Review Formula 1 Grand Prix du Canada 2016

“Float like a butterfly, sting like a bee,” itulah yang diucapkan oleh Lewis Hamilton, menyitir ungkapan almarhum Muhammad Ali, begitu finish pertama di GP Kanada, hari Senin (13/6) dini hari WIB. Pebalap asal Inggris tersebut memang mendedikasikan kemenangannya di Sirkuit Gilles Villeneuve kemarin untuk inspiratornya, the Greatest, yang meninggal sepekan yang lalu.

Kemenangan Hamilton tersebut juga semakin meneguhkan statusnya sebagai King of Montreal di era modern. Driver binaan McLaren itu sudah lima kali berjaya di sirkuit yang terletak di pulau buatan, Ile Notre-Dame, tersebut. Terbanyak di antara para pebalap yang masih aktif. Rekornya hanya kalah dari Michael Schumacher (menang tujuh kali), yang kini tergolek tak berdaya.

Dengan kemenangan keempat puluh limanya di Formula 1 kemarin, Hamilton juga semakin mendekatkan dirinya dengan Nico Rosberg di puncak klasemen sementara. Mantan pacar Nicole Pussycat Doll itu kini hanya tertinggal sembilan poin dari rekan setimnya di Mercedes tersebut.

Dalam dua lomba terakhir, Nico, yang sebelumnya unggul 43 poin atas Lewis, memang melempem. Padahal, dalam empat seri perdana di awal musim ini, anak juara dunia F1 Keke Rosberg tersebut menyapu bersih kemenangan.

Sebaliknya, Hamilton berjaya dengan meraih dua victory beruntun di Monaco dan Kanada. Alhasil, perburuan gelar juara dunia pun kembali terbuka lebar. Dengan tujuh seri yang baru berjalan, dari total 21 lomba, semua kemungkinan masih bisa terjadi.

Meski start dari pole position, kemenangan Hamilton di Kanada kemarin, sebenarnya, tidak diraih dengan mudah. Bahkan, bisa dibilang berbau keberuntungan. Seperti halnya di Monaco (terbantu oleh blunder yang dilakukan pit crew Daniel Ricciardo), Hamilton berjaya di Montreal karena kesalahan Ferrari dalam menerapkan strategi pit stop.

Tim Kuda Jingkrak memang pantas kecewa. Sangat kecewa. Bagaimana tidak, meski start dari posisi ketiga, Sebastian Vettel, sebenarnya, mengawali lomba dengan baik. Juara dunia empat kali beruntun itu berhasil menyalip duo Mercedes dan memimpin lomba di lap pertama.

Tanda-tanda kehebatan Vettel sudah tampak sehari sebelum lomba. Menyongsong GP Kanada dengan melakukan upgrade mesin besar-besaran, pebalap Ferrari tersebut hanya tertinggal 0,2 detik dari Hamilton, sang pole sitter, saat menjalani babak kualifikasi.

Saat memimpin lomba, kecepatan Vettel juga sudah cukup mumpuni untuk menjaga jarak dari kejaran Hamilton. Namun, sayang beribu sayang. Kemenangan yang di atas kertas sudah di depan mata itu lenyap. Karena Ferrari menerapkan strategi dua kali pit stop. Sementara, Hamilton hanya melakukan sekali saja sepanjang race GP Kanada kemarin.

Sama-sama start dengan menggunakan ultrasoft, Hamilton hanya sekali mengganti ban, dengan jenis soft, saat lomba masih tersisa 46 lap. Dan, ternyata, ban lunak itu mampu bertahan hingga finish. Sementara itu, Vettel melakukan dua kali pergantian ban, supersoft dan soft.

Di sini, jelas sekali, Ferrari salah melakukan perhitungan. Tim paling legendaris di F1 itu memperkirakan ban soft, yang wajib digunakan saat lomba, tidak akan mampu bertahan hingga finish. Nyatanya, sang pesaing, Hamilton, mampu melakukannya. Tim Kuda Jingkrak pun langsung tertohok.

Vettel sendiri secara bijaksana tidak menyalahkan timnya. Padahal, driver binaan Red Bull itu sudah membalap dengan maksimal. Sebagai pebalap berpengalaman, dia berusaha memahami kesulitan timnya dalam menentukan strategi yang tepat.

Vettel justru mengambil hikmah dari GP Kanada kemarin. Bujangan asal Jerman itu optimistis dengan progress yang ditunjukkan Ferrari setelah cukup mengecewakan di awal musim ini. Dia yakin, tak lama lagi, bisa menyaingi, bahkan, mengalahkan Mercedes.

Di lain pihak, Mercy juga mulai khawatir dengan kebangkitan Ferrari. Team Principal Toto Wolff mengakui, gap keunggulan the Silver Arrows dengan the Prancing Horse dan Red Bull kini semakin mengecil. Dominasi mereka dalam dua musim terakhir cukup terancam dengan kemajuan yang ditunjukkan oleh dua tim pesaing pada tahun ini.

Sementara itu, pebalap kebanggaan Indonesia, Rio Haryanto, kembali harus mengakui keunggulan rekan setimnya, baik saat kualifikasi maupun lomba. Skor duo Manor saat ini menjadi 4-3 (qualifying) dan 7-0 (race) untuk keunggulan Pascal Wehrlein.

Meski demikian, Rio tidak perlu meratapi kekalahannya. Para pengamat F1 di luar negeri menilai bocah asal Solo itu bisa menyaingi Wehrlein, driver binaan Mercedes, yang digadang-gadang menjadi bintang di masa depan.

Bahkan, mereka menganggap Rio jauh lebih baik daripada pebalap Renault, Jolyon Palmer. Di antara para rookie musim ini, mantan juara GP2 itu memang yang paling ancur performanya. Sampai-sampai, para jurnalis menjulukinya Palmer the Disaster.

Secara kecepatan, Rio sebenarnya tidak kalah. Hanya, dia kurang agresif bila dibandingkan Wehrlein. Selama ini, putra boss buku tulis Kiky itu memang dikenal sebagai pebalap saloon, semacam Jenson Button, yang jago menghemat ban.

Setelah GP Kanada, sirkus F1 langsung balik benua ke Eropa. Kali ini, menuju tempat yang belum pernah disinggahi sebelumnya, yaitu Azerbaijan. Kabarnya, karakter sirkuitnya mirip dengan Montreal yang cepat. Apakah Ferrari bisa pecah telur dan meraih kemenangan akhir pekan ini? Sampai jumpa di Baku!

Review Formula 1 Grand Prix du Canada 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s