Preview Formula 1 Grand Prix de Monaco 2016

Tidak bisa dipungkiri. GP Monaco adalah salah satu balapan paling legendaris di dunia. Selain Daytona 500 di NASCAR dan Indy 500 di IndyCar. Weekend ini, sirkuit jalanan Monte Carlo bakal kembali menjadi tuan rumah ajang balap paling bergengsi. Formula 1.

Berbeda dengan sirkuit-sirkuit lainnya. Monaco dikenal unik. Karena menyulap jalan raya yang sempit, untuk ukuran F1, menjadi tempat adu balap. Alhasil, sepanjang sejarahnya, terjadi banyak crash di sini. Bukan hanya para pemula. Para juara dunia pun sering menjadi korban. Menabrak dinding pembatas.

Dengan panjang hanya 3,337 kilometer, Monaco sebenarnya merupakan salah satu sirkuit terpendek di F1. Namun, karena jaraknya dengan dinding pembatas sangat dekat, bakal sangat sulit menyelesaikan 78 lap di Monte Carlo. Sekali pebalap gagal fokus, bisa fatal akibatnya. Game over.

Maka dari itu, skill balap benar-benar menjadi kunci di Monaco. Hanya pebalap dengan kemampuan hebat, semacam almarhum Ayrton Senna, yang bisa menjadi raja di Monte Carlo. Rekor kemenangan Senna hingga kini belum terpecahkan. Enam kali. Dengan lima kali di antaranya beruntun (1987, 1989-1993).

Pebalap masa kini yang paling sering menang di Monaco adalah Nico Rosberg. Tiga kali beruntun (2013-2015). Meski berkewarganegaraan Jerman, putra juara dunia F1 Keke Rosberg itu sejak kecil tinggal di Monte Carlo. Tumbuh dan besar di sana. Tak heran, balapan akhir pekan ini tak ubahnya balapan kandang bagi driver yang sekilas mirip Leonardo DiCaprio itu.

Setelah dua pekan lalu mengalami nasib sial, dihantam oleh Lewis Hamilton saat sedang memimpin balapan di lap pertama, Rosberg memang bertekat bangkit di Monaco. Hanya saja, lomba di Monte Carlo ini bisa semakin meruncingkan pertikaian antara dua pebalap Mercedes tersebut.

Dua tahun lalu, insiden yellow flag saat sesi kualifikasi GP Monaco menjadi titik awal friksi antara Rosberg dan Hamilton. Sejak saat itu, hubungan dua driver yang sebenarnya bersahabat sejak kecil tersebut tidak lagi sama. Kemesraan yang terjalin bertahun-tahun sudah berlalu. Yang tersisa hanyalah perang dingin. Dan itu berpotensi meledak akhir pekan ini.

Jika sekuel clash of the titans antara duo Silver Arrows itu tetap berlanjut di Monaco, bisa jadi bakal ada pebalap lain lagi yang diuntungkan. Seperti yang dialami oleh Max Verstappen dua pekan lalu. Mendapat durian runtuh. Setelah Rosberg dan Hamilton “keluar bareng” di lap pertama. Max akhirnya mencetak sejarah. Mencuri kemenangan perdana di F1 sebagai driver termuda sepanjang masa.

Meski demikian, kali ini Verstappen tidak mau jumawa. Targetnya tidak muluk-muluk. Cukup dengan naik podium bersama mobil Red Bull-nya. Yang penting tidak menabrak dinding pembatas.

Musim lalu, pebalap ababil putra Jos Verstappen itu sebenarnya tampil cukup impresif di Monaco. Berkali-kali bocah yang baru berusia 18 tahun itu melakukan overtaking. Padahal, menyalip bukan pekerjaan yang mudah di Monte Carlo. Nyaris mustahil. Karena sirkuitnya yang sempit. Namun, karena terlalu agresif itulah, akhirnya Max mengalami crash. Mobil Toro Rosso-nya hancur.

Pengalaman pahit di musim debutnya tersebut seharusnya menjadi pelajaran yang berharga bagi Verstappen. Tampaknya, dia bakal lebih berhati-hati akhir pekan ini. Jika bisa naik podium di Monaco, apalagi mengulang kemenangan seperti yang dia raih di Barcelona, bakal menjadi bukti. Bahwa sejarah yang dia cetak dua pekan lalu bukan sekadar keberuntungan.

Red Bull sendiri tampaknya cukup optimistis bisa mengantarkan Verstappen, dan Daniel Ricciardo, naik ke podium. Apalagi, mesin Renault yang selama ini menjadi titik lemah sudah melakukan upgrade dan menjanjikan power yang lebih besar. Ditambah mobil yang lincah dengan aerodinamika yahud rancangan superdesigner Adrian Newey, tim Krating Daeng ini memang berpeluang membuat kejutan di Monaco.

Selain faktor teknis, faktor nonteknis seperti cuaca juga sangat menentukan di Monaco. Menurut perkiraan, hari Minggu (29/05) pagi sebelum balapan bakal hujan. Meski saat lomba kabarnya bakal cerah, tetap ada peluang gerimis kembali turun. Jika sampai terjadi wet race, bakal semakin menarik. Dan semakin susah menebak siapa yang bakal menang.

Kombinasi antara Monaco dan hujan memang cukup menyeramkan. Berpotensi banyak crash terjadi. Siapa pun bisa mengalami. Tidak pandang bulu. Bisa saja para pebalap unggulan yang sedang memimpin di depan yang menjadi korban.

Oleh karena itu, balapan basah di Monaco sering menyajikan kejutan. Para kuda hitam beberapa kali tampil sebagai pemenang. Salah satu yang paling ikonis adalah Olivier Panis pada tahun 1996. Driver Ligier-Mugen-Honda tersebut saat itu menjadi yang tercepat di tengah hujan lebat.

Faktor tak terduga ini pula yang tampaknya membuat tim “semenjana” semacam McLaren-Honda berkoar bakal mampu mengalahkan Ferarri di Monaco. Team Principal Eric Boullier mengklaim, sasis mobil MP4-31 milik McLaren saat ini adalah yang terbaik ketiga setelah Mercedes dan Red Bull.

Seperti halnya Renault, faktor mesin Honda, yang sejauh ini kurang bertenaga jika dibandingkan Mercedes dan Ferrari, diperkirakan tidak akan menjadi ganjalan bagi McLaren. Sirkuit Monaco yang berkarakter sangat lambat memang tidak membutuhkan mobil yang supercepat.

Dua pebalap McLaren, yang notabene adalah juara dunia, juga cukup optimistis. Fernando Alonso dan Jenson Button siap mengalahkan duo Ferrari. Apalagi, Button sedang dalam tren positif karena selalu meraih poin dalam dua seri terakhir sebelum Monaco.

Sementara itu, bagi Ferrari, lomba di Monte Carlo bakal menjadi pembuktian setelah dipermalukan oleh Verstappen di Catalunya. Kalah dari Mercedes masih bisa diterima. Tapi, kalau sampai ditekuk lagi oleh Red Bull, atau, bahkan, oleh McLaren, maka memang ada yang salah dalam tubuh tim Kuda Jingkrak.

Di lain pihak, bagi Rio Haryanto, GP Monaco sebenarnya tidak terlalu menyeramkan. Putra bungsu boss buku tulis Kiky itu pernah naik podium, finish ketiga, ketika berlaga di ajang GP2 tahun 2014. Kali ini, target Rio tidak perlu terlalu bombastis. Yang penting bisa selamat menyelesaikan lomba.

Bagi Manor, GP Monaco juga memberi kenangan manis. Dua poin yang pernah mereka raih di F1, semuanya dihasilkan di sirkuit Monte Carlo. Lewat mendiang Jules Bianchi. Pada tahun 2014. Hingga kini, belum ada driver Manor lainnya yang bisa mengulang prestasi Bianchi tersebut. Mampukah Rio Haryanto?

Formula 1 Grand Prix de Monaco 2016 akan dimulai pada hari Kamis, 26 Mei 2016, dengan sesi Free Practice 1 (15.00 WIB) dan Free Practice 2 (19.00 WIB). Hari Jumat merupakan hari libur di Monaco. Hari Sabtu, 28 Mei 2016, akan diawali sesi Free Practice 3 (16.00 WIB) dan dilanjutkan sesi Qualifying (19.00 WIB). Hari Minggu, 29 Mei 2016, adalah Raceday dengan start lomba mulai pukul 19.00 WIB. Live di GlobalTV, iNewsTV, dan FOX Sports. Selamat menonton!

Preview Formula 1 Grand Prix de Monaco 2016

2 thoughts on “Preview Formula 1 Grand Prix de Monaco 2016

  1. Kalau melihat besarnya uang sponsor yang disetorkan, Rio hanya akan membalap selama 11 seri. Tapi, kepastiannya mungkin baru akan ditentukan oleh Manor sebelum GP Kanada dua pekan lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s