Preview Film: Lady Bird (2017)

Bila kamu mulai bosan dengan film remaja yang isinya cinta-cintaan melulu, terlebih dengan meledaknya Dilan 1990, mungkin, kamu harus menonton Lady Bird. Film drama komedi besutan sutradara Greta Gerwig ini menyajikan sebuah kisah tentang anak SMA yang eksentrik, tanpa gombalan-gombalan lebay yang membuai.

Cerita Lady Bird mengambil setting tahun 2002. Tokoh utamanya adalah seorang gadis bernama Christine McPherson (Saoirse Ronan). Dia duduk di bangku kelas tiga sebuah SMA Katolik yang konservatif di Kota Sacramento, California.

Seperti cewek-cewek ababil lainnya, Christine juga punya sifat pemberontak. Keras kepala. Termasuk, tidak mau menggunakan nama Christine pemberian orang tuanya. Dia meminta semua orang memanggilnya dengan sebutan Lady Bird.

Christine berkeinginan untuk segera cabut dari Sacramento yang menurutnya udik, alias ndeso, setelah lulus dari SMA. Impiannya adalah melanjutkan kuliah di kota yang lebih berbudaya dan modern di pesisir timur Amerika Serikat seperti New Hampshire, Connecticut, dan, terutama, New York.

Namun, si Lady Bird ini merasa kesal dengan nyokapnya. Yang menurutnya pelit dan tidak merestuinya untuk kuliah di New York karena bakal membutuhkan biaya besar. Christine pun sering bertengkar dengan nyokapnya yang juga berperangai keras. Meski demikian, sebenarnya, keduanya saling menyayangi.

Kondisi keuangan keluarga McPherson memang sedang terpuruk. Sang ibu, Marion (Laurie Metcalf), hanya bekerja sebagai seorang perawat di sebuah rumah sakit jiwa dengan gaji pas-pasan. Sementara itu, sang ayah, Larry (Tracy Letts), sedang menganggur dan mengalami depresi karena baru saja dipecat dari pekerjaannya.

Satu-satunya hiburan bagi Lady Bird adalah bersenang-senang dengan sobatnya, Julie Steffans (Beanie Feldstein), dengan menjahili mobil gurunya, menghabiskan roti yang akan dipakai untuk komuni, dll. Selain itu, dia juga sempat berpacaran dengan cowok bernama Danny O’Neill (Lucas Hedges) dan kemudian berkenalan dengan anak band ganteng, Kyle Scheible (Timothee Chalamet), yang membuatnya mabuk kepayang.

Greta Gerwig, sutradara sekaligus penulis naskah, memang menyajikan karakter Lady Bird yang berbeda dengan cewek-cewek abege pada umumnya. Dia unik, eksentrik, dan sangat percaya diri. Termasuk, tidak malu-malu dalam mendekati cowok yang ditaksirnya.

Gerwig juga menggambarkan hubungan antara Lady Bird dan nyokapnya dengan sangat realistis. Hubungan mereka kompleks. Keduanya saling menyayangi, tapi juga sering bertengkar dengan hebat.

Para penonton dewasa mungkin bakal merasa terhubung dengan sosok Christine yang sangat rebel, alias pemberontak. Mungkin, bakal teringat pada masa remaja masing-masing. Gerwig menyatakan, Lady Bird ini adalah memoir masa ababil yang menonjolkan para tokoh perempuan.

Gerwig juga mengaku sengaja mengedepankan hubungan ibu dan anak yang rumit dalam Lady Bird. Dia ingin membuat filmnya serealistis mungkin agar para penonton merasa berempati dengan dua karakter tersebut di setiap momennya.

Meski tidak pernah mengakuinya secara langsung, Lady Bird, sebenarnya, merupakan kisah semi-autobiografi dari Gerwig sendiri. Adegan-adegannya memang tidak benar-benar sama, tapi banyak yang terinspirasi dari pengalaman dan kehidupan pribadinya.

Seperti halnya sosok Lady Bird, Gerwig juga berasal dari Sacramento. Dia lahir dan besar di ibukota negara bagian California tersebut dan bersekolah di sebuah SMA Katolik. Selain itu, nama karakter Christine diambil dari nama nyokap Gerwig yang juga berprofesi sebagai perawat. Seperti profesi ibu Lady Bird di film.

Meski demikian, Gerwig menyatakan, kepribadiannya sangat berbeda dengan karakter Christine. Saat masih abege, Gerwig mengaku, dirinya adalah seorang gadis penurut, suka menolong, dan bukan tipe pemberontak. Lady Bird hanyalah tokoh yang dia ciptakan dari hasil pengamatan dan pengalamannya semasa sekolah.

Gerwig memang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menulis skenario Lady Bird yang semula berjudul Mothers and Daughters tersebut. Awalnya, naskah yang dia tulis mencapai 350 halaman. Yang jika difilmkan bakal berdurasi 6 jam!

Lady Bird pun tercatat sebagai debut solo Gerwig sebagai sutradara layar lebar. Sebelumnya, aktris yang baru berusia 34 tahun tersebut hanya pernah menjadi co-director film Nights and Weekends (2008) bersama Joe Swanberg.

Tak disangka, debut Gerwig ternyata berbuah manis. Lady Bird banyak dipuji oleh para kritikus. Sempat mendapat rating 100% di situs Rotten Tomatoes yang biasanya terkenal kejam dalam me-review film. Bahkan, setelah dirilis di Amerika Serikat pada 3 November 2017 yang lalu, film berdurasi 93 menit ini berhasil mengumpulkan total 148 nominasi dalam 34 ajang penghargaan!

Di ajang Golden Globe Awards ke-75, Lady Bird berhasil memenangkan kategori Best Motion Picture – Musical or Comedy dan Best Actress – Musical or Comedy melalui Saoirse Ronan. Di ajang Academy Awards ke-90, film drama komedi ini masuk lima nominasi kategori Best Picture, Best Director (Greta Gerwig), Best Actress (Saoirse Ronan), Best Supporting Actress (Laurie Metcalf) dan Best Original Screenplay (Greta Gerwig). Sayangnya, tidak ada satu pun yang berhasil membawa pulang Piala Oscar.

Selama ini, Academy Awards memang seakan anti terhadap film-film semacam Lady Bird. Terakhir kali ada film bertema kehidupan perempuan yang berhasil meraih Piala Oscar kategori Best Picture adalah Terms of Endearment (1983) yang dibintangi Debra Winger dan Shirley MacClaine. Sudah lama sekali.

Selain itu, Lady Bird dibesut oleh seorang perempuan yang baru berusia 34 tahun. Jarang sekali ada sutradara cewek yang berhasil meraih Piala Oscar. Selama 90 kali Academy Awards dihelat, baru ada lima wanita yang berhasil masuk nominasi kategori Best Director. Greta Gerwig adalah salah satunya.

Gerwig dinilai berhasil mengeksplorasi cerita Lady Bird dengan cara yang mudah untuk diikuti. Plotnya sederhana dan tidak bertele-tele. Sangat menyentuh hati siapa saja yang menontonnya. Terutama ibu dan anak.

Kisah Lady Bird dianggap lucu, sekaligus tragis. Di tangan sutradara yang berbeda, Lady Bird, mungkin, tidak akan semenyentuh ini. Greta Gerwig, dalam debut solonya sebagai sutradara, berhasil menyajikan sebuah kisah gadis remaja yang sangat powerful.

Berkat kesuksesan Lady Bird, Gerwig mendapat banyak tawaran untuk menyutradarai film. Namun, saat diwawancarai, dia bilang ingin membuat tiga film lagi yang ber-setting di Sacramento.

Gerwig mengaku, dia memiliki ikatan batin yang kuat dengan Sacramento. Oleh karena itu, dia berambisi mengeksplorasi hometown-nya tersebut lebih jauh dari sekadar film Lady Bird.

Menurut Gerwig, masih banyak kisah tentang Sacramento yang bisa dikembangkan. Mengenai alur ceritanya, mungkin, tidak berhubungan dengan Lady Bird dan bakal mengangkat tokoh yang berbeda.

Btw, selain kepiawaian Gerwig, kesuksesan Lady Bird juga tidak bisa dilepaskan dari performa luar biasa Saoirse Ronan. Aktris berusia 23 tahun itu mampu menghidupkan karakter seorang cewek ababil pemberontak dengan sangat baik.

Dengan tiga nominasi Piala Oscar yang sudah berhasil dikumpulkannya selama ini, Saoirse, sekali lagi, membuktikan bahwa dirinya memang aktris kelas atas meski usianya masih begitu muda. Tidak heran, Golden Globe kategori Aktris Komedi/Musikal Terbaik, akhirnya, berhasil dia raih.

Proses Gerwig dalam mengajak Saoirse pun terbilang cukup singkat. Mereka pertama kali bertemu di Toronto International Film Festival pada 2015. Greta lalu meminta Ronan membaca skrip, sambil mengucapkan beberapa dialog, dan langsung meyakini bahwa dialah aktris yang tepat untuk memerankan Lady Bird.

Selain Saoirse, akting Laurie Metcalf, yang masuk nominasi Piala Oscar kategori Best Supporting Actress, juga mendapat banyak pujian. Penampilannya sebagai seorang ibu sangat total. Adegan-adegannya bersama Ronan adalah highlight utama dalam Lady Bird.

Intinya, kolaborasi tiga perempuan, Greta Gerwig, Saoirse Ronan dan Laurie Metcalf, membuat Lady Bird menjadi tontonan yang menarik dan menyegarkan. Ada banyak hal positif dan inspiratif dari film ini yang sayang untuk dilewatkan.

***

Lady Bird

Sutradara: Greta Gerwig
Produser: Scott Rudin, Eli Bush, Evelyn O’Neill
Penulis Skenario: Greta Gerwig
Pemain: Saoirse Ronan, Laurie Metcalf, Tracy Letts, Lucas Hedges, Timothée Chalamet, Beanie Feldstein, Stephen McKinley Henderson, Lois Smith
Musik: Jon Brion
Sinematografi: Sam Levy
Penyunting: Nick Houy
Produksi: Scott Rudin Productions, Management 360, IAC Films
Distributor: A24 (Amerika Serikat), Universal Pictures (Internasional)
Durasi: 93 menit
Budget: USD 10 juta
Rilis: 1 September 2017 (Telluride), 3 November 2017 (Amerika Serikat), 28 Februari 2018 (Indonesia)

Rating (hingga 16 Maret 2018)
IMDb: 7,6/10
Rotten Tomatoes: 99%
Metacritic: 94/100

Advertisements
Preview Film: Lady Bird (2017)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s