Preview Film: Ouija: Origin of Evil (2016)

Sejarah papan pemanggil arwah sebenarnya sudah dimulai sejak jaman Dinasti Song di Tiongkok pada tahun 1100. Meski demikian, baru pada tahun 1890 spirit board yang fungsinya mirip permainan jelangkung tersebut dipatenkan secara komersial oleh seorang pengusaha Amerika Serikat bernama Elijah Bond.

Bersama dengan Charles W. Kennard dan William H. A. Maupin, Bond kemudian membentuk Kennard Novelty Co. untuk memproduksi papan pemanggil roh halus tersebut secara massal. Namun, pada tahun 1891, tanpa alasan yang jelas, Kennard didepak. Perusahaan tersebut kemudian berganti nama menjadi The Ouija Novelty Company.

Kata “ouija” sendiri kabarnya berasal dari bahasa Mesir kuno yang berarti “good luck” atau “selamat”. Selain itu, ada yang bilang, “ouija” merupakan gabungan dari kata “oui” (bahasa Prancis) dan “ja” (bahasa Jerman) yang artinya sama-sama “iya”.

Dalam papan Ouija, terdapat huruf abjad mulai dari A sampai Z dan angka mulai dari 0 hingga 9. Selain itu, juga ada kata “Yes”, “No”, “Hello” (kadang-kadang), dan “Goodbye”. Untuk memainkannya, alias berkomunikasi dengan hantu, kita membutuhkan beberapa peralatan tambahan seperti uang koin dan gelas kecil, atau benda kecil apa saja, yang bisa digunakan sebagai penunjuk.

Pada tahun 1901, William Fuld, seorang karyawan yang bekerja di Ouija Novelty Company, kemudian mengambil alih produksi papan arwah tersebut. Di bawah Fuld inilah mainan spirit board yang semula terbuat dari karton itu berkembang pesat. Fuld merancang berbagai versi Ouija dan membuatnya menjadi lebih modern. Inventor kelahiran tahun 1870 itu akhirnya dijukuki sebagai Bapak Papan Ouija.

Sepeninggal Fuld pada tahun 1927, Ouija Company dikelola oleh anak-anaknya. Namun, pada tahun 1966, mereka menjual perusahaan tersebut ke Parker Brothers, yang juga memproduksi papan permainan lain seperti Monopoly. Pada tahun 1991, Parker Brothers diakuisisi Hasbro Inc. yang akhirnya memegang semua hak paten Ouija hingga saat ini.

Sejak diambil alih oleh Hasbro, Ouija menjadi semakin populer dan banyak digunakan dalam film-film horror. Bahkan, di Korea, film bertema papan arwah tersebut menjadi sebuah franchise terkenal dengan judul Bunshinsaba.

Meski demikian, baru pada tahun 2014 Hasbro Studios turun tangan sendiri dan memproduksi film horror pertama mereka yang berjudul Ouija. Sebelumnya, produk-produk rilisan Hasbro yang diangkat ke layar lebar lebih banyak bertema sci-fi dan superhero. Yang paling terkenal adalah Transformers, yang tahun depan bakal tayang film kelimanya. Selain itu, juga ada G.I. Joe, dan Battleship.

Meski mendapat rating sangat negatif dari sejumlah situs review dan kritikus, Ouija (2014) termasuk sangat sukses secara box office. Dengan bujet hanya USD 5 juta, film berdurasi 89 menit tersebut mampu meraup pemasukan secara global hingga USD 103 juta!

Kesuksesan secara komersial itulah yang tampaknya membuat Universal Pictures kepincut untuk merilis film keduanya. Atau, lebih tepatnya, prekuelnya, karena kisahnya ber-setting beberapa puluh tahun sebelum kisah di film pertama. Judulnya, Ouija: Origin of Evil.

Dibesut oleh sutradara Mike Flanagan, prekuel Ouija ini mengisahkan tentang seorang janda bernama Alicia Zander (Elizabeth Reaser) yang tinggal bersama dua putrinya, Lina (Annalise Basso) dan Doris (Lulu Wilson), di Los Angeles, pada tahun 1967. Untuk menghidupi keluarganya setelah sang suami meninggal, Alice berprofesi sebagai peramal palsu.

Dengan dibantu oleh dua anaknya yang masih kecil, yang berperan sebagai hantu palsu, si janda tersebut kerap menyusun skenario agar para tamu percaya bahwa mereka benar-benar bisa memanggil arwah. Pada awalnya, semua berjalan lancar. Alice berhasil menipu para kliennya dan meraup banyak uang.

Keadaan mulai berubah mencekam saat Alice secara tak sengaja menemukan “senjata” baru untuk mengembangkan bisnisnya, yaitu papan Ouija yang dijual di supermarket. Si janda kembang itu pun tertarik membelinya. Dengan spirit board tersebut, dia berharap bisa lebih meyakinkan para kliennya untuk memanggil arwah.

Namun, setelah dia menggunakan papan mainan tersebut, lambat laun kejadian aneh mulai bermunculan. Doris, anak Alice yang masih kecil, yang selama ini berperan sebagai perantara gadungan dalam pemanggilan roh halus, mulai menunjukkan perubahan sikap.

Dari yang semula manis dan pendiam, Doris mulai meracau. Bahkan, dia bisa menulis di atas kertas dengan bahasa Polandia. Selain itu, gadis imut tersebut juga mampu berkomunikasi dengan arwah bokapnya yang sudah meninggal.

Doris pun mulai meneror ibu dan kakaknya setiap malam, mulai dari bisikan-bisikan, mimpi buruk, hingga serangan fisik secara langsung. Di sekolahnya, roh jahat yang bersemayam di dalam tubuhnya juga mengganggu teman-teman Doris.

Melihat keadaan semakin runyam, Lina, sang kakak yang sudah ababil, kemudian meminta bantuan Pastor Tom (Henry Thomas) untuk melakukan eksorsisme, alias pengusiran roh jahat. Mampukah mereka menyelamatkan Doris? Bagaimana selanjutnya nasib si MILF Alice?

Setelah diputar di Amerika Serikat sejak 21 Oktober 2016 untuk menyambut Halloween, film berdurasi 99 menit tersebut mendapat rating cukup apik dari berbagai situs. Prekuel kali ini dianggap jauh lebih baik bila dibandingkan film sebelumnya yang tayang pada 2014. Bahkan, Ouija: Origin of Evil ini menjadi film produksi Hasbro pertama yang mendapat review positif dari para kritikus.

Meski tidak banyak mengumbar kemunculan hantu yang menyeramkan, Mike Flanagan dinilai mampu membuat penonton kaget dengan kejutan-kejutan kecilnya. Sutradara film horror Oculus (2013) dan Before I Wake (2016) itu piawai memanfaatkan ilustrasi musik pada momen yang tepat untuk memberikan efek kejut.

Flanagan juga menggarap setting tahun 1960-an dengan sangat detail. Kostum, model rambut, hingga interior rumah dengan nuansa gelap yang dia sajikan terlihat sangat vintage dan mencekam. Bahkan, jika menonton trailer-nya, ada titik hitam di bagian kiri atas layar, seolah-olah masih menggunakan pita roll film dan proyektor. Selain itu, Universal Pictures, selaku distributor, juga ikut-ikutan menampilkan logo versi jadul.

Apresiasi juga banyak diberikan oleh para kritikus kepada Lulu Wilson. Di usianya yang masih sangat belia, dia mampu berakting dengan cemerlang. Karakter Doris, gadis lucu dan imut yang dia perankan, bisa berubah seketika menjadi sosok yang mengerikan saat kerasukan roh.

Bagi yang sudah menonton film pertamanya dua tahun lalu, sebaiknya tidak buru-buru keluar dari bioskop setelah menikmati prekuelnya ini. Ada post-credits scene yang menampilkan korelasi antara film yang kedua dengan pendahulunya, terutama hubungan antara karakter Lina dengan tokoh utama di Ouija (2014) yang ber-setting masa kini.

***

Ouija: Origin of Evil

Sutradara: Mike Flanagan
Produser: Michael Bay, Bradley Fuller, Andrew Form, Jason Blum, Brian Goldner, Stephen Davis, Trevor Macy
Penulis Skenario: Mike Flanagan, Jeff Howard
Pemain: Elizabeth Reaser, Annalise Basso, Lulu Wilson, Henry Thomas, Parker Mack, Doug Jones
Musik: The Newton Brothers
Sinematografi: Michael Fimognari
Penyunting: Mike Flanagan
Produksi: Allspark Pictures, Blumhouse Productions, Hasbro Studios, Platinum Dunes, Intrepid Pictures
Distributor: Universal Pictures
Durasi: 99 menit
Budget: USD 9 juta
Rilis: 21 Oktober 2016 (Amerika Serikat), 2 November 2016 (Indonesia)

Ratings

IMDb: 6,7
Rotten Tomatoes: 82%
Metacritic: 65
CinemaScore: C

Preview Film: Ouija: Origin of Evil (2016)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s