Review Formula 1 Grand Prix de Monaco 2016

Lewis Hamilton akhirnya berhasil mengakhiri puasa kemenangan dengan menapak podium tertinggi di GP Monaco 2016. Start dari posisi ketiga, pebalap Mercedes itu mampu finish 7,252 detik di depan sang pole sitter, Daniel Ricciardo. Victory tersebut sekaligus menjadi yang pertama di musim ini bagi bujangan asal Inggris tersebut.

Selama ini, sirkuit jalanan Monte Carlo memang kurang bersahabat bagi Hamilton. Sejak meraih kemenangan perdana pada tahun 2008, musim ketika dia menjadi juara dunia F1 pertama kali, pebalap binaan McLaren tersebut tidak pernah lagi menjadi yang terbaik di Monaco. Hingga hari Minggu (29/05) yang lalu.

Oleh karena itu, Hamilton menyambut dengan suka cita kemenangannya kali ini. Layaknya perjaka yang baru pertama kali bercinta. Tak lupa, mantan pacar Nicole Scherzinger itu mengucap terima kasih kepada Tuhan karena doanya dikabulkan. Balapan GP Monaco berjalan sesuai dengan yang dia harapkan.

Sayangnya, kali ini tidak ada kekasih yang menyambut usai finish terdepan. Meski demikian, Hamilton tetap bisa merayakan kemenangan dengan heboh karena ada tamu istimewa yang mengucapkan selamat secara langsung. Yaitu sobat karibnya sesama artis. Justin Bieber. Ya, mereka berdua selama ini memang bersahabat.

Kemenangan kali ini sebenarnya tidak diraih dengan mudah. Bahkan, bisa dibilang karena faktor luck dan cuaca yang mendukung. Setelah hampir selalu sial (mobil mogok, mesin rusak, tabrakan dengan Nico Rosberg, dll) dalam lima lomba sebelumnya, di Monaco ini tampaknya Hamilton sedang dinaungi oleh Dewi Fortuna.

Saat kualifikasi sesi ketiga (Q3), mesin mobilnya kembali bermasalah. Alhasil, Hamilton harus menunggu para teknisi memperbaiki kerusakan. Untungnya, dia masih sempat melakukan satu kali percobaan dan berhasil mencatat waktu tercepat ketiga. Di belakang Ricciardo dan Rosberg.

Karena ini adalah Monaco, yang treknya sangat sempit dan sulit menyalip, menempati posisi start ketiga tentu saja kurang menguntungkan. Hamilton pun berharap turun hujan saat balapan agar peluangnya untuk mengalahkan Ricciardo dan Rosberg semakin besar.

Eh, doa Hamilton ternyata dikabulkan. Hari Minggu pagi, Monaco diguyur hujan. Meski saat lomba dimulai sudah hampir reda, tinggal rintik-rintik saja, pengawas memutuskan GP Monaco kali ini adalah wet race karena trek masih sangat becek. Penuh genangan air. Semua pebalap akhirnya menggunakan ban basah.

Start pun kemudian dimulai di belakang safety car. Dan itu berlangsung hingga tujuh lap. Untuk menunggu trek yang becek mengering. Agar benar-benar aman untuk dijadikan ajang kebut-kebutan.

Namun, baru satu lap berjalan normal, lomba kembali terganggu. Mobil Renault yang ditumpangi Jolyon Palmer kehilangan kendali dang menghantam pagar pembatas. Akibatnya, hancur berantakan. Untungnya, si pebalap tidak mengalami cedera.

Tak lama kemudian, pada lap ke-12, ganti Kimi Raikkonen yang mengalami nasib sial dan harus out dari lomba. Mobilnya crash, juga menghajar dinding pembatas, saat hendak memasuki tikungan hairpin Monte Carlo yang legendaris itu. Mendung tampaknya masih menggelayuti kubu Ferrari.

Pada lap ke-16, Hamilton yang semula berada di posisi ketiga akhirnya berhasil menyalip Rosberg. Namun, hal itu tampaknya adalah team order dari Mercedes. Jadi, tidak ada lagi friksi ataupun sekuel Civil War seperti yang terjadi di Barcelona dua pekan lalu.

Sejak awal lomba, mobil Rosberg memang bermasalah. Kecepatannya tidak bisa maksimal. Seperti kehilangan power. Putra juara dunia F1 Keke Rosberg itu pun harus legawa. Mengalah pada rekan setimnya. Yang kali ini memang lebih cepat.

Pada lap ke-21, kembali terjadi insiden. Kali ini antara Daniil Kvyat (Toro Rosso) dan Kevin Magnussen (Renault). Keduanya saling serempetan hingga akhirnya barengan menabrak dinding pembatas di tikungan Rascasse. Dari tayangan ulang, terlihat Kvyat yang terlalu memaksa untuk menyalip Magnussen. Lagi-lagi bocah Rusia itu menjadi trouble-maker.

Akibat kejadian di atas, virtual safety car pun diaktifkan. Para pebalap harus menjaga jarak dan tidak boleh menyalip. Tapi, boleh melakukan pit stop. Hal ini kemudian dimanfaatkan sejumlah driver, termasuk Ricciardo dan Rosberg, untuk mengganti ban basah menjadi intermediate karena lintasan sudah mulai mengering.

Nah, saat Ricciardo, sang pimpinan lomba, masuk pit inilah, Hamilton mengambil alih posisi terdepan. Mantannya Nicole Scherzinger itu juga tidak terburu-buru mengganti ban karena ingin menabung waktu sebanyak-banyaknya terlebih dahulu.

Baru pada saat lintasan sudah mengering, Hamilton masuk pit untuk memasang ban ultrasoft. Jenis ban terlunak, sekaligus tercepat, yang khusus digunakan untuk GP Monaco. Pimpinan lomba kemudian kembali dikuasai oleh Ricciardo.

Pada lap ke-32, giliran pebalap Red Bull tersebut yang masuk pit untuk mengganti ban intermediate menjadi supersoft. Celakanya, terjadi miskomunikasi. Pit crew tim asal Austria itu ternyata masih belum siap dan harus berlari mengambil ban dari belakang garasi. Ricciardo pun harus kehilangan waktu sekitar 35 detik.

Keluar dari pit, Hamilton sudah menyambut di lintasan. Keduanya sempat dalam posisi sejajar. Namun, Ricciardo harus menahan kecepatan karena masih belum melewati garis kuning. Alhasil, pebalap yang wajahnya mirip aktor Mahabharata Shaheer Sheikh itu harus merelakan posisi terdepan diduduki oleh Hamilton.

Hingga finish, kedua pebalap itu terus berkejaran sembari menghemat ban ultrasoft dan supersoft yang cepat tergerus. Karena jika Hamilton dan Ricciardo masuk pit lagi, posisi keduanya pasti diambil alih oleh Sergio Perez dan Sebastian Vettel yang membuntuti mereka dengan ban soft. Jenis ban terlambat, sekaligus yang terawet di lomba kali ini.

Gambling Hamilton yang tidak mengganti ban ultrasoft-nya akhirnya mrmbuahkan kemenangan. Sementara itu, bagi Ricciardo, ini adalah kerugian besar. Memulai balapan dari pole position, yang pertama sepanjang karirnya, pria asal Aussie itu seharusnya bisa menang jika kru pit tidak melakukan blunder saat mengganti ban.

Saking kecewanya, Ricciardo bahkan sampai tidak menyemprotkan sampanyenya di podium. Bisa dimaklumi, dalam dua lomba beruntun, kemenangannya sirna karena kesalahan tim. Padahal, dirinya sudah membalap dengan maksimal.

Di Barcelona, dua pekan lalu, kesalahan strategi pemilihan ban yang ditentukan oleh Red Bull membuat Ricciardo dipermalukan rekan setimnya, si ababil Max Verstappen. Yang akhirnya mengukir rekor sebagai pebalap termuda yang meraih kemenangan di F1. Team Principal Red Bull pun mengakui kesalahan kru pit-nya dan secara langsung meminta maaf kepada Ricciardo.

Sementara itu, Verstappen yang datang ke Monaco sebagai hero, harus mengakhiri lomba dengan poin zero. Kesialan sudah menimpa Max saat babak kualifikasi pada hari Sabtu (28/5). Mobilnya langsung crash menghantam dinding pada sesi Q1. Alhasil, pebalap yang diduga masih perjaka itu harus start dari posisi buncit dang mengawali lomba dari pitlane.

Saat balapan, performa Verstappen sebenarnya cukup impresif. Berkali-kali dia menyalip pebalap di depannya hingga mampu menembus posisi kesembilan. Namun, malang tak dapat ditolak. Pada lap ke-35, cowok 18 tahun asal Belanda itu mengalami crash di Casino Square dan harus out dari lomba. Mengulang catatan buruk yang dia torehkan pada musim lalu.

Dengan hasil lomba kali ini, Rosberg memang masih memimpin klasemen. Namun, Hamilton sudah mulai mendekat. Jarak mereka hanya 24 poin. Dengan 15 balapan tersisa, perburuan gelar juara masih sangat terbuka. Sementara itu, Ricciardo berhasil mengangkangi duo Ferrari di posisi ketiga.

Di lain pihak, meski tertinggal empat lap dari Hamilton, setidaknya Rio Haryanto masih mampu menyelesaikan lomba di posisi ke-15. Alias posisi terakhir dari pebalap yang tersisa. Dari 22 kontestan, tujuh di antaranya mengalami crash. Di Monaco yang terkenal sulit, mampu menyentuh garis finish adalah sebuah prestasi bagi pebalap rookie semacam Rio.

Meski demikian, posisi pebalap kebanggaan Indonesia tersebut sedang terancam. Jika tidak bisa segera melunasi dana sponsor yang dijanjikan, tim Manor Racing mungkin akan menggantinya dengan Alexander Rossi.

Pebalap Amerika sekaligus runner-up GP2 musim lalu itu kemarin membuat kejutan dengan memenangi balapan legendaris, Indy 500, di Indianapolis. Yang selama ini dikenal sebagai “Monaco”-nya IndyCar. Padahal, status Rossi adalah sebagai rookie di ajang yang ditonton oleh setengah juta orang tersebut.

Dua pekan lagi, F1 juga akan menyambangi benua Amerika. Tepatnya di Kanada. Apakah Manor akan memberi Rossi kesempatan tampil? Lalu, bagaimana dengan Rosberg? Mampukah dia meraih kemenangan lagi di tengah kebangkitan Hamilton dan Ricciardo? Sampai jumpa di Sirkuit Gilles Villeneuve, Montreal!

Review Formula 1 Grand Prix de Monaco 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s