Preview Film: The Greatest Showman (2017)

Mungkin, tidak banyak yang mengenal nama Phineas Taylor Barnum, alias P. T. Barnum. Padahal, sosok kontroversial yang hidup pada abad ke-19 tersebut adalah pelopor bisnis pertunjukan sirkus di dunia.

Kisah nyata dari pendiri Barnum & Bailey Circus itulah yang diangkat ke layar lebar oleh sutradara Michael Gracey dengan judul The Greatest Showman. Film yang dibintangi oleh Hugh Jackman tersebut saat ini sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia.

The Greatest Showman mengawali kisahnya dari masa kecil P. T. Barnum (Ellis Rubin) yang hidup miskin bersama ayahnya, Philo (Will Swenson), yang berprofesi sebagai penjahit. Dia kerap diremehkan oleh orang-orang kaya di kotanya.

Sejak anak-anak, Barnum sudah jatuh hati pada Charity (Skylar Dunn), putri dari pasangan Hannah (Kathryn Meisle) dan Benjamin Hallett (Fredric Lehne) yang cukup kaya. Cinta monyet tersebut terbawa hingga dia dewasa.

Setelah bertahun-tahun bekerja, Barnum (Hugh Jackman) akhirnya bisa mengawini Charity (Michelle Williams). Mereka hidup bahagia di kota dan dikaruniai dua orang anak, Caroline (Austyn Johnson) dan Helen (Cameron Seely).

Sayangnya, kebahagiaan tersebut tak berlangsung lama. Perusahaan tempat Barnum bekerja mengalami kebangkrutan dan dia pun menjadi pengangguran. Untuk menghidupi keluarganya, Barnum segera memutar otak. Dengan akal liciknya, dia berhasil mendapat pinjaman dari bank dan merintis bisnis pertunjukan sirkus.

Barnum kemudian mengumpulkan sejumlah orang dengan penampilan fisik aneh dari Kota New York. Mulai dari pria kerdil berjuluk General Tom Thumb (Sam Humphrey), cowok yang sekujur tubuhnya ber-tattoo dengan julukan Prince Constantine (Shannon Holtzapffel), wanita berjenggot yang bernama Lettie Lutz (Keala Settle), hingga adik-kakak berkulit hitam yang jago akrobat, Anne (Zendaya) dan W. D. Wheeler (Yahya Abdul-Mateen II).

Sirkus freak show itu pun mulai ramai. Barnum kemudian ber-partner dengan seorang penulis drama kelas atas bernama Phillip Carlyle (Zac Efron) untuk mengembangkan bisnisnya. Dia juga mengadakan konser musik dengan menggaet diva asal Swedia, Jenny Lind (Rebecca Ferguson).

Namun, seiring dengan semakin berkembangnya sirkus, berbagai masalah juga menerpa. Mulai dari kritik pedas dari para jurnalis hingga penolakan dari masyarakat sekitar yang menganggap showbiz yang dilakukan oleh Barnum sebagai bentuk eksploitasi terhadap orang-orang aneh.

Selain itu, kesuksesan yang diraih oleh Barnum juga membuat keharmonisan rumah tangganya terganggu. Hubungannya dengan istri dan kedua anaknya mulai renggang. Apakah Barnum harus mengorbankan keluarganya demi memenuhi ambisinya menjadi the Greatest Showman in the World?

Dalam sejarah Amerika, sosok Barnum, sebenarnya, tercatat sebagai tokoh yang kontroversial. Dia kerap melakukan kebohongan publik, semata-mata demi kesuksesan bisnis sirkusnya. Contohnya, dia pernah menggembar-gemborkan seorang wanita tua sebagai mantan assisten George Washington yang sudah berumur 160 tahun. Padahal, aslinya baru berusia 80 tahun.

Majalah National Geographic, bahkan, pernah menjuluki P. T. Barnum sebagai salah satu tukang bohong terbesar sepanjang sejarah. Pria kelahiran 5 Juli 1810 itu dinilai sebagai sosok kapitalis dan oportunis yang kerap mengeksploitasi para pekerjanya.

Namun, dalam film The Greatest Showman, dua penulis skenario, Jenny Bicks dan Bill Condon, menggambarkan P. T. Barnum sebagai sosok yang positif, berbeda dengan aslinya. Karakter yang diperankan oleh Hugh Jackman tersebut memang ambisius, tapi sangat menghargai sesama, setia kawan, dan memuja nilai-nilai keluarga.

Sebagai seorang pemimpi, Barnum tak peduli bila sebagian publik menganggapnya sebagai penipu. Meski banyak dicaci, dia akhirnya bisa mewujudkan impiannya menjadi pengusaha sirkus tersukses sepanjang masa.

Sutradara Michael Gracey mengajak para penonton menyaksikan perjalanan P. T. Barnum tersebut dalam The Greatest Showman dengan unsur musikal yang sangat kental. Film berdurasi 105 menit ini merupakan film drama yang setiap adegannya sarat dengan elemen musik dari awal hingga akhir.

Lagu-lagu yang ditampilkan dalam The Greatest Showman digarap langsung oleh Benj Pasek dan Justin Paul. Dua nama tersebut adalah penulis lirik untuk lagu-lagu dalam film drama musikal La La Land (2016) yang fenomenal itu. Tak heran, salah satu lagunya yang berjudul “This Is Me” masuk nominasi Best Original Song dalam Golden Globe Awards 2018.

Akting ciamik Hugh Jackman sebagai P. T. Barnum juga diganjar nominasi Best Actor kategori Musical or Comedy dalam ajang Golden Globe Awards ke-75 tersebut. Di The Greatest Showman, Jackman memang menyanyikan sendiri lagu-lagunya serta menari bersama kumpulan orang-orang anehnya.

Selama ini, aktor macho asal Australia itu memang identik dengan karakter Wolverine. Namun, sebelum terkenal lewat franchise X-Men, Hugh Jackman sudah berpengalaman malang-melintang di panggung theater Broadway dan pernah meraih penghargaan bergengsi, Tony Awards, untuk perannya di The Boy from Oz. Jadi, tampil dalam film musikal semacam The Greatest Showman tidak menjadi masalah baginya.

Demi menghidupkan karakternya, Hugh Jackman membaca tiga lusin buku tentang P. T. Barnum sebelum produksi film dimulai. Selain itu, dia juga tak segan untuk belajar menyanyi dan menari pada Raja Bollywood, Shah Rukh Khan (SRK). Sepanjang syuting The Greatest Showman, hanya aktor top asal India itu yang terlintas dalam pikirannya.

Selain meniru gaya Shah Rukh Khan, Hugh Jackman juga berharap suatu saat nanti SRK bisa memerankan karakternya, P. T. Barnum, jika The Greatest Showman versi India diproduksi. Khan sendiri menganggap Jackman sebagai inspirasinya. Si Wolverine tersebut dia nilai sebagai salah satu aktor Hollywood yang selalu tampil mempesona.

Selain Hugh Jackman, The Greatest Showman juga diperkuat oleh Zac Efron. Aktor yang melejit lewat perannya di High School Musical itu beradu akting dengan penyanyi sekaligus aktris muda berbakat, Zendaya.

Dalam film rilisan 20th Century Fox ini, karakter yang diperankan Zac Efron menjalin kisah asmara dengan pemain akrobat berkulit hitam manis yang diperankan oleh Zendaya. Sebuah hubungan percintaan interrasial yang cukup kontroversial pada masa itu.

Saat diwawancarai, Zac Efron ingin menggunakan The Greatest Showman untuk menyampaikan pesan antirasisme. Menurutnya, peradaban zaman now masih berurusan dengan isu-isu rasisme meski hal tersebut sudah diperangi sejak abad ke-19.

Efron juga menambahkan, upayanya untuk kembali tampil di film musikal tidaklah semudah naik sepeda. Bahkan, saat melakoni adegan tari-tarian berjudul “The Other Side” bersama Hugh Jackman, dia harus melakukan pengambilan gambar hingga 56 kali saking sulitnya.

Salah satu faktor yang membuat Efron mau bermain di The Greatest Showman adalah Michael Gracey. Dia mengaku mendapat bantuan yang luar biasa dari sutradara asal Australia tersebut hingga bisa tampil apik di film musikal ini.

The Greatest Showman sendiri merupakan debut penyutradaraan bagi Michael Gracey di dunia perfilman. Sebelumnya, dia hanya pernah bekerja sebagai animator dan supervisor efek visual serta sutradara iklan.

Sementara itu, karakter Jenny Lind, pelantun lagu “Never Enough”, awalnya ditulis sesuai gambaran aktris Anne Hathaway. Namun, pada perkembangannya, sutradara Michael Gracey akhirnya memilih Rebecca Ferguson sebagai pemeran diva sexy tersebut. Sebelumnya, Carey Mulligan dan Ellen Page juga sempat masuk nominasi.

Akting apik para bintang top di atas, ditambah unsur musikal dan aksi panggung yang memukau, membuat The Greatest Showman masuk nominasi Best Motion Picture kategori Musical or Comedy dalam ajang Golden Globe Awards 2018. Sambutan dari para penonton juga cukup baik. Hingga kini, sudah meraup pemasukan USD 93 juta.

Tapi, sayangnya, respon dari para kritikus tidak terlalu positif. Banyak yang menilai, film berbujet USD 84 juta ini tidak memiliki jalinan cerita dan penggambaran karakter yang kuat. Plotnya mengalir begitu cepat sehingga para penonton bakal kesulitan mendalami kisahnya. Meski demikian, bagi para penggemar drama musikal, The Greatest Showman tetap menjadi film yang sayang untuk dilewatkan.

***

The Greatest Showman

Sutradara: Michael Gracey
Produser: Laurence Mark, Peter Chernin, Jenno Topping
Penulis Skenario: Jenny Bicks, Bill Condon
Pengarang Cerita: Jenny Bicks
Pemain: Hugh Jackman, Zac Efron, Michelle Williams, Rebecca Ferguson, Zendaya
Musik: John Debney, Joseph Trapanese
Sinematografi: Seamus McGarvey
Penyunting: Tom Cross, Robert Duffy, Joe Hutshing, Michael McCusker, Jon Poll, Spencer Susser
Produksi: Chernin Entertainment, Seed Productions, Laurence Mark Productions, TSG Entertainment
Distributor: 20th Century Fox
Durasi: 105 menit
Budget: USD 84 juta
Rilis: 8 Desember 2017 (RMS Queen Mary 2), 20 Desember 2017 (Amerika Serikat), 29 Desember 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 4 Januari 2018)
IMDb: 8/10
Rotten Tomatoes: 56%
Metacritic: 48/100
CinemaScore: A

Advertisements
Preview Film: The Greatest Showman (2017)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s