Review Formula 1 Russian Grand Prix 2016

Sirkuit Sochi di Rusia, hari Minggu (01/05) kemarin, tepat 22 tahun peringatan tewasnya sang legenda Ayrton Senna, menjadi saksi bisu kedigdayaan Nico Rosberg. Pebalap asal Jerman itu menyapu bersih empat kemenangan dalam empat laga perdana Formula 1 musim ini.

Jika digabung dengan akhir musim lalu, pebalap andalan Mercedes tersebut sudah meraih tujuh victory beruntun. Menyamai catatan dua legenda, Michael Schumacher dan Alberto Ascari. Kini, tinggal rekor milik Sebastian Vettel (9 kemenangan berurutan) yang berpotensi dipecahkan oleh pria yang wajahnya mirip aktor Leonardo DiCaprio ini.

Melihat keperkasaannya di empat lomba awal musim ini, Rosberg memang sangat berpeluang, tidak hanya memecahkan, bahkan, menyalip rekor 9 victory tanpa putus milik Vettel. Tinggal tiga kemenangan lagi. Dan itu sangat mungkin dia lakukan. Tiga seri selanjutnya adalah GP Spanyol di Catalunya, GP Monaco di Monte Carlo, dan GP Kanada di Montreal.

Dominasi Rosberg memang begitu kentara. Seperti yang dia perlihatkan di Rusia kemarin. Memulai balapan dari pole position, suami Vivian Sibold itu dengan nyaman memimpin lomba dari start hingga bendera finish dikibarkan. Alhasil, jagoan Silver Arrows itu kini sudah mengumpulkan 100 poin di puncak klasemen. Unggul 45 angka dari Hamilton di posisi kedua. Peluangnya untuk mengikuti jejak bokapnya, Keke Rosberg, menjadi juara dunia F1 untuk pertama kalinya musim ini, terbuka lebar.

Secara statistik, pebalap yang menyapu bersih tiga kemenangan beruntun di awal musim selalu keluar sebagai juara dunia. Nah, ini Rosberg sudah menang empat kali berurutan. Bakal sangat mengejutkan jika di akhir musim nanti dia terjegal. Dalam empat seri perdana musim ini, Rosberg memang tidak mendapat gangguan berarti. Itu tidak lepas dari nasib sial yang selalu menaungi para pesaing, yaitu rekan setimnya, Lewis Hamilton, dan tim kompetitor, Ferrari, yang selalu bermasalah.

Di GP Tiongkok dua pekan lalu, mesin Hamilton rusak dan terpaksa gagal mencatat waktu saat sesi kualifikasi. Nah, di GP Rusia ini, agar tidak mengurangi jatah pemakaian mesin (maksimal lima unit dalam semusim, jika lebih bakal mendapat penalti), Hamilton menggunakan kembali mesin rusak yang berhasil diperbaiki tersebut. Sialnya, di awal sesi qualifying ketiga hari Sabtu (30/04) yang lalu, bagian MGU-H (motor generated unit-heat)-nya kembali bermasalah. Persis seperti yang dia alami di Shanghai.

Alhasil, Hamilton pun gagal mencatat waktu di Q3 dan harus puas menduduki posisi start ke-10. Ambisinya untuk menjegal laju Rosberg pun menemui jalan terjal. Di atas kertas, sangat sulit mengejar rekan setimnya yang start dari posisi terdepan tersebut. Juara dunia tiga kali itu sempat berseloroh, jika ini video game, persediaan nyawanya sudah hampir habis.

Meski demikian Hamilton tidak mau menyerah begitu saja. Di awal lomba GP Rusia, pebalap asal Inggris itu berusaha keras menyalip para pebalap di depannya. Di lap pertama, Hamilton sudah berhasil menempati posisi keempat, di belakang Rosberg, Kimi Raikkonen (Ferrari), dan Valtteri Bottas (Williams-Mercedes) yang menguasai tiga besar.

Upaya Hamilton untuk mendekati Rosberg mendapat halangan dari Kimi dan Bottas. Setelah berusaha sekian lama, mantan pacar Nicole Scherzinger itu akhirnya bisa menyalip duo Finlandia tersebut. Namun, jaraknya di posisi kedua dari Rosberg yang sedang memimpin lomba sudah terlalu panjang. Sekitar 10 detik.

Akan tetapi, bukan Hamilton namanya jika langsung pasrah. Mantan pebalap binaan McLaren itu terus mengejar Rosberg. Usahanya cukup berhasil. Jaraknya menjadi sekitar 7,7 detik saja. Sayangnya, nasib buruk kembali menimpa. Saat lagi semangat-semangatnya mendekati Rosberg, tekanan air pada sistem pendingin di mobilnya bermasalah. Gasnya tidak bisa ditekan dengan maksimal. Kecepatannya menjadi menurun. Akhirnya, Hamilton hanya mampu finish 25 detik di belakang rekan setimnya tersebut.

Nasib apes juga menimpa Sebastian Vettel. Saat kualifikasi, pebalap Ferrari itu sebenarnya mampu mencetak waktu tercepat kedua setelah Rosberg. Namun, karena mengganti girboks (akibat tabrakan dengan rekan setimnya, Kimi, di Shanghai dua pekan lalu), Vettel terkena penalti turun lima posisi start. Alhasil, juara dunia empat kali beruntun itu harus memulai lomba GP Rusia dari posisi ketujuh, tepat di depan Daniil Kvyat.

Seusai kualifikasi, para F1 mania memang langsung excited begitu mengetahui Vettel bakal start berdampingan dengan Kvyat. Hal tersebut tak terlepas dari insiden yang melibatkan keduanya di GP Tiongkok dua pekan lalu. Kala itu, seusai lomba, Vettel mendamprat Kvyat di belakang podium (keduanya memang finish di tiga besar di belakang Rosberg). Di lap pertama, si bocah Rusia dianggap melakukan manuver berbahaya, layaknya torpedo, yang memepet mobil Vettel dan membuatnya menabrak Kimi.

Usai kena damprat, Kvyat merasa tak bersalah. Dia bilang, matanya cuma dua dan tidak bisa mengawasi Vettel dan Kimi sekaligus. Menurutnya, malah Vettel yang telah menghalangi racing line-nya. Friksi pun terjadi. Dan itu ternyata berlanjut ke GP Rusia, yang notabene merupakan balapan kandang bagi pebalap muda andalan Red Bull tersebut.

Entah karena masih baper dan sakit hati setelah disemprot Vettel di Shanghai, Kvyat menabrak, atau, lebih tepatnya, menyundul dari belakang mobil jagoan Ferrari tersebut. Bukan cuma sekali. Tapi dua kali. Di lap pertama pula. Hanya beberapa saat setelah start. Vettel pun langsung muntab. Sundulan bocah Rusia itu membuatnya ejakulasi dini alias out dari lomba karena membuat mobilnya menabrak pagar pembatas.

Vettel yang start dari posisi ketujuh, sebenarnya memulai lomba dengan cukup baik. Dia selamat melewati tikungan pertama. Nah, setelah melalui tikungan kedua, insiden terjadi. Secara tiba-tiba, Kvyat menyundul dari belakang. Namun, Vettel masih bisa menguasai mobilnya dan terus melaju. Tak dinyana, beberapa meter selanjutnya, tepatnya di tikungan ketiga, pebalap Red Bull itu kembali menyeruduk. Kali ini lebih keras. Mobil Vettel sampai melintir keluar lintasan dan akhirnya menabrak dinding pembatas. Kiprahnya di Sochi pun tamat.

Sesaat setelah crash, Vettel sontak misuh-misuh. Sumpah serapah keluar dari mulutnya. Kata-kata kasar yang tersalurkan lewat radio itu langsung disensor agar tidak terdengar di siaran televisi. Tidak hanya itu. Setelah “ngojek” dan kembali ke paddock, Vettel langsung membahas insiden tersebut dengan timnya. Selanjutnya, dia langsung mendatangi Christian Horner (yang notabene mantan boss-nya di Red Bull) untuk menyampaikan protes atas aksi ugal-ugalan Daniil Kvyat.

Insiden crash-nya Vettel di lap pertama tersebut membuat Safety Car keluar. Kvyat akhirnya mendapat hukuman stop & go 10 detik. Berbeda dengan prekuel “Civil War” melawan Vettel di Shanghai, di mana dia merasa benar, seusai lomba GP Rusia, pebalap 22 tahun itu meminta maaf dan mengaku bersalah. Roda depan sebelah kirinya terkunci setelah mengerem di lap pertama, tikungan kedua. Akibatnya, dia tidak bisa menghindari Vettel yang menurutnya melaju terlalu pelan di depannya.

Untungnya, nasib sial yang dialami oleh Vettel tidak menular ke Kimi. Ferrari harus bersyukur, the Iceman, yang start dari posisi ketiga, mampu finish di belakang Rosberg dan Hamilton. Hasil tersebut sekaligus menjadi podium ke-700 sepanjang keikutsertaan tim Kuda Jingkrak di F1.

Selain menimpa Vettel, insiden di awal lomba juga dialami oleh Rio Haryanto. Di tikungan kedua, mobil Esteban Gutierrez (Haas-Ferrari) menabrak Nico Hulkenberg (Force India-Mercedes). Akibatnya, mobil Hulk melintir dan menghantam sisi kanan mobil Rio. Pebalap kebanggaan Indonesia itu tak bisa menghindar karena dalam posisi terjepit. Di sebelah kirinya ada mobil Marcus Ericsson (Renault).

Rio sebenarnya memulai balapan dengan sangat baik. Start dari posisi ke-21, cah Solo itu berhasil menyalip tiga pebalap di depannya, termasuk rekan setimnya, Pascal Wehrlein, yang start dari posisi ke-22. Hanya nasib apes saja yang membuatnya tidak bisa melanjutkan lomba di lap pertama. Sebelum di Sochi kemarin, Rio tercatat sudah pernah gagal finish saat mobilnya mogok di lap ke-18 saat memulai debut F1 di seri perdana, GP Australia, bulan Maret yang lalu.

Lomba berikutnya dua pekan lagi di Spanyol. Markas Rio selama di Eropa. Sirkuit Catalunya merupakan sirkuit F1 yang karakternya paling komplet dan biasanya digunakan untuk uji coba pramusim. Pebalap Manor tersebut tentu saja sudah sangat familiar dengan treknya. Mungkin, salah satu persiapan yang perlu dilakukan Rio selanjutnya adalah di-ciswak (semacam diruwat ala Tionghoa) untuk menghilangkan sial. Begitu juga dengan Hamilton dan Ferrari. Hehehe.. Sampai jumpa di Barcelona!

Review Formula 1 Russian Grand Prix 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s