Preview Film: Hereditary (2018)

Tahun lalu, para horrormania di Indonesia dibuat heboh dengan remake film Pengabdi Setan (2017) besutan Joko Anwar. Film yang dibintangi oleh si cantik Tara Basro itu disebut-sebut sebagai salah satu film horror lokal terbaik yang pernah dibuat.

Tahun ini, para horrormania kembali disuguhi oleh sebuah tontontan menyeramkan nan berkualitas. Bukan film lokal. Tapi film Barat. Bisa dibilang, ini adalah Pengabdi Setan versi Hollywood. Judulnya: Hereditary. Tayang mulai hari Rabu (27/6). Di bioskop-bioskop Cinemaxx Theater, CGV Cinemas dan Flix Cinema Indonesia.

Kisahnya tentang sebuah keluarga yang dihantui oleh rasa takut yang mencekam setelah sang nenek meninggal. Iya, dari premisnya memang sekilas mirip Pengabdi Setan. Bedanya, di sana si Ibu yang menghantui. Di sini, si Embah. Yang bernama Ellen.

Yang menjadi tokoh utamanya adalah sang ibu. Anak dari si nenek. Namanya Annie (Toni Collette). Pekerjaannya seniwati. Pembuat miniatur. Dia tinggal bersama suaminya, Steve Graham (Gabriel Byrne), dan kedua anaknya: Peter (Alex Wolff) dan Charlie (Milly Shapiro).

Seperti halnya sang ibu, darah seni juga mengalir dalam diri Charlie. Cewek berusia 13 tahun itu suka menggambar. Tapi, hasil karyanya aneh. Yaitu gambar yang melambangkan simbol-simbol abstrak. Seperti karya seni miniatur yang dihasilkan oleh Annie. Tidak hanya indah, tapi juga menyeramkan.

Dari trailer yang dirilis beberapa waktu yang lalu, tampak sosok Annie sedang resah. Dia berbicara mengenai ibunya, Ellen, yang baru saja meninggal. Menurutnya, si nenek tersebut adalah sosok yang manipulatif semasa hidupnya.

Ada kegelapan yang diam-diam diwariskan oleh sang nenek. Hal itu dirasakan oleh para keturunannya. Yang tanpa disadari juga berpengaruh pada diri Annie. Dan karya-karyanya.

Berbicara mengenai trailer, cuplikan Hereditary yang dirilis oleh studio A24 itu memang cukup menyeramkan. Visualisasi dan aroma horror-nya bikin merinding. Bahkan, sempat membuat heboh sebuah bioskop di Innaloo, Western Australia.

Jadi, ceritanya, bioskop tersebut menayangkan film Peter Rabbit (2018). Sebuah film komedi keluarga yang banyak ditonton oleh anak-anak. Sebelum film utama diputar, ditayangkanlah trailer Hereditary yang seram itu. Sontak, anak-anak yang menontonnya (setidaknya ada 40 anak) langsung panik dan ketakutan.

Setelah ditayangkan perdana di Midnight section di Sundance Film Festival pada 21 Januari 2018 yang lalu, Hereditary memang langsung mencuri perhatian para audiens. Bahkan, digadang-gadang menjadi salah satu film horror paling seram tahun ini.

Sang sutradara, yang baru berusia 31 tahun, Ari Aster, mendapat banyak pujian. Padahal, dia belum berpengalaman menghasilkan film layar lebar. Apalagi film horror. Hereditary adalah film panjang pertamanya. Selama ini, dia hanya berkutat menggarap film-film pendek.

Menurut Ari Aster, Hereditary sebenarnya bukan film horror. Melainkan sebuah tragedi keluarga yang berubah menjadi mimpi buruk. Dalam menggarap film berdurasi 127 menit ini, dia mengaku banyak terinspirasi dari film-film horror klasik semacam Rosemary’s Baby, Cries and Whispers, Don’t Look Now, Carrie, Ordinary People, dan The Cook, The Thief, His Wife & Her Lover.

Proses syuting Hereditary sendiri dimulai pada bulan Februari 2017. Pengambilan gambar eksterior dan lingkungan sekitar rumah keluarga Graham dilakukan di Salt Lake City, Utah. Sedangkan untuk interior rumah, mereka membuatnya di atas panggung. Di dalam studio.

Selain menjadi sutradara, Ari Aster juga merangkap sebagai penulis skenario. Selama ini, dia mengaku sulit mendapat momentum dan kesempatan untuk membuat film dengan genre seperti Hereditary ini.

Upaya keras Ari Aster akhirnya berbuah manis. Setelah tayang perdana di Amerika pada 8 Juni 2018, Hereditary langsung diserbu respon positif dari para kritikus. Bahkan, tak sedikit yag menilai film supernatural horror ini setara dengan The Exorcist (1973) yang legendaris itu.

Ari Aster dianggap mampu menghadirkan cerita yang tak terduga. Dengan kejutan demi kejutan sepanjang film. Yang bakal mengguncang emosi para penonton.

Pokoknya, Hereditary bakal mengacak-acak perasaan. Para penonton seakan dilempar ke dunia yang tiada kontrol. Bahkan, tak sedikit juga yang menyebut film ini menjengkelkan. Sekaligus menegangkan.

Di samping sutradara Ari Aster, yang juga mendapat banyak pujian adalah Toni Collette. Yang berperan sebagai seorang ibu yang sedang tertekan, yang dilanda kebingungan dan kengerian. Akibat dari teror yang ia rasakan di rumahnya setelah kematian ibunya sendiri.

Sayangnya, meski dibanjiri respon positif dari para kritikus, Hereditary tampaknya kurang bisa diterima oleh orang awam. Terbukti, hasil polling yang dilakukan oleh CinemaScore terhadap para penonton hanya menelurkan nilai D+.

Perbedaan pendapat yang cukup mencolok antara kritikus dan penonton ini bukan pertama kalinya terjadi. Sebelum Hereditary, juga ada film-film yang dinilai bagus oleh para kritikus, tapi kurang disukai oleh para moviemania mainstream. Antara lain: Drive (2011), The VVitch (2015), dan It Comes at Night (2017).

Penilaian negatif dari para penonton awam tersebut cukup mempengaruhi perolehan Hereditary di box office. Film berbujet USD 10 juta ini hanya mampu mengumpulkan income USD 50 juta hingga saat ini. Jauh bila dibandingkan dengan film-film horror populer semacam The Conjuring (2013) yang meraup lebih dari USD 300 juta.

Meski demikian, dengan segala kontroversinya tersebut, Hereditary tetaplah menjadi salah satu film berbujet minimalis yang mampu mencuri perhatian di momen liburan musim panas ini. Yang biasanya dijubeli oleh film-film blockbuster.

Oleh karena itu, film berdurasi 127 menit ini sangat sayang untuk dilewatkan. Baik oleh para horrormania atau para moviegoer pada umumnya. Dan yang patut diingat, Hereditary ini kabarnya sangat seram. Pacar kamu yang penakut itu mungkin nggak akan kuat menontonnya. Berat. Biar aku saja yang menemani kamu. 🙂

***

Hereditary

Sutradara: Ari Aster
Produser: Kevin Frakes, Lars Knudsen, Buddy Patrick
Penulis Skenario: Ari Aster
Pemain: Toni Collette, Alex Wolff, Milly Shapiro, Ann Dowd, Gabriel Byrne
Musik: Colin Stetson
Sinematografi: Pawel Pogorzelski
Penyunting: Jennifer Lame, Lucian Johnston
Produksi: PalmStar Media, Finch Entertainment, Windy Hill Pictures
Distributor: A24
Durasi: 127 menit
Budget: USD 10 juta
Rilis: 21 Januari 2018 (Sundance), 8 Juni 2018 (Amerika Serikat), 27 Juni 2018 (Indonesia)

Rating (hingga 28 Juni 2018)
IMDb: 7,7/10
Rotten Tomatoes: 89%
Metacritic: 87/100
CinemaScore: D+

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer (Film, Football, Sports, Entertainment)
E-mail: edwindianto@gmail.com
Twitter/Instagram: @edwindianto
Blog: edwindianto.wordpress.com

Advertisements
Preview Film: Hereditary (2018)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s