Review Formula 1 Chinese Grand Prix 2016

Meski berhasil menyelesaikan GP Tiongkok di posisi ke-21, di depan juara GP2 tahun 2014 Jolyon Palmer dari Renault, Rio Haryanto kembali gagal mengalahkan rekan setimnya, Pascal Wehrlein. Memulai lomba dari posisi ke-21, tepat di belakang Rio yang start dari posisi ke-20, Wehrlein memang membalap dengan baik pada hari Minggu (17/04) kemarin. Bahkan, pebalap binaan Mercedes itu mampu menduduki posisi ke-4 pada lap ke-15, sebelum akhirnya melorot setelah dia menjalani pit stop.

Di tangan Wehrlein, mobil Manor saat ini memang bukan lagi pupuk bawang seperti musim lalu. Beberapa kali dia mampu mempecundangi pebalap-pebalap tim papan tengah, hingga akhirnya finish di posisi ke-18, di depan Romain Grosjean (Haas-Ferrari), Felipe Nasr (Sauber-Ferrari), dan Jolyon Palmer (Renault), yang notabene lebih diunggulkan daripada Manor.

Di lain pihak, bagi Rio, Shanghai menjadi tempat keduanya menjalani full race F1 setelah Bahrain. Pada seri pertama di Melbourne, mobil Manor yang digebernya mengalami bocor oli dan memaksanya retired di pertengahan lomba. Ada yang menganggap, pemilihan ban kembali menjadi penyebab ketidakberhasilan Rio mengalahkan Wehrlein.

Namun, Rio menyatakan strategi bannya di GP China kemarin sudah benar. Start dengan ban soft, Rio yang merupakan tipe pebalap saloon, semacam Jenson Button, memang sangat jago dalam menghemat ban. Cah Solo itu baru menjalani pit stop pertamanya pada lap ke-18. Termasuk paling akhir bila dibandingkan pebalap-pebalap lain yang sudah terlebih dulu mengganti ban.

Pada lap ke-40, Rio melakukan pit stop terakhirnya dengan memasang ban medium (kompon terkeras, tapi paling lamban). Sementara itu, Wehrlein baru memasang ban terakhirnya dengan tipe supersoft (kompon terlunak dan tercepat) pada lap ke-44. Rio mengatakan, ban medium dipilih timnya agar jaraknya dengan Wehrlein tidak terlalu jauh dan dia bisa bertahan hingga finish 2,166 detik di depan Palmer pada lap ke-56.

Sementara itu, di papan atas, Nico Rosberg kembali berjaya. Di Shanghai International Circuit kemarin, pebalap Mercedes tersebut mencetak kemenangan ketiga beruntun di awal musim ini. Jika digabung dengan season lalu, pria asal Jerman yang sekilas mirip Leonardo DiCaprio itu sudah meraih enam victory berturut-turut, menyamai catatan Michael Schumacher yang diukir bersama Ferrari pada tahun 2004 yang lampau.

Jika terus digdaya, bukan tidak mungkin Rosberg bakal menyamai atau melebihi capaian Schumacher pada musim 2000-2001 dan legenda Ferrari lainnya, Alberto Ascari, pada musim 1952-1953 yang sama-sama mencatat 7 kemenangan beruntun. Bahkan, jika melihat superiornya Mercedes musim ini, tidak mustahil rekor Sebastian Vettel bersama Red Bull dengan 9 victory beruntunnya pada tahun 2013 juga bakal dilampaui.

Dalam balapan Chinese GP kemarin, Rosberg memang sangat dominan. Suami Vivian Sibold itu menyelesaikan lomba 37,7 detik di depan Vettel. Sementara itu, pebalap muda Red Bull Daniil Kvyat secara mengejutkan mampu naik podium di posisi ketiga setelah menyentuh garis finish 45,936 detik di belakang Rosberg. Yang sekaligus menjadi podium keduanya sejak debut di F1 pada tahun 2014. Podium pertama driver asal Rusia itu adalah GP Hungaria pada tahun yang sama.

Superiornya Rosberg sebenarnya terbantu oleh hukuman penalti turun lima posisi yang diterima oleh Lewis Hamilton akibat mengganti girboks. Ditambah lagi, saat menjalani sesi kualifikasi, mobil Hamilton mengalami masalah ERS sehingga membuat juara dunia tiga kali itu tidak bisa mencatat waktu. Akibatnya, mantan pebalap McLaren itu harus memulai balapan GP Tiongkok dari posisi start paling belakang.

Apesnya lagi, saat lomba baru dimulai, Hamilton juga mengalami insiden yang membuat sayap depan mobilnya rusak. Pebalap asal Inggris itu pun harus masuk pit pada lap pertama untuk mengganti sayap depan baru. Beruntung, mantan pacar Nicole Scherzinger itu masih mampu melanjutkan balapan dan berjuang secara maksimal hingga akhirnya finish di posisi ketujuh.

Sementara itu, Rosberg sendiri sebenarnya memulai lomba dengan tidak sempurna. Meski start dari pole position, anak juara dunia F1 Keke Rosberg itu disalip di tikungan pertama oleh Daniel Ricciardo yang start dari posisi kedua. Praktis, dalam tiga balapan perdana, meski selalu pole position dan memenangi lomba, Mercedes menjalani start dengan buruk.

Beruntung bagi Rosberg, keunggulan Ricciardo tidak berlangsung lama. Pada lap ketiga, ban kiri belakang pebalap Red Bull itu pecah setelah melindas pecahan sayap depan mobil lain. Ricciardo kemudian masuk pit untuk mengganti ban. Disusul keluarnya safety car untuk memberi kesempatan para petugas membersihkan trek yang kotor.

Serpihan yang dilindas oleh Ricciardo kemungkinan berasal dari mobil Hamilton atau Raikkonen. Di tikungan pertama, Kimi yang memulai lomba dari posisi ketiga ditabrak oleh Vettel yang start di belakangnya. Sayap depan si Iceman pun rusak dan harus masuk ke pit lebih awal. Alhasil, pebalap asal Finlandia itu kehilangan banyak waktu dan harus melanjutkan lomba dari belakang. Namun, dengan upaya habis-habisan, termasuk berjibaku dengan Hamilton dan Felipe Massa di lap-lap terakhir, juara dunia tahun 2007 itu akhirnya mampu finish di posisi kelima.

Di lain pihak, Vettel yang menabrak Kimi, yang notabene adalah rekan setimnya, di tikungan pertama, mengaku terpaksa melakukannya karena dipepet oleh Kvyat. Vettel pun menyalahkan pebalap Red Bull tersebut. Bahkan, seusai lomba, juara dunia empat kali itu sempat “menyemprot” Kvyat karena aksi berbahayanya di lap pertama.

Saat itu, Kvyat memang nekat berusaha menyalip Vettel dalam sudut yang sempit dari sisi kanan. Untuk menghindari serempetan, Vettel pun membanting setir ke kiri. Sialnya, di sebelahnya sudah ada Kimi yang baru kembali ke trek setelah melebar selepas start. Tabrakan pun terjadi. Sayap depan mobil Raikkonen prothol. Sementara itu, mobil Vettel tidak mengalami kerusakan berarti. Hanya kehilangan banyak waktu saja.

Melalui radio, Vettel menyebut manuver Kvyat itu sebagai aksi “bunuh diri”. Seusai lomba, di belakang podium, Vettel menghardik Kvyat bahwa aksi menyalipnya itu kayak torpedo dan membahayakan pebalap lain. Namun, driver Red Bull itu tetap cuek seraya mengatakan matanya cuma dua dan dia tidak bisa melihat Vettel dan Kimi sekaligus. Kvyat malah menganggap Vettel telah mengambil jalur yang salah sehingga menabrak Raikkonen.

Friksi antara Vettel dan Kvyat kemarin memang tidak sepanas Valentino Rossi dan Marc Marquez di MotoGP. Tapi, setidaknya, membuat gelaran GP China dan F1 secara keseluruhan menjadi lebih seru. Apalagi, di tengah dominasi Rosberg di awal musim ini, para penonton membutuhkan hiburan lain yang menyegarkan. Kebetulan juga, gesekan antara duo Mercedes yang muncul di tahun-tahun sebelumnya, kali ini masih belum tampak.

Hamilton lebih disibukkan untuk mengubah nasib sialnya yang kini tercecer 36 poin di belakang Rosberg. Mesin mobilnya sudah ganti sekali. Padahal, dalam semusim, maksimal hanya boleh empat kali. Selebihnya, dia bakal kena penalti. Tempatnya di posisi kedua juga terancam oleh Ricciardo dan Vettel yang masing-masing hanya tertinggal 3 poin dan 6 poin. Jika tak segera bangkit, bukan tidak mungkin pebalap binaan McLaren itu akan semakin melorot di lomba-lomba berikutnya. Dan semakin sulit baginya untuk mengejar Rosberg.

Di lain pihak, bagi Rosberg, kemenangan di GP Tiongkok kemarin adalah kemenangan ke-17 sepanjang karirnya di F1. Rosberg pun resmi menyandang rekor sebagai pebalap dengan victory terbanyak yang belum pernah juara dunia. Namun, musim ini, sepertinya puasa gelar driver Silver Arrows itu akan berakhir. Sepanjang sejarah F1, pebalap yang menang tiga kali beruntun di awal musim biasanya selalu berhasil menjadi jawara di akhir musim.

Setelah menjalani tiga seri di Australia, Timur Tengah, dan Asia Timur, sirkus F1 akan kembali ke kandangnya, yaitu di Eropa. Sirkuit jalanan Sochi bakal menjadi tuan rumah lomba pembuka di benua biru dua pekan lagi. Menarik untuk ditunggu bagaimana kiprah Rio Haryanto melakoni balapan F1 pertamanya di cuaca yang lebih dingin. Selain itu, apakah Nico Rosberg bakal melanjutkan kemenangannya menjadi tujuh kali beruntun? Sampai jumpa di Rusia!

Review Formula 1 Chinese Grand Prix 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s