Review Formula E Beijing ePrix 2014: Balapan yang Sunyi, tapi Dramatis

Lomba perdana mobil listrik, FIA Formula E Championship, yang berlangsung di sirkuit jalan raya yang mengitari Stadion Olimpiade di Beijing, Tiongkok, kemarin berlangsung cukup seru. Meski tingkat kebisingan suara termasuk kategori sunyi bila dibandingkan dengan lengkingan mesin mobil-mobil Formula 1, race Formula E Beijing ePrix 2014 kemarin menyuguhkan ending yang dramatis dan mendebarkan.

Nicolas Prost dari tim E.DAMS Renault yang tampaknya bakal mencatat sejarah sebagai pemenang balapan Formula E seri perdana, akhirnya harus merelakan victory-nya melayang setelah mengalami crash dengan mantan pebalap F1, Nick Heidfeld, dari tim Venturi. Di tikungan terakhir menjelang finish, mobil Heidfeld, yang berusaha menyalip dari sisi dalam, menabrak ban kiri mobil anak legenda balap Alain Prost itu.

Akibat crash tersebut, mobil Heidfeld melayang ke udara, terbalik, lalu menghempas jalanan yang mengitari Stadion Sarang Burung. Mobil Venturi yang dikemudikan Heidfeld itu pun hancur lebur. Tetapi, untungnya, pebalap yang dijuluki Quick Nick itu tidak mengalami cedera apa-apa dan masih bisa berjalan sendiri menuju garasi timnya.

Selamatnya Heidfeld dan juga Prost dari insiden yang tergolong dahsyat tersebut membuktikan bahwa tingkat keamanan Formula E tergolong tinggi. Jika crash seperti itu terjadi di F1, mungkin mobil Prost dan Heidfeld sudah terbakar. Di Formula E yang mobilnya bertenaga listrik dan tidak menggunakan bahan bakar minyak, tabrakan yang berbahaya tersebut tidak menimbulkan percikan api sedikitpun.

Pihak yang disalahkan dalam crash kemarin adalah Nico Prost. Anak juara dunia F1 empat kali, Alain Prost, itu dianggap menutup race line secara mendadak saat hendak disalip oleh Heidfeld menjelang finish. Tidak menutup kemungkinan Prost bakal mendapat hukuman jika hasil investigasi FIA menyatakan dia bersalah.

Prost sendiri mengaku tidak melihat Heidfeld yang akan menyalipnya. Mungkin, dia terlalu bersemangat karena beberapa detik selanjutnya bakal melewati garis finish. Atau, mungkin, suara mobil Formula E yang sunyi membuat dia tidak mendengar ada mobil di belakangnya yang hendak menyusul. Di F1, suara raungan mesin sering kali menjadi penanda bahwa ada pebalap di belakangnya yang semakin mendekat.

Meski gagal menang dan kandas di tikungan terakhir menjelang finish, Prost tidak mengakhiri lomba dengan tangan hampa. Dia mendapat hadiah hiburan dan membawa pulang tiga poin dari Beijing setelah meraih pole position saat sesi qualifying.

Nasib Prost di lomba kemarin juga lebih baik daripada pebalap dengan nama legendaris lainnya, Senna. Bruno, keponakan mendiang Ayrton Senna, harus mengakhiri lomba di lap pertama setelah terjepit oleh dua mobil Amlin Aguri. Suspensi bagian kiri depan mobil Senna patah. Safety Car BMW terpaksa keluar sembari menunggu mobil Mahindra Racing-nya diangkut dari trek.

Sebelum lomba, Senna termasuk salah satu di antara tiga pebalap yang berhasil memenangkan FanBoost. Sayang, sebelum sempat menggunakannya, dia sudah KO duluan. Dua pebalap lainnya yang mendapatkan FanBoost adalah sang pemenang lomba, Lucas Di Grassi, dan pebalap wanita andalan Amlin Aguri, Katherine Legge.

Sementara itu, pebalap Amlin Aguri lainnya, Takuma Sato, yang mobilnya sempat ngadat di pertengahan lomba, berhasil mendapatkan bonus dua poin setelah mencetak fastest lap. Pebalap Jepang yang pernah terjun di F1 itu menyalip catatan waktu Sebastien Buemi pada saat-saat terakhir sebelum finish. Sedangkan, Buemi, yang perkasa saat test pramusim, harus menuai hasil buruk dengan gagal menyelesaikan lomba. Dia KO di lap ke-19.

Tabrakan antara Prost dan Heidfeld kemarin memang sangat menentukan hasil lomba, dan itu ibarat durian runtuh bagi Lucas Di Grassi. Pebalap tim Audi Sport Abt, yang semula dengan setia menguntit mereka di posisi ketiga, itu akhirnya menyentuh garis finish paling awal. Driver eks F1 itu pun mencetak sejarah sebagai pemenang balapan perdana Formula E di Beijing ePrix 2014.

Terlepas dari faktor luck, kemenangan Di Grassi kemarin juga membuktikan bahwa di balap Formula E yang paling menentukan adalah strategi dan skill pebalap. Semua tim menggunakan mobil dan mesin yang identik, yaitu Spark-Renault. Maka dari itu, kemenangan sering kali ditentukan oleh manajamen balap dan kemampuan para driver di atas trek, bukan power mesin atau kehebatan aerodinamis mobil seperti yang sering terjadi di F1.

Di Formula E, pitstop juga menentukan, bahkan menjadi salah satu kunci kemenangan. Dalam satu lomba, para pebalap diwajibkan melakukan satu kali pitstop untuk mengganti mobil. Di sini tidak ada pitstop untuk mengganti ban atau mengisi bahan bakal ala F1.

Setelah masuk ke pit, para pebalap bisa langsung melompat ke mobil pengganti yang sudah disediakan. Dua orang pit crew akan membantu memasangkan setir dan sabuk pengaman. Meski tidak perlu mengganti ban dan mengisi bahan bakar, waktu pitstop rata-rata di Formula E lebih lama sekitar 3-5 detik daripada F1.

Bagaimana dengan kiprah dua pebalap wanita, Michela Cerruti dan Katherine Legge, di Formula E Beijing ePrix kemarin? Sebenarnya, penampilan mereka cukup lumayan. Michela dan Katherine memang tidak berhasil mencetak poin dan masuk sepuluh besar, tapi itu bisa dimaklumi karena kemarin adalah seri perdana.

Pada saat sesi qualifying, Cerruti dan Legge sudah berhasil mengalahkan kecepatan para driver pria mantan F1 seperti Jarno Trulli dan Bruno Senna. Jadi, jangan kaget jika di seri-seri selanjutnya, dua racer cewek tersebut bisa masuk top ten atau, bahkan, naik podium.

Hasil Formula E Beijing ePrix 2014 (Top 10):

1 Lucas Di Grassi (Audi Sport Abt), 2 Franck Montagny (Andretti Autosport), 3 Sam Bird (Virgin Racing), 4 Charles Pic (Andretti Autosport), 5 Karun Chandok (Mahindra Racing), 6 Jerome D’Ambrosio (Dragon Racing), 7 Oriol Servia (Dragon Racing), 8 Nelson Piquet Jr (China Racing), 9 Stephan Sarrazin (Venturi), 10 Daniel Abt (Audi Sport Abt).

Daniel Abt semula finish di posisi ketiga (podium), tapi seusai lomba dia didiskualifikasi turun ke posisi 10 karena melewati batas konsumsi baterai. Pebalap Jerman tersebut menggunakan 28.2kW (daya yang dialokasikan maksimal 28kW). Katherine Legge dan Jaime Alguersuari juga terkena penalti serupa.

Seri balap Formula E selanjutnya adalah Putra Jaya ePrix pada hari Sabtu, tanggal 22 November 2014. Sampai bertemu di Malaysia!

Formula E Beijing ePrix 2014

Review Formula E Beijing ePrix 2014: Balapan yang Sunyi, tapi Dramatis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s