Review Serie A 2014-2015 Giornata 6: Juventus 3-2 Roma

Tidak salah jika Grande Partita antara Juventus dan Roma saat ini disebut sebagai el clasico versi Italia. Pada hari Minggu (5/10) yang lalu, laga antara dua tim penguasa Serie A itu berlangsung panas dan penuh kontroversi. Sebanyak 2 kartu merah, 7 kartu kuning, dan 3 penalti mewarnai duel Nyonya Tua melawan Serigala Ibu Kota pada giornata keenam.

Roma,yang selama ini selalu kalah jika bertandang ke Juventus Stadium, kembali harus menjadi pecundang. Meski demikian, mereka sempat memerawani gawang Gigi Buffon melalui tendangan penalti Francesco Totti (32’) dan gol cantik Juan Iturbe (44’).

Di pihak lain, Juve kembali menunjukkan keperkasaannya di kandang sendiri dengan menyapu bersih kemenangan musim ini. Mereka memungkasi laga dengan skor 3-2 lewat dua gol penalti Carlos Tevez pada menit ke-27 dan 48, serta tembakan voli Leonardo Bonucci pada menit ke-86.

Sejak menit awal, laga berlangsung dalam tempo tinggi. Juve berusaha menusuk pertahanan Roma yang dikawal oleh Kostas Manolas dan Mapou Yanga-Mbiwa. Demikian juga sebaliknya, tim besutan Rudi Garcia itu meladeni serangan anak-anak asuh Max Allegri dengan melakukan pressing ketat di lini tengah.

Drama seru mulai tersaji pada menit ke-26 saat wasit menghadiahi Juve dengan tendangan penalti. Bek Douglas Maicon yang berdiri sebagai pagar betis dinyatakan handsball. Para pemain Roma tidak menerima keputusan wasit tersebut. Mereka melakukan protes karena mengganggap posisi Maicon berada di luar kotak penalti. Selain itu, mantan bek Inter tersebut dianggap tidak sengaja menahan laju bola dengan menggunakan tangannya. Dia hanya berusaha melindungi wajahnya dari tendangan bebas yang dilakukan oleh Andrea Pirlo.

Carlos Tevez yang menjadi eksekutor menunaikan tugasnya dengan baik. Skor berubah menjadi 1-0 untuk keunggulan tuan rumah Juve.

Setelah gol penalti pertama itu, Rudi Garcia, yang tampaknya masih tidak legowo, memperagakan gestur menggesek biola kepada wasit. Itu adalah sindiran bahwa laga tersebut telah diatur, seperti halnya seorang konduktor yang memimpin sebuah orkestrasi musik. Tak pelak, wasit Gianluca Rocchi pun mengusir pelatih Roma tersebut dari pinggir lapangan. Dia harus menonton kekalahan tim asuhannya dari tribun.

Tidak lama setelah itu, sekitar lima menit kemudian, giliran Roma yang mendapat hadiah penalti. Francesco Totti dijatuhkan, atau lebih tepatnya di-smackdown, oleh Stephan Lichtsteiner saat hendak menerima bola dari tendangan sudut.

Para pemain Juve memprotes keputusan wasit tersebut. Totti dianggap merangkul Lichtsteiner. Mereka saling tarik-menarik sehingga akhirnya jatuh bersamaan. Sayang, siaran ulang televisi tidak bisa menangkap dengan jelas momen tindih-tindihan antara kapten Roma dan mantan pemain Lazio tersebut.

Tendangan penalti pada menit ke-32 itu dieksekusi sendiri oleh Totti. Gawang Buffon yang masih suci dalam lima laga Serie A musim ini pun akhirnya ternoda. Skor menjadi sama kuat 1-1.

Menjelang turun minum, pemain yang model rambutnya menakjubkan, Gervinho, melakukan penetrasi dari sayap kiri, lalu mengirimkan umpan terobosan kepada Juan Iturbe. Winger muda asal Argentina itu langsung menjebol gawang Buffon lewat gol cantiknya. Skor berubah 2-1 untuk keunggulan tim tamu.

Drama kembali tersaji pada masa injury time babak pertama. Paul Pogba yang menerobos sisi kanan pertahanan Roma dijatuhkan oleh Miralem Pjanic di pinggir kotak penalti. Wasit pun kembali menunjuk titik putih. Para pemain Roma kembali melakukan protes karena menggangap posisi Pogba masih berada di luar kotak terlarang.

Hadiah penalti kedua untuk Juve itu kembali dituntaskan dengan baik oleh Tevez. Wasit langsung meniup peluit berakhirnya babak pertama. Skor menjadi imbang kembali 2-2 saat turun minum.

Babak kedua berlangsung relatif adem. Tidak ada gol yang terjadi meski kedua tim melakukan jual-beli serangan. Sampai akhirnya pada menit ke-86 Juve mampu memecah kebuntuan.

Berawal dari sepak pojok, umpan lambung dari sisi kiri pertahanan Roma tidak mampu dihalau dengan baik oleh Jose Holebas dkk. Bola sundulan yang dibuang oleh pemain Giallorossi jatuh di luar kotak penalti dan langsung disambut dengan tendangan voli first-time oleh Leonardo Bonucci. Gawang Lukasz Skorupski pun jebol untuk ketiga kalinya.

Kecolongan gol menjelang laga usai membuat para penggawa Roma mulai emosional. Situasi kembali memanas pada menit ke-88 saat Alvaro Morata menekel Manolas di pinggir lapangan. Bek asal Yunani itu langsung muntab dan beradu kepala dengan striker binaan Real Madrid tersebut. Pemain yang lain pun ikut mengerubuti. Pelatih Max Allegri dengan sigap langsung memisahkan mereka berdua. Akibat keributan tersebut, wasit Rocchi akhirnya mengeluarkan kartu merah untuk Morata dan Manolas.

Sampai laga berakhir, skor 3-2 tetap tidak berubah. Roma kembali kalah, dan tampaknya memang ditakdirkan menjadi pecundang selamanya di Juventus Stadium.

Nyonya Tua, meski kali ini tidak bisa mempertahankan kesucian gawangnya, berhasil menjaga rekor sapu bersih kemenangan dalam enam laga dan tetap nyaman di puncak klasemen Serie A dengan 18 poin, unggul tiga angka dari Serigala Ibu Kota di peringkat kedua.

Seusai laga, pelatih Roma, Rudi Garcia, mengungkapkan kekecewaan. Dia menyindir, kotak penalti di Juventus Stadium panjangnya 17 meter (ukuran standar 16,5 meter). Tampaknya, dia masih belum menerima kenyataan timnya kalah karena dua tendangan penalti yang dijatuhkan oleh wasit.

Demikian halnya dengan kapten Roma, Francesco Totti. Seperti biasanya, dia frustrasi dan tidak legowo setelah kembali dipecundangi oleh Andrea Pirlo dkk. Dia menyatakan, sebaiknya Juventus membentuk liga sendiri karena selalu menang dengan menghalalkan segala cara.

Seperti halnya Jose Mourinho dan calon presiden yang kalah dalam pemilihan umum, special loser seperti Totti memang terbiasa menyalahkan pihak-pihak di luar dirinya jika sedang menderita kekalahan. Mungkin, mentalitas (maaf) pecundang itulah yang membuat pemain berbakat seperti dirinya baru mengoleksi satu gelar scudetto, kalah banyak bila dibandingkan dengan pemain (maaf) medioker seperti Simone Padoin yang telah meraih tiga gelar juara Serie A bersama Juve.

Saat mengantarkan Italia menjadi juara dunia pada tahun 2006, kontribusi Totti juga minim. Meski dianugerahi skill fantastis, pemain asli didikan Roma ini selalu berada di bawah bayang-bayang kebesaran Gigi Buffon, Fabio Cannavaro, Andrea Pirlo, dan Alessandro Del Piero yang semuanya berasal dari Juventus.

***

Statistik

Skor: Juventus 3-2 Roma.
Penguasaan bola: Juventus 44% – 56% Roma.
Shots (on target): Juventus 20 (5) – 8 (2) Roma.

Rapor

Juventus
Buffon 6; Caceres 5/Ogbonna 6 (45’), Bonucci 7, Chiellini 6.5; Lichtsteiner 5.5, Marchisio 6.5, Pirlo 5.5/Vidal 6 (79’), Pogba 6, Asamoah 5.5; Llorente 5/Morata 6.5 (59’), Tevez 7.5. Pelatih: Allegri 6.5.

Roma
Skorupski 5.5; Maicon 6, Manolas 5.5, Yanga-Mbiwa 5, Holebas 6; Pjanic 5/Paredes 6 (85’), Keita 7, Nainggolan 6; Totti 6.5/Destro 5 (75’), Gervinho 6.5, Iturbe 7/Florenzi 5.5 (66’). Pelatih: Garcia 6.

Wasit: Rocchi 4.

Man of the match: Carlos Tevez.

Review Serie A 2014-2015 Giornata 6: Juventus 3-2 Roma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s