Preview Film: Insidious: The Last Key (2018)

Selain The Conjuring, Insidious adalah franchise film horror tersukses dalam satu dekade terakhir. Dua-duanya diciptakan oleh sang Maestro, James Wan, yang juga kreator dari franchise thriller sadis, Saw.

Awal tahun ini, seri terbaru dari Insidious, alias chapter yang keempat, dirilis secara global dan sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Judulnya, Insidious: The Last Key. Kisahnya masih berhubungan dengan tiga film sebelumnya, yaitu Insidious (2010), Insidious: Chapter 2 (2013) dan Insidious: Chapter 3 (2015).

Meski menjadi film terakhir, The Last Key sebenarnya merupakan prekuel dari Insidious. Setting waktunya terletak di antara film ketiga dan film pertama. Kali ini, yang menjadi tokoh utamanya adalah parapsychologist Dr. Elise Rainier (Lin Shaye), yang hanya menjadi pemeran pendukung di tiga film sebelumnya.

Bagi yang sudah lupa, atau belum pernah menonton, film Insidious yang pertama dan kedua mengisahkan tentang Dalton (Ty Simpkins) dan ayahnya, Josh Lambert (Patrick Wilson), yang mampu mengembara ke alam baka, alias The Further. Tapi, tubuh mereka kemudian diincar oleh roh jahat yang ingin kembali ke dunia nyata.

Sementara itu, Insidious: Chapter 3 ber-setting jauh sebelum kejadian film yang pertama dan kedua. Menceritakan tentang seorang gadis muda yang ingin berhubungan kembali dengan arwah sang ibu, tapi malah diganggu oleh setan dari The Further.

Elise adalah karakter yang selalu muncul di ketiga film tadi. Bisa dibilang, nenek-nenek dengan indra keenam tersebut adalah benang merah yang menghubungkan semua chapter dalam franchise Insidious.

Di film yang keempat ini, asal-usul Elise sebagai cenayang dan pemburu hantu profesional bakal dikupas tuntas. Termasuk, trauma yang dialaminya semasa kecil. Oleh karena itu, The Last Key bakal dipenuhi oleh adegan kilas balik yang ber-setting pada tahun 1950-an.

Elise adalah putri seorang sipir penjara yang bernama Gerald Rainier (Josh Stewart). Masa kecilnya dia habiskan di sebuah rumah, di sebelah lapangan penjara, di Five Keys, New Mexico, Amerika Serikat.

Bakat paranormal Elise, yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan roh halus, sudah muncul sejak dia masih anak-anak. Namun, bokapnya yang kasar tidak mempercayai kemampuannya dan kerap menyiksa Elise. Begitu juga dengan adik laki-lakinya yang kerap mengganggunya. Hanya nyokapnya, Aubrey (Tessa Ferrer), yang selalu menghibur Elise.

Suatu malam, saat sedang disekap di ruang bawah tanah oleh bokapnya, Elise mendengar suara seorang anak kecil. Suara gaib tersebut menyuruhnya untuk membuka sebuah pintu merah yang misterius. Celakanya, setelah Elise membukanya, hal tersebut membawa konsekuensi tragis bagi keluarganya!

Pada 2010, Elise yang kini sudah tua, tiba-tiba mendapat telepon dari Ted Garza (Kirk Acevedo). Pria yang tinggal di rumah masa kecil Elise tersebut sedang ketakutan karena kerap diganggu oleh hal-hal gaib.

Meski awalnya ragu, Elise kemudian memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya, di Five Keys, untuk menyelidiki gangguan supranatural tersebut. Bersama dengan dua assistennya yang superkocak, Specs (Leigh Whannell) dan Tucker (Angus Sampson), nenek-nenek pemberani tersebut harus menghadapi setan-setan yang sudah menghantuinya sejak kecil.

Seperti di tiga film Insidious sebelumnya, yang selalu menghadirkan roh-roh jahat dari alam gaib The Further, The Last Key juga menampilkan sejumlah iblis baru. Di film pertama dan kedua ada sosok setan merah dan hantu pengantin bergaun hitam, alias Bride in Black. Lalu, di chapter ketiga ada hantu pria yang susah bernafas.

Di film yang keempat ini, setan yang menjadi antagonis utama adalah Key Face (Javier Botet), yaitu setan yang punya jari-jari berbentuk seperti kunci. Selain itu, juga ada Lipstick-Face Demon (Joseph Bishara), alias setan bergincu.

Sosok setan Key Face sendiri merupakan hasil pemikiran dari Leigh Whannell. Penulis skenario dari empat film Insidious itu memang kaya akan ide. Bahkan, idenya kali ini muncul tanpa dia duga.

Jadi, ceritanya, Whannell sedang menulis naskah Insidious: The Last Key di Spanyol. Di sana, dia menyewa sebuah rumah kuno berusia 300 tahun yang cukup menyeramkan. Nama rumah tersebut, dalam bahasa Spanyol, jika diterjemahkan, memiliki arti “lima kunci”. Dari situlah nama Five Keys, kampung halaman Elise, berasal.

Saat diwawancarai di Hong Kong beberapa waktu yang lalu, Whannell tidak menutup kemungkinan bakal melanjutkan kisah Insidious. Jadi, The Last Key ini bukan film yang terakhir.

Semuanya akan kembali ke respon para penonton. Jika film keempat ini sukses, besar kemungkinan franchise Insidious akan terus berlanjut dengan Whannell tetap menjadi penulis skenarionya.

Selain Whannel, sosok yang selalu terlibat dalam empat film Insidious adalah Lin Shaye. Aktris sepuh berusia 74 tahun itu awalnya cuma pemeran pendukung. Namun, sejak film ketiga, dia menjadi bintang utamanya.

Bagi Lin Shaye, yang menggeluti dunia akting sejak tahun 1975, bermain di film horror bukan hal yang baru. Selain franchise Insidious, dia juga pernah membintangi A Nightmare on Elm Street (1984) dan Ouija (2014).

Saat diwawancarai, Lin mengaku begitu lekat dan mencintai tokoh Elise yang dia perankan. Menurutnya, Elise bukanlah sekadar cenayang. Dia adalah sosok yang tidak mementingkan diri sendiri dan selalu berusaha mendukung orang lain, meski tidak bisa menolongnya.

Sementara itu, kursi sutradara untuk film yang keempat ini diduduki oleh Adam Robitel. Sebelumnya, dia sudah berpengalaman menjadi penulis naskah film horror Paranormal Activity: Ghost Dimension (2015). James Wan, sang kreator Insidious, kali ini hanya bertindak sebagai produser bersama dengan Oren Peli dan Jason Blum dari Blumhouse Productions.

Dalam menggarap The Last Key, Adam Robitel menggunakan formula dari tiga film Insidious sebelumnya, yaitu menggunakan jump scare untuk membangun nuansa horror. Jadi, para penonton akan lebih banyak dikagetkan oleh setan yang muncul secara tiba-tiba.

Bagi yang ingin memacu adrenalin, Insidious: Chapter 4 ini mungkin bakal menjadi tontonan yang menarik. Namun, bagi yang ingin mencari kengerian dari sebuah film horror, mungkin bakal kecewa. Karena bukannya dibuat takut, tapi malah dibuat terkejut belaka.

Setelah dirilis di Amerika pada hari Jumat (5/1) yang lalu, para kritikus memberi respon kurang positif untuk Insidious: The Last Key. Akting Lin Shaye sebagai Elise memang mendapat banyak pujian. Namun, itu tidak cukup untuk mengangkat film berdurasi 103 menit ini.

Meski demikian, secara box office, Insidious: The Last Key boleh menepuk dada. Belum sepekan diputar, film yang berbujet “hanya” USD 10 juta ini sudah mampu mengumpulkan pemasukan hingga USD 50 juta. Mungkin, karena tidak ada film blockbuster lain yang dirilis di awal tahun ini.

Oh, ya. Di akhir film, jangan terburu-buru pulang. Kabarnya, bakal ada scene yang menghubungkan The Last Key dengan Insidious: Chapter 1 dan Chapter 2. Tiga bintang dari film yang pertama, yaitu Ty Simpkins, Rose Byrne, dan Patrick Wilson, akan muncul sebagai cameo.

***

Insidious: The Last Key

Sutradara: Adam Robitel
Produser: Jason Blum, Oren Peli, James Wan
Penulis Skenario: Leigh Whannell
Pemain: Lin Shaye, Angus Sampson, Leigh Whannell, Josh Stewart, Caitlin Gerard
Musik: Joseph Bishara
Sinematografi: Toby Oliver
Penyunting: Timothy Alverson
Produksi: Blumhouse Productions, Stage 6 Films
Distributor: Universal Pictures (Amerika Serikat), Sony Pictures Releasing (Internasional)
Durasi: 103 menit
Budget: USD 10 juta
Rilis: 5 Januari 2018 (Amerika Serikat), 10 Januari 2018 (Indonesia)

Rating (hingga 10 Januari 2018)
IMDb: 6/10
Rotten Tomatoes: 27%
Metacritic: 49/100
CinemaScore: B

Advertisements
Preview Film: Insidious: The Last Key (2018)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s