Sudah Ratusan Purnama, tapi Piala Thomas Belum Kembali ke Pelukan Indonesia

Tidak seperti Rangga yang akhirnya merasakan kembali nikmatnya memagut bibir Cinta, Piala Thomas masih belum kembali ke dekapan Indonesia. Sudah ratusan purnama. Sudah 14 tahun lamanya. Dan masih akan bertambah..

Sebagai pemegang rekor juara terbanyak (13 kali), memang sudah terlalu lama Piala Thomas dilupakan Indonesia. Terakhir kali, dua sejoli tersebut bergandengan mesra pada tahun 2002 di China. Setelah itu, tim bulu tangkis putra Indonesia seperti lupa cara bercinta. Jika bisa mengungkap rasa, mungkin Piala Thomas bakal berkata, “Yang kamu lakukan ke saya itu jahat!”

Mereka berdua akhirnya memang kembali bersua di Kunshan. Seperti halnya Jogja yang menjadi pelabuhan kedua bagi Rangga dan Cinta. Sayangnya, mereka harus kembali berpisah. Piala Thomas hanya sebatas “nyaris” kembali ke pelukan Indonesia.

Harapan memang sempat membumbung tinggi. Usai kemenangan dengan skor 3-1 atas Korea di semifinal, peluang Indonesia untuk merebut kembali Piala Thomas terbuka lebar. Apalagi, negerinya Song Joong-ki itu di babak sebelumnya berhasil mengeliminasi unggulan utama, juara sembilan kali, China. Jadi, di atas kertas, seharusnya tidak ada lagi lawan kuat yang mampu menghadang.

Selama ini, sejak tahun 2002, Tiongkok memang selalu menjadi batu sandungan. Termasuk ketika mengalahkan Indonesia di partai final Piala Thomas tahun 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia. Kala itu, tim Merah Putih digunduli Lin Dan dkk dengan skor telak 3-0 di partai puncak.

Kekuatan Negeri Panda di dunia bulu tangkis memang bak raksasa yang sulit dibendung. Sejak tahun 2004, mereka selalu menjadi juara Piala Thomas. Hegemoni tim besutan Li Yong Bo itu baru tertahan dua tahun lalu saat Jepang secara mengejutkan menjadi juara. Kemudian, berlanjut tahun ini saat disingkirkan Korea di perempat final dan untuk pertama kalinya sepanjang sejarah gagal melangkah ke empat besar. Padahal, status mereka bermain di kandang sendiri.

Maka dari itu, tahun 2016 ini sebenarnya kesempatan emas bagi Indonesia untuk kembali bersatu dengan Piala Thomas. Tembok Besar yang selama ini menjadi penghalang sudah runtuh. Negeri Ginseng yang pantang menyerah sudah kalah. Dan, musuh bebuyutan Malaysia yang biasanya menjadi perintang sudah tumbang. Tinggal tersisa Denmark.

Dalam empat kali pertemuan sebelumnya di partai final, Indonesia selalu berhasil mengatasi negerinya Michael Laudrup tersebut. Dominasi pasukan Garuda memang tak terbantahkan. Berbeda dengan Denmark yang selalu menjadi pesakitan di partai puncak. Delapan kali lolos ke final, delapan kali keok dan gagal juara.

Namun, kali ini ceritanya berbeda. Pada final yang kesembilan, tim asal Skandinavia itu akhirnya mampu melepas dahaga, menjadi negara Eropa pertama yang menjuarai Piala Thomas. Setelah penantian panjang sejak era almarhum Svend Pri, Morten Frost Hansen, Poul-Erik Hoyer-Larsen, dan Peter Gade Christensen, Denmark akhirnya mencapai kejayaan di era Jan O. Joergensen. Yang oleh para fans Indonesia dijuluki si Ojan tersebut.

Iya, apa mau dikata, Piala Thomas harus kembali melanglang buana. Kali ini ke negeri dongeng Hans Christian Andersen, nun jauh di Eropa. Denmark menjadi pelabuhan selanjutnya setelah Jepang dan China.

Tentu saja tim Indonesia kecewa, beserta seluruh badminton mania yang kemarin deg-degan di depan layar kaca. Yang namanya patah hati memang menyakitkan. Namun, tak seharusnya kita terlalu larut dalam kesedihan. Sebab, sudah nampak cahaya purnama di ujung terowongan yang selama 14 tahun ini gelap gulita.

Dalam laga final pada hari Minggu (22/05) kemarin, Indonesia memang kalah. Tetapi, harus dicatat, kekalahan tersebut dialami oleh tim yang bisa dibilang sangat muda. Tiga pemain tunggal putra masih belia. Atau, ababil, lebih tepatnya. Usia Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, dan Ihsan Maulana Mustofa bahkan belum genap 20 tahun. Yang tergolong senior hanya Tommy Sugiarto. Yang harus berlaga dalam kondisi kurang fit karena masih cedera tertarik otot paha.

Jadi, tak adil rasanya jika menimpakan kekalahan ini pada pundak para pemain belia tersebut. Malah, kita harus mengapresiasi karena mereka sudah mampu membawa Indonesia melaju sampai partai puncak. Melawan tim Denmark yang jauh lebih berpengalaman dan menjadi unggulan kedua setelah tuan rumah China di Piala Thomas tahun ini.

Untuk ke depannya, harapan jelas masih ada. Kekalahan di partai final sekelas Piala Thomas tentu menjadi pelajaran berharga bagi para penggawa muda tersebut. Asalkan tetap disiplin berlatih dan rutin mengikuti turnamen selevel superseries di luar negeri, Jonatan Christie dkk akan semakin matang. Kita harapkan, tidak lama lagi, kekuatan tim tunggal putra sudah bisa menyamai ganda putra. Bahkan, bukan tidak mungkin, mereka bakal mencapai era keemasan seperti jamannya Haryanto Arbi dkk di tahun 1990-an dulu.

Kepahitan yang dialami oleh Indonesia di bulu tangkis saat ini sebenarnya mirip dengan Brasil dalam sepak bola. Sejak menjuarai Piala Dunia tiga kali di era Pele, raksasa Amerika Selatan itu langsung puasa gelar, tidak tanggung-tanggung, sampai 24 tahun! Jerman, Argentina, dan Italia silih berganti memecundangi tim Samba. Baru setelah Romario, Bebeto, serta duo tonggos Ronaldo dan Ronaldinho muncul, Seleccao berhasil berjaya kembali pada tahun 1994 dan 2002.

Maka dari itu, tak salah jika kita bermimpi Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, Ihsan Maulana Mustofa, dan Firman Abdul Kholik (tidak masuk dalam tim Piala Thomas tahun ini) mampu mengikuti jejak kuartet Brasil di atas dalam mengembalikan kejayaan negerinya. Masa depan bulu tangkis putra Indonesia saat ini memang terletak di pundak empat pemain ababil yang kerap dijuluki F4 from Cipayung (markas PBSI) tersebut.

Meski demikian, waktunya memang tidak bisa instant. Minimal, baru bisa dilihat pada tahun 2018 saat Piala Thomas edisi berikutnya dilangsungkan. Siapa tahu, kekecewaan yang kita rasakan kemarin bisa terbayar lunas saat melihat “F4 from Cipayung” berhasil mengangkat lambang supremasi bulu tangkis pria tersebut. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya bersabar dan menunggu puluhan purnama lagi hingga impian itu tercapai.

Sudah Ratusan Purnama, tapi Piala Thomas Belum Kembali ke Pelukan Indonesia

One thought on “Sudah Ratusan Purnama, tapi Piala Thomas Belum Kembali ke Pelukan Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s