Review Formula 1 Singapore Grand Prix 2016

Rekor baru tercipta pada hari Minggu (18/9) kemarin. Nico Rosberg menjadi pebalap non-juara dunia pertama yang berhasil memenangkan GP Singapura. Sebelum Rosberg, hanya ada tiga pebalap yang pernah berjaya di Marina Bay Street Circuit, yang semuanya adalah juara dunia. Yaitu, Fernando Alonso, Sebastian Vettel, dan Lewis Hamilton.

Berkat kemenangan perdana di balapan malam tersebut, Rosberg berhasil merebut kembali puncak klasemen yang semula diduduki oleh Hamilton. Pebalap yang sekilas mirip Leonardo DiCaprio itu kini sudah mengumpulkan 273 poin. Unggul delapan angka atas Hamilton yang berada di posisi kedua.

Peluang Rosberg untuk merebut juara dunia Formula 1-nya yang pertama pun kembali terbuka. Apalagi, secara statistik, sejak dihelat pada 2008, setiap pebalap yang memimpin klasemen selepas GP Singapura selalu bablas menjadi jawara di akhir musim.

Di lain pihak, meski baru saja terdongkel dari takhtanya, Hamilton tetap optimistis. Mantan pacar Nicole Scherzinger itu pede bisa mengejar ketertinggalan delapan angka dari Rosberg dalam enam balapan yang tersisa. Semua hal memang masih mungkin terjadi hingga akhir musim nanti.

Sementara itu, gelaran GP Singapura kemarin malam sudah diwarnai insiden sesaat setelah start. Nico Rosberg yang berada di pole position memang langsung melesat di depan. Namun, Nico Hulkenberg yang memulai lomba dari barisan tengah langsung menghantam pagar pembatas hingga hancur. Mobil Hulk tidak terkendali setelah dia serempetan dengan Carlos Sainz, Jr.

Tak pelak, kecelakaan tersebut membuat safety car langsung keluar. GP Singapura pun mencatat rekor baru. Seratus persen. Yaitu, safety car tidak pernah absen sejak night race tersebut digelar pertama kali pada 2008. Itu menunjukkan selalu terjadi insiden besar setiap tahunnya di Marina Bay Street Circuit.

Nico Rosberg akhirnya berhasil menyelesaikan lomba di posisi terdepan. Diikuti oleh Daniel Ricciardo dan Lewis Hamilton. Meski demikian, gap antara putra juara dunia F1 Keke Rosberg tersebut sangat tipis dengan Ricciardo. Hanya 0,488 detik, alias tidak sampai setegah detik saat melintasi garis finish!

Keberhasilan Rosberg mengalahkan Ricciardo kemarin tidak bisa dilepaskan dari strategi ban yang diterapkan oleh Mercedes. Bahkan, mereka sempat “menipu” Red Bull saat akan melakukan pit stop keempat, yang akhirnya tidak jadi dilakukan.

Pada lap ke-48, Mercedes memerintahkan Rosberg untuk mengganti ban. Semua kru pun sudah bersiap di depan garasi. Ternyata, itu hanya jebakan agar Ricciardo ikut masuk pit. Dan, pancingan itu berhasil. Pebalap asal Aussie tersebut kemudian mengganti bannya dengan supersoft pada pit stop keempatnya.

Sementara itu, melihat Ricciardo sudah masuk pit, Rosberg terus melaju dengan ban soft-nya. Dia memutuskan untuk tidak masuk pit hingga lomba berakhir. Total, Rosberg hanya melakukan tiga kali pit stop. Lebih unggul daripada Ricciardo yang sampai empat kali ganti ban. Seandainya Rosberg ikut-ikutan empat kali pit stop, mungkin dia hanya akan finish di posisi keempat, di belakang Kimi Raikkonen.

Meski demikian, strategi tiga pit stop yang diterapkan Rosberg tersebut mengundang risiko. Ban soft-nya kalah cepat bila dibandingkan ban supersoft yang dipakai Ricciardo. Alhasil, keunggulan Rosberg yang semula 24 detik terus berkurang menjelang finish.

Pada 10 lap terakhir, gap Rosberg dengan Ricciardo menyusut menjadi 16 detik. Lalu, menjadi hanya lima detik pada empat putaran pamungkas dan cuma 1,4 detik pada dua lap menjelang finish. Semakin lama semakin ketat!

Beruntung bagi Rosberg, Ricciardo yang sudah mendekat tidak mampu menyalipnya hingga bendera kotak-kotak hitam putih dikibarkan. Driver yang wajahnya sekilas mirip Shaheer Sheikh itu hanya tertinggal setengah detik. Seandainya balapan ditambah satu lap lagi, mungkin dia yang bakal menang, bukan Rosberg.

Meski gagal memenuhi ambisinya untuk memuncaki podium dan melakukan “shoey” (selebrasi dengan minum sampanye dari sepatu balap khas Australia), Ricciardo tak terlalu kecewa. Jaraknya dengan Mercedes sudah sangat dekat. Minimal, Red Bull masih bisa menjaga posisi kedua di klasemen konstruktor dari kejaran Ferrari.

Di lain pihak, tim Kuda Jingkrak kembali tertimpa sial. Saat sesi kualifikasi Q1, roda depan mobil Sebastian Vettel bermasalah. Alhasil, pemenang GP Singapura tahun lalu itu pun harus start dari posisi paling belakang karena gagal mencatat waktu terbaiknya.

Meski sudah menggeber mobilnya habis-habisan saat lomba, harapan Vettel untuk mempertajam rekor sebagai King of Singapore pun kandas. Sebelum ini, dia sudah menang empat kali di sana. Terbanyak bila dibandingkan dengan para pebalap lainnya.

Driver asal Jerman itu akhirnya hanya mampu finish di posisi kelima, di belakang Kimi Raikkonen. Sebuah capaian yang sebenarnya cukup oke, karena dia start dari posisi paling buncit. Vettel pun layak dinobatkan sebagai Driver of the Day.

Setelah ini, sirkus F1 masih belum beranjak dari Asia Tenggara. Dua pekan lagi, para pebalap bakal berjibaku di Sepang, yang dilabeli sebagai balapan terpanas di dunia. Apakah Rosberg akan kembali berjaya? Sampai jumpa di Malaysia!

Review Formula 1 Singapore Grand Prix 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s