Review Formula 1 Singapore Grand Prix 2015

Dominasi Mercedes yang begitu perkasa sejak tahun lalu, akhirnya terpatahkan di GP Singapura 2015, hari MInggu (20/09) malam kemarin. Untuk pertama kalinya sejak Formula 1 menggunakan mesin turbocharged V6 pada awal musim 2014, pole position direbut oleh pebalap yang tidak menggunakan mesin Mercy.

Selama hampir dua tahun, posisi start terdepan memang selalu dikangkangi oleh pebalap yang menggunakan mesin asal Jerman itu, baik Lewis Hamilton, Nico Rosberg, ataupun pebalap dari tim Williams. Adalah Sebastian Vettel dari tim Scuderia Ferrari, sosok yang berhasil mematahkan hegemoni Mercy tersebut. Dan, juara dunia empat kali asal Jerman itu pun memungkasinya dengan hasil sempurna, meraih podium tertinggi di Singapura dalam balapan panjang yang berlangsung hampir dua jam.

Bagi Ferrari, pole position Vettel akhir pekan kemarin adalah yang pertama sejak GP Jerman tahun 2012. Saat itu, Fernando Alonso menjadi pebalap terakhir dari tim Kuda Jingkrak yang merasakan posisi start terdepan, sebelum dipecahkan oleh Vettel kemarin. Sementara itu, kemenangan di GP Singapura 2015 adalah kemenangan ketiga yang diraih Si Merah musim ini, yang semuanya juga dipersembahkan oleh Vettel.

Start dari pole position, Vettel mengawali lomba dengan sempurna dan langsung memimpin dengan gap yang cukup jauh dari para pesaingnya. Saat memasuki lap kedua, mantan pebalap Red Bull itu bahkan sudah unggul tiga detik di depan Daniel Ricciardo yang menguntitnya di posisi kedua. Kecepatan Vettel di Singapura memang mengagumkan. Sejak babak kualifikasi, tak ada yang mampu menandingi catatan waktunya, termasuk rekan setimnya sendiri, Kimi Raikkonen. Rata-rata, Vettel unggul setengah detik per lap daripada lawan-lawannya.

Meski demikian, kemenangan Vettel di Singapura tidak diraih dengan mudah. Tercatat, sempat tiga kali safety car mereduksi keunggulannya. Yang pertama adalah ketika mobil Nico Hulkenberg menabrak Felipe Massa pada lap ke-14. Akibat insiden tersebut, Hulk dinyatakan bersalah dan dikenai penalti turun tiga posisi start pada lomba berikutnya. Setelah itu, sempat ada penonton yang masuk ke lintasan. Agar tidak terjadi korban, safety car terpaksa keluar lagi dan lomba baru berlanjut setelah pria nekat tersebut kembali ke tribun.

Tetapi, untungnya, insiden-insiden tersebut tidak sampai membuat Vettel kehilangan posisi terdepannya. Meski sempat didekati oleh Ricciardo saat safety car keluar, Vettel mampu kembali menjauh setelah lomba berjalan normal. Hingga menyentuh garis finish, tidak ada lagi yang mampu mengganggunya untuk meraih kemenangan keempat di Singapura.

Sebelum ini, saat masih bersama Red Bull, Vettel sudah pernah tiga kali menang di Marina Bay, yaitu tiga tahun beruntun sejak 2011 sampai 2013. Hal ini membuat Vettel menjadi pebalap tersukses sejak balapan malam tersebut digelar tahun 2008, mengalahkan capaian Fernando Alonso dan Lewis Hamilton yang masing-masing hanya pernah menang dua kali di sana. Maka dari itu, jika dulu almarhum Ayrton Senna digelari sebagai King of Monaco, maka Sebastian Vettel juga layak disebut sebagai King of Singapore.

Sementara itu, Ricciardo dan Raikkonen yang dengan setia menguntit di posisi kedua dan ketiga tak kuasa menghentikan keperkasaan Vettel di Singapura. Begitu juga dengan Nico Rosberg yang kali ini hanya finish di posisi keempat. Meski demikian, raihan Rosberg kemarin jauh lebih baik daripada Hamilton yang mesin mobilnya bermasalah dan akhirnya tak bisa menyelesaikan lomba.

Kegagalan Hamilton kemarin memang membuat Mercedes waspada. Dua pekan lalu, Rosberg juga mengalami masalah yang sama di Italia. Jadi, sudah dua lomba beruntun Mercedes mengalami problem pada mobil mereka. Hal ini sangat jarang terjadi sejak F1 menggunakan mesin V6 hybrid tahun 2014 yang lalu. Dengan enam seri tersisa, jika the Silver Arrows tidak segera menemukan solusinya, bisa jadi Ferrari semakin mendekat dan membahayakan peluang Hamilton untuk menjadi juara dunia.

Hamilton sendiri tidak menyangka bakal terpuruk di Singapura. Impiannya untuk menyamai rekor Ayrton Senna dengan meraih kemenangan ke-41 di F1 pun harus tertunda. Malahan, Vettel yang berhasil menyalip Senna setelah merebut victory ke-42 sepanjang karirnya. Hamilton mulai mengalami masalah saat memasuki lap ke-23. Saat itu, dia berada di posisi keempat dan tiba-tiba mesin Mercy-nya kehilangan power. Para pebalap di belakangnya pun kemudian satu-per satu menyalipnya, termasuk oleh pesaing utamanya, Nico Rosberg.

Setelah berjuang beberapa lama, akhirnya Hamilton menyerah dan kembali ke garasi pada lap ke-32. Hamilton mengeluh sudah berkali-kali menginjak pedal gas, tapi mobilnya tetap loyo tak bertenaga. Untuk mencegah agar mesinnya tidak rusak, akhirnya juara dunia dua kali itu memilih untuk tidak meneruskan lomba alias DNF (do not finish).

Mercedes sendiri belum bisa memastikan apa penyebab rontoknya mesin mereka di Singapura. Ada dugaan suhu panas di Marina Bay menjadi penyebabnya. Selain itu, sasis mobil W06 sepertinya juga tidak cocok dengan ban supersoft Pirelli. Hamilton dan Rosberg mengeluh daya cengkeram ban sangat rendah dan mudah terkikis. Para mekanik juga menyebut ban superlunak tersebut juga overheat alias mudah panas saat digeber di trek jalan raya.

Saat berlaga di Monaco yang juga sirkuit jalanan, Mercedes masih bisa berjaya karena temperatur di benua Eropa jauh lebih dingin. Selain itu, trek di Monte Carlo lebih pendek, hanya 3,337 km. bandingkan dengan Marina Bay yang panjangnya mencapai 5,065 km dan dihiasi oleh tikungan-tikungan lambat. Di Singapura, keunggulan power Mercy saat melibas tikungan-tikungan cepat dan trek lurus seakan tak berguna. Di lain pihak, Ferrari dan Red Bull yang bagus dalam hal pengereman dan lincah melahap tikungan-tikungan pendek sangat berjaya di sini.

Meski kemarin gagal finish, Hamilton masih kukuh di puncak klasemen dengan 252 poin. Posisinya relatif aman dari kejaran Rosberg yang baru mengumpulkan 211 poin. Malah, Rosberg yang kini ketar-ketir karena Vettel sudah mengintai di posisi ketiga dengan 203 poin. Dengan enam lomba tersisa, bukan tidak mungkin pebalap Ferarri tersebut bakal merangsek ke posisi kedua.

Secara umum, gelaran GP Singapura kemarin berjalan lancar. Perubahan arah angin membuat balapan tidak terganggu oleh asap yang berasal dari Sumatera. Bisa dibayangkan betapa malunya Indonesia jika lomba sampai batal gara-gara asap. Akhir pekan ini, sirkus F1 akan langsung berlanjut ke Jepang. Apakah Mercedes bisa kembali bangkit di sana? Sampai jumpa di Suzuka!

Review Formula 1 Singapore Grand Prix 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s