Preview Formula 1 Russian Grand Prix 2016

Setelah menjalani tiga seri perdana di Australia dan Asia, akhir pekan ini sirkus Formula 1 bakal kembali ke habitat aslinya, yaitu di Eropa. Tepatnya di Sochi Autodrom. Sebuah sirkuit yang dibangun khusus mengelilingi stadion bekas tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2014 di Kota Sochi, Rusia.

Bagi Rio Haryanto, sirkuit sepanjang 5,848 km ini bukan suatu hal yang asing. Sudah dua kali cah Solo tersebut berlaga di Sochi kala berkompetisi di ajang GP2. Terakhir adalah tujuh bulan yang lalu. Bahkan, Rio nyaris menjadi pemenang di sirkuit yang mengitari Taman Olimpiade tersebut.

Kala itu, Rio memimpin lomba di lap terakhir. Namun, akhirnya putra boss buku tulis Kiky itu dinyatakan finish di posisi kedua. Dia dianggap bersalah karena menyalip pebalap di depannya dalam situasi Safety Car. Hasil tersebut sekaligus membuat Rio gagal bersaing dalam perebutan gelar juara dunia GP2 tahun 2015.

Kini, di F1, Rio berniat mengulang penampilan bagusnya di Sochi. Minimal, dia ingin mengalahkan rekan setimnya, Pascal Wehrlein, yang belum pernah membalap di Rusia. Dalam tiga balapan perdana, pebalap asal Jerman itu memang selalu finish lebih baik daripada Rio. Maka dari itu, Rio membutuhkan upaya ekstra jika ingin menyelesaikan lomba di depan driver muda binaan Mercedes tersebut.

Apalagi, faktor cuaca Rusia yang dingin sedikit banyak juga berpengaruh pada Rio yang berasal dari daerah tropis. Pada tiga balapan di awal musim, Rio tidak perlu beradaptasi terhadap iklim karena lomba dilangsungkan di Australia dan Asia. Selain itu, pebalap yang disokong oleh Pertamina tersebut juga bisa pulang ke Indonesia di sela-sela lomba.

Saat ini, kondisinya sudah berubah. Hingga awal September nanti, F1 akan terus berada di Eropa, dengan diselingi satu kali lomba di Kanada. Oleh karena itu, Rio tidak bisa sering-sering mudik ke Indonesia. Sebagai solusi, pebalap Manor ini akan lebih banyak tinggal di Spanyol yang bercuaca cukup hangat. Ditambah lagi, pelatih fisiknya, Moises Villa Blanch, juga berasal dari Barcelona.

Negeri Matador tersebut memang cukup familier bagi Rio. Tim terakhirnya di GP2, yaitu Campos Racing, juga berasal dari Spanyol. Dulu Rio juga tinggal di sana saat menjalani seri Eropa. Selain itu, jaraknya dengan markas Manor Racing di Inggris tidak terlalu jauh karena sama-sama di Benua Biru.

Sementara itu, Manor juga cukup optimistis dalam menyambut balapan di Sochi. Racing Director Dave Ryan menyatakan, trek di Sochi tidak terlalu menghabiskan ban jika dibandingkan dengan Melbourne, Sakhir, maupun Shanghai. Selama ini, ban memang menjadi masalah utama Manor. Secara power, Pascal dan Rio yang bermesin Mercedes sebenarnya mampu bersaing di trek lurus. Namun, saat mendekati akhir lomba, posisi mereka melorot. Kecepatan menurun karena ban sudah menipis.

Di lain pihak, persaingan di papan atas juga layak dicermati. Dalam tiga balapan awal musim ini, Mercedes mencetak hat-trick tiga kemenangan beruntun melalui Nico Rosberg. Sementara itu, Ferrari, yang digadang-gadang sebagai pesaing berat, justru tercecer. Jangankan meraih kemenangan, tim Kuda Jingkrak malah sempat gagal finish dua kali gara-gara mesin Kimi Raikkonen terbakar di Australia dan mobil Sebastian Vettel mogok sebelum start di Bahrain.

Oleh karena itu, weekend ini, Ferrari bertekat bangkit. Dalam balapan terakhir di Tiongkok, hasil yang dicapai La Scuderia sedikit lebih baik dengan membawa dua pebalapnya finish di posisi kedua dan kelima. Meski di lap pertama, sesaat selepas start, mobil Vettel sempat menabrak Kimi hingga pebalap Finlandia itu melorot ke belakang karena harus mengganti sayap depannya yang prothol.

Di Sochi, Ferrari sudah siap untuk pecah telur. Meraih victory perdana musim ini. Jika digabung dengan musim lalu, memang sudah agak lama tim asal Italia itu puasa kemenangan. Tepatnya sejak GP Singapura bulan September 2015. Maka dari itu, sejumlah upgrade pun mereka bawa ke Rusia untuk merealisasikan ambisi tersebut.

Beberapa perbaikan memang wajib dilakukan oleh Ferrari jika ingin meraih sukses di Sochi. Untuk melahap sirkuit yang berkarakter cepat, mobil Vettel dan Kimi membutuhkan setting-an medium-high downforce. Oleh karena itu, Direktur Teknis James Allison, yang tengah berduka karena istrinya baru saja meninggal, sudah menyiapkan upgrade sayap depan yang sesuai dengan sirkuit yang merupakan kombinasi dari jalan raya dan trek permanen tersebut.

Selain sayap depan, Ferrari juga sudah melakukan upgrade pada mesin. Tepatnya pada bagian pembakaran. Para teknisi menambah rasio kompresi di dalam silinder mesin agar aliran gas buang meningkat. Dengan modifikasi tersebut, mereka optimistis power mesin turbocharged yang digeber oleh Vettel dan Kimi bisa menyaingi mesin Mercedes. Selain itu, kinerja energy recovery system atau ERS diharapkan juga bisa lebih efisien.

Hanya saja, dengan upgrade mesin ini, ada konsekuensinya. Kimi bakal menggunakan mesin baru yang kedua. Sementara itu, bagi Vettel, ini sudah ketiga kalinya. Padahal, dalam semusim, setiap pebalap hanya dijatah maksimal lima mesin untuk menjalani 21 lomba (akhir pekan ini baru memasuki seri keempat). Jika lebih, bakal kena penalti.

Para tifosi Ferrari tentu saja was-was. Bisa jadi, di akhir musim nanti, saat sedang bersaing untuk memperebutkan gelar juara dunia dengan Mercedes, Vettel dan Kimi kena penalti gara-gara kehabisan jatah mesin. Tentu saja itu bakal sangat merugikan.

Namun, Ferrari berupaya untuk tetap tenang dan tidak panik. Jika terpaksa, mesin rusak yang dipakai di tiga balapan perdana masih bisa diperbaiki. Dan bisa dipasang lagi tanpa harus mengurangi jatah yang sudah ditetapkan. Mesin-mesin bekas itu bisa digunakan saat lomba berlangsung di sirkuit-sirkuit berkarakter lambat yang tidak membutuhkan power besar, semacam di Monaco dan Singapura.

Trik menggunakan mesin bekas ini juga bakal diterapkan oleh Lewis Hamilton. Saat sesi kualifikasi di Shanghai dua pekan lalu, juara dunia tiga kali tersebut gagal mencatat waktu dan terpaksa start dari posisi buncit setelah ERS-nya ngadat. Untungnya, para teknisi Mercedes masih mampu menyelamatkan mesin tersebut dengan memperbaiki bagian MGU-H (motor generated unit-heat) dan mengganti turbocharger yang rusak.

Alhasil, di Sochi, Hamilton akan menggunakan mesin bekas tersebut. Sementara itu, mesin baru yang dia pakai saat balapan di GP Tiongkok disimpan dulu. Meski mengandalkan power unit yang tidak fresh, pebalap asal Inggris itu tetap optimistis. Seperti halnya Ferrari, dia juga berambisi meraih kemenangan perdana musim ini. Sekaligus menghentikan pesaing utamanya, Nico Rosberg, yang sedang mengincar victory keempat beruntun.

Bagi Rosberg sendiri, Sochi seharusnya menjadi tempat yang mudah untuk ditaklukkan. Karakternya yang cepat sangat sesuai dengan mobil Mercedes. Tahun lalu, putra juara dunia F1 Keke Rosberg tersebut mampu meraih pole position. Namun, saat lomba, gasnya ngadat di lap ketujuh. Rosberg pun retired dalam kondisi memimpin balapan.

Meski sudah mencetak hat-trick dan unggul 36 poin atas Hamilton, posisi Rosberg di puncak klasemen memang belum aman. Masih ada 18 lomba tersisa. Para pesaing, seperti duo Ferrari, masih sangat mungkin mengejar. Begitu juga dengan Red Bull yang trend-nya sedang positif. Maka dari itu, Rosberg harus menabung angka semaksimal mungkin jika ingin menjadi juara dunia F1 untuk pertama kalinya pada akhir musim nanti.

Menyinggung soal Red Bull, performa tim bermesin Renault yang sempat diremehkan saat pramusim ini memang sedang menanjak. Dalam tiga balapan perdana, Daniel Ricciardo konsisten finish di posisi keempat. Sementara itu, Daniil Kvyat malah mampu naik podium di Shanghai dua pekan lalu.

Oleh karena itu, Red Bull tidak boleh dianggap enteng, baik oleh Mercedes maupun Ferrari. Mobil RB12 terbukti kompetitif di tiga sirkuit berbeda di awal musim ini. Di Sochi, performa mobil besutan superdesigner Adrian Newey itu tampaknya juga bakal hebat. Apalagi, lomba weekend ini bisa dibilang sebagai balapan kandang, karena salah satu pebalap mereka, yaitu Daniil Kvyat, berasal dari Rusia.

2016 Formula 1 Russian Grand Prix akan dimulai pada hari Jumat, 29 April 2016, dengan sesi Free Practice 1 (14.00 WIB) dan Free Practice 2 (18.00 WIB). Hari Sabtu, 30 April 2016, akan diawali sesi Free Practice 3 (16.00 WIB) dan dilanjutkan sesi Qualifying (19.00 WIB). Hari Minggu, 1 Mei 2016, adalah Raceday dengan start lomba mulai pukul 19.00 WIB. Live di GlobalTV, iNewsTV, dan FOX Sports. Selamat menonton!

Preview Formula 1 Russian Grand Prix 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s