Preview Film: The Shape of Water (2017)

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri memang menjadi unggulan pada ajang Academy Awards ke-90 yang lalu. Namun, pada akhirnya, yang berhasil menggondol Piala Oscar adalah The Shape of Water.

Meski harus menunggu agak lama, para moviemania di Indonesia cukup beruntung karena sudah bisa menikmati karya sutradara Guillermo del Toro tersebut. Mulai akhir bulan Maret 2018 kemarin. Bandingkan dengan film terbaik Piala Oscar tahun lalu, Moonlight, yang hingga kini tidak pernah nongol di bioskop-bioskop Indonesia.

The Shape of Water sendiri menghadirkan kisah yang unik. Mengambil setting waktu tahun 1962. Di Baltimore, Amerika Serikat. Tentang seorang wanita bisu yang jatuh cinta pada manusia amfibi yang sedang dikurung sebagai bahan eksperimen.

Wanita bisu tersebut bernama Elisa Esposito (Sally Hawkins). Dia menjadi petugas kebersihan di sebuah laboratorium rahasia milik pemerintah yang dipimpin oleh Dr. Robert Hoffstetler (Michael Stuhlbarg). Mereka sedang meneliti seekor makhluk aneh. Setengah manusia, setengah ikan. Disebut sebagai Amphibian Man (Doug Jones).

Pepatah Jawa, tresna jalaran saka kulina, tampaknya, berlaku di sini. Karena setiap hari bertemu, tumbuhlah benih-benih asmara di antara Elisa dan Amphibian Man. Meski sama-sama tidak bisa berbicara, si manusia ikan bisa merasakan bahwa Elisa sangat menyayanginya.

Kekuatan cinta dua makhluk berbeda spesies itu diuji tatkala pemerintah Amerika, melalui tangan Kolonel Richard Strickland (Michael Shannon), berniat membunuh Amphibian Man dan menggunakan tubuhnya sebagai bahan penelitian. Dengan dibantu oleh dua orang sahabatnya, Giles (Richard Jenkins) dan Zelda Fuller (Octavia Spencer), Elisa berencana membawa kabur kekasihnya dari laboratorium.

Berhasilkah upaya Elisa untuk menyelamatkan Amphibian Man? Bagaimana akhir dari kisah cinta mereka berdua? Tampaknya, lebih berat daripada jalinan asmara Dilan dan Milea.

Ide cerita nyeleneh The Shape of Water, sebenarnya, sudah terbersit di benak Guillermo del Toro sejak tahun 2011. Sutradara asal Meksiko itu terinspirasi dari film klasik yang dia tonton semasa kecil. Creature from the Black Lagoon.

Film rilisan tahun 1954 itu juga mengisahkan tentang makhluk amfibi yang ditemukan di Amerika Selatan. Mirip dengan latar belakang Amphibian Man yang ditangkap di Sungai Amazon dan dipuja sebagai Tuhan oleh para penduduk lokal.

Guillermo del Toro (GdT) kemudian membawa konsep cerita The Shape of Water ke Universal Pictures yang berencana me-remake film Creature from the Black Lagoon. Sayangnya, para eksekutif di studio tersebut menolak ide GdT.

Namun, GdT tak patah arang. Sutradara bertubuh tambun itu memutuskan untuk membiayai sendiri proyek The Shape of Water. Dia merekrut kru untuk mendesain manusia ikan dan laboratoriumnya. Mereka membutuhkan waktu sembilan bulan untuk menciptakan sosok Amphibian Man.

Selain mengandalkan kostum dan make-up, GdT juga menggunakan CGI (computer-generated imagery) untuk menampilkan karakter manusia ikan. Para kru melakukan ratusan kali scan untuk menciptakan rig animasi yang berfungsi untuk mengontrol setiap gerakan aktor di balik kostumnya.

Efek visual juga diterapkan untuk menampilkan adegan Amphibian Man berenang di dalam kapsul air di laboratorium. Mereka mampu membuat sosoknya tampak nyata dengan menggunakan busa lateks dan silikon prostetik.

Yang menarik, awalnya, Del Toro ingin menyajikan The Shape of Water dalam format film hitam-putih agar terasa lebih dramatis. Namun, karena keterbatasan biaya, hal itu urung dia lakukan.

Saat diwawancarai oleh salah satu televisi nasional di Meksiko, GdT mengaku bakal berhenti menjadi sutradara jika The Shape of Water gagal. Dia memiliki ikatan batin yang kuat dengan film yang akhirnya menelan biaya USD 19,5 juta tersebut.

Selama ini, Del Toro memang dikenal sebagai sutradara yang senang menampilkan sosok monster. Dia selalu menekankan makna yang mendalam dalam film-film yang digarapnya. Sebut saja Hellboy (2004) atau pun Pacific Rim (2013).

Bahkan, ada beberapa fans yang menganggap Amphibian Man sangat mirip dengan karakter manusia ikan, Abe Sapian, dari film Hellboy. Apalagi, keduanya diperankan oleh aktor yang sama, Doug Jones.

Tak heran, para fans akhirnya mengasumsikan The Shape of Water sebagai prekuel dari Hellboy. Meski demikian, Del Toro membantah dugaan tersebut. Dia menyatakan, film ini tidak ada hubungannya dengan Hellboy.

Upaya keras Del Toro dalam mewujudkan The Shape of Water akhirnya berbuah manis. Para kritikus menyebut film berdurasi 123 menit ini sebagai karya terbaik GdT sejak Pan’s Labyrinth (2006) yang juga ber-genre drama fantasi.

Secara keseluruhan, The Shape of Water juga dianggap sebagai film Del Toro yang paling romantis. Ibarat perpaduan cerita klasik The Little Mermaid dan Beauty and the Beast. Dia tetap mempertahankan ciri khasnya yang kelam. Namun, visualisasinya sangat indah dan kisahnya menguras emosi.

Tak heran, The Shape of Water akhirnya tercatat sebagai film science fiction pertama yang meraih Piala Oscar kategori Best Picture. Selama 90 kali penyelenggaraan Academy Awards, film-film sci-fi sebelumnya hanya mampu masuk nominasi, tanpa pernah membawa pulang kemenangan.

Selain menyabet empat Piala Oscar kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Musik Orisinal Terbaik, dan Desain Produksi Terbaik, The Shape of Water juga sukses secara box office. Hingga kini, rilisan Fox Searchlight Pictures tersebut sudah meraup pemasukan USD 185 juta dengan modal “hanya” USD 19,5 juta.

Di samping tangan dingin Guillermo del Toro, faktor lain yang membuat The Shape of Water sukses adalah akting para pemainnya, terutama Sally Hawkins yang berperan sebagai wanita bisu. Tak heran, namanya masuk nominasi Piala Oscar kategori Aktris Terbaik, meski akhirnya kalah dari Frances McDorman yang membintangi Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017).

Para kritikus memuji akting Hawkins yang sangat brilian. Dia berhasil membuat karakter Elisa terasa kuat. Bermain film sejak tahun 1998, kemampuan pemenang Golden Globe Awards kategori Aktris Terbaik melalui Happy-Go-Lucky (2008) itu memang tak perlu diragukan lagi. Bisa dibilang, jiwa dan nyawa The Shape of Water terletak pada penampilan Sally Hawkins. Dia mampu menghidupkan karakter seorang wanita bisu dengan tatapan mata, mimik wajah, serta gestur tubuhnya.

Namun, seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, kesuksesan The Shape of Water juga mengundang kontroversi. Kisahnya dianggap mirip dengan sejumlah karya yang sudah dirilis sebelumnya. Apakah Guillermo del Toro telah melakukan penjiplakan?

Yang pertama, The Shape of Water dituduh menjiplak sebuah film pendek bikinan mahasiswa Belanda, Marc S. Nollkaemper, yang berjudul The Space Between Us (2015). Film berdurasi 13 menit tersebut mengisahkan tentang seorang gadis yang jatuh cinta pada makhluk mirip ikan di sebuah fasilitas penelitian. Sangat mirip, bukan?

Yang kedua, The Shape of Water juga dianggap mirip dengan kisah pementasan drama berjudul Let Me Hear You Whisper (1969) karya pemenang Pulitzer Prize, Paul Zindel, yang telah wafat pada 2003. Ceritanya tentang seorang wanita yang bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah laboratorium, tempat seekor lumba-lumba yang ia sukai akan dibunuh karena penyakit otak. Lagi-lagi, sangat mirip.

Namun, Guillermo del Toro, serta Fox Searchlight Pictures, segera membantah semua tuduhan tersebut. Menurutnya, dia tidak pernah mendengar atau menonton karya-karya tadi, baik The Space Between Us maupun Let Me Hear You Whisper, sebelum membuat The Shape of Water.

Selama 25 tahun berkarier di dunia perfilman, GdT memang punya reputasi yang kuat dan tidak pernah melakukan plagiarisme terhadap karya orang lain. Terlepas dari segala kontroversi tersebut, Del Toro sudah membuktikan bahwa The Shape of Water merupakan film yang berkualitas dan sangat sayang jika dilewatkan begitu saja.

***

The Shape of Water

Sutradara: Guillermo del Toro
Produser: Guillermo del Toro, J. Miles Dale
Penulis Skenario: Guillermo del Toro, Vanessa Taylor
Pengarang Cerita: Guillermo del Toro
Pemain: Sally Hawkins, Michael Shannon, Richard Jenkins, Doug Jones, Michael Stuhlbarg, Octavia Spencer
Musik: Alexandre Desplat
Sinematografi: Dan Laustsen
Penyunting: Sidney Wolinsky
Produksi: TSG Entertainment, Double Dare You Productions
Distributor: Fox Searchlight Pictures
Durasi: 123 menit
Budget: USD 19,5 juta
Rilis: 31 Agustus 2017 (Venice), 1 Desember 2017 (Amerika Serikat), 29 Maret 2018 (Indonesia)

Rating (hingga 2 April 2018)
IMDb: 7,2/10
Rotten Tomatoes: 92%
Metacritic: 87/100
CinemaScore: A+

***

Edwin Dianto
Baper Blogger & Writer (Film, Football, Sports, Entertainment)
E-mail: edwindianto@gmail.com
Twitter/Instagram: @edwindianto
Blog: edwindianto.wordpress.com

Advertisements
Preview Film: The Shape of Water (2017)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s