Preview Film: The Girl on the Train (2016)

Paula Hawkins pada awalnya adalah seorang jurnalis yang lahir di Afrika, tepatnya di Salisbury, Rhodesia (kini Harare, Zimbabwe), 44 tahun yang lampau. Pada tahun 1989, putri seorang professor ekonomi dan finansial itu kemudian pindah ke London, Inggris, dan bekerja di koran The Times.

Di sela-sela kesibukannya sebagai wartawan bisnis, Hawkins juga menulis sebuah buku tentang panduan finansial bagi para wanita yang berjudul The Money Goddess (2006). Adapun, karirnya sebagai penulis fiksi baru dimulai sekitar tahun 2009. Dengan menggunakan nama pena Amy Silver, ia menelurkan empat buah novel komedi romantis, salah satunya adalah Confessions of a Reluctant Recessionista (2009).

Karir Hawkins sebagai penulis ternyata tidak berjalan semulus paha Emily Blunt. Novel-novelnya gagal laku di pasaran. Perempuan lulusan Keble College, Oxford itu pun mengalami masalah finansial. Dia terpaksa meminjam uang dari bokapnya.

Meski demikian, Hawkins tidak menyerah. Dia kembali menulis novel. Kali ini, kisahnya lebih serius dan kelam. Berjudul The Girl on the Train. Terbit tahun 2015 yang lalu. Dan, ndilalah, laku keras secara komersial. Terjual hingga 15 juta kopi dan nangkring di posisi pertama The New York Times Fiction Best Sellers of 2015 selama 13 pekan beruntun, mulai 1 Februari hingga April 2015.

Para produser di Hollywood langsung tertarik untuk mengangkat kisah The Girl on the Train ke layar lebar. DreamWorks Pictures dan Marc Platt Productions kemudian berhasil membeli hak untuk memfilmkannya. Tate Taylor, yang pernah menghasilkan The Help (2011), ditunjuk sebagai sutradara dan Emily Blunt menjadi bintang utamanya.

Ceritanya tentang seorang janda kembang alkoholik bernama Rachel Watson (Rachel Watson). Setiap pagi, dia berangkat kerja naik kereta dengan rute yang sama, melewati pinggiran Kota New York. Rachel pun menjadi hafal dan akrab dengan pemandangan dan suasana yang ia lalui setiap hari, termasuk dengan rumah yang pernah dia huni bersama mantan suaminya, Tom (Justin Theroux).

Rachel juga merasa dekat dengan Megan (Haley Bennett) dan Scott Hipwell (Luke Evans), pasangan suami-istri yang sebenarnya tidak ia kenal dan hanya dia lihat dari balik jendela kereta setiap hari. Meski belum pernah bertemu secara langsung sebelumnya, dia merasa sudah mengenal mereka sejak lama.

Suatu saat, Megan tiba-tiba menghilang. Rachel, yang sebenarnya tidak punya kepentingan apa-apa, tergerak untuk membantu mencarinya. Melalui kereta yang ia naiki setiap hari, Rachel sedikit demi sedikit mulai menemukan petunjuk untuk menguak misteri tersebut. Namun, sialnya, justru dia yang kemudian dituduh terlibat dalam kasus hilangnya Megan.

Jika dilihat dari plotnya, The Girl on the Train ini memang mirip dengan Gone Girl yang dikarang oleh Gillian Flynn. Tak heran, keduanya sering dibanding-bandingkan. The Girl on the Train pun dianggap mengekor Gone Girl, yang sudah sukses difilmkan pada tahun 2014 dengan bintang Ben Affleck dan Rosamund Pike yang seksi abis itu.

Meski temanya sama-sama psychological thriller, menurut Paula Hawkins, sang pengarang, karakter Rachel Watson sangat berbeda dengan Amy Dunne, seorang psikopat yang cerdas dan manipulatif dalam novel Gone Girl. Di The Girl on the Train, Rachel hanyalah cewek biasa dan pecandu alkohol.

Di versi novel, karakter Rachel Watson bahkan digambarkan sebagai janda gendut dengan penampilan yang tidak menarik. Bertolak belakang dengan sosoknya di versi film, yang meski ditampilkan kucel, masih tetap kelihatan cantik.

Paula Hawkins sendiri mengaku tidak menyangka karakter Rachel Watson diperankan aktris secaem Emily Blunt. Menurutnya, bintang Sicario (2015) itu terlalu sempurna sebagai Rachel, seorang pemabuk yang depresi dengan kehidupannya.

Selain sosok Rachel, hal lain yang berbeda dengan versi novel adalah setting-nya. Di film, kisah The Girl on the Train terjadi di Westchester, New York, bukan di London seperti yang diceritakan di bukunya. Proses syuting yang berlangsung dari 4 November 2015 hingga 30 Januari 2016 pun dilakukan di Kota Big Apple tersebut.

Meski tidak sesuai dengan gambaran di novelnya, penampilan Emily Blunt sebagai Rachel Watson ternyata mendapat banyak pujian. Lawan main Tom Cruise di Edge of Tomorrow (2014) itu dianggap sangat total dalam memerankan seorang janda tukang mabuk.

Atas akting briliannya tersebut, Emily Blunt diganjar masuk nominasi Aktris Terbaik di ajang 23rd Screen Actors Guild Awards yang baru diumumkan pekan lalu. Satu-satunya kekurangan wanita berukuran dada 32B itu adalah tetap kelihatan aduhai, meski sudah di-makeup sekusut mungkin, dengan eyeliner yang belepotan. Natural beauty-nya memang susah dihilangkan.

Emily Blunt sendiri menganggap perannya di The Girl on the Train ini sangat menantang. Dia memang jarang mendapatkan peran seorang pemabuk seperti Rachel Watson yang memiliki banyak kekurangan. Biasanya, para aktris lebih suka memerankan sosok yang sempurna dan ideal. Oleh karena itu, sejak ditunjuk memerankan Rachel, MILF berusia 33 tahun itu mengaku benar-benar mempersiapkan fisik dan mentalnya.

Selain Emily Blunt, Kate Mara sebenarnya sempat dibidik sebagai salah satu pemeran dalam The Girl on the Train. Namun, adik Rooney Mara tersebut akhirnya mundur. Mungkin, karena dia lebih memilih tampil dalam film sci-fi thriller, Morgan, yang sudah tayang pada bulan September 2016 yang lalu. Sebagai gantinya, pihak produser kemudian menggaet Rebecca Ferguson dan Haley Bennett.

Di lain pihak, sebagai lawan main Emily Blunt, semula yang disiapkan adalah Jared “The Joker” Leto dan Chris “Captain America” Evans. Namun, kedua aktor papan atas tersebut akhirnya juga batal tampil karena jadwal mereka bentrok. Luke Evans dan Justin Theroux yang kemudian direkrut sebagai pengganti.

Sayangnya, meski secara box office cukup lumayan, meraup pemasukan USD 172 juta sejak dirilis pada 7 Oktober 2016 di Amerika Serikat, film berbujet USD 45 juta ini mendapat rating kurang positif dari sejumlah situs review dan kritikus. Akting luar biasa Emily Blunt tidak mampu mengangkat plot cerita yang terlalu melodramatis dengan skenario yang datar-datar saja. The Girl on the Train versi film ini dianggap lebih buruk daripada versi novelnya.

***

The Girl on the Train

Sutradara: Tate Taylor
Produser: Marc Platt
Penulis Skenario: Erin Cressida Wilson
Berdasarkan: The Girl on the Train by Paula Hawkins
Pemain: Emily Blunt, Haley Bennett, Rebecca Ferguson, Justin Theroux, Luke Evans, Allison Janney, Édgar Ramírez, Lisa Kudrow
Musik: Danny Elfman
Sinematografi: Charlotte Bruus Christensen
Penyunting: Michael McCusker, Andrew Buckland
Produksi: DreamWorks Pictures, Reliance Entertainment, Marc Platt Productions
Distributor: Universal Pictures
Durasi: 112 menit
Budget: USD 45 juta
Rilis: 20 September 2016 (Odeon Leicester Square), 7 Oktober 2016 (Amerika Serikat), 30 Desember 2016 (Indonesia)

Ratings
IMDb: 6,7/10
Rotten Tomatoes: 43%
Metacritic: 48/100
CinemaScore: B-

Advertisements
Preview Film: The Girl on the Train (2016)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s