Prediksi Final Champions League 2016-2017: Juventus vs. Real Madrid

“It’s the final countdown..”

Liga Champions musim ini sampai juga di babak pamungkas. Ibu kota Wales, Cardiff, bakal menjadi tuan rumah perhelatan partai final yang mempertemukan dua tim raksasa dari benua Eropa: Juventus dan Real Madrid. Siapakah yang akhirnya menjadi juara dari segala juara di Millennium Stadium weekend ini?

Di babak semifinal bulan Mei lalu, Juventus yang dimotori oleh kiper legendaris Gianluigi Buffon berhasil “mendidik” para pemain ingusan Monaco dengan pelajaran cara bermain bola yang baik dan benar. Kylian Mbappe, yang biasanya ganas di pentas domestik, kali ini tak berkutik menghadapi benteng pertahanan sang Nyonya Tua.

Sementara itu, Real Madrid kembali mempecundangi rival sekota mereka, Atletico. Ini adalah kekalahan ketiga yang diderita oleh Diego Simeone dari Los Blancos di Liga Champions dalam empat tahun terakhir. Dua kekalahan sebelumnya lebih menyakitkan karena terjadi di partai puncak.

Pada babak final hari Minggu (4/6) dini hari WIB nanti, Real Madrid selaku juara bertahan bakal ditantang oleh Juventus. Sejak era Liga Champions diberlakukan pada musim 1992-1993, belum ada satupun tim yang mampu menjadi juara back-to-back. Cristiano Ronaldo dkk berusaha mematahkan kutukan tersebut musim ini, sekaligus mewujudkan ambisi duodecima, alias juara Eropa untuk ke-12 kalinya!

Pada tahun 2009, Ronaldo, yang kala itu menjalani pertandingan terakhirnya bersama Manchester United, gagal mematahkan kutukan juara bertahan. Setan Merah, yang musim sebelumnya berjaya di Moscow akibat John Terry terpeleset saat mengeksekusi penalti, harus mengakui keunggulan Barcelona yang baru memulai era kejayaan bersama Pep Guardiola.

Sebelum Manchester United, Milan, Ajax dan Juventus pernah mencoba untuk mematahkan kutukan juara beruntun Liga Champions pada tahun 1995, 1996 dan 1997. Semuanya gagal. Milan dibekuk Ajax, Ajax digulung Juventus, dan Juve digilas Dortmund pada partai puncak di tahun berikutnya.

Selain kutukan juara bertahan, Madrid juga dihadang mitos tidak pernah menjuarai Liga Champions di tahun ganjil. Saat menjadi juara lima kali sebelumnya, Los Merengues selalu melakukannya di tahun genap, yaitu 1998, 2000, 2002, 2014 dan 2016.

Sebaliknya, Juventus, yang selama ini sering kalah di partai final (enam kali), justru didukung oleh siklus juara tim-tim Italia di Liga Champions. Yaitu, setiap tujuh tahun. Sejak 1996, selalu ada klub Serie A yang menjadi jawara Eropa. Dimulai dari Juventus (1996), Milan (2003), dan Inter (2010). Tahun 2017 ini, apakah tim asal Italia bakal kembali berjaya?

Bagi Juve, final Liga Champions musim ini juga merupakan partai balas dendam. Pada tahun 1998, skuad Bianconeri yang kala itu diunggulkan, harus menelan kekalahan tipis 0-1 dari Real Madrid di partai pamungkas.

Yang lebih menyakitkan, seperti melihat mantan bergandengan tangan dengan pasangan barunya, satu-satunya gol yang membuat Alessandro Del Piero dkk saat itu tertunduk lemas dicetak secara kontroversial oleh Predrag Mijatovic. Banyak yang meyakini, striker asal Yugoslavia itu berdiri dalam posisi offside kala menjebol gawang tim Zebra.

Hal menarik lainnya, pada final Liga Champions tahun 1998 itu, Juve diperkuat oleh Zinedine Zidane yang kini menakhodai Real Madrid. Sejak bergabung dengan La Vecchia Signora pada musim panas 1996, Zizou memang selalu gagal mempersembahkan trofi si Kuping Besar. Playmaker kebanggaan Prancis itu baru berhasil merebutnya setelah membela Madrid pada tahun 2002.

Final tahun ini, tentu saja, menjadi final yang spesial bagi Zidane. Meski Juve masih berada di hatinya, pemain yang pernah menanduk dada Marco Materazzi itu sudah bertekat untuk mempersembahkan Piala Champions yang kedua belas bagi Madrid, sekaligus menjadi juara back-to-back.

Menjadi kampiun beruntun di ajang seprestius Liga Champions memang tidak mudah. Bahkan, pelatih sekaliber Carlo Ancelotti, Jose Mourinho dan Pep Guardiola tak mampu melakukannya.

Pelatih terakhir yang berhasil menjadi juara beruntun adalah Arrigo Sacchi bersama the Dream Team AC Milan pada 1989 dan 1990. Itu pun dia lakukan di era European Cup. Mampukah Zidane menjadi pelatih pertama yang melakukannya di era Champions League?

Jawabannya, bakal tersaji pada hari Minggu (4/6) dini hari WIB nanti. Saat keganasan trio BBC (Bale, Benzema, Cristiano) dihadang ketebalan tembok trio BBC (Barzagli, Bonucci, Chiellini). Bisa dibilang, ini adalah pertempuran antara tim yang jago menyerang melawan tim yang handal dalam bertahan.

Melihat kualitas individu para pemain Juve dan Madrid yang nyaris setara, bisa jadi, laga final kali ini bakal berjalan ketat. Bahkan, mungkin bisa seketat musim lalu, yang harus diakhiri dengan adu tendangan penalti.

Akhir kata, untuk memenangkan sebuah pertandingan sepak bola, intinya adalah mencetak gol lebih banyak daripada tim lawan. Sekali lagi, gol adalah kunci. Meski terkadang masih banyak tim yang lupa mencetak gol ke gawang lawan dan malah menjebol gawang sendiri.

Prediksi: Juventus 50-50 Real Madrid

Advertisements
Prediksi Final Champions League 2016-2017: Juventus vs. Real Madrid

One thought on “Prediksi Final Champions League 2016-2017: Juventus vs. Real Madrid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s