Saatnya Argentina Berpesta di Maracana?

Sejak Piala Dunia pertama diadakan tahun 1930, baru dua kali Argentina menggapai puncak tertinggi, yaitu pada tahun 1978 dan 1986. Itu berarti, saat ini sudah 28 tahun Argentina puasa trofi yang sangat diidam-idamkan oleh semua tim nasional itu. Untuk ukuran sebuah negara yang dikenal sebagai tempat lahirnya dewa-dewa sepak bola, tentu saja 28 tahun adalah waktu yang cukup lama. Sampai kapan tim Tango harus menahan dahaga akan gelar juara dunia?

Memang, setelah era Mario Kempes dan Diego Maradona, Argentina seolah menunggu lahirnya dewa baru yang bakal membawa kejayaan bagi tanah kelahiran Che Guevara tersebut. Tercatat, nama-nama seperti Gabriel Batistuta, Hernan Crespo, Ariel Ortega, Juan Sebastian Veron, Juan Roman Riquelme, Pablo Aimar, hingga Carlos Tevez, sempat menjadi harapan utama. Tetapi, mereka semua gagal merebut kembali trofi emas karya Silvio Gazzaniga tersebut.

Asa sempat membuncah ketika muncul sinar terang dari bumi Catalunya dalam diri Lionel Messi. Rakyat Argentina wajib bersyukur, Messi, yang sejak umur 13 tahun sudah tinggal di Barcelona, memilih untuk setia mengenakan seragam La Albiceleste daripada seragam La Furia Roja. Padahal, jika mau, Messi bisa saja berkumpul dengan rekan-rekan seklubnya semacam Xavi dan Andres Iniesta di tim nasional Spanyol.

Setelah hanya tampil singkat dan hanya mampu menyumbang satu gol di Piala Dunia 2006, Messi menjadi tumpuan utama dan ujung tombak Argentina di Piala Dunia 2010. Di bawah besutan pelatih bertangan Tuhan, Diego Maradona, banyak fan tim Tango yang yakin bahwa Messi, yang saat itu sedang jaya-jayanya bersama Barca, mampu mengembalikan reputasi Argentina sebagai juara dunia. Nyatanya, Argentina kembali gagal, dan Messi harus pulang dari Afrika Selatan tanpa membawa oleh-oleh satu gol pun.

Tahun ini, di Piala Dunia 2014, Messi kembali menjadi kapten tim asuhan Alejandro Sabella di Brasil di kandang musuh bebuyutannya. Tahun ini, bisa jadi, adalah kesempatan terakhir bagi Messi untuk membuktikan bahwa namanya layak disejajarkan dengan para legenda, semacam Mario Kempes dan Diego Maradona, yang sudah pernah mengharumkan nama negaranya di Piala Dunia.

Jika tahun ini kembali gagal, pada kesempatan berikutnya umur Messi sudah melebihi kepala tiga. Sudah melewati usia emas para striker juara dunia. Tentu bakal semakin sulit untuk membawa Argentina berjaya. Apalagi, empat tahun lagi Piala Dunia diadakan di Rusia. Biasanya tim-tim Amerika Latin kesulitan untuk menjadi juara di Eropa. Hanya Brasil yang pernah berpesta di benua biru. Itu pun sudah lama sekali, yaitu tahun 1958 di Swedia. Saat itu Pele pun masih bau kencur.

Memang, tidak peduli berapa pun piala yang dia raih bersama Barcelona dan berapa pun Ballon d’Or yang dia koleksi, selama tidak mampu mempersembahkan gelar juara bagi Argentina, selama itu pula Messi berada di bayang-bayang Maradona. Pengakuan sebagai pemain terhebat sepanjang masa pun hanya menjadi impian semata seandainya pemain yang dijuluki “si Kutu” tersebut tidak bisa membawa negerinya berjaya. Maka dari itu, di Piala Dunia inilah, Messi harus tampil habis-habisan. Sekarang atau tidak sama sekali.

Sebenarnya, Messi dan rekan-rekannya di tim nasional Argentina memang harus optimistis di Piala Dunia kali ini. Di fase grup, mereka hanya bergabung dengan tim debutan Bosnia-Herzegovina, juara Afrika, Nigeria, dan wakil Asia, Iran. Tanpa bermaksud meremehkan ketiga tim tersebut, seharusnya Messi dkk bisa dengan mudah lolos dari Grup F dan melaju ke babak 16 besar.

Bagaimana dengan tim-tim Eropa yang bakal menjadi lawan Argentina di babak selanjutnya? Statistik menunjukkan, belum ada tim dari benua biru yang mampu berjaya bila Piala Dunia diadakan di benua Amerika. Ditambah lagi, Piala Dunia kali ini diadakan di Brasil, negara tropis bersuhu panas. Lihat saja bagaimana Italia dan Spanyol yang akhirnya keok karena kedodoran dan dehidrasi di Piala Konfederasi 2013 lalu.

Selain faktor cuaca panas, jarak antar kota penyelenggara di Brasil yang berjauhan juga sangat memberatkan. Bayangkan, mereka harus terbang ribuan kilometer mengelilingi negara terluas kelima di dunia tersebut, mulai dari fase grup sampai partai final. Jarak tempuh rata-rata setiap tim di fase grup adalah 2.866 kilometer. Tentu saja ini bakal menguras stamina para pemain. Karena alasan itulah, bagi fan tim-tim Eropa, jangan berharap terlalu banyak di Piala Dunia kali ini.

Argentina sendiri diuntungkan dengan jarak tempuh antarkota yang relatif pendek dibandingkan dengan tim-tim lainnya. Selama fase grup, Argentina akan bertanding di tiga kota di Brasil bagian selatan, yaitu Belo Horizonte, Rio de Janeiro, dan Porto Alegre. Total jarak yang ditempuh “hanya” sekitar 1.683 kilometer. Bandingkan dengan tim tuan rumah Brasil yang harus menempuh sekitar 4.062 kilometer selama berlaga di fase grup.

Dibandingkan dengan tim-tim juara dunia dari Eropa dan sesama juara dunia dari Amerika Latin, (Uruguay), Brasil memang menjadi calon lawan tersulit yang bakal dihadapi tim Tango Argentina. Sebagai tuan rumah, tim Samba tidak perlu lagi beradaptasi dengan iklim dan sudah terbiasa dengan perbedaan cuaca yang ekstrem. Hal ini yang membuat tim asuhan Big Phil Scolari itu lebih diunggulkan daripada tim-tim top lainnya.

Jika berhasil menjadi juara Grup F dan melaju ke fase knock-out, setidaknya sampai semifinal, Argentina bakal terhindar dari Brasil. Seandainya kedua tim tersebut mulus melaju sampai akhir, Messi dkk baru akan bertemu Neymar dkk di partai puncak. Bakal menjadi final idaman seandainya dua tim raksasa Amerika Latin tersebut berjibaku di Rio de Janeiro.

Seandainya final impian itu benar-benar terealisasi, Argentina tidak perlu gentar menghadapi Brasil. Tim Samba tersebut saat ini diadang oleh dua mitos. Yang pertama, mitos tim juara Piala Konfederasi yang selalu gagal di Piala Dunia. Brasil sebagai juara Piala Konfederasi 1997, 2005, dan 2009 selalu gagal di Piala Dunia 1998, 2006, dan 2010. Tahun lalu, Julio Cesar dkk baru saja menjuarai Piala Konfederasi 2013. Apakah mereka juga bakal gagal di Piala Dunia 2014?

Yang kedua, mitos belum ada pelatih yang berhasil menjadi juara dunia dua kali sejak era Vittorio Pozzo bersama Italia tahun 1934 dan 1938. Pelatih Selecao, Luiz Felipe Scolari, sudah pernah meraih Piala Dunia tahun 2002. Biasanya, pada kesempatan kedua, si pelatih juara dunia bakal gagal. Lihat saja Marcello Lippi yang hancur-lebur di Piala Dunia 2010. Padahal, sebelumnya dia menjadi kampiun tahun 2006. Begitu pula Mario Zagallo, yang meraih Jules Rimet Cup tahun 1970 tapi gagal di tahun 1998, dan Carlos Alberto Perreira, juara Piala Dunia 1994 tapi gagal di tahun 2006. Apakah Big Phil bakal mengikuti jejak Lippi dan dua pelatih kompatriotnya tersebut?

Messi sendiri pun tidak perlu ciut nyali menghadapi Thiago Silva dkk. Jika Obdulio Varela mampu membawa Uruguay menghadirkan mimpi buruk Tragedi Maracanazo terhadap Brasil pada tahun 1950, maka Messi pun seharusnya bisa melakukan hal yang sama tahun ini. Bakal terjadi orgasme nasional di Argentina seandainya tim Tango mampu mengalahkan musuh bebuyutannya, tim Samba, di partai puncak Piala Dunia, dan akhirnya berpesta di kuil keramat sepakbola, Stadion Maracana.

(Artikel ini dimuat di BeritaSatu.Com | Kamis, 19 Juni 2014 | 13:42 | http://www.beritasatu.com/blog/olahraga/3458-saatnya-argentina-berpesta-di-maracana.html)

Saatnya Argentina Berpesta di Maracana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s