Review Formula 1 GP Belgia 2014: Ricciardo Kembali Berjaya

Grand Prix Belgia 2014 seharusnya menjadi balapan yang mudah bagi Mercedes. Secara teori, sirkuit high-speed semacam Spa-Francorchamps musim ini adalah makanan empuk bagi mobil-mobil bermesin Mercy. Hal itu terbukti pada saat sesi kualifikasi pada hari Sabtu, Nico Rosberg dan Lewis Hamilton menguasai grid terdepan, start dari posisi pertama dan kedua, dengan keunggulan di atas dua detik dari para pesaingnya.

Tetapi, yang terjadi pada saat lomba adalah sebaliknya. Keunggulan mobil Mercedes yang lebih cepat pada saat free practice dan qualifying seakan tiada artinya. Rosberg dan Hamilton untuk kedua kalinya secara beruntun kembali gagal menang, seperti halnya di GP Hungaria bulan lalu.

Jika pada lomba-lomba sebelumnya masalah reliabilitas mesin yang menjadi momok, maka pada GP Belgia kemarin insiden antara Rosberg dan Hamilton di lap kedualah yang memupus harapan Mercedes. Derby Mercy itu memberi jalan kepada Daniel Ricciardo, untuk ketiga kalinya musim ini, mencuri kemenangan dari tim Silver Arrows tersebut.

Ricciardo, dan mobil Red Bull-nya yang tidak diunggulkan di Spa, selama ini memang selalu menunggu kesalahan yang dilakukan oleh Rosberg dan Hamilton. Di Belgia kemarin, bocah Aussie tersebut bisa memaksimalkan crash yang terjadi di antara dua pebalap Mercedes. Kesempatan itu tidak dia sia-siakan untuk merebut kemenangan beruntun di dua lomba terakhir, setelah bulan lalu dia juga berjaya di Hungaroring.

Musim ini, Ricciardo memang menjadi satu-satunya pebalap yang mampu menang di luar duo Mercedes, Rosberg dan Hamilton. Selain itu, rekan setim Sebastian Vettel tersebut menjadi driver Australia pertama yang mampu menang di sirkuit legendaris Spa-Francorchamps setelah Sir Jack Brabham pada tahun 1960.

Meski demikian, kemenangan Ricciardo kemarin bisa dibilang berbau keberuntungan. Seandainya sayap depan mobil Rosberg tidak menyenggol ban belakang mobil Hamilton di lap kedua, pebalap Red Bull tersebut dipastikan bakal susah melewati duo Mercedes yang memang sangat cepat dan powerful.

Tapi, apa mau dikata. Mungkin Ricciardo musim ini memang ditakdirkan untuk menjadi orang ketiga di antara Rosberg dan Hamilton. Kehadiran orang ketiga biasanya memang membuat suasana menjadi lebih seru. Hehehe..

Sementara itu, Rosberg yang selama ini identik sebagai good boy, setelah insiden kemarin justru dicemooh oleh para fans. Dia disalahkan karena dinilai terlalu agresif ingin menyusul si bad boy, Hamilton. Tak pelak, saat sesi wawancara di atas podium seusai lomba, Nico pun di-boo oleh para penonton.

Rosberg yang meraih pole position saat kualifikasi langsung kehilangan posisi terdepan saat start karena disalip oleh Hamilton. Mungkin karena itu akhirnya dia membalap membabibuta dan akhirnya menyenggol mobil Hamilton di tikungan Les Combes. Akibat insiden di lap kedua itu, sayap depan mobil Rosberg hancur berantakan, sedangkan ban kiri belakang mobil Hamilton meletus.

Beruntung bagi Rosberg, meski menghabiskan banyak waktu untuk mengganti sayap depan yang rusak, dia masih bisa finish kedua di belakang Ricciardo. Sementara itu, Hamilton yang ban belakangnya hancur kembali menjadi pihak yang apes.

Setelah ganti ban, Hamilton tak pernah sekalipun berhasil merangsek ke depan. Setelah berusaha maksimal, akhirnya pacar Nicole Pussycat Doll itu menyerah. Dia KO hanya lima lap menjelang finish. Mantan pebalap kesayangan McLaren itu kembali ke pit, memarkir mobil Mercy-nya di garasi, dan pulang dari Spa tanpa membawa poin.

Selain dihujat oleh para penonton, Rosberg juga disalahkan oleh Non-executive Chairman Mercedes, Niki Lauda. Legenda yang persaingannya dengan James Hunt diangkat ke film Rush itu heran, kenapa Rosberg bisa bermanuver senekat itu. Padahal, saat itu lomba baru memasuki lap kedua, masih banyak kesempatan bagi Nico untuk menyalip Hamilton.

Lauda memang pantas geram. Insiden seperti di Spa kemarin, seandainya terulang di balapan-balapan selanjutnya, bisa saja mengancam peluang Mercedes untuk merebut juara dunia. Musim ini, memang hanya ada dua hal yang bisa menggagalkan ambisi Mercedes, yaitu: ketahanan mesin mobil dan friksi di antara dua pebalapnya.

Hubungan antara Rosberg dan Hamilton yang sudah membaik setelah sempat tidak bertegur sapa pasca insiden yellow flag di Monaco, bisa jadi kembali memanas setelah insiden di Spa. Apalagi, sudah ada kabar bahwa Hamilton merasa Rosberg sengaja menyenggol mobilnya saat lomba kemarin.

Jika relasi antara dua pebalap Mercy kembali memburuk, maka pihak yang paling diuntungkan adalah Red Bull, terutama Ricciardo. Dengan tujuh lomba tersisa, mantan pebalap Scuderia Toro Rosso itu mengincar peluang menjadi juara dunia, seperti halnya Kimi Raikkonen di Ferrari pada tahun 2007 yang memanfaatkan friksi antara Fernando Alonso dan Lewis Hamilton di McLaren.

Kemajuan yang dicapai oleh Ricciardo dan mobil Red Bull-nya memang patut diwaspadai oleh Mercedes. Musim ini, sudah tiga kali mereka dipecundangi oleh tim besutan Chris Horner tersebut. Sepertinya, Renault selaku pemasok mesin Red Bull telah mampu meningkatkan performa. Buktinya, di dua balapan terakhir, Ricciardo mampu memang, baik di sirkuit superlambat seperti Hungaroring, maupun yang supercepat seperti Spa.

Ricciardo pun makin optimistis menyongsong seri tersisa. Jika di sirkuit cepat yang notabene menjadi makanan empuk Mercedes dia mampu menang, apalagi di sirkuit lambat yang cocok dengan mobil Red Bull bikinan Adrian Newey, seperti di Singapura dan Suzuka. Tidak ada yang mustahil untuk menjadi juara dunia.

Sementara itu, Williams yang diperkirakan bakal bersaing dengan Mercedes di Spa, ternyata hanya mampu finish di posisi ketiga lewat Valtteri Bottas. Rekan senegara Raikkonen itu gagal memanfaatkan peluang emas untuk menjadi pebalap keempat yang mampu meraih victory musim ini. Kesempatan bagi Bottas mungkin hanya tersisa di GP Italia dua pekan lagi. Sirkuit Monza yang berkarakter very high-speed, lebih cepat daripada Spa, secara teori, cocok dengan mobil Williams yang bermesin Mercedes.

Perjuangan Bottas untuk meraih podium kemarin sejatinya tidak mudah. Dia harus melewati hadangan kompatriotnya, Kimi. Derby Finlandia untuk memerebutkan posisi ketiga akhirnya dimenangkan oleh Valtteri setelah dia berhasil menyalip pebalap Ferrari tersebut hanya beberapa lap menjelang finish.

Meski kalah dalam perebutan podium dari Bottas, kemarin Raikkonen berhasil memecundangi rekan setimnya, Alonso. Kimi berhasil finish di posisi keempat, sedangkan Fernando ketujuh (sebenarnya finish kedelapan, tapi dia maju satu tingkat karena Kevin Magnussen dari McLaren terkena penalti 20 detik). Alonso sendiri tetap memertahankan rekor sebagai satu-satunya pebalap musim ini yang selalu mencetak poin, alias selalu masuk top ten saat lomba.

Race selanjutnya akan dilangsungkan di sirkuit keramat yang menjadi kuilnya balap F1. Seperti halnya Spa, di atas kertas, sirkuit legendaris di Italia tersebut adalah santapan empuk bagi mobil-mobil bermesin Mercedes. Tapi, patut ditunggu, apakah tim Kuda Jingkrak Ferrari mampu membuat kejutan, menang di kandang sendiri. Sampai jumpa dua pekan lagi di Monza!

Ricciardo Kembali Berjaya

Review Formula 1 GP Belgia 2014: Ricciardo Kembali Berjaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s