Preview Film: Finding Dory (2016)

Ternyata, butuh waktu hingga ratusan purnama bagi Finding Nemo (2003) untuk “menemukan” sekuelnya. Tiga belas tahun, tepatnya. Seperti halnya Rangga dan Cinta, penantian panjang itu akhirnya berujung setelah Pixar dan Disney merilis Finding Dory pada tanggal 16 Juni 2016 kemarin.

Berbeda dengan film pertamanya, Finding Dory tidak lagi membahas tentang Nemo (Hayden Rolence), ikan badut lucu yang dulu menjadi objek pencarian. Sesuai dengan judulnya, sekuel kali ini menceritakan tentang Dory (Ellen De Generes), ikan Pacific regal blue tang sahabat Marlin (Albert Brooks), bokapnya Nemo.

Kisah Finding Dory sendiri mengambil setting waktu enam bulan setelah peristiwa Finding Nemo. Diceritakan, Dory yang mengalami amnesia sedang berusaha mencari tahu jati diri yang sebenarnya. Dibalik sikap lucunya, memang tersimpan kisah tragis dalam hidup Dory.

Sewaktu kecil, Dory terpisah dari kedua orang tuanya setelah terseret arus. Dia tidak bisa menemukan jalan untuk kembali karena memiliki ingatan jangka pendek, alias pelupa. Yang bisa diingat oleh ikan berwarna biru itu hanya sekelumit kenangan masa lalunya.

Dengan modal ingatan samar-samar, Dory meyakini Marine Life Institute (MLI) merupakan rumah asalnya. MLI sendiri adalah akuarium rehabilitasi bagi hewan-hewan laut yang terletak di California. Ada 16.091 ikan di open ocean exhibit MLI dan yang dikarantina mencapai 1.108 ekor. Dengan bantuan Marlin dan Nemo, mampukah Dory bersatu kembali dengan keluarga aslinya?

Digarap oleh sutradara yang sama, yaitu Andrew Stanton, Finding Dory memang menyajikan plot cerita yang sederhana, namun inspiratif, seperti halnya Finding Nemo. Bedanya, kali ini, Stanton lebih menitikberatkan pada kisah Dory yang mengharukan. Demi mengekspos kesedihan tersebut, flashback tentang masa lalu Dory menghiasi seluruh bagian film, dari awal hingga akhir.

Dengan bujet produksi yang bombastis, mencapai USD 200 juta, Stanton juga membuat tampilan animasi visual Finding Dory menjadi lebih canggih dan lebih nyata dibandingkan Finding Nemo. Perkembangan teknologi yang sangat pesat membuat segala hal yang tiga belas tahun lalu sulit dilakukan menjadi lebih mudah dikerjakan saat ini.

Alhasil, banyak karakter baru yang muncul. Salah satunya adalah Hank (Ed O’Neill), si gurita pemarah yang mampu berganti warna. Dengan teknologi tahun 2003 saat Finding Nemo diproduksi, sosok octopus yang kehilangan salah satu tentakelnya tersebut tidak mungkin dikerjakan.

Saking sulitnya menciptakan karakter Hank, tim produksi Pixar sampai membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk membuatnya. Terlama bila dibandingkan pembuatan karakter lainnya. Mereka harus memperhatikan fluidity dan berat setiap tentakelnya supaya sosok hewan laut yang mampu mengamuflase dirinya itu benar-benar mirip dengan gurita aslinya.

Selain Hank, masih ada beberapa karakter yang tak kalah seru dan menarik. Bukan hanya spesies bawah laut saja, melainkan ada yang berwujud berang-berang, singa laut, dan paus beluga bernama Bailey (Ty Burrell) yang memiliki kemampuan unik layaknya GPS dengan sonarnya.

Seperti halnya Hank, tim produksi Pixar juga tidak main-main dalam menciptakan karakter-karakter tersebut. Mereka meneliti setiap hewan laut agar bisa membuat karakter yang bergerak sesuai aslinya, namun dengan ekspresi wajah yang kartunis. Sulit, memang. Tapi, akhirnya, Andrew Stanton dkk mampu mengerjakannya dengan baik.

Di samping tokoh-tokoh baru, Finding Dory juga memunculkan kembali karakter-karakter lama yang dulu nongol di Finding Nemo. Salah satunya adalah Gill, ikan moorish idol dengan sirip robek karena bekas luka. Di ending film terdahulu, Gill dan kawan-kawannya dari akuarium membungkus diri mereka dalam plastik dan hanyut di laut.

Selain menghasilkan karakter yang lebih riil, tim produksi Finding Dory juga berusaha memberikan gambaran nyata dari lingkungan air di MLI. Untuk itu, mereka mengamati langsung kehidupan asli bawah laut di Monterey Bay Aquarium, California. Salah satunya adalah bagian kelp forest (hutan ganggang).

Saat membuat Finding Nemo tiga belas tahun lalu, Stanton memang ingin sekali menampilkan kelp forest sebagai salah satu setting dalam film. Namun, karena keterbatasan teknologi, hal itu tidak terlaksana. Selain itu, biaya penggarapannya sangat tinggi. Bahkan, scene di hutan ganggang itu termasuk yang paling mahal

Baru di Finding Dory inilah, impian sutradara berusia 50 tahun itu terwujud. Dengan teknologi yang lebih maju, kelp forest tampak sangat riil. Dimensi, warna, detail serabut, hingga gerakannya yang mengikuti arus terlihat nyata seperti aslinya.

Kemajuan teknologi juga membuat Stanton dengan mudah menggambarkan kondisi cahaya di akuarium MLI yang dipenuhi air. Tim animator Finding Dory tidak perlu lagi memalsukan pantulan cahaya bawah laut dengan menggunakan lighting seperti di Finding Nemo dulu.

Dalam empat tahun terakhir, Pixar memang berhasil menciptakan versi terbaru RenderMan, yaitu rendering software yang sudah mereka gunakan untuk membuat film-film animasi selama 25 tahun. Finding Dory tercacat sebagai film pertama yang menerapkan program termutakhir tersebut.

Berkat jasa RenderMan, Pixar berhasil menyajikan suasana bawah laut yang nyata dan warna-warni. Proses shading, pencahayaan, dan audio menjadi lebih detail. Hasilnya pun sangat halus dan riil.

Saat Finding Dory masuk ke tahap rendering dan editing, komposer musik Thomas Newman menyatakan suara lautnya sangat nyata. Ekor ikannya bisa bergerak-gerak secara alami. Dia merasa seperti masuk ke laut betulan.

Selain RenderMan, Pixar juga bekerja sama dengan The Foundry, yang bergerak di bidang grafik komputer, untuk membuat tool baru yang bernama Katana. Fungsinya, untuk mempermudah tim animator dalam melihat preview dari final render.

Alhasil, dengan software dan tool baru tersebut, waktu pembuatan film animasi bisa dipangkas. Sebagai perbandingan, untuk menemukan cara membuat pantulan cahaya dalam fish tank di Finding Nemo, dibutuhkan tenaga 3-4 animator dengan waktu enam bulan. Saat ini, di Finding Dory, hal itu bisa dilakukan secara otomatis.

Hadirnya sejumlah nama tenar seperti Ellen DeGeneres dan Idris Elba sebagai pengisi suara juga membuat film berdurasi 1 jam 45 menit ini lebih menarik perhatian penonton. Bagi Elba, sudah tiga kali dia menjadi dubber dalam film produksi Disney selama tahun 2016 ini. Yaitu, menjadi Chief Bogo di Zootopia, Shere Khan di The Jungle Book, dan singa laut Fluke di Finding Dory ini.

Berbeda dengan Ellen DeGeneres yang tetap memerankan Dory, kali ini Alexander Gould tidak lagi mengisi suara Nemo. Penyebabnya, saat ini dia sudah berumur 22 tahun, bukan lagi bocah sembilan tahun seperti di Finding Nemo dulu. Stanton pun akhirnya memilih Hayden Rolence sebagai penggantinya di Finding Dory.

Selain itu, ada bintang cilik lainnya yang baru berusia tujuh tahun, yaitu Sloane Murray, yang mengisi suara baby Dory. Kemunculannya dalam film lumayan banyak karena ceritanya memang berpusat pada pencarian keluarga Dory. Jadi, mereka sering menampilkan flashback Dory saat masih kecil.

Semula, Disney berencana merilis Finding Dory pada 25 November tahun lalu. Namun, karena bersamaan dengan jadwal The Good Dinosaur (2015), film produksi Pixar ini pun harus dimundurkan menjadi 17 Juni 2016. Meski demikian, hasilnya tampak memuaskan. Penonton film animasi memang didominasi oleh keluarga dan anak-anak. Jadi, sangat tepat jika diputar saat libur musim panas.

Di pihak lain, nyaris semua situs review memberi rating yang positif untuk Finding Dory, yang dinilai jauh lebih apik daripada prekuelnya. Film ini juga mencatat rekor sebagai karya Pixar ke-17 yang mendapat rating A dari CinemaScore secara berturut-turut. Yang pertama adalah Toy Story pada 1995. Secara box office, film animasi 3D ini juga diharapkan mampu melebihi Finding Nemo yang kala itu mengumpulkan pemasukan hingga USD 936 juta dengan modal “hanya” USD 94 juta.

***

Finding Dory

Sutradara: Andrew Stanton
Produser: Lindsey Collins
Penulis Skenario: Andrew Stanton, Victoria Strouse
Pengarang Cerita: Andrew Stanton
Pemain: Ellen DeGeneres, Albert Brooks, Hayden Rolence, Ed O’Neill, Kaitlin Olson, Ty Burrell, Diane Keaton, Eugene Levy
Musik: Thomas Newman
Sinematografi: Jeremy Lasky
Penyunting: Axel Geddes
Produksi: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios
Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures
Budget: USD 200 juta
Durasi: 103 menit
Rilis: 16 Juni 2016 (Indonesia), 17 Juni 2016 (Amerika Serikat)

Ratings

IMDb: 8,8
Rotten Tomatoes: 7,7
Metacritic: 7,8

Preview Film: Finding Dory (2016)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s