Review Film: It (2017)

Film IT tayang mulai hari Rabu (6/9) ini di bioskop-bioskop Indonesia. Btw, itu judulnya It, dibaca “it”, bukan “ai ti”, karena ini bukan film tentang komputer. Paham, Pulgoso?

Aku, sih, udah nonton tadi pagi. Di hari pertama dan jam pertama penayangan. Kamu dan pasangan kamu udah nonton belum? Oh, iya. Aku lupa. Pasangan kamu kan gag suka nonton film horror barat? Sukanya film horror lokal semacam Suster Keramas dan Hantu Jeruk Purut, kan? Ngaku aja, deh. Iya, kan? Iyain aja, deh. Biar cepet.

Pas aku nonton tadi, jumlah penontonnya sedikit, sih. Sepi. Sesepi hatiku tanpa kamu. Mungkin, karena masih pagi. Satu studio cuma lima orang, termasuk aku. Tapi, empat orang lainnya berpasangan. Tampaknya, sama pacar masing-masing. Bikin iri aja. *sigh*

Aku nonton sama siapa? Yak, betul tebakan kamu. Aku nonton sendirian. Mau ngajak mbak-mbak kasir bioskopnya, yang lumayan manis, malu. Akhirnya, cuma ditemenin oleh bangku kosong di sebelah kanan dan kiri. Iya. Sejak kamu ninggalin aku demi dia, aku memang selalu nonton bioskop sendirian. *krai*

Udah nonton sendirian, AC-nya dingin pula. Berhubung gag ada tangan kamu yang bisa aku genggam, akhirnya aku cuma bisa meremas-remas pegangan kursi selama dua jam lebih. Iya. Durasi film It memang cukup panjang. Sekitar 135 menit.

Oke. Stop curcolnya. Aku kalo lagi curhat soal kamu memang suka kebablasan kayak gini. Sekarang, mari kita bahas muka pasangan kamu. Oh, sori. Maksudku, mari kita bahas filmnya.

Bagi pecandu film horror kayak aku, It sebenernya gag serem-serem amat. Entah kalo menurut kamu. Yang pasti, jauh lebih serem The Conjuring. Dan, jauuuh lebih serem lagi muka pasangan kamu. Hehe.. Sori. No offense.

Meski demikian, secara overall, film It ini adalah film yang bagus. Menurutku, lebih bagus daripada Annabelle: Creation yang tayang bulan lalu. Bahkan, mungkin, termasuk salah satu film terbaik tahun ini.

It adalah film horror dengan unsur drama yang kental. Tentang kesetiaan dan persahabatan tujuh orang abege, The Losers’ Club. Tentang perjuangan mereka melawan pelecehan, pem-bully-an, dan melawan rasa takut untuk mengalahkan si badut setan, Pennywise.

Ada seremnya. Ada tragisnya. Ada sedihnya. Ada fun-nya. Ada lucunya. Dan ada romantismenya. Semuanya diracik menjadi suatu sajian yang nikmat oleh sutradara Andy Muschietti. Senikmat nasi Padang dengan kuah rendang. *laper*

Selama dua jam lebih nonton It, aku sering senyum-senyum sendiri. Terutama pas bagian cinta monyetnya. Hehe.. Cinta di masa SMP itu memang cinta yang paling murni. Semurni cintaku yang kamu sia-siakan..

Akting para aktor cilik di film ini semuanya ciamik. Ada Jaeden Lieberher yang meranin bocah gagap. Ada Finn Wolfhard yang meranin bocah slenge’an berkacamata. Ada Jeremy Ray Taylor yang meranin si gendut “new kid on the block”. Dan lain-lain.

Tingkah laku para bocah tersebut lucu-lucu. Guyonan-guyonan mereka receh. Tapi, teteup, bakal membuat kita, orang-orang dewasa, tertawa saat mendengarnya. Minimal, bakal senyum-senyum sendiri. Kayak aku tadi. Hehe..

Di antara mereka semua, aku paling jatuh hati sama Bebeb Sophia Lillis yang meranin Beverly Marsh, satu-satunya cewek di The Losers’ Club. Usianya masih 15 tahun. Masih di bawah umur. Tapi, bibit-bibit sexy-nya udah keliatan. Mukanya perpaduan antara Maggie Gyllenhaal dan Jessica Chastain, dan sedikit Scarlett Johansson.

Sementara itu, akting Bill Skarsgard sebagai Pennywise cukup oke. Tidak semenyeramkan yang digembar-gemborkan. Tapi, lumayanlah. Mungkin, bakal lebih serem kalo yang meranin si badut setan itu pasangan kamu, yang mukanya nyeremin itu. Hehe..

Bagi yang suka nonton serial Stranger Things di Netflix, kemungkinan besar juga bakal suka dengan It. Kisahnya memang mirip-mirip. Apalagi, salah satu bintang cilik Stranger Things, Finn Wolfhard, juga main di sini.

Begitu juga bagi anak-anak generasi 1980-an, kayak aku, bakal suka dengan It. Film ini akan membangkitkan semua kenangan kita akan masa itu. Ibaratnya, semua khayalan dan imajinasi kita di masa kecil bakal dibuat nyata oleh It.

Intinya, selama menonton It, kita bakal dibuat merinding, tegang, takut, bahkan, ngeri (bagi yang gag tahan ngeliat darah). Tapi, juga sekaligus bakal excited, tertawa, dan akhirnya mata berkaca-kaca. Iya. Di bagian ending-nya, memang ada satu adegan yang cukup mengharukan.

Oleh karena itu, bagi cewek yang gembeng, alias cengeng, alias nangisan, kayak kamu, wajib membawa tisu saat menonton It. Aku aja nyaris meneteskan air mata. Tapi, karena gengsi, aku tahan-tahan. Hehe..

Oh, iya. Meski semua tokohnya adalah abege, It adalah film untuk orang dewasa dan bukan tontonan untuk anak-anak. Banyak adegan sadis yang berdarah-darah. R-rated. Jadi, jangan bawa anak-anak saat menontonnya. Bawa mantan, boleh. Asalkan kamu tahan baper dan galau. Paham, Pulgoso?

Advertisements
Review Film: It (2017)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s