Kosta Rika, Cinderella Piala Dunia 2014

Fase grup Piala Dunia 2014 sudah berakhir, 48 laga sudah berlalu. Banyak kejutan dan insiden yang mewarnai babak awal pesta sepakbola sejagat ini. Dimulai dengan tersisihnya juara bertahan Spanyol, rontoknya tim-tim elite Eropa, seperti Italia, Inggris, Portugal, dan Rusia, hingga gigitan Luis Suarez terhadap Giorgio Chiellini.

Dari semua kejadian di fase grup tersebut, yang paling menarik bagi saya adalah tampilnya tim gurem Kosta Rika sebagai juara grup neraka dengan mengangkangi tiga tim juara dunia.

Semua penggemar sepakbola tentu sepakat bahwa grup D Piala Dunia 2014 yang dihuni oleh Uruguay, Italia, Inggris, dan Kosta Rika adalah grup maut. Ada tiga juara dunia yang bercokol di grup ini. Semua penggemar sepakbola juga sepakat bahwa Kosta Rika bakal menjadi bulan-bulanan di grup neraka ini. Tim yang baru empat kali tampil di Piala Dunia tersebut diprediksi menjadi lumbung gol bagi Uruguay, Italia, dan Inggris. Tetapi, semua perkiraan itu salah.

Saat ini, setelah semua laga di fase grup selesai, semua penggemar sepakbola baru menyadari bahwa Kosta Rika bukanlah tim kacangan seperti yang mereka perkirakan sebelumnya. Kosta Rika mengakhiri fase grup dengan keluar sebagai jawara di atas Uruguay, Italia, maupun Inggris.

Tim yang dikapteni oleh Bryan Ruiz itu berhasil lolos untuk kedua kalinya ke babak 16 besar Piala Dunia setelah yang pertama pada edisi 1990. Sebuah prestasi yang cukup fenomenal.

Saking mengejutkannya, kesuksesan Kosta Rika tersebut sampai mengundang kecurigaan. Setelah laga melawan Italia di matchday kedua grup D, Fifa meminta tujuh pemain Los Ticos–julukan Kosta Rika–untuk menjalani tes doping. Padahal, biasanya hanya dua pemain dari setiap tim yang diwajibkan untuk menjalani tes doping setelah laga usai.

Tujuh pemain Kosta Rika yang saat itu harus menjalani tes doping adalah Michael Barrentes, Keylor Navas, Celso Borges, Christian Bolanos, Marcos Urena, Diego Calvo, dan si pencetak gol ke gawang Italia, Bryan Ruiz. Supaya tidak menimbulkan kecurigaan, Fifa menyatakan bahwa sebenarnya yang diwajibkan menjalani tes doping hanya dua pemain. Tetapi, khusus untuk Kosta Rika, ada tujuh pemain yang dipanggil karena lima orang di antaranya belum menjalani tes sebelum Piala Dunia 2014 berlangsung.

Ya, tidak salah kalau banyak orang curiga karena Kosta Rika memang menjelma dari tim gurem menjadi tim kuda hitam yang sangat diperhitungkan. Kosta Rika ibarat Cinderella yang berubah dari gadis lusuh yang disia-siakan menjadi putri cantik dalam waktu semalam. Seperti halnya Cinderella yang berubah nasibnya berkat bantuan Ibu Peri, Kosta Rika juga bisa berprestasi karena ada sosok peri dalam diri pelatih Jorge Luis Pinto Afanador. Pelatih asal Kolombia inilah yang menyulap Kosta Rika menjadi tim yang sulit dikalahkan.

Solidnya permainan tim tersukses di Amerika Tengah ini memang mulai terlihat sejak dilatih oleh Jorge Luis Pinto tahun 2011. Pada babak kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Concacaf, Los Ticos mampu finis kedua di bawah Amerika Serikat dan di atas tim yang sudah menjadi langganan tampil di Piala Dunia, Meksiko. Karena fakta itulah, sebelum Piala Dunia dimulai, saya sudah memperkirakan bahwa Kosta Rika adalah tim yang wajib diwaspadai.

Saya sudah pernah menulis potensi Kosta Rika di Opini tentang Prediksi Piala Dunia 2014, yang ternyata menjadi kenyataan: “Salah besar jika menganggap Kosta Rika sebagai tim pupuk bawang dan tim terlemah di Piala Dunia 2014. Anak-anak asuh Jorge Luis Pinto ini adalah tim terbaik kedua di zona Concacaf. Jika terlalu meremehkan, Italia, Uruguay, dan Inggris bisa menjadi korban mereka di fase grup.”

Pelatih Italia, Cesare Prandelli, setelah dikalahkan Bryan Ruiz dkk, juga menyatakan bahwa Kosta Rika bukanlah tim kejutan yang mengandalkan keberuntungan semata. Tim asuhan Jorge Luis Pinto itu terorganisasi dengan baik. Pemain-pemainnya memiliki kecepatan dan skill individunya menonjol. Perpaduan antara kemampuan individu, kecepatan, dan organisasi itulah yang akhirnya membuat Gli Azzurri takluk di kaki Los Ticos.

Jorge Luis Pinto memang menerapkan strategi dan taktik yang brilian selama berlaga di grup D Piala Dunia 2014. Dia menggunakan pola tiga bek yang terinspirasi dari skema tim juara Liga Serie A, Juventus, yang diracik oleh pelatih Antonio Conte. Pinto menurunkan trio Oscar Duarte, Giancarlo Gonzalez, dan Michael Umana untuk mengawal lini pertahanan Kosta Rika saat menghadapi Italia.

Skema tiga bek yang diterapkan oleh Pinto tersebut tidak mengenal posisi sweeper atau bek tengah yang berdiri lebih ke belakang daripada dua bek lainnya. Ketiga bek Kosta Rika berdiri sejajar dan membuat garis pertahanan di dua pertiga lapangan. Mereka menerapkan sistem offside-trap yang sangat efektif. Dalam laga melawan Kosta Rika, Italia terjebak offside sampai 11 kali dan akibatnya berkali-kali gagal menembus gawang Los Ticos.

Dengan pola tiga bek dan jebakan offside yang efektif tersebut, Kosta Rika hanya kebobolan satu gol dalam tiga laga. Itu pun bukan kebobolan gol dari open-play, melainkan dari sepakan penalti striker Uruguay, Edinson Cavani, di laga perdana grup D. Rekor hanya kebobolan satu gol itu menjadikan Kosta Rika sebagai salah satu tim dengan pertahanan terbaik selama fase grup Piala Dunia 2014, bersama dengan Meksiko dan Belgia.

Di lini tengah, karena tidak dihuni oleh para pemain bintang, Pinto menerapkan strategi pressing ketat terhadap lawan-lawannya. Saat menghadapi Italia, para gelandang Kosta Rika sangat membatasi ruang gerak Andrea Pirlo. Bukan dengan man-to-man marking, tapi dengan zona marking. Dengan kata lain, tidak ada satu pemain yang secara khusus ditugaskan untuk menjaga Pirlo.

Dalam sistem zona yang diterapkannya, Pinto membagi lini tengah Kosta Rika menjadi tiga bagian. Lapisan depan menjadi tanggung jawab Bryan Ruiz, di lapisan tengah ada Yeltsin Tejeda, dan di lapisan belakang terdapat Celso Borges. Dengan penjagaan tiga lapis tersebut, kreasi Pirlo menjadi sangat berkurang. Maestro lini tengah Italia tersebut tidak leluasa melakukan passing seperti saat menghancurkan Inggris. Pirlo lebih banyak mengoper bola ke belakang dan ke samping. Alhasil, serangan Italia menjadi mandul ketika menghadapi Kosta Rika.

Di lini depan, Pinto tidak mengandalkan satu orang ujung tombak yang monoton. Hal ini membuat serangan balik Kosta Rika menjadi variatif dan sulit ditebak arahnya. Trio Bryan Ruiz, Joel Campbell, dan Christian Bolanos, sangat dinamis dalam bergerak dan bertukar posisi. Mereka juga sangat cepat dan pintar menempatkan diri. Banyak peluang tercipta dari cairnya transisi pemain depan Kosta Rika tersebut. Hal ini tentu saja membuat bingung barisan pertahanan lawan. Tak heran, tim juara Copa America sekelas Uruguay pun digelontor tiga gol oleh Los Ticos.

Kalaupun di perempat final langkah Kosta Rika terhenti saat berjumpa Belanda, tim Amerika Latin ini sudah menjadi Cinderella yang memikat hati banyak pencinta bola di gelaran Piala Dunia 2014.

(Artikel ini dimuat di BeritaSatu.Com | Rabu, 02 Juli 2014 | 14:42 | http://www.beritasatu.com/blog/olahraga/3488-kosta-rika-cinderella-fase-grup-piala-dunia-2014.html)

Kosta Rika, Cinderella Piala Dunia 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s