Preview Film: Ant-Man and the Wasp (2018)

Ant-Man and the Wasp akhirnya tayang mulai hari Rabu (4/7) ini di bioskop-bioskop Indonesia. Film ini merupakan film ke-20 dalam Marvel Cinematic Universe (MCU) yang diawali oleh Iron Man (2008) sepuluh tahun yang lalu.

Setelah “ngilang” di Avengers: Infinity War (2018), kemunculan Ant-Man memang ditunggu-tunggu oleh para fans Marvel. Apalagi, kali ini, si Manusia Semut tidak beraksi sendirian seperti di film pertamanya tiga tahun yang lalu. Tapi, bersama pasangannya. The Wasp. Alias si Tawon. Yang juga berukuran supermini.

Bagi yang sudah lupa, Ant-Man, yang menjadi alter-ego Scott Lang (Paul Rudd), terakhir kali terlihat di Captain America: Civil War (2016). Saat itu, dia memihak Team Cap yang melanggar Perjanjian Sokovia.

Setelah melawan Team Iron Man, Ant-Man tertangkap dan ditahan di Raft. Alias penjara di tengah laut. Namun, akhirnya, dia dibebaskan oleh Steve Rogers. Setelah mencapai kesepakatan dengan pemerintah, Scott Lang kemudian menjadi tahanan rumah selama dua tahun.

Nah, kisah Ant-Man and the Wasp bakal melanjutkan kejadian di Captain America: Civil War tersebut. Setting waktunya sesaat sebelum Avengers: Infinity War. Di film ini, nantinya bakal terkuak. Kenapa Ant-Man dan The Wasp tidak muncul saat Thanos menyapu bersih separo isi semesta?

Meski nggak nongol di Infinity War, produser Kevin Feige menegaskan bahwa Ant-Man dan The Wasp punya peran penting dalam film Avengers 4. Yang bakal tayang tahun depan. Dari final trailer yang dirilis bulan Mei yang lalu, memang ada petunjuk mengenai hal itu.

Salah satunya adalah scene yang menampilkan Quantum Realm. Yaitu sebuah ruang subatom yang misterius. Seperti yang sudah dijelaskan di film Ant-Man (2015), tidak ada manusia yang bisa mengecil hingga berukuran subatom dan kembali dengan selamat. Ibu Hope (Evangeline Lilly), Janet Van Dyne (Michelle Pfeiffer), diyakini menghilang di dalam Quantum Realm. Saat menjadi The Wasp dulu.

Untuk memasuki Quantum Realm adalah hal yang sangat sulit. Ruang subatom tersebut hanya bisa dibuka dengan satu atau dua cara. Yang pertama adalah menggunakan energi magis dan melakukan transportasi mistis. Seperti Doctor Strange (2016). Lalu, bisa juga dengan memperkecil tubuh hingga berukuran subatom. Dengan teknologi Pym Particles yang diciptakan oleh Hank Pym (Michael Douglas).

Setelah sang istri, Janet Van Dyne, menghilang di Quantum Realm, Hank Pym, yang dulunya adalah Ant-Man, menjadi sangat terobsesi untuk mencarinya. Dia yakin, Janet masih hidup. Di dalam sana. Dan masih bisa diselamatkan.

Obsesi tersebut akhirnya membuat hidup Hank Pym kacau. Dia kehilangan perusahaan Pym Tech yang didirikannya. Hubungan dengan sang putri pun menjadi rusak. Hope Van Dyne menyalahkan Hank atas tragedi yang menimpa ibunya.

Setelah 30 tahun berlalu, seperti yang terlihat di film yang pertama, hubungan Hope dan Hank mulai membaik. Salah satunya berkat kehadiran Scott Lang. Yang dipilih Hank untuk menjadi the new Ant-Man.

Momen tersebut kemudian dimanfaatkan Hank untuk menuntaskan obsesi lamanya: Mencari Janet. Di Quantum Realm. Tapi, kali ini, bukan dia yang harus masuk ke ruang subatom tersebut. Melainkan, Hope dan Scott.

Hank kemudian membuatkan Hope kostum The Wasp yang baru. Yang jauh lebih canggih daripada punya ibunya dulu. Scott pun akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Hope untuk menyelesaikan misi mencari Janet. Memasuki Quantum Realm. Sekaligus menguak rahasia masa lalu keluarga Pym.

Namun, dari trailer terakhir yang dirilis oleh Marvel, begitu Quantum Realm dibuka, terlihat muncul ancaman baru. Dari sesosok villain misterius. Bernama Ghost (Hannah John-Kamen). Dia berusaha mencuri teknologi Pym Particles. Di lain pihak, Ant-Man, yang telah mengecil menjadi seukuran subatom, mampu menjelajah ke dalam Quantum Realm. Untuk mencari keberadaan Janet.

Jika misteri Quantum Realm itu terpecahkan, sangat mungkin bisa digunakan untuk membantu Captain America dkk dalam melawan Thanos. Di Avengers 4. Sebab, ruang subatom tersebut menjadi satu-satunya tempat yang tak tersentuh oleh Thanos. Mungkin, karena itulah, Ant-Man dan The Wasp berhasil selamat. Ketika si Mad Titan menjentikkan jarinya. Dan memusnahkan separo isi semesta.

Menurut Evangeline Lilly, sang pemeran The Wasp, jika film Ant-Man yang kedua ini sukses, seluruh multiverse baru bisa terbuka untuk dimasuki. Marvel bisa bermain-main di dalamnya. Dengan kata lain, hal tersebut bisa menjadi jembatan pembuka untuk film-film MCU phase 4. Atau pasca Avengers 4 nanti.

Ant-Man and the Wasp juga menjadi film pertama MCU yang menempatkan tokoh perempuan sebagai judulnya. Produser Stephen Broussard menegaskan, mereka memang sengaja menampilkan sosok The Wasp dalam cerita dengan sangat serius. Dia 100 persen co-lead. Kehadirannya bukan hanya sebagai pendamping.

Cerita film ini adalah tentang Ant-Man dan The Wasp. Tentang mereka berdua. Berbeda dengan film yang pertama dulu. Yang mana porsi Hope Van Dyne tidak terlalu besar. Dan dia juga belum memakai kostum saat itu.

Di film yang kedua ini, dengan kostum The Wasp, putri Janet dan Hank Pym itu jadi punya kemampuan untuk mengubah ukuran tubuhnya. Layaknya Ant-Man. Bahkan, The Wasp punya satu kelebihan yang tak dimiliki Ant-Man. Yaitu: Bisa terbang dengan sangat lincah. Karena Hank Pym memberi sayap pada kostumnya. Dan juga blaster.

Saat diwawancarai, Evangeline Lilly menyatakan, bagian tersulit dalam memerankan Hope adalah menampilkan perubahan emosinya. Yaitu dari seorang putri yang hubungan dengan ayahnya tidak baik, menjadi lebih hangat di film yang kedua ini.

Memperbaiki hubungan yang rusak dengan seorang ayah, setelah 30 tahun, seharusnya menimbulkan efek yang mendalam pada seseorang. Hal itulah yang ingin ditampilkan oleh Evangeline Lilly dalam karakter Hope.

Menurutnya, dia tidak terbiasa memainkan dua orang yang berbeda. Dari satu film ke film lanjutannya. Padahal, karakternya tetap sama. Hope Van Dyne. Butuh waktu beberapa lama. Hingga akhirnya Lilly menemukan feeling yang pas. Dan membuatnya merasa nyaman untuk memerankan Hope yang baru ini.

Selain menonjolkan karakter superhero cewek, Ant-Man and the Wasp juga akan memperkenalkan villain wanita baru. Yaitu: Ghost. Di versi komik Marvel, Ghost sebenarnya adalah seorang cowok. Dan menjadi musuh Iron Man. Bukan Ant-Man.

Menurut sutradara Peyton Reed, karakter Ghost sejatinya bisa laki-laki, perempuan, atau apa pun. Tetapi, di film ini, mereka akhirnya lebih memilih untuk menampilkannya sebagai seorang cewek. Yang kemudian diperankan oleh aktris Hannah John-Kamen.

Awalnya, Ghost adalah seorang insinyur, sekaligus hacker, yang menciptakan GhostTech. Tapi, setelah dikhianati oleh rekannya, dia memasukkan GhostTech ke tubuhnya. Alhasil, dia memiliki kemampuan menghilang, menembus material solid, dan membuat suatu objek tidak berwujud. Ghost juga bisa dengan mudah membobol firewall dan sistem keamanan internet. Yang paling sulit sekalipun.

Di samping Ghost, dari trailer, juga tampak adegan Ant-Man sedang mengejar musuh yang lain. Yaitu: Sonny Burch (Walton Goggins). Bajingan tersebut, dan komplotannya, terlihat mencuri bangunan Hank Pym yang diperkecil.

Selain para villain, Ant-Man and the Wasp juga menampilkan karakter pendukung yang baru. Yaitu: Dr Bill Foster (Laurence Fishburne). Di versi komik, dia pernah menyelamatkan Hank Pym yang sedang berkostum Ant-Man. Hal itu membuat Bill memahami Pym Particles. Dan mengerti cara menginjeksikan partikel tersebut ke dalam tubuhnya. Alhasil, Bill juga mampu mengubah ukuran tubuhnya. Seperti Ant-Man dan The Wasp. Bahkan, tanpa mengenakan kostum sekalipun.

Bill kemudian menggunakan kemampuan tersebut untuk membasmi kejahatan. Dengan alter-ego bernama Black Goliath. Iya, dari namanya, kita bisa menebak. Dia lebih memilih untuk memperbesar ukuran tubuhnya. Menjadi seorang raksasa.

Ant-Man, sebenarnya, juga bisa berubah menjadi Giant-Man. Seperti yang pernah ia pamerkan di Captain America: Civil War (2016). Dari trailer, tampak adegan Ant-Man muncul dari dalam laut. Dengan ukuran raksasa. Selanjutnya, saat mengejar musuhnya dalam versi Giant-Man, terlihat Ant-Man menjadikan sebuah truk sebagai skuter. Kocak banget.

Di film ini, kita bakal melihat tidak hanya Ant-Man dan The Wasp yang bisa menyusutkan ukuran tubuh mereka. Tetapi juga benda-benda lain. Seperti mobil, bangunan, dsb. Bahkan, Hope memiliki alat yang bisa mengubah gedung besar menjadi seukuran koper yang bisa dibawa kemana-mana.

Hal menarik lainnya, selama proses produksi, tim desainer sampai membuat lebih dari 50 kostum! Tepatnya, 54 kostum Ant-Man, The Wasp, dan Ghost untuk dikenakan oleh para pemain utama dan pemain pengganti. Khusus untuk pemeran Ghost, Hannah John-Kamen melakukan semua adegan stunt-nya sendiri!

Menurut Paul Rudd, sang aktor utama, kostum Ant-Man di film kedua ini berbeda dengan yang pertama. Dulu, kostumnya masih analog. Banyak goresannya karena bekas dipakai oleh Hank Pym. Kini, kostumnya menjadi lebih ramping. Dan simple. Kabel-kabel di helmnya sudah nggak ada lagi.

Alhasil, Rudd harus menjaga bentuk tubuhnya. Agar kostum baru tersebut nyaman dipakai. Oleh karena itu, dia menjalankan diet ketat dan nge-gym sejak tiga tahun yang lalu. Tepatnya, sejak film Ant-Man (2015) yang pertama berakhir.

Tugas Paul Rudd kali ini memang berat. Dilan saja nggak akan kuat. Bisa dibilang, jauh lebih berat daripada film yang pertama. Ant-Man and the Wasp dirilis hanya 2,5 bulan setelah Avengers: Infinity War. Yang menghebohkan itu. Jangan sampai kualitasnya jeblok. Nanti bakal kebanting.

Maka dari itu, Rudd, yang merangkap sebagai penulis skenario, bersama sutradara Peyton Reed, berusaha mempertahankan formula yang sama dengan film pertamanya dulu. Yang terbukti cukup sukses. Yaitu menonjolkan unsur komedi yang ringan dan mengundang tawa.

Menurut Reed, Ant-Man and the Wasp ini akan terasa seperti film action comedy Midnight Run (1988) atau After Hours (1985). Tetapi, juga bakal ada rasa crime fiction dan suspense thriller seperti film adaptasi novelnya Elmore Leonard.

Boss Marvel Studios, Kevin Feige, juga mengakui bahwa Ant-Man and the Wasp ini adalah film yang membuatnya “takut”. Karena dirilis setelah Black Panther dan Avengers: Infinity War. Yang mana dua-duanya sukses besar.

Oleh karena itu, Marvel sengaja membuatnya menjadi film yang lucu, ringan dan family-centered. Ibaratnya, jika Black Panther adalah appetizer yang bikin ngiler, dan Avengers: Infinity War adalah main course yang maknyus, maka Ant-Man and the Wasp ini adalah dessert yang menyegarkan.

Meski mendapat rating PG-13 dari lembaga sensor, Kevin Feige menyatakan, Ant-Man and the Wasp merupakan film superhero yang bisa dinikmati oleh seluruh keluarga. Termasuk anak-anak di bawah usia 13 tahun.

Nuansa keluarga memang bakal terasa kental di film ini. Apalagi, juga ada karakter anak-anak. Yaitu: Cassie (Abby Ryder Fortson). Putri semata wayang Scott Lang.

Dalam versi komik, Cassie Lang saat remaja nanti bakal menjadi superhero juga. Bernama Stature. Dia merupakan anggota Young Avengers. Sempat beredar kabar, Cassie versi remaja bakal muncul di film Avengers 4. Dan akan diperankan oleh Emma Furhmann.

Upaya keras Marvel Studios untuk menjadikan Ant-Man and the Wasp sebagai tontonan yang menghibur, tampaknya, berbuah manis. Setelah menggelar world premiere dua pekan lalu (25/6), di El Capitan Theatre, Hollywood, para kritikus memberi respon cukup positif.

Ant-Man and the Wasp dinilai sedikit lebih bagus daripada film pertamanya. Ceritanya gampang diikuti. Cocok untuk keluarga. Dengan selera humor yang segar. Pokoknya, lucu banget. Selain itu, visualisasi dan special efeknya juga keren.

Namun, ada juga beberapa kritikus yang beranggapan Ant-Man and the Wasp terlampau ringan. Bahkan, ada yang bilang, ini bukan film superhero. Melainkan, murni film komedi. Karena unsur humornya terlalu dominan. Di samping itu, film ini tidak memiliki villain utama yang kuat.

Apapun opini dari para kritikus, Marvel Studios tetap optimistis Ant-Man and the Wasp bakal melampaui pendahulunya. Yang kala itu meraup pemasukan di atas USD 500 juta. Untuk akhir pekan perdana ini, mereka menargetkan pendapatan hingga USD 80 juta.

Oh, ya. Seperti film-film MCU sebelumnya, Stan Lee bakal kembali tampil sebagai cameo. Kabarnya, kali ini, dia akan merasakan sensasi berubah ukuran ala Pym Tech.

Selain itu, juga bakal ada post-credit scenes di bagian akhir film berdurasi 118 menit ini. Bahkan, menurut Paul Rudd, adegan tersebut berhubungan dengan Avengers: Infinity War. Jadi, jangan keburu pulang dulu!

***

Ant-Man and the Wasp

Sutradara: Peyton Reed
Produser: Kevin Feige, Stephen Broussard
Penulis Skenario: Chris McKenna, Erik Sommers, Paul Rudd, Andrew Barrer, Gabriel Ferrari
Berdasarkan: Ant-Man by Stan Lee, Larry Lieber, Jack Kirby dan Wasp by Stan Lee, Ernie Hart, Jack Kirby
Pemain: Paul Rudd, Evangeline Lilly, Michael Peña, Walton Goggins, Hannah John-Kamen, Michelle Pfeiffer, Laurence Fishburne, Michael Douglas
Musik: Christophe Beck
Sinematografi: Dante Spinotti
Penyunting: Dan Lebental, Craig Wood
Produksi: Marvel Studios
Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures
Durasi: 118 menit
Budget: USD 130 juta
Rilis: 25 Juni 2018 (El Capitan Theatre), 4 Juli 2018 (Indonesia), 6 Juli 2018 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 5 Juli 2018)
IMDb: 8/10
Rotten Tomatoes: 87%
Metacritic: 69/100
CinemaScore: –

***

Edwin Dianto
Pekerja Teks Komersial, Baper Blogger & Writer (Film, Football, Sports, Entertainment)
E-mail: edwindianto@gmail.com
Twitter/Instagram: @edwindianto
Blog: edwindianto.wordpress.com

Advertisements
Preview Film: Ant-Man and the Wasp (2018)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s