Preview Balap Formula 1 Musim 2017

Tak terasa, musim balap Formula 1 bakal dimulai kembali di Australia akhir pekan ini. Bagi para F1 Mania di Indonesia, tahun 2017 bakal terasa berbeda bila dibandingkan dengan tahun lalu. Tidak ada lagi euforia yang menggebu-gebu. Tidak ada lagi antusiasme tinggi. Tidak ada lagi Rio Haryanto..

Absennya pemuda ganteng asal Solo tersebut memang patut disayangkan. Namun, apa boleh buat. Tidak adanya dana sponsorship menjadi masalah klasik, yang tidak hanya menjerat pebalap seperti Rio, tapi juga membuat tim yang dulu menaunginya, Manor Racing, ikut kolaps, alias bangkrut, dan tidak lagi berpartisipasi di ajang balap jet darat paling bergengsi tersebut.

Meski demikian, nama Indonesia di F1 musim ini, sebenarnya, tidak sepenuhnya hilang setelah Rio Haryanto out. Adalah Sean Gelael, putra mahkota dari kerajaan bisnis Gelael Group, yang kini menjadi satu-satunya pebalap asal Nusantara, bahkan, Asia, yang terlibat di Formula 1. Cucu dari almarhum Dick Gelael, pendiri Kentucky Fried Chicken (KFC) Indonesia, tersebut resmi menjadi test driver Scuderia Toro Rosso (STR).

Sebagai pebalap uji, Sean memang tidak akan ikut bersaing di lintasan seperti Rio tahun lalu. Dia hanya akan mendapat jatah untuk menjajal mobil F1 tiga kali, yaitu di Bahrain pada 18 dan 19 April, lalu di Hungaria, dan terakhir di Abu Dhabi pada post-season nanti.

Saat ini, Sean juga tercatat sebagai pebalap tim Arden International. Bocah yang baru berusia 20 tahun itu bakal kembali berkompetisi di Formula 2 (F2), yang dulu bernama GP2. Tahun lalu, saat membela Campos Racing, Sean hanya mampu naik podium sekali (di Austria), dan finish di posisi ke-15 klasemen akhir GP2, ajang balap setingkat di bawah F1.

Berubahnya GP2 menjadi F2 tak lain merupakan upaya rebranding dari Liberty Media Corp. yang baru saja mengakuisi F1 dari sang supremo, Bernie Ecclestone. Musim ini memang menjadi musim perubahan di Formula 1, yang tidak lagi dimiliki oleh boss tua berambut putih tersebut.

Selain berganti pemilik, balap F1 musim ini juga mengalami perubahan dalam hal regulasi teknis. Bahkan, bisa dibilang, ini merupakan perubahan terbesar dalam 20 tahun terakhir. Mobil F1 bakal lebih berat, lebih lebar, dan lebih cepat.

Sebagai konsekuensi dari perubahan regulasi aerodinamika, sayap depan dan belakang menjadi lebih lebar. Selain itu, sebagai penyeimbang, ban juga menjadi lebih besar. Akibatnya, meski lebih cepat, mobil akan menjadi lebih agresif, lebih buas, dan sulit dikendalikan. Para pebalap dituntut untuk memiliki fisik yang kuat, bahkan, jauh lebih kuat daripada musim-musim sebelumnya, jika ingin menaklukkan keganasan mobil F1 generasi terbaru ini.

Disamping para pebalap, yang juga harus bekerja lebih keras musim ini adalah para pit-crew. Dengan ban yang lebih lebar dan berat, mereka harus lebih cepat saat melakukan pergantian ban. Banyak yang memperkirakan, pit-stop tahun ini bakal lebih sulit, dan mungkin bakal terjadi banyak kesalahan, alias human-error.

Musim lalu, tim Williams adalah yang tercepat dalam melakukan pit-stop. Musim ini, untuk beradaptasi dengan ban yang lebih lebar dan berat, para insinyur mereka sampai menciptakan peralatan khusus untuk meminimalisir kesalahan yang bakal terjadi.

Meski demikian, bertambah gendutnya ban tidak melulu membawa dampak negatif. Sisi positifnya, dengan permukaan yang lebih lebar, grip atau daya cengkeram ban bakal jauh lebih baik. Otomatis, usia ban bakal lebih awet dan tidak cepat aus. Oleh karena itu, musim ini mungkin hanya dibutuhkan sekali pit-stop untuk setiap balapan. Bahkan, mungkin ada beberapa race yang tidak diperlukan untuk mengganti ban sama sekali!

Dalam hal persaingan untuk memperebutkan gelar juara, perubahan regulasi baru sebenarnya juga menjadi kesempatan bagi tim-tim semacam Ferrari dan Red Bull untuk mendongkel dominasi Mercedes. Dalam tiga musim terakhir, the Silver Arrows memang menjadi raja-diraja di F1. Mereka menyapu bersih trofi juara dunia untuk kategori pebalap dan konstruktor.

Dengan regulasi baru, aerodinamika mobil bakal mengalami perubahan besar. Hal ini sebenarnya menjadi titik lemah Mercedes, yang selama ini unggul jauh dalam ketangguhan mesin, tapi kalah dalam soal aerodinamis jika dibandingkan dengan Red Bull, Ferrari, dan, bahkan, McLaren.

Ferrari sendiri, saat menjalani delapan hari sesi pramusim di Barcelona, sudah menunjukkan tanda-tanda bakal bangun dari tidur panjangnya. Kebangkitan sang Kuda Jingkrak bisa dilihat dari catatan waktu mereka, baik single lap maupun long run, yang jauh lebih cepat daripada Mercedes. Selain itu, mesin Ferrari juga tampak reliable. Tidak pernah jebol meski digeber dalam jangka waktu lama.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pabrikan asal Italia itu memiliki mesin dengan ketahanan yang baik. Dalam hal power, Ferrari juga berhasil mengejar ketertinggalan dari Mercedes. Mantan kepala mekanik, Toni Cuquerella, yang pensiun akhir musim lalu, memberi bocoran bahwa tim Kuda Jingkrak telah menggelontorkan duit ratusan juta euro demi mengembangkan mesin. Memang, hasilnya masih perlu dibuktikan saat lomba. Namun, saat ini, setidaknya, La Scuderia sudah mampu menunjukkan bahwa kecepatan mereka tidak kalah dari rivalnya yang asal Jerman itu.

Selain Ferrari, Renault, yang memasok mesin untuk Red Bull, juga berani menyatakan bahwa mereka sudah berhasil memperpendek jarak dari Mercedes. Pabrikan asal Prancis itu, bahkan, sesumbar “hanya” tertinggal setengah detik per lap dari the Silver Arrows. Sekali lagi, itu semua masih harus dibuktikan saat melakoni race yang sesungguhnya nanti.

Disamping faktor mesin dan sasis (aerodinamika), hal lain yang sangat penting, bahkan, paling penting, untuk meraih kemenangan adalah faktor pebalap. Mercedes, tak bisa dibantah, tentu sangat kehilangan sang juara dunia, Nico Rosberg, yang baru saja pensiun dini. Penggantinya, Valtteri Bottas, diragukan bisa langsung bersaing memperebutkan gelar, mengingat ini adalah musim “debut”-nya di tim besar.

Kecuali Bottas membuat kejutan, otomatis, Mercedes kini hanya mengandalkan Lewis Hamilton untuk menjadi juara. Pebalap asal Inggris itu bakal dikeroyok oleh duo Ferrarri, Sebastian Vettel dan Kimi Raikkonen, serta duet Red Bull, Daniel Ricciardo dan si ababil, Max Verstappen.

Jika melihat hasil sesi pramusim, yang patut diwaspadai oleh Hamilton adalah Raikkonen. The Iceman, yang musim lalu termehek-mehek, kini sukses menjadi yang tercepat dan menjadi satu-satunya pebalap yang mampu menembus catatan waktu 1 menit 18 detik per lap di Barcelona!

Di luar Mercedes, Ferrari, dan Red Bull, sepertinya memang sulit melihat tim lain untuk bersaing memperebutkan gelar juara dunia. Williams dan Force India mungkin hanya sebatas menjadi kuda hitam. Sekali atau dua kali mungkin mereka bisa naik podium. Terutama Felipe Massa atau Sergio Perez.

Sementara itu, McLaren, tampaknya, masih harus menunggu lama untuk bangkit kembali. Performa mesin Honda sangat payah saat uji coba. Jika tidak ada perubahan signifikan, dua sejoli yang sebenarnya baru saja balikan ini bisa saja putus di akhir musim nanti. Selamat tinggal, McLaren-Honda?

Advertisements
Preview Balap Formula 1 Musim 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s