Menjelang Partai Puncak Copa America Centenario 2016

Perhelatan Copa America Centenario 2016 sudah memasuki babak final. Pada hari Senin (27/06), pukul 07.00 WIB, Argentina akan kembali bertemu sang juara bertahan, Cile, seperti tahun lalu, setelah berhasil menghabisi tuan rumah Amerika Serikat dan tim kuda hitam Kolombia di semifinal.

Laga Argentina melawan AS di babak empat besar memang berjalan timpang. Ibarat mengadu ukuran dada Salma Hayek dengan Lucy Liu, tim Tango terlalu superior jika dibandingkan tim besutan Juergen Klinsmann tersebut. Apalagi, Lionel Messi tampil bak dewa dengan satu gol freekick dahsyat dan dua assist-nya. Walhasil, the Sam’s Army pun bertekuk lutut 0-4 di hadapan publik sendiri.

Di lain pihak, meski sempat terganggu oleh hujan badai hingga laga ditunda beberapa jam, Cile berhasil membungkam Kolombia, yang secara peringkat FIFA berada di atas mereka. Alexis Sanchez dkk sudah unggul 2-0 di babak pertama, dan skor tersebut bertahan sampai wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir.

Tak pelak, hasil di semifinal tersebut membuat partai final Copa America tahun lalu terulang. Hanya saja, kali ini, Argentina bakal menantang sang juara bertahan, Cile, di tempat netral. Di Tanah Impian. Amerika Serikat. Bukan lagi di Santiago yang menyisakan memori getir bagi tim Tango.

Di laga pertama Grup D yang lalu, Argentina sebenarnya sudah pernah melibas Cile dengan skor 2-1. Namun, di final kali ini, situasinya tentu saja bakal berbeda. Motivasi La Roja untuk melakukan revans dipastikan meningkat. Apalagi, sejak dibekuk oleh La Albiceleste, grafik penampilan Arturo Vidal dkk terus menanjak.

Meksiko dan Kolombia, yang lebih diunggulkan sebelum Copa America edisi khusus ini dimulai, mereka bantai dengan skor 7-0 dan 2-0. Praktis, rekor Cile di fase knockout menjadi sangat mengagumkan. Mencetak 9 gol tanpa kebobolan dalam dua laga.

Rekor Argentina sendiri sebenarnya tak kalah mentereng. Gonzalo Higuain dkk menembus final dengan menyapu bersih kemenangan dalam 5 laga. Mereka berhasil menceploskan 18 gol dan hanya kebobolan dua kali. Fantastis.

Bagi sang pelatih, Gerardo Martino, laga puncak tahun ini merupakan partai final Copa America ketiganya dalam tiga edisi terakhir. Sayangnya, Tata, demikian pria 53 tahun itu biasa disapa, selalu keok dalam dua final terakhirnya. Yaitu, ketika Paraguay disikat Uruguay pada tahun 2011 di Argentina, dan tahun lalu kala Carlos Tevez dkk kalah adu penalti dari tuan rumah Cile.

Di partai final ketiganya ini, tentu saja, Tata ingin segera pecah telur, agar julukan sebagai Mr. Runner-up tidak semakin melekat pada mantan pelatih Barcelona ini. Demikian juga dengan Argentina dan Lionel Messi, yang selalu menjadi pecundang dalam dua final terakhir mereka. Yaitu, keok lewat gol tunggal Mario Goetze di Piala Dunia 2014 dan dipermalukan Cile di Copa America tahun lalu.

Misi Tata dan Messi untuk pecah telur bersama Albiceleste ini bakal mendapat hadangan dari Juan Antonio Pizzi bersama Cile. Pria 58 tahun asal Argentina rela dicap tak nasionalis karena berambisi memperpanjang puasa gelar negerinya, yang sudah berlangsung sejak 1993, seperti yang dilakukan oleh Jorge “Gunawan” Sampaoli tahun lalu.

Pizzi dan Tata sendiri bukanlah sosok yang asing satu sama lain. Mereka sama-sama berasal dari Rosario, Santa Fe. Kala menjadi pemain pada 1988-1990, mereka sudah bertemu empat kali. Pizzi, yang saat itu memperkuat Central, berhasil menang tiga kali dan seri sekali atas Tata yang menjadi penggawa Newell’s Old Boys.

Oleh karena itu, laga reuni antara Tata melawan Pizzi ini bisa disebut sebagai Clasico de Rosario. Apalagi, dua klub yang dulu mereka perkuat juga dikenal sebagai musuh bebuyutan di dalam satu kota. Newell’s Old Boys adalah representasi orang-orang kaya nan borjuis. Sementara itu, Central lebih banyak didukung oleh kaum buruh dan pekerja.

Siapa yang bakal menang? Meski Cile adalah juara bertahan, Argentina jelas lebih diunggulkan. Performa tim peringkat pertama FIFA tersebut memang sangat yahud selama Copa America tahun ini. Bakal sangat memalukan jika tim Tango sampai antiklimaks di partai pamungkas yang sangat menentukan.

Bahkan, si Tangan Tuhan, Diego Maradona, sampai “ngancem” Javier Mascherano dkk agar tidak usah pulang jika sampai keok lagi dari Cile. Laga final kali ini memang sangat monumental. Selain peringatan 100 tahun Copa America, juga menjadi penanda 23 tahun kesunyian tanpa gelar bagi Argentina di pentas internasional.

Menjelang Partai Puncak Copa America Centenario 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s