Review Copa America Centenario 2016

Sial. Terkutuk. Karma buruk. Takdir. Tragedi. Entah kata-kata apalagi yang pas untuk menggambarkan kegagalan Lionel Messi bersama Argentina di final Copa America Centenario 2016.

Seperti keledai dungu yang jatuh ke lubang yang sama dua kali, Argentina kembali kalah dalam adu penalti dari Cile di final Copa America. Dua tahun beruntun. Skornya pun nyaris identik. Berakhir 0-0 dalam 120 menit, lalu keok 2-4 saat adu tos-tosan. Tahun lalu, tim Tango menyerah 1-4.

Parahnya, kali ini, Lionel Messi yang menjadi biang kerok. Tembakan keras La Pulga melenceng ke sisi kiri gawang Claudio Bravo. Padahal, saat itu, Argentina sedang di atas angin setelah eksekusi Arturo Vidal, algojo pertama Cile, mampu diblok oleh Sergio Romero.

Sontak, kegagalan Messi tersebut membuat mental para eksekutor Argentina runtuh. Lucas Biglia, yang menjadi penendang keempat, tampak gugup dan sepakannya mampu diblok oleh Bravo. Cile pun akhirnya memastikan kemenangan 4-2 setelah tembakan algojo kelima mereka menghunjam gawang Romero.

Setelah tampil superior, selalu menang dengan mencetak 18 gol dan hanya kebobolan dua kali dalam 5 laga sebelum final, Argentina memang antiklimaks di partai puncak. Bahkan, mereka tak mampu mengulang kedigdayaan saat melindas Cile dengan skor 2-1 di laga perdana Grup D.

Tanda-tanda kesialan Agentina sebenarnya sudah terlihat sejak babak pertama. Sempat di atas angin setelah Marcelo Diaz mendapat kartu merah, Marcos Rojo melakukan ketololan dengan menjegal Arturo Vidal. Padahal, posisinya masih jauh dari pertahanan. Tak pelak, wasit Heber “Gunawan” Lopes dari Brasil langsung mengusir bek kiri Manchester United tersebut.

Dengan kondisi 10 lawan 10, Cile, yang sebelumnya tertekan, seakan mendapat angin. Alexis Sanchez dkk mulai bisa menetralisir dominasi Argentina. Angel Di Maria dkk pun tampak kesulitan menembus pertahanan lawan. Apalagi, sayap kiri mereka sudah patah dengan ketiadaan Rojo.

Upaya Gerardo Martino dengan memasukkan Matias Kranevitter, Sergio Aguero, dan Erik Lamela untuk menambah daya gedor juga tidak membuahkan hasil. Argentina tetap mandul selama 120 menit. Mantan pelatih Barcelona itu akhirnya harus menerima kenyataan, tiga edisi beruntun kalah di final Copa America. Membuat julukan Mr. Runner-up semakin melekat padanya.

Sementara itu, Messi menyikapi kekalahan keempatnya di final turnamen mayor (Copa America 2007, 2015, 2016 dan Piala Dunia 2014) bersama Argentina secara mengejutkan. La Pulga memutuskan pensiun dari tim nasional. Luka di hati sang Messias sepertinya sudah tidak bisa disembuhkan.

Nasi memang sudah menjadi bubur. Di tengah kegalauannya yang amat sangat, Messi menegaskan nggak akan balikan dengan Argentina. Tagar #Mexit pun langsung menghiasi dunia maya. Plesetan dari #Brexit. Alias, British exit, yang baru saja melakukan referendum untuk keluar dari Uni Eropa.

Celakanya, aksi #Mexit ini kabarnya bakal diikuti oleh pelatih Tata Martino dan sejumlah pemain senior. Nama-nama tenar semacam Javier Mascherano, Ezequiel Lavezzi, Sergio Aguero, Gonzalo Higuain, Angel Di Maria, Lucas Biglia, dll juga ingin mengakhiri karir mereka di tim nasional.

Jika pensiun massal tersebut benar-benar terjadi, Argentina bakal kehilangan satu generasi emas yang sebenarnya belum habis masa edarnya. Tim Tango, yang saat ini menduduki ranking pertama FIFA, setidaknya, masih bisa diandalkan saat Piala Dunia 2018 dihelat di Rusia.

Namun, tanpa Messi dkk, masa depan Argentina menjadi suram. Setidaknya, untuk beberapa tahun mendatang. Para pemain muda seperti Paulo Dybala, Erik Lamela, Angel Correa, maupun Matias Kranevitter masih belum berpengalaman di level internasional. Beban mereka juga sangat berat jika langsung diberi tugas membawa La Albiceleste menjadi juara dunia.

Di lain pihak, Cile berhasil menutup Copa America Centenario 2016 dengan gemilang. Sempat diremehkan setelah dibekuk Argentina di laga perdana Grup D, Arturo Vidal dkk membuktikan bahwa mereka mampu bangkit. Di final, La Roja secara dramatis melakukan revans dan kembali mempermalukan Messi dkk. Seperti yang sudah mereka lakukan di Santiago tahun lalu.

Selain mempertahankan gelar juara, Cile juga menyapu bersih berbagai penghargaan individual. Pencetak gol terbanyak disabet Eduardo Vargas (6 gol). Pemain Terbaik diraih Alexis Sanchez. Dan, Claudio Bravo dinobatkan sebagai kiper terciamik setelah mencatat clean sheet selama fase knockout. Argentina sendiri hanya mendapatkan Fair Play Award sebagai hiburan, yang pastinya tidak akan menghibur.

Seakan mengucurkan cuka di atas luka, kekalahan Argentina kembali diterima dari tim yang diarsiteki anak bangsa sendiri, yaitu Juan Antonio Pizzi. Pelatih kelahiran Santa Fe, yang semasa menjadi pemain memilih membela tim nasional Spanyol itu, mengikuti jejak Jorge “Gunawan” Sampaoli. Mereka berdua harus rela dicap tak patriotis setelah mengantarkan Cile menjadi juara dengan mengandaskan negeri sendiri di final Copa America.

Sementara itu, sehari sebelum final, Kolombia mengakhiri petualangan mereka di Copa America Centenario 2016 dengan merebut peringkat ketiga. Gol tunggal Carlos Bacca memupus harapan tuan rumah Amerika Serikat untuk meraih gelar hiburan di hadapan publik sendiri.

Setelah ini, Copa America edisi reguler bakal diadakan di Brasil pada tahun 2019. Banyak pihak berharap, Lionel Messi membatalkan niat pensiunnya dan tampil lagi membela Argentina. Namun, jika harapan itu tidak tercapai, sepertinya, laga final kemarin menjadi momen pamungkas sang Messias berseragam putih-biru langit.

Sampai jumpa, La Pulga!

*sayup-sayup terdengar alunan suara Madonna melantunkan “Don’t Cry for Me, Argentina..”*

Review Copa America Centenario 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s