besar Mercedes bakal menang akhir pekan ini.

Bagaimana dengan tim pengguna mesin Mercedes lainnya? Para pebalap McLaren, Force India, dan Williams sepertinya bisa bersaing di top ten dengan memanfaatkan kecepatan mereka di trek lurus, dan mungkin mampu menyodok ke posisi tiga besar di belakang Hamilton atau Rosberg.

Sementara itu, setelah berhasil naik podium dua pekan lalu, Red Bull tampaknya tidak berharap banyak di balapan kali ini. Meskipun Renault selaku pemasok mesin membawa upgrade terbaru di Montreal, Chris Horner selaku team principal Red Bull Racing menyatakan GP Kanada bakal menjadi balapan yang sulit bagi tim yang dimiliki pengusaha minuman berenergi asal Austria itu.

Di Monaco yang minim trek lurus dan memiliki banyak tikungan dua pekan lalu, Red Bull memang berhasil menguntit Mercedes dan akhirnya bisa naik podium melalui Daniel Ricciardo. Di Montreal, hasilnya bisa berbeda. Kelincahan mobil rancangan Adrian Newey menjadi tidak berarti di sirkuit yang sempit tapi memiliki trek lurus panjang tersebut. Sebastian Vettel dan Daniel Ricciardo bakal kesulitan mendekati catatan waktu pebalap-pebalap yang menggunakan mesin Mercedes.

Selain kalah cepat, mesin Renault juga terbukti tidak tahan banting. Di Monte Carlo, Vettel harus menyudahi balapan tanpa perlawanan karena girboksnya macet di gigi satu. Alhasil, mesin mobilnya pun kehilangan tenaga dan harus kembali ke garasi di awal lomba. Kejadian itu bisa saja terulang di Kanada akhir pekan ini.

Berbeda dengan Red Bull, tim Kuda Jingkrak Ferrari datang ke Kanada dengan optimistis. Raikkonen sempat tampil apik di GP Monaco sebelum diseruduk Max Chilton. Alonso juga menyatakan atmosfer tim dalam keadaan baik dan mereka datang ke Kanada dengan membawa upgrade mobil. Meski demikian, bisa naik podium adalah target yang paling realistis.

Para tifosi Ferrari mungkin harus berdoa supaya derby Hamilton dan Rosberg memanas, lalu menabrak Wall of Champions yang terkenal itu, sehingga keduanya out dari lomba. Dengan demikian, Alonso atau Raikkonen bisa mencuri kemenangan di Montreal akhir pekan ini. Hehehe..

Seri balap Formula 1 Grand Prix du Canada 2014 akan dimulai hari Jumat, 6 Juni 2014, dengan sesi Free Practice 1 (21.00 WIB) dan sesi Free Practice 2 (01.00 WIB). Lalu, hari Sabtu, 7 Juni 2014, diawali dengan sesi Free Practice 3 (21.00 WIB) dan diikuti sesi Qualifying (00.00 WIB). Selanjutnya, hari Senin, 9 Juni 2014, adalah raceday dengan start lomba mulai pukul 01.00 WIB. Selamat menonton!

Menjelang Formula 1 GP Kanada 2014: Menanti Derby Mercy di Wall of Champions

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s