Prediksi Final Europa League 2017-2018: Olympique de Marseille vs Atletico de Madrid

Setelah bergabung dengan Atletico Madrid pada musim panas 2014, Antoine Griezmann langsung mempersembahkan Piala Super Spanyol untuk rival sekota Real Madrid tersebut. Namun, trofi itu akhirnya tercatat sebagai trofi pertama, sekaligus terakhir, Griezmann bersama Atleti.

Hari Kamis (17/5) dini hari WIB nanti, Grizzi berpeluang untuk menambah koleksi trofinya bersama Atleti menjadi dua biji. Los Colchoneros bakal menghadapi tantangan raksasa Prancis yang sudah lama tertidur, Olympique de Marseille, di final UEFA Europa League 2017-2018.

Atletico berhasil merebut tiket ke babak final setelah mengandaskan impian Arsenal yang ingin menjadi juara di musim terakhir Arsene Wenger. Sementara itu, Marseille untuk pertama kalinya tampil kembali di partai puncak ajang Eropa sejak 1993 setelah mengubur tim kejutan asal Austria, RB Salzburg.

Bagi Atleti, trofi Liga Europa musim ini memang cukup penting. Selain untuk mengakhiri paceklik gelar selama empat tahun terakhir, tim asuhan Diego Simeone tersebut juga berharap raihan trofi UEL bisa membuat Antoine Griezmann mengurungkan niatnya untuk pergi.

Iya. Grizzi memang santer dikabarkan bakal cabut dari Wanda Metropolitano musim panas ini. Penyebabnya, apalagi jika bukan keinginannya untuk lebih sering meraih trofi. Klub yang di-gossip-kan menjadi pelabuhan barunya adalah raksasa Catalunya, Barcelona.

Oleh karena itu, laga melawan Marseille nanti bisa menjadi laga perpisahan bagi Antoine Griezmann. Keputusan terkait masa depannya mungkin bakal diambil setelah partai final Europa League yang dihelat di Parc Olympique Lyonnais, Lyon tersebut. Jika Atletico menjadi juara, ada kemungkinan dia bakal stay.

Satu hal yang menarik, laga di Lyon nanti bakal tercatat sebagai laga perdana Grizzi di Prancis bersama Atleti. Setelah hijrah ke Spanyol, dia memang jarang pulang kampung. Selama tampil di kompetisi Eropa, tercatat baru sekali Antoine Griezmann berlaga di negeri sendiri. Bukan bersama Atletico, melainkan bersama Real Sociedad. Yaitu saat menghadapi Lyon di stadion lama mereka, Stade de Gerland, dalam babak kualifikasi Champions League 2013-2014.

Kini, setelah lima tahun berselang, Grizzi berkesempatan untuk mudik kembali. Dalam partai final Europa League. Melawan klub idolanya semasa kecil, Marseille. Apakah kali ini dia bisa meraih trofi?

Sementara itu, bagi Diego Simeone, final Liga Europa bukanlah hal yang baru. Sosok pelatih temperamental itu sudah pernah merasakannya di musim debutnya bersama Atletico pada tahun 2012. Hasilnya, dia sukses menggunduli Athletic Club, yang kala itu dilatih mentornya, Marcelo Bielsa, dengan tiga gol tanpa balas.

Simeone, tentu saja, ingin mengulang memori indah tersebut. Masalahnya, dalam dua final terakhirnya di Eropa, el Cholo tidak pernah beruntung. Dua kali Atletico keok digulung Real Madrid di final Liga Champions tahun 2014 dan 2016. Mampukah kali ini dia menebus kesialannya?

Di lain pihak, Marseille, sebagai lawan Atletico, dinilai belum kembali seperti era keemasan mereka di awal dekade 1990-an. Apalagi, menjelang final Liga Europa tahun ini, Le Phoceens terancam kehilangan pemain andalan mereka, Dimitri Payet.

Pada laga Ligue 1 melawan Guingamp hari Sabtu (12/5) yang lalu, Payet meminta pelatih Rudi Garcia untuk tidak memainkannya karena merasa otot pahanya tidak nyaman. Jika sampai cederanya belum sembuh, itu bakal menjadi kerugian besar bagi Marseille.

Sepanjang musim ini, Payet sudah menyumbang 10 gol dan 24 assist. Bisa dibilang, dia adalah otak permainan Marseille. Tanpa mantan pemain West Ham United tersebut, bisa dipastikan, tim asuhan Rudi Garcia bakal pincang karena memang tidak ada sosok playmaker pengganti yang sekaliber dengannya.

Laga final Europa League ini, kabarnya, juga menjadi ajang audisi bagi Payet. Sang lawan, Atletico, dirumorkan tertarik untuk membajaknya dari Marseille musim panas nanti. Namun, saat ditanya tentang gossip tersebut, Payet langsung membantahnya. Dia menegaskan bakal stay di Stade Velodrome.

Sementara itu, pelatih Rudi Garcia optimistis Payet bakal sembuh dari cedera dan tampil di final. Dia juga bakal meracik komposisi yang pas untuk meredam Atletico yang notabene lebih berpengalaman di ajang Eropa.

Selain Payet, Garcia bakal mengandalkan segerombolan pemain muda yang skillful dan cepat, tapi masih minim pengalaman di partai puncak. Sebut saja Florian Thauvin (25 tahun), Lucas Ocampos (23 tahun), dan Morgan Sanson (23 tahun) yang disebut-sebut sebagai the next big thing dari Prancis.

Rudi Garcia juga menegaskan tak ingin dipermalukan saat berlaga di negeri sendiri. Dia ingin mengulang kejayaan Marseille di tahun 1993. Sukses OM menjuarai edisi perdana Liga Champions musim 1992-1993 memang menjadi yang terakhir bagi klub Prancis berjaya di Eropa. Kita tunggu saja hasilnya.

Prediksi: Olympique de Marseille 40-60 Atletico de Madrid

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer (Film, Football, Sports, Entertainment)
E-mail: edwindianto@gmail.com
Twitter/Instagram: @edwindianto
Blog: edwindianto.wordpress.com

Advertisements
Prediksi Final Europa League 2017-2018: Olympique de Marseille vs Atletico de Madrid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s