Review Formula 1 Gran Premio de Espana 2016

Kejutan besar terjadi di GP Spanyol pada hari Minggu (15/05) kemarin. Pebalap bau kencur, Max Verstappen, yang baru dipromosikan Red Bull ke tim utama, untuk menggantikan Daniil Kvyat, berjaya di Catalunya. Mengangkangi duo Ferrari, Kimi Raikkonen dan Sebastian Vettel. Yang temehek-mehek mengejarnya dari posisi kedua dan ketiga.

Si Ababil Max, putra mantan pebalap Formula 1 Jos Verstappen, akhirnya menjadi pebalap termuda sepanjang sejarah yang mampu memenangi lomba. Dalam usia yang masih 18 tahun, 228 hari. Memecahkan rekor Vettel (21 tahun, 73 hari) yang sudah bertahan sejak GP Italia tahun 2008. Serta rekor Fernando Alonso (22 tahun, 26 hari) yang dicetak di GP Hungaria pada tahun 2003. Unbelievable.

Julukan sebagai wonderkid, yang dulu disematkan kepada Vettel, kini resmi diambil alih oleh Verstappen. Pebalap ingusan asal Belanda itu memang layak disebut sebagai anak ajaib. Secara DNA, bakat Max sangat mendukung. Bokapnya, Jos, adalah mantan pebalap F1. Nyokapnya, Sophie Kumpen, yang berasal dari Belgia, adalah mantan juara nasional go-kart. Oom-nya, Anthony Kumpen, juga seorang pebalap yang kini berlomba di NASCAR Eropa.

Sejak usia tiga tahun, bocah yang dilahirkan di Hasselt, Belgia, itu udah memutari halaman rumahnya dengan quad (semacam ATV). Lalu, pada usia empat tahun, di saat teman-teman seumurannya masih duduk di bangku TK, Max sudah mengendarai go-kart. Lomba pertamanya dia lakoni sejak usia delapan tahun.

Balapan, tampaknya, memang sudah mengalir dalam darah Max. Hal inilah yang mungkin membuatnya bisa cepat beradaptasi dengan Red Bull. Bayangkan, tidak sampai dua pekan waktunya untuk mempelajari mobil RB12 (bermesin Renault). Yang tentunya berbeda karakter dengan mobil STR11 milik Scuderia Toro Rosso yang bermesin Ferrari. Tombol-tombol di setirnya juga tidak sama. Namun, Verstappen ternyata bisa dengan pesat menguasainya.

Tak heran, dalam lomba kemarin, Max, yang start dari posisi keempat, dengan tenang memimpin di depan. Pasca insiden yang melibatkan duo Mercedes di lap pertama. Tekanan dari juara dunia tahun 2007, Kimi Raikkonen, selama 15 lap terakhir, tak mampu menggoyahkan bocah yang dua pekan lalu masih membalap untuk Scuderia Toro Rosso itu. Hasilnya, belum genap dua musim terjun di F1, Verstappen sudah berhasil meraih kemenangan perdananya.

Sebelum GP Spanyol, Max sebenarnya sudah menjadi headline ketika dipromosikan ke tim utama Red Bull. Menggantikan Daniil Kvyat yang ditendang ke tim satelit STR. Setelah aksi ugal-ugalannya yang menyundul Vettel dua kali di GP Rusia. Padahal, seusai lomba, Kvyat mampu naik podium di Sochi. Secara prestasi, sebenarnya, tidak ada alasan untuk mendepaknya.

Kontroversi pun bermunculan. The Godfather-nya Red Bull, Helmut Marko, yang menjadi dalang dari pergantian tersebut, dianggap tidak adil pada Kvyat. Para pengamat, termasuk para pebalap, menilai Max belum layak dipromosikan. Usianya baru 18 tahun. Pipisnya masih belum bisa lurus. Bahkan, dia mungkin masih perjaka. Oke, ini tidak ada hubungannya. Maaf. Hehe..

Namun, kini kenyataan berbicara lain. Max mampu membungkam para pengkritiknya. Helmut Marko dipuji karena telah mengambil keputusan tepat. Malah, sekarang juga ada yang bilang, seharusnya sejak dulu-dulu Red Bull mempromosikan Verstappen.Uuntuk menggantikan Vettel yang hengkang ke Ferrari.

Yang jelas, kini bakal sulit bagi alay dan ababil manapun untuk memecahkan rekor Max. Apalagi, sudah ada aturan baru. Super license, alias SIM untuk berlomba di F1, hanya boleh diberikan kepada pebalap yang berusia minimal 18 tahun. Dibutuhkan usaha keras, keberuntungan, dan kuasa Tuhan, untuk mematahkan rekornya.

Apapun kata orang, sekarang, Max sedang menikmati kejayaan. Setidaknya, hingga dua pekan ke depan. Saat GP Monaco dimulai. Di trek jalan raya Monte Carlo yang sempit dan sulit, ketangguhan pebalap Belanda pertama yang menang lomba di F1 itu bakal diuji. Apakah kemenangannya di Spanyol hanya sekadar keberuntungan. Atau memang karena kemampuan hebatnya.

Sementara itu, nasib sial tampaknya masih terus menghantui Lewis Hamilton. Mengawali balapan dari pole position, mantan pacar Nicole Scherzinger itu malah melintir pada tikungan ketiga lap pertama saat berusaha menyalip Nico Rosberg. Crash langsung terjadi setelah mobil Hamilton yang mengalami spin menghantam bagian belakang mobil Rosberg. Duo Mercedes itu pun “keluar bareng” dari lomba.

Hamilton, yang start dari grid terdepan, memang langsung kehilangan posisinya di tikungan pertama. Rosberg berhasil menyalipnya. Mungkin, hal inilah yang memantik emosinya. Lalu membuatnya bereaksi secara membabi-buta untuk mengejar rekan setimnya tersebut.

Di tikungan ketiga, saat berniat menyalip kembali, mobil Hamilton malah melebar keluar trek dan melindas rumput. Akibatnya, ban soft yang dia pakai kehilangan grip. Mobilnya melintir. Berputar. Lalu terseret kembali ke dalam trek. Dan langsung menabrak bagian belakang mobil Rosberg. Hamilton tampak muntab. Dia langsung membuang stirnya begitu keluar dari mobil. Malang memang tak dapat ditolak.

Insiden “Civil War” antara duo Mercedes itu membuat safety car keluar. Para petugas membutuhkan waktu yang agak lama untuk mengevakuasi bangkai mobil Hamilton dan Rosberg yang terjebak di gravel. Sekitar tiga lap kemudian, lomba baru bisa dimulai secara normal.

Sementara itu, paddock Mercedes langsung memanas pasca kejadian tersebut. Pertemuan darurat digelar di motorhome tim asal Jerman yang mewah itu. Insiden ini memang bisa mengobarkan kembali friksi antara Rosberg dan Hamilton yang musim lalu sudah mendingin.

Sekadar mengingatkan, sebelum GP Spanyol ini, Rosberg dan Hamilton terakhir kali bertabrakan di GP Belgia pada tahun 2014. Setelah crash tersebut, hubungan kedua pebalap, yang sebenarnya bersahabat sejak kecil itu, langsung memburuk. Bahkan, mereka sempat tak saling sapa. Tak mau saling berjabat tangan pula. Perang dingin terjadi. Rosberg akhirnya menjadi pihak yang kalah. Hamilton muncul sebagai juara dunia di akhir musim.

Kini, hampir dua tahun setelah kejadian di Sirkuit Spa, insiden tersebut terulang di Catalunya. Namun, saat ini, kondisinya terbalik. Rosberg berada di atas angin. Di klasemen sementara, putra mantan juara dunia F1 Keke Rosberg itu nyaman di puncak dengan 100 poin. Banyak pengamat juga menganggap dia tidak bersalah dalam crash kemarin. Malah, Hamilton yang dianggap ceroboh. Salah satunya, oleh Niki Lauda.

Sebagai sosok yang dikenal suka ceplas-ceplos, Lauda memang langsung menyalahkan Hamilton. Menurut juara dunia tiga kali sekaligus Non-executive Chairman Mercedes tersebut, Hamilton bertindak bodoh karena terlalu agresif dalam menyalip. Sementara itu, Rosberg, yang sedang mempertahankan posisinya, dianggap sudah berada di racing line yang benar.

Meski demikian, tidak semua pihak menyudutkan Hamilton. Salah satunya adalah Toto Wolff. Setelah bertemu dengan kedua pebalap, Boss Mercedes itu belum mau menghakimi terlalu dini. Timnya harus mempelajari semua data yang ada sebelum memutuskan siapa yang bersalah terkait “Civil War” di Barcelona kemarin. Baik Hamilton maupun Rosberg pasti memiliki versi masing-masing tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Berbeda dengan Mercedes, pengawas lomba alias steward di GP Spanyol langsung melakukan penyelidikan. Hasilnya, mereka memutuskan itu adalah kecelakaan biasa. Baik Hamilton maupun Rosberg dianggap tidak bersalah. Tidak ada penalti bagi kedua penggawa Silver Arrows tersebut.

Di lain pihak, Rio Haryanto akhirnya berhasil menyelesaikan lomba di Catalunya dengan finish di urutan ke-17 (urutan terakhir dari seluruh pebalap yang finish). Sebanyak lima driver gagal menyelesaikan lomba. Termasuk jagoan tuan rumah Fernando Alonso yang sudah rontok di lap ke-47. Setelah mobil McLaren-Honda-nya ngadat. Bagi Rio, hasil ini patut disyukuri. Mengingat, di lomba sebelumnya, di Rusia, pebalap kebanggaan Indonesia itu sudah out di lap pertama setelah ditabrak oleh Nico Hulkenberg.

Balapan selanjutnya bakal berlangsung di Monaco. Di sirkuit jalan raya nan sempit ini, power mesin yang besar tidak terlalu dibutuhkan. Kecepatan juga tidak terlalu berpengaruh. Yang menentukan adalah kelincahan pebalap dalam mengendalikan mobilnya. Untuk melibas tikungan-tikungan yang menantang. Apakah Red Bull bisa kembali mencuri kemenangan? Bagaimana kelanjutan friksi Hamilton dan Rosberg? Sampai jumpa dua pekan lagi di Monte Carlo!

Review Formula 1 Gran Premio de Espana 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s