Preview Film: Kong: Skull Island (2017)

Kong is back! Ya, monyet gigantis yang mudah baper saat melihat cewek cantik itu kembali menghiasi layar lebar. Film terbarunya, Kong: Skull Island, bakal tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai hari Rabu (8/3) ini.

Kong: Skull Island tercatat sebagai franchise King Kong yang kedelapan. Film yang pertama diproduksi sudah sangat lama, hampir seabad silam. Kala itu, film klasik besutan Merian C. Cooper dan Ernest B. Schoedsack yang dirilis pada tahun 1933 tersebut mendapat respon sangat positif. Situs Rotten Tomatoes, bahkan, menobatkannya sebagai film horror terhebat dan menempati urutan ke-20 film terbaik sepanjang masa.

Kesuksesan film pertama King Kong tersebut membuat RKO Radio Pictures memproduksi sekuelnya yang berjudul Son of Kong (1933). Kisah tentang gorilla raksasa itupun segera mendunia. Tidak hanya dikenal di Amerika, tapi berkembang menjadi fenomena global.

Tiga puluh tahun kemudian, studio film asal Jepang, Toho, yang menjadi pemilik franchise Godzilla, bekerja sama dengan RKO untuk merilis film crossover antara Kong dengan monster kadal tersebut. Judulnya, King Kong vs. Godzilla (1962). Yang kemudian diikuti oleh film berikutnya, King Kong Escapes (1967).

Pada tahun 1976, produser film asal Italia, Dino De Laurentiis, yang juga paman dari boss klub sepak bola Napoli, Aurelio De Laurentiis, me-remake King Kong dengan versinya sendiri. Plot ceritanya mirip dengan versi original. Namun, setting-nya bukan lagi di tahun 1930-an, tapi di masa modern (1970-an). Para karakternya juga berbeda. Tidak ada lagi Ann Darrow, Jack Driscoll, ataupun Carl Denham.

Sepuluh tahun kemudian, De Laurentiis kembali merilis sekuel dari King Kong versinya sendiri dengan judul King Kong Lives (1986). Akan tetapi, sambutan dari para kritikus dan para penonton sangat negatif. Bisa dibilang, ini adalah film King Kong terjelek yang pernah dibuat.

Dua dekade berlalu, Peter Jackson, yang disokong oleh Universal Pictures, mencoba membangkitkan kembali sang Raja Kera. Dengan mengandalkan Naomi Watts sebagai bintang utama, sutradara franchise The Lord of the Rings itu me-remake King Kong. Kali ini, plot ceritanya benar-benar sama dengan versi original. Setting-nya di tahun 1930-an dan para karakternya pun sama persis.

Meski akhirnya kurang sesuai harapan secara komersial, “hanya” meraup pemasukan USD 550 juta, padahal bujetnya raksasa (USD 207 juta), King Kong (2005)-nya Peter Jackson mendapat respon sangat positif dari para kritikus. Pada 2008, Empire Magazine memasukkan film yang durasinya sangat panjang ini (lebih dari tiga jam) dalam daftar 500 Greatest Movies of All Time.

Menyadari bahwa film tentang monster raksasa masih diminati, pada bulan Juli 2014, di ajang San Diego Comic-Con, Legendary Pictures, yang sebelumnya sukses me-reboot Godzilla (2014), mengumumkan bakal memproduksi film tentang asal-usul King Kong dengan judul Skull Island. Awalnya, mereka menggandeng Universal Pictures sebagai distributor. Namun, hak pendistribusian kemudian dialihkan ke Warner Bros. Pictures.

Pengalihan tersebut didasari oleh rencana besar Legendary Pictures untuk menciptakan MonsterVerse, alias Monster Universe, yang bakal mempertemukan King Kong dan Godzilla, seperti yang pernah dilakukan Toho pada tahun 1962. Sebelumnya, Legendary memang sudah terikat kontrak dengan Warner Bros. untuk memproduksi tiga film tentang Godzilla.

Judul Skull Island pun akhirnya diubah sedikit menjadi Kong: Skull Island. Film berdurasi 118 menit ini bakal menjadi film kedua dari MonsterVerse-nya Legendary Pictures, dan merupakan prekuel dari Godzilla (2014), karena keduanya memang berada dalam satu universe yang sama.

Rencananya, Godzilla vs. Kong bakal dirilis pada 29 Mei 2020. Namun, sebelum menikmati pertarungan antara dua makhluk mitologis raksasa tersebut, para monstermania akan lebih dahulu dihibur oleh sekuel Godzilla: King of the Monsters pada 22 Maret 2019.

Sementara itu, Kong: Skull Island sendiri merupakan reboot dan bukan remake. Plot ceritanyanya sama sekali berbeda dengan King Kong versi original tahun 1933, maupun King Kong (2005)-nya Peter Jackson. Jadi, jangan berharap ada nama-nama karakter seperti Ann Darrow ataupun Jack Driscoll.

Kisah Kong: Skull Island mengambil setting di tahun 1973. Selang waktunya memang terpaut cukup jauh dengan Godzilla (2014) yang ber-setting di masa kini. Namun, kisah keduanya tetap berhubungan karena sama-sama melibatkan Project Monarch, organisasi rahasia milik pemerintah Amerika yang khusus menangani makhluk raksasa asing yang tak dikenal.

Kali ini, yang menjadi tokoh utama adalah James Conrad (Tom Hiddleston), mantan anggota pasukan khusus Inggris, Special Air Service (SAS), yang berpengalaman dalam Perang Vietnam. Dia disewa oleh Bill Randa (John Goodman), pemimpin senior dari Monarch, untuk memburu dan menelusuri jejak spesies asing di Skull Island.

Selain Conrad dan Randa, tokoh penting lainnya adalah Letkol Preston Packard (Samuel L. Jackson), tentara Amerika yang menjadi pemimpin skuadron helikopter Sky Devils, dan Mason Weaver (Brie Larson), jurnalis foto spesialis perang, sekaligus pencinta damai. Sebagai pemanis, ada San Lin (Jing Tian), biologis muda yang kemolekannya bakal membuat para pria kehabisan tisu.

Di Skull Island, rombongan ekspedisi Monarch ternyata tidak hanya bertemu Kong, yang dipuja oleh suku primitif Iwi sebagai raja dan dewa, namun juga Skullcrawlers, predator raksasa yang mirip kadal. Dalam video klip yang dirilis beberapa waktu yang lalu, tampak dua monster tersebut sedang bertarung. Ini tentu saja mengingatkan para penonton dengan adegan King Kong melawan dinosaurus T-Rex di film besutan Peter Jackson tahun 2005.

Berbeda dengan film-film King Kong sebelumnya, Skull Island, pulau terpencil yang belum dipetakan, kali ini dikisahkan terletak di Samudra Pasifik Selatan, bukan lagi di dekat Indonesia. Mungkin, para produser di Hollywood sudah paham bahwa Indonesia bukan lagi negara terasing yang dihuni oleh makhluk-makhluk mitologis, semacam burung rajawali raksasa peliharaan Brama Kumbara.

Sebagai bentuk promo, Legendary Pictures menjalin kerja sama dengan Google. Para fans King Kong kini bisa menemukan letak pulau fiktif, Skull Island, lewat aplikasi Google Maps! Sapa tau aja ada yang ingin travelling ke sana. Hehe..

Untuk menampilkan scene di Skull Island yang misterius, tim produksi melakukan proses syuting di Vietnam bagian utara, lalu berlanjut di Pulau Oahu, Hawaii, dan Gold Coast, Australia. Pengambilan gambar yang dimulai pada 19 Oktober 2015 itu akhirnya tuntas pada 18 Maret 2016.

Sutradara Jordan Vogt-Roberts mengklaim Kong: Skull Island adalah film pertama yang menyajikan hutan belantara Vietnam dalam porsi besar. Setting film ini memang pada tahun 1970-an, saat Perang Vietnam masih berkecamuk. Para tokoh utamanya pun berlatar belakang tentara.

Dengan menampilkan pemandangan Vietnam yang belum banyak dikenal, Vogt-Roberts ingin membuat para penonton Kong: Skull Island terkesima. Seperti saat mereka melihat keindahan Selandia Baru di franchise The Lord of the Rings garapan Peter Jackson.

Hanya saja, syuting di hutan rimba Vietnam ternyata sempat membuat Brie Larson keder. Bintang film Room (2015) itu nyaris mengundurkan diri karena takut. Lawan mainnya, Tom “Loki” Hiddleston, juga mengaku was-was. Para petugas keamanan yang mendampingi mereka menyatakan banyak binatang maupun tanaman yang berpotensi mematikan di belantara tropis tersebut.

Untungnya, Larson akhirnya tidak jadi mundur. Aktris dengan ukuran dada 32B itu merasa tertantang untuk menyelesaikan syuting Kong: Skull Island, yang merupakan film non-indie pertamanya. Calon pemeran superhero Captain Marvel itu akhirnya merasa terhormat bisa terlibat dalam produksi film yang menurutnya serba besar dan menakjubkan ini.

Satu hal lagi yang menarik, dalam membesut Kong: Skull Island, sutradara Jordan Vogt-Roberts mengaku terinspirasi dari film-film perang klasik, terutama Perang Vietnam, seperti Apocalypse Now (1979) dan Platoon (1986). Tak heran, jika dilihat dari trailer-nya, nuansa film Kong terbaru ini seperti film perang. Bahkan, salah satu poster yang dirilis juga sangat mirip dengan poster Apocalypse Now besutan Francis Ford Coppola yang legendaris itu.

Sutradara yang sebelumnya sering menggarap serial komedi di televisi tersebut memang meracik ide cerita dari berbagai referensi. Selain film-film perang, Vogt-Roberts mengaku terinspirasi dari Princess Mononoke rilisan Ghibli Studio dalam menampilkan sosok makhluk-makhluk raksasa di Kong: Skull Island.

Jadi, film produksi besar (non-indie) pertama yang dibesut oleh Vogt-Roberts ini sebenarnya merupakan campuran dari berbagai macam genre. Memang, terdengar sedikit aneh. Tapi, pihak Legendary Pictures ternyata mendukung konsep baru tersebut.

Sutradara yang awalnya seorang developer video game itu menyadari bahwa bebannya cukup berat. Dia paham bahwa karakter si primata raksasa itu sudah menjadi ikon budaya pop global. Tantangannya adalah membangkitkan kembali pamor King Kong dengan kemasan yang lebih modern dan tidak terkesan sebagai film murahan.

Belajar dari kegagalan Peter Jackson, yang meskipun mendapat review positif dari para kritikus, tapi ternyata kurang laku di pasaran, Vogt-Roberts berjanji bahwa Kong versinya bakal berbeda dengan sebelumnya. Gorilla raksasa tersebut bukan lagi sosok monster yang suka naksir cewek-cewek cantik, tapi merupakan seekor mamalia yang cerdas.

Untuk menampilkan sosok Kong, yang kali ini “diperankan” oleh Terry Notary, sutradara Vogt-Roberts menggunakan bantuan CGI (computer-generated imagery) 100% dengan teknik motion capture performance. Sang aktor utama, Tom Hiddleston, mengaku tak pernah “ketemu” Kong waktu syuting. Lokasinya hanya ditandai dengan selotip.

Vogt-Roberts juga berkoar bahwa Kong bikinan dia merupakan Kong terbesar yang pernah muncul di layar lebar. Tingginya lebih dari 100 kaki (30 meter)! Dua kali lipat dari King Kong versi original tahun 1933 yang “hanya” 50 kaki. Apalagi, jika dibandingkan dengan Kong “mini” karya Peter Jackson yang “cuma” 25 kaki.

Jika menilik rencana Legendary Pictures yang berniat mengadu Kong dengan Godzilla pada 2020, maka bisa dimaklumi ukurannya dikisahkan sebesar itu. Bakal tidak sebanding seandainya Kong boncel versi 2005 bertarung dengan reptil raksasa yang super-duper gede itu.

Petunjuk mengenai Godzilla vs. Kong kabarnya bakal muncul di post-credit scene. Pemimpin Redaksi Splash Report, Kellvin Chavez, yang sudah mengikuti test screening Kong: Skull Island pada bulan Februari yang lalu, menghimbau para calon penonton untuk tidak segera meninggalkan tempat duduk setelah film selesai, karena bakal ada cuplikan penting yang ditayangkan. Semacam film-film superhero-nya Marvel.

Awalnya, film yang kisahnya dikarang oleh Dan Gilroy dan John Gatins ini direncanakan tayang pada 4 November 2016. Namun, kemudian diundur menjadi 10 Maret 2017, sekaligus untuk memperingati ulang tahun ke-84 franchise King Kong yang dulu “dilahirkan” oleh RKO Radio Pictures.

Upaya Legendary Pictures untuk mengulang kesuksesan versi original pada tahun 1933, tampaknya, menuai hasil. Setelah premiere di Cineworld Empire Leicester Square di London pada 28 Februari 2017, Kong: Skull Island mendapat tanggapan positif dari para kritikus. Situs Rotten Tomatoes menilai film berbujet USD 190 juta ini sangat memanjakan mata para penonton. Ceritanya menarik, dengan alur yang cepat dan tidak bertele-tele. Akting para pemain, yang didukung oleh peraih Piala Oscar semacam Brie Larson, dianggap cukup solid.

Pujian juga disematkan kepada sang sutradara. Kritikus Pete Hammond dari Deadline menilai Jordan Vogt-Roberts mampu memberi “jiwa” pada Kong: Skull Island. Meski konsep ceritanya tergolong sederhana, namun proses produksinya sangat berkelas sehingga membuat film ini layak disebut sebagai blockbuster, bukan film ecek-ecek.

Kritikus Owen Gleiberman dari The Hollywood Reporter juga menyatakan visualisasi di film ini sangat memukau dan orisinal. Para penonton, yang mungkin sudah berkali-kali menonton film tentang King Kong, dijamin tidak akan bosan. Kisahnya pun menarik, seperti petualangan klasik karya Jules Verne.

Dengan segala macam respon positif tersebut, Kong versi terbaru ini, tampaknya, memang layak untuk ditonton. All hail the King!

***

Kong: Skull Island

Sutradara: Jordan Vogt-Roberts
Produser: Thomas Tull, Jon Jashni, Mary Parent, Alex Garcia
Penulis Skenario: Dan Gilroy, Max Borenstein
Pengarang Cerita: John Gatins, Dan Gilroy
Berdasarkan: King Kong by Merian C. Cooper, Edgar Wallace
Pemain: Tom Hiddleston, Samuel L. Jackson, John Goodman, Brie Larson, Jing Tian, John Ortiz, Terry Notary, John C. Reilly
Musik: Henry Jackman
Sinematografi: Larry Fong
Penyunting: Richard Pearson
Produksi: Legendary Pictures, Tencent Pictures
Distributor: Warner Bros. Pictures
Durasi: 118 menit
Budget: USD 190 juta
Rilis: 28 Februari 2017 (Odeon Leicester Square), 8 Maret 2017 (Indonesia), 10 Maret 2017 (Amerika Serikat)

Ratings (hingga 7 Maret 2017)
IMDb: 8/10
Rotten Tomatoes: 81%
Metacritic: 61/100

Advertisements
Preview Film: Kong: Skull Island (2017)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s